" wa... Sekretaris pak Andra yang baru cantik banget ". Apa dia model
" Ngapain lo..? ". Datang tiba-tiba
" Woi.. ngagetin ajah, lo ". Kaya hantu ajah. Kaget Rina dibuatnya
" Haha.. sorry, tapi ngapain sih bengong ajah?, Entar kesambet loh ". Pertanyaan pertama tadi, akhirnya dilontarkan kembali
" Itu.. sekretaris pak Andra cantik banget, Laras kan tadi namanya ". Mengingat kembali wajah laras, hei.. semoga kau tidak jatuh cinta padanya. Karena itu pasti akan menjijikkan
" Oh.. jadi penasaran, siapa tau dia mau sama gue " akhirnya jiwa playboy nya keluar.
" Cih.. lo kira semua wanita mau sama lo, Kevin Mahendra ". Menekankan namanya
" Ya.. iyalah.. secara guekan paling tampan sejagat raya ". Percaya diri sekali dia
" Hmm terserah lo ajah! Bay... ". Langsung pergi. Muak sendiri melihatnya, mengingat namanya saja sudah memuakan.
Siapa sih yang tidak kenal Kevin Mahendra sih playboy cap ayam kampung di divisi keuangan.
......................
Laras masih fokus dengan laptop di depan nya, hingga tanpa dia sadari Andra dan juga Alan sudah keluar dari ruangannya, ingin makan siang. Sebenarnya sekarang sudah lewat jam makan siang, tapi walau bagaimanapun mereka tetap butuh makan bukan?.
Saat Alan akan menyapa Laras, tiba-tiba suara ponsel seseorang menghentikan niat Alan untuk menyapanya.
Alan dan juga Andra sama-sama celingak-celingukan mencari sumber ponsel yang berbunyi, dan berakhir saat mereka saling pandang. Dan disitulah kedua lelaki itu menyadari, kalau ponsel yang berbunyi itu milik wanita yang sedang fokus dengan layar laptop di depannya, hingga tidak mendengar suara ponselnya sendiri. Ya, siapa lagi kalo bukan Laras, sih gila kerja.
Alan pun mendekat ke arah Laras, sedangkan Andra hanya diam dan memperhatikan saja.
" Laras.. ". Panggil nya, tidak mendapatkan jawaban " Laras... ". Masih tidak mendapatkan jawaban " woi.. Nur Larasati Hidayah ". Sedikit menaikkan suaranya, karena yang dipanggil tidak menoleh barang sedikit pun. Untung bukan di kelas, kalo di kelas sudah di jawab 'hadir'. Dasar Laras, kalau sudah fokus, tidak akan memikirkan sekitarnya lagi.
Karena sudah tidak tahan lagi, Alan pun memegang bahu Laras, yang sontak membuat Laras kaget dan di detik berikutnya melirik kearah Alan dengan tatapan bingung, ada apa, itulah makna tersirat yang dapat diambil Alan akan ekspresi Laras.
" Ponselmu dari tadi bunyi, tapi kamu gak dengar ". Lirikan matanya melirik kearah ponsel Laras yang masih berbunyi.
" Oh.. maaf lan, gak dengar soalnya lagi sibuk nih" masih fokus dengan laptopnya
" Angkat dulu itu, siapa tau penting ". Itu bisa dilanjut nanti kan
" Oh.. oke, " tinggal di save nih
'sejak kapan Laras dan Alan jadi akrab gini. Dasar nih Alan pengen nikung gue nih ceritanya'.
Laras pun mengambil ponselnya, karena terburu-buru dia tidak sempat melihat siapa yang menelfon nya.
" Waalaikum salam ".
" Apa!! ".
" Baik.. saya segera kesana ". Buru-buru laras merapikan barang-barang nya. Hei.. di sana masih ada atasanmu
" Ras, kenapa? ". Ragu Alan bertanya
" I.. ibu ku ". Tidak menatap Alan, masih sibuk dengan barangnya.
Saat Laras akan pergi, tiba-tiba Andra datang dan memegang tangan Laras. Akhirnya bergerak juga.
" Tunggu ". Hei dengarkan dulu atasanmu.
Laras berbalik, Andra dibuat tercengang dengan pemandangan didepannya itu.
Seorang Laras gadis kuat di matanya itu, sedang menangis. Mata yang memerah dengan air yang keluar dari matanya. Hidung yang tidak terlalu mancung nya juga ikut memerah.
Andra yang melihat Laras menangis, mangambil satu kesimpulan yah.. pasti ibunya. Gadis didepannya itu akan menjadi lemah jika di hadapkan dengan kondisi ibunya atau semua tentang ibunya.
" Alan cepat siapkan mobil ". Tegas dia mengatakan nya. Jangan pake lama.
Dengan sigap Alan berlari kebawah dan menyiapkan mobil. Kita tidak sedang bercanda jadi cepat lah Alan
" Laras ikut saya dengan mobil ". Itu akan jauh lebih cepat bukan?. Menarik tangan Laras.
Laras yang tidak bisa berpikir jernih hanya mengikuti tarikan tangan bosnya.
Di dalam mobil, tak henti-hentinya Laras berdoa atas keselamatan ibunya, karena hanya itulah yang dapat dilakukan nya. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa, sedangkan yang akan mengabulkan nya hanya Tuhan saja. Tangisannya sudah keluar dari tadi, dan sampai sekarang masih tidak bisa berhenti. Entah apa yang akan terjadi jika dia sudah sampai nanti. 'padahal kemarin malam baik-baik saja. Ya Allah semoga ibuku gak apa-apa'
Andra melirik melihat Laras yang duduk di samping nya, sedangkan Alan masih fokus menyetir.
Satu kata yang bisa mewakili perasaan Andra saat melihat pujaan hatinya saat ini 'Sakit'.
'ah.. pengen gw peluk dan nenangin dia ya Allah' frustasi Andra melihatnya, lagi-lagi sakit. Seandainya di dunia ini tidak ada yang namanya gengsi, sudah sejak tadi Andra memeluk dan mendekap nya dalam pelukannya. Menenangkan nya dan tidak membiarkan air matanya menetes.
Tenanglah Andra memangnya kau siapanya Laras, walau pun juga kau punya hubungan dengannya, memeluknya itu bukan hal yang baik jika masih belum muhrim bukan.
Terjadi perang batin di dalam mobil yang di kendarai ketiga orang itu.
Sesampainya di rumah sakit, belum sempat Alan memarkirkan mobilnya, Laras langsung saja membuka pintu mobil dan berlari keluar. Disitu masih ada atasanmu. Memangnya Laras akan memikirkannya, tentu tidak. Dipikirannya sekarang hanya ada ibu... ibu.. dan ibunya.
Dan tentu saja Andra mengerti akan hal itu.
Andra mengikuti langkah Laras dan mengejar nya. Dengan air mata nya yang berlinang membasahi pipinya, Laras terus berlari dan tidak memikirkan dirinya yang jadi pusat perhatian. Tapi, apakah benar hanya Laras yang menjadi pusat perhatian? Tentu tidak, yang lebih menarik perhatian adalah orang yang di belakangnya.
Mengikuti langkah kaki Laras yang berlari, Andra masih sempat menjaga imejnya dengan membuat wajahnya sedatar mungkin, walau di dalam hatinya dia begitu khawatir melihat Laras dan bagaimana kondisi ibunya Laras, oh bukan maksudnya calon mertuanya. 'Ya Allah selamatkan calon mertuku itu' doanya dalam hati. Sudah menandai ibu Laras sebagai calon mertuanya.
Tapi siapa yang tidak akan terpesona melihat ketampanan nya.
Tepatnya di depan ruangan bu Aminah
" Dok, gimana kondisi ibu saya dok? ". Pertanyaan ala-ala sinetron pun terlontar.
Dokter Ilham tertunduk " kondisi bu Aminah sedang kritis, dia harus di operasi secepat mungkin " dengan nada menyesal dia mengatakannya. Untung bukan jawaban ala-ala sinetron yang di jawabkannya. Maaf, kami sudah berusaha, kalau jawabannya seperti itu, minta di tabok sih.
Laras terduduk di lantai, kakinya lemas. Sudah tidak ada tenaganya untuk menopang berat tubuhnya, bukan karena Laras berat, tapi karena shock akan keadaan.
Laras menangis dalam diam " bagaimana aku dapat biayanya ya Allah.. ". Lirihnya
Dokter Ilham dengan sigap menuntun Laras ke atas kursi yang tersedia di depan ruangan.
" Sabar ras... Doain ajah semoga bu Aminah dapat pulih ". Hei.. bagaimana bisa pulih, jika tidak di obati. Biayanya saja masih menunggak dan dengan entengnya kau mengatakannya. Dokter Ilham pergi dari tempat itu, karena masih ada pasien lain yang harus di tanganinya.
Melihat itu hati Andra benar-benar di buat campur aduk. Marah, sedih, khawatir, dan kecewa.
Marah akan pemandangan di depannya, sedih melihat keadaan calon mertuanya dan pujaan hatinya, dan khawatir akan kondisi calon mertuanya, namun kecewa akan dirinya yang tidak bisa apa-apa.
Sampai Laras mendekati Andra
" pak, apa saya bisa mendapatkan gaji saya lebih awal? ". bibirnya bergetar mengatakan nya. Baru juga satu hari kerja sudah minta gaji. Hati Andra sakit melihatnya 'ambil seluruh harta ku Laras' inginnya dia mengatakannya, namun tentu saja itu tidak mungkin. Akan bagaimana nanti pandangan Laras terhadapnya.
Dengan tegas Andra menjawab " itu tidak bisa, kamu baru satu hari bekerja ". Sombong sekali anda.
" Ta.. tapi pak, saya mohon. Ibu saya sedang sakit". Masih memohon Laras. Nuranimu kau simpan dimana.
" Maaf Laras tapi itu tidak bisa, Sudah jadi peraturan kantor ". Menunjukkan bahwa dikantornya tidak memilih kasih.
Laras menghela nafasnya, sudah tidak tau harus bagaimana. Inginnya meminjam uang di bank, tapi utang yang bulan-bulan lalu belum di bayar, masa harus ngutang lagi.
" Saya tidak bisa membantumu sebagai CEO Anastasia Crop, tapi saya bisa membantumu sebagai seorang Andra ". Hati nuraninya masih ada rupanya.
Laras yang mendengar mendongak dengan wajah berbinar " benarkah?.. apa bapak bisa membantu saya? ". Dapat bantuan juga, tapi bukan untuk bencana alam.
" Iya, tapi dengan satu syarat " wajahnya datar dan tanpa belah kasih terlihat.
" Apa pak?.. insyaallah saya akan terima "
" Jangan terlalu yakin " ucapnya yang membuat wajah Laras bingung " saya tidak yakin kalo kamu akan menerimanya dengan mudah ". semoga kau gak nolak ras. Haaaaah.. benar-benar laki-laki yang merepotkan. Lain di mulut lain di hati.
" Memangnya apa pak? " Ayolah cepat, pembaca sudah tidak sabar.
" Menikah dengan saya " jawaban yang berhasil membuat Laras mematung. Apa dia harus senang karena yang melamarnya adalah bosnya orang yang sangat kaya, atau mungkin tidak. Bagaimana jika bosnya itu hanya menginginkan keperawanan nya. Seperti bos-bos nya di perusahaan terdahulunya
Sedangkan Alan yang baru datang di buat tercengang akan perkataan sahabatnya itu. Bagaimana tidak, baru juga satu hari bertemu langsung di ajak nikah. Ini lamaran ala-ala apa sih.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen, dan vote nya.
ini serius loh, Author capek loh nulis. yah, malah curhat😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Opick Cynkcibehsllu
wah waah andra kayaknya udah kbelet nikah neh
2022-02-09
1