Sedangkan disebuah apartemen mewah seorang laki-laki baru saja membuka matanya.
"Shit. Kepala gue," umpat Devano sembari memegangi kepalanya yang seakan-akan isi di dalam kepala tersebut akan keluar. Ia mengedarkan pandangannya dan seketika ingatannya tentang tadi malam kembali. Yap ingatan mengenai saat dirinya tak bisa mengendalikan akal dan pikiran untuk berhenti minum hingga mengakibatkan dirinya mabuk berat karena suara anak kecil yang selalu menghantui dirinya hingga sampai di mimpi pun anak kecil tersebut terus mendatanginya hingga pikirannya tersambung dengan ucapan Ciara tempo hari yang lalu. Hal itu terus memutar di kepalanya hingga menyebabkan dirinya frustasi dan melampiaskan semuanya di club malam.
"Sial sial sial, gue gak peduli, gue yakin itu bukan anak gue, " geram Devano. Ia tak sadar saja jika suatu saat nanti penyesalan akan menghantui dirinya.
Dering telepon diatas nakas mengalihkan perhatiannya. Devano segera mengambil ponsel tersebut yang ternyata sedang menampilkan panggilan dari Mommynya.
Baru ia ingin mengucapkan salam suara Mommy Nina lebih dulu masuk kedalam telinganya.
📞 : "Halo sayang. Kamu dimana nak? Kenapa kamu tadi malam gak pulang? Apa kamu gak papa? Kamu baik-baik saja kan sayang? Kenapa semalam gak ngasih kabar ke Mom? Jawab Mommy sayang! jangan bikin khawatir Mom." Devano menghela nafas pelan. Sebegitu khawatirnya sang ibu hanya karena ia tak pulang satu malam saja tanpa kabar. Ia tak pikir apa jika ada orang tua dari wanita yang masa depannya ia hancurkan juga tengah mengkhawatirkan anaknya yang meninggalkan rumah selamanya?
"Mom tenang aja. Dev baik-baik aja kok. Semalam Dav pulang ke apartemen. Maaf gak sempat ngabarin Mom tadi malam karena kerjaan Dev banyak banget," alasan Devano. Terdengar helaan nafas lega dari Mommy Nina dari sebrang.
📞 : "Huh syukurlah kalau kamu baik-baik saja sayang. Kalau kamu mau berangkat kuliah hati-hati. Jangan lupa sarapan ya."
"Siap Mommy ku sayang. Udah dulu ya Dev mau bersih-bersih dulu. Bye Mom."
Tut Tut Tut
Mommy Nina berdecak sebal saat anaknya dengan kurang ajar mematikan sambungan teleponnya.
"Anak siapa sih kurang ajar banget sama Mommynya sendiri," gerutu Mommy Nina.
"Ya anak kita lah Mom mau anak siapa lagi coba," timpal Daddy Tian. Ia tebak jika perkataan anaknya tadi hanya alibi semata. Daddy Tian tak mempermasalahkan kenalkan remaja di era modern ini walaupun begitu ia juga mewanti-wanti Devano untuk tetap dalam jalur aman dan tak melebihi batas. Minum boleh tapi tak boleh sampai mabuk. Mau balapan atau tawuran ia akan bebaskan toh yang bonyok dan merasakan sakit bukan dirinya. Tapi jika ada apa-apa anaknya harus tanggung jawab tanpa bantuan dirinya maupun keluarga besarnya. Dan untuk masalah wanita, Daddy Tian tak mempermasalahkan jika sang anak harus dekat dengan wanita mana saja atau sering gonta ganti pacar selain ia bisa mengontrol dirinya sendiri untuk tetap sadar dengan goda manis setan.
...*****...
Sudah seminggu sejak kepergian Ciara, keadaan rumah keluarga Ciara pun nampak berbeda, yang dulunya sering diliputi dengan canda tawa kini berubah menjadi sepi dan sunyi seperti tak ada penghuni. Aura hangat yang dulu selalu menyelimuti keluarga tersebut kini berubah menjadi aura dingin dan suram.
Kiara yang dulunya selalu menebar keributan dengan sang Kakak kini hanya diam membisu bahkan ia selalu menghindari kedua orangtuanya. Pikirannya saat ini masih tertuju ke Ciara.
Tak beda jauh dengan Kiara, Mama Mila juga nampak masih terpukul dengan kepergian Ciara. Ia lebih sering melamun dengan air mata yang bahkan tak ada habisnya untuk terus keluar dari matanya. Senyum manisnya kini tengah luntur sejak ia mengetahui Ciara tega meninggalkannya sendiri. Tatapan hangat yang terpancar dulu kini berubah menjadi tatapan kosong yang selalu menyelimuti mata bengkaknya. Bahkan anak dan suaminya sudah tak ia urusi lagi.
