Hari ini adalah hari pertamaku masuk kerja di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota jakarta. Aku kerja sebagai dokter spesialis kandungan. Setelah melakukan pekerjaan yang begitu melelahkan aku berjalan keluar menuju loby rumah sakit dengan sedikit terburu-buru, karena hari ini ibuku akan datang ke apartemenku.
Setelah memencet tombol lift yang khusus di pergunakan untuk dokter aku sangat terkejut saat melihat sahabatku Ani memakai jas yang sama sepertiku.
"Nindi...!!" Teriak Ani sangat gembira melihatku, begitu juga dengan aku. Aku langsung memeluk dia dengan gembira. Ya setelah kami lulus kuliah kami tidak lagi bertemu, sudah hampir dua tahun lamanya.
Kita kalau sudah bertemu layaknya anak kecil walau usia sudah menginjak dua puluh sembilan tahun.
"Kamu kerja di sini juga." Tanya Ani.
"Iya, ini adalah hari pertamaku di rumah sakit ini."
"Yey, kita bakalan ketemu setiap hari nih." Seru Ani.
Setelah pintu lift terbuka kami berjalan keluar sambil berbincang bincang. Di depan pintu rumah sakit terlihat seseorang sedang mengawasi kami dari sebrang jalan.
Ani tiba-tiba menghentikan tawanya dan raut mukanya seperti sedang melihat berlian yang begitu mahal. Aku mengikuti arah pandanganya.
"Siapa dia? Cowok kamu?" Tanyaku penasaran.
"Nindi, apa kamu tidak tau siapa dia? "
"Emang dia siapa? "
"Arya saloka! Dia dulu kuliah di universitas malang juga."
"Terus..? " Tanyaku yang masih heran.
"Sekarang dia jadi seorang pengusaha yang sukses. Selain itu dia juga jadi artis yang terkenal dan dia idolakan banyak gadis."
Aku masih bersikap biasa saja, karena aku memang tidak pernah menonton TV atau melihat gosip apapun.
Aku menunggu taksi untuk mengantarku pulang dan Ani masih menemaniku, dia juga menunggu jemputan dari tunanganya.
Kami masih ngobrol tentang kehidupan sehari-hari sewaktu masih kuliah, sesekali kita berdua tertawa membayangkan.
Sebuah mