Suasana kamar nenek Dahlia terasa canggung, Nenek Dahlia menatap tajam ke arah putra pertamanya itu.
"Jadi apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau menginginkan warisan dari ku?" Tanya Nenek Dahlia dengan nada marah.
"Ibu.. Bukan seperti itu, tapi saat pengurus mu menelpon ku dia mengatakan jika kau sedang sekarat dan aku sangat khawatir." Jelas Pak Candra.
"Apa yang sebenarnya kau khawatirkan? Aku atau kau mengkhawatirkan jatah warisan." Ucap nenek Dahlia kepada Pak Candra.
"Tolonglah ibu, perusahaan ku sedang di ambang ke hancuran. Dan aku menginginkan warisan ku di berikan lebih cepat dan sedikit lebih banyak.." Pinta Pak Candra.
"Dasar kau tak tahu malu, kau anak durhaka dan tak berbakti kepada ku. Dan dengan mudahnya kau meminta warisan kepada ku?" Ucap Nenek Dahlia dengan marah.
Dia tak habis pikir dengan putra pertamanya itu, di kepalanya hanyalah uang-uang dan uang tak ada yang lain selain hal itu.
"Tapi ibu aku adalah putra mu.." Ucapnya.
"Salim juga putra ku, dan aku tak akan melakukan hal bodoh seperti yang di lakukan oleh ayah mu dulu.." Ucapnya.
"Tapi ibu, lagi pula Salim tinggal di luar negeri dia pasti tak membutuhkan harta warisan itu. Dan dia hidup enak di sana."
"Sebaiknya kau pergi dari sini, kepala ku pusing oleh tingkah laku mu itu." Ucap nenek Dahlia sambil memijat pelipisnya.
"Tapi ibu..."
"Ku bilang pergi.." Teriaknya.
Mendengar hal itu Candra langsung segera pergi meninggalkan kamar Nenek Dahlia, dia sudah tak memiliki banyak waktu lagi. Dia harus segera mendapatkan harta warisan itu jika tidak perusahaan nya akan berada di ambang kehancuran.
Clarissa yang melihat ayahnya baru saja keluar dari kamar Neneknya pun langsung bersembunyi, Clarissa yakin ada sesuatu hal penting yang mereka bicarakan.
"Apa yang kau rencanakan lagi, ayah..." Gumam Clarissa sambil terus melihat ayahnya yang mulai berjalan menjauh.
Di dalam kamar, Bu Rani sudah menunggu kedatangan suaminya.
"Bagaimana, Mas? Apa ibu setuju memberikan warisan mu sekarang?"
"Jangankan setuju, dia malah memaki-maki diri ku." Jawabnya.
"Lantas bagaimana ini? Perusahaan kita harus membutuhkan banyak dana.."
"Kamu diam saja, aku memiliki banyak cara. Jadi kita harus berpura-pura bahwa keadaan kita baik-baik saja. Apa kau mengerti?"
"Iya, Mas. Aku Mengerti."
Clarisa yang berada di kamar tidurnya pun terus memikirkan apa yang di bicarakan oleh ayahnya dan juga neneknya karena dari raut wajah ayahnya dia terlihat kesal.
Kemudian Clarissa langsung mengambil handphone milik nya, dia melihat foto-foto nya bersama Brian. Entah kenapa hatinya merasakan kehampaan saat mengetahui jika Brian telah pergi dari rumahnya.
"Apa yang kau pikirkan, Clarissa. Kau seorang wanita kaya, kau tak perlu memikirkan pria gigolo itu. Aku pasti bisa mencari gigolo yang lebih sempurna dari pada pria itu.." Gumam Clarissa.
Tapi meski mengatakan hal itu, Clarissa tak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia sangat merindukan sentuhan dari sosok Brian.
Tak ingin ambil pusing, Clarissa langsung menemukan matanya dan segera tidur.
Keesokan harinya...
Clarissa terbangun karena mendengar suara berisik dari luar, "Ada apa sih? Pagi-pagi sudah berisik seperti ini?" Gumamnya sambil bangkit dari tempat duduknya.
Kemudian Clarissa langsung bertanya kepada salah seorang pelayan.
"Ada apa ini?" Tanya nya.
"Nyonya..."
"Ada apa dengan nenek?" Tanya Clarissa panik
"Nyonya Dahlia terjatuh dari tangga, dan sekarang dia sedang di bawa ke rumah sakit." Jelasnya.
"Jatuh dari tangga? bagaimana bisa?"
"Saya tidak tahu, tapi tadi pagi salah satu pelayan sudah menemukan Nyonya Dahlia tergeletak di lantai dengan bersimbah darah." Jawabnya.
Bagai di sambar petir di siang bolong, Clarissa langsung terdiam. Matanya jelas memancarkan rasa khawatir.
Dengan cepat Clarissa segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Dia akan menyusul Nenek nya yang masih berada di rumah sakit.
"Clarissa, apa kau mau pergi ke rumah sakit?" Tanya Pak Salim kepada keponakan itu.
"Iya, Paman." Jawabnya.
"Bolehkah, Paman dan bibi ikut?" Tanya nya.
"Tentu saja.." Jawab Clarissa.
Kemudian Clarissa berserta Paman dan bibinya pun segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi dari Nenek Dahlia.
Di rumah sakit sudah ada Pak Candra dan keluarganya, Clarissa menatap tajam ke arah ayahnya itu. Terlihat tetesan air mata keluar dari mata Pak Candra.
"Ayah, bagaimana bisa nenek menjadi seperti ini?" Tanya Clarissa.
"Ayah pun tak tahu.. Tapi salah satu pelayan telah melihat pelaku yang mendorong Nenek. Dan biarkan polisi yang mengurus hal itu." Jawab Pak Candra.
"Jadi Nenek di dorong seseorang? Dan siapa pelakunya?" Tanya Clarissa.
"Ayah masih belum tahu, jadi kita serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib." Jawab Pak Candra.
Clarissa langsung terduduk lemas, dia tak menyangka wanita sebaik Nenek bisa di celakai oleh orang.
Kemudian seorang dokter pun keluar dari ruang rawat Nenek Dahlia.
"Dokter bagaimana keadaan ibu saya?" Tanya Pak Candra.
"Keadaan nya sangat kritis, luka di kepalanya cukup parah. Dan sekarang beliau masih berada dalam masa-masa kritis, kita hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan sebuah keajaiban." Jawabnya.
Mendengar ucapan dokter, Clarissa langsung sedih. Dia tak bisa menyembunyikan air matanya, Neneknya adalah orang yang paling berharga di dunia ini. Dan dia belum siap untuk kehilangan sosok itu.
Qiqi yang melihat keponakannya menangis pun langsung menghampiri nya dan memeluknya, Clarissa sedikit kaget saat ada seseorang yang memeluknya.
"Menangis lah, Clarissa.." Ucap nya.
Clarissa yang mendengar hal itu pun hanya bisa menangis di pelukan Bibi nya itu, Clarissa merasakan kehangatan saat di peluk oleh wanita berstatus bibinya.
Qiqi pun hanya bisa diam sambil mengelus rambut Clarissa, entah kenapa dia merasakan perasaan yang aneh saat memeluk keponakannya itu. Dia seperti tak ingin melepaskan pelukan tersebut, dan Qiqi seperti tak ingin jauh dari Clarissa.
Tak beberapa lama 3 orang polisi datang menghampiri keluarga itu, mereka datang untuk menyampaikannya kasus Nenek Dahlia.
"Bagaimana apa kalian sudah menemukan pelaku nya?" Tanya Pak Candra.
"Menurut salah satu saksi, Pak Salim yang telah mendorong Nyonya Dahlia." Jawab Pak Polisi.
Pak Salim yang mendengar hal itu pun langsung kaget, "Tidak, itu semua bohong saya tak pernah melakukan hal itu." Bela nya.
"Maaf, tapi anda harus ikut saya ke kantor polisi."
Kemudian dua orang polisi langsung menangkap Pak Salim, Qiqi yang melihat suaminya di bawa pun hanya bisa menangis.
Clarissa yang melihat pemandangan itu pun hanya bisa terdiam, dia tak menyangka jika Pamannya lah yang tega melakukan hal itu kepada Nenek nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Nur Tini
fitnah
2023-12-04
1
Yurnita Yurnita
Clarissa ko jadi bodoh ya
2023-10-14
1
Karsini Seftiani
pasti pak Salim difitnah di jadikan kambing hitam.dan pelaku sebenarnya mungkin pak Candra sekongkol sama istrinya.mmng mereka keluarga durjana
2023-06-23
1