Sedangkan Papa Julian, ia nampak menyesal dengan keputusannya dulu untuk memberikan pilihan kepada Ciara dan pada akhirnya anak pertamanya memilih pergi untuk melindungi bayi yang ia kandung dari ancamannya sendiri. Sungguh miris jika ia mengingat ke egoisannya dulu.
"Ciara pulang sayang. Maafkan Papa," batin Papa Julian saat melihat aura kesedihan dari istrinya yang senantiasa berada di balkon kamar mereka sembari menatap nanar kearah jalanan berharap Ciara tengah melambaikan tangannya kepada Mama Mila dengan senyum manis yang selalu terpancar di wajah Ciara. Tapi harapan hanya tinggal harapan semata karena kenyataannya Ciara tak akan pernah pulang kembali kerumah yang telah ia tempati selama 18 tahun. Bahkan Papa Julian maupun Kiara telah mencari keberadaan Ciara namun hasilnya tetap saja nihil. Ciara hilang seperti ditelan bumi. Tak ada jejak, tak ada tapak yang ia tinggalkan.
Papa Julian mendekati sang Mama Mila dan mengelus punggung istrinya.
"Papa berangkat kerja dulu Ma," pamit Papa Julian walaupun tak ada tanggapan sama sekali dari sang istri bahkan ia tak dilirik sedikitpun. Papa Julian menghela nafas panjang sebelum meninggalkan sang istri untuk berangkat kerja.
Air mata menetes membasahi pipi Mama Mila, "Ciara kamu dimana nak? Maafin Mama sayang maaf. Pulang ya sayang, Mama kangen kamu, Mama pengen peluk Ciara. Pulanglah nak, maafin Mama," gumam Mama Mila dengan suara lirihnya.
...*****...
Dan seminggu sudah Ciara telah tinggal di negara tetangga. Ia saat ini tengah disibukkan dengan kegiatan barunya yaitu bekerja menjadi waiters disalah satu cafe ternama di kota yang saat ini ia tinggali.
"Ciara kamu gak papa kan?" tanya Olive teman satu kerjaannya saat melihat wajah pucat dari Ciara. Ciara mengerjabkan matanya.
"Gak, aku gak papa kok. Cuma kecapekan aja kan dari tadi cafe rame banget dan kita gak sempet buat istirahat."
"Beneran kamu gak papa?" Ciara menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kamu duduk dulu. Gak pegel apa berdiri terus padahal gak ada pelanggan yang datang. Atau mau siap-siap sekalian kan bentar lagi pergantian shift." Ciara melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 17:50 yang artinya 10 menit lagi ia akan pulang dan kerjaannya di gantikan oleh temannya yang lain.
"Ya udah aku siap-siap dulu ya. Gak papa kan?"
"Tenang aja. Hati-hati kalau pulang atau mau aku anter?"
"Gak usah Liv. Aku pulang sendiri aja. Toh kamu juga nunggu bos datang kesini baru pulang." Olive nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Olive itu sama saja atasan Ciara bisa dibilang orang kepercayaan yang punya cafe karena bos mereka tengah sibuk dengan berbagai urusan lainnya dan untuk kunjungannya ke cafe pun tak tentu hanya saat dirinya punya waktu luang jika tidak ya semua urusan cafe di limpahkan ke Olive.
"Hehehehe iya juga sih. Ya udah hati-hati lho ya." Ciara mengacungkan jari jempol untuk menanggapi ucapan dari Olive.
Ciara segera mengganti baju kerjanya dengan baju yang ia bawa dari rumah.
"Anak Mama pasti capek ya di dalam. Maafin Mama ya sayang," gumam Ciara sembari mengelus perutnya.
"Kita pulang yuk. Sampai rumah nanti kita minum susu oke. Jangan rewel ya sayang. Mama sayang kamu," sambungnya sembari keluar dari cafe tempatnya bekerja setelah jam kerjanya benar-benar selesai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
@shiha putri inayyah 3107
gimana reaksi orang tua Devan saat tau anak nya menghancurkan hidup dan masa depan seorang wanita...
2023-06-16
0
Katherina Ajawaila
org tuanya Devano ngk tau aja anak nya jadi laki2 ngk jelas anak gadis org di perkosaan ngk tanggung Jawab, anak gitu di banggain
2023-04-18
0
Sony Phn
Anaknya penjahat kelamin masa ibunya gk tau sih....
2022-11-26
0