Qiqi melihat wajah keponakan nya itu, jika saja anaknya masih hidup mungkin dia akan sebesar Clarissa.
"Salim bagaimana pekerjaan mu?" Tanya Nenek Dahlia.
"Baik, Ibu. Yah meski baru membuat perusahaan kecil, tapi itu sudah cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan kami." Jawab Pak Salim sambil tersenyum.
Nenek Dahlia tersenyum pahit, jika bukan karena Candra yang merebut posisi Salim dan mengusir nya mungkin sekarang anaknya itu sudah menjadi seorang bos besar, karena dia tahu bagaimana kemampuan Salim dalam menangani bisnis.
"Ah, iya. Clarissa apa kau sudah bekerja?" Tanya Nenek Dahlia.
"Sudah, Nek." jawabnya.
"Baguslah, lantas kemana kedua orang tua mu?"
"Emmm... mungkin mereka masih di jalan." Jawabnya.
Dan Nenek Dahlia hanya menganggukkan kepalanya, Qiqi hanya bisa diam mematung sejak kematian anaknya 25 tahun yang lalu dan saat dia di vonis sudah tidak bisa memiliki keturunan lagi, kesehatan mentalnya pun terganggu dan hal itu juga yang membuat Pak Salim harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pengobatan istrinya.
Tak beberapa lama datang Pak Candra dan juga Bu Rani, dan di belakangnya sudah ada Sofia dan juga Alvin.
"Ibu, ku dengar kau sedang sekarat.." Ucap Pak Candra dengan wajah khawatir.
"Tidak aku baik-baik saja." Jawab Nenek Dahlia.
"Tapi pengurus mu bilang kau sedang sekarat?" Tanya Pak Candra.
"Memang jika aku sekarat apa yang akan kau lakukan?" Tanya Nya.
"Tidak, ibu. Aku hanya khawatir saja." jawab Pak Candra.
Kemudian Pak Candra melihat adik dan juga adik ipar nya yang sudah lama tidak dia temui. "Lama tidak bertemu, Salim." Sapa Pak Candra dengan nada penuh sindiran.
Clarissa yang mendengar nada dan melihat ekspresi dari ayahnya kepada pamannya, seperti nya hubungan mereka tidak akur.
"Kabar ku sangat baik." Jawab Pak Salim sambil tersenyum.
Clarissa yang tak ingin melihat perdebatan antara ayah dan juga pamannya, dia memilih untuk segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dan sampailah Clarissa di halaman belakang rumah, nampak banyak tanaman bunga yang bermekaran, udaranya pun sangat segar dan sejuk.
Clarissa yang tengah duduk sendirian pun di kaget kan dengan sebuah tangan yang menepuk bahunya.
"Hah? bibi?"
"Apa aku mengangetkan mu?" Tanya Bibi Qiqi.
"Sedikit." Jawab Clarissa sambil tersenyum.
"Apa aku boleh ikut duduk?"
"Tentu saja, silahkan."
Kini Clarissa duduk bersebelahan dengan wanita yang berstatus bibinya itu, Clarissa cukup canggung karena Bibinya tak banyak bicara. Dia hanya diam dan menatap ke arah bunga-bunga sambil tersenyum.
"Kau sangat cantik, Clarissa." Ucap Bibi Qiqi.
"Ah, terimakasih. Bibi." Jawabnya.
"Jika anak ku masih hidup, mungkin dia sudah sebesar dirimu."
"Anak? Memangnya kemana anak Bibi?"
Terlihat raut wajah sedih Bibi Qiqi, Clarissa yang tak enak pun merasa sangat bersalah karena menanyakan hal yang sangat sensitif seperti itu.
"Dia telah meninggal." Jawab Bibi Qiqi.
"Aku turut berdukacita...."
"Tapi aku percaya jika anak ku belum meninggal, karena aku yakin yang meninggal itu bukanlah putri ku." Ucap Bibi Qiqi.
Clarissa yang mendengar hal itu pun hanya bisa diam, dia tak bisa menjawab atau pun merespon ucapan dari Bibi nya itu.
"Qiqi, kau di sini rupanya." Terdengar suara Pak Salim yang menegur istrinya.
"Paman.." Ucap Clarissa.
"Maafkan, Bibi mu ini. Dia memang suka seperti itu, apa dia telah mengganggu mu?" Tanya Pak Salim ramah.
"Tidak kok, paman. Aku malah senang Bibi menemani ku di sini." jawab Clarissa.
"Terimakasih Clarissa, kau telah menemani istri ku ini." Ucap Pak Salim berterima kasih.
"Sama-sama Paman." jawabnya Clarissa.
"Ayo sayang, kita ke kamar. Kau harus istirahat." Ajak Pak Salim kepada istrinya.
Clarissa melihat punggung kedua orang itu yang mulai menghilang di balik pintu, entah kenapa dia merasakan perasaan yang sangat aneh.
Alvin yang berada tak jauh dari Clarissa hanya melihat wanita itu dengan sebuah senyuman aneh, "Ini saat yang paling tepat untuk mendekati nya.." Pikir Alvin.
Clarissa yang melihat Alvin berdiri tak jauh darinya pun segera pergi, dia tak ingin jika pria itu kembali mendekatinya.
"Sayang, kamu dari mana aja?"
"Hah? kamu bikin aku kaget aja." Ucap Alvin.
"Kamu lagi ngapain di sini?"
"Anu.. Emm. Aku lagi lihat-lihat bunga."
"Bunga? Sejak kapan kamu suka sama bunga?"
"Dari dulu aku memang suka, ah.. bukannya sekarang waktunya untuk makan. Ayo kita ke ruang makan, aku sudah sangat lapar."
Sofia hanya bisa mengangguk kepalanya dan pergi mengikuti suaminya ke ruang makan, tapi di dalam hatinya Sofia masih merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.
Di ruang makan...
Sudah ada Nenek Dahlia, Pak salin dan istrinya begitu juga dengan Pak Candra dan istrinya. Lalu mata Sofia melihat ke arah Clarissa yang sudah duduk manis, Alvin pun segera duduk tepat di samping Clarissa.
"Mas.." Bisik Sofia sambil menatap tajam suaminya.
"Apa sih? ayo cepat duduk."
Sofia yang kesal pun hanya bisa menuruti ucapan suaminya, Clarissa yang melihat raut wajah kesal Sofia hanya bisa tersenyum puas di dalam hati.
"Sekarang kau bisa merasakan, bagaimana rasanya saat orang yang kau cintai terang-terangan berpaling kepada wanita lain.."
"Ayo, kita makan." Ucap Nenek Dahlia.
Kemudian Clarissa pun segera memakan makanan tersebut, makanannya terasa sangat enak. Dan Nenek Dahlia pun membuatkan satu hidangan khusus untuk Clarissa.
"Clarissa.." Panggil Nenek Dahlia.
Clarissa yang sedang makan pun langsung menatap Nenek nya itu. "Iya, Nek?"
"Nenek dengar kamu bertengkar dengan keluarga mu? Dan sekarang kau sudah tak lagi pulang ke rumah orang tua mu?"
Deg...
Pertanyaan Neneknya itu langsung membuat Clarissa terdiam, matanya langsung melihat ke arah Ayah dan ibunya. Sebuah wajah penuh kesedihan pun terukir jelas di wajah palsu mereka.
"Iya.." Jawab Clarissa singkat.
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Neneknya.
"Apa ayah tak mau menjelaskan apa yang kalian lakukan kepada ku? Atau harus aku yang menjelaskan kepada nenek?" Tanya Clarissa kepada kedua orang tuanya.
"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Nenek.
"Emm.. Begitu ibu, Clarissa hanya salah paham terhadap kami." Jawab nya.
"Oh? Aku hanya salah paham? Jadi hal yang seperti ini yang ayah maksud salah paham." Ucap Clarissa sambil memutar rekaman suara di handphone.
Rekaman itu adalah rekaman suara WhatsApp yang ayahnya ucapkan kepadanya, semua orang yang ada di meja makan pun mendengar caci maki yang di lontarkan oleh kedua orang tuanya.
Pak Candra yang mendengar hal itu pun langsung marah dan hendak merebut handphone milik Clarissa.
"Hentikan Candra.." Ucap Nenek Dahlia tegas.
"Tapi ibu..."
"Kau... Kau mengatakan kebohongan kepada ku, mau sampai kapan kau seperti itu?"
"Ibu, dengarkan aku dulu.. itu hanya rekaman palsu. Apa itu percaya begitu saja."
"Aku memang sudah tua, tapi aku tidak tuli. Candra."
Semua orang yang ada di meja makan pun hanya terdiam, rencana Pak Candra yang awalnya ingin ibundanya itu memarahi Clarissa dan menyuruhnya kembali ke rumah agar dia bisa memanfaatkan hal itu. Tapi tak di sangka wanita itu sangat licik, dia bahkan sudah mempersiapkan segalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Nur Tini
mantap
2023-12-04
1
Angraini Devina Devina
ayah gadungan
2023-06-17
0
Elsa Pasalli
Berarti Clarisa itu anaknya Pak Salim..... Pantas aja perlakuan Canra ma istrinya jahat ma cla.....
2023-06-13
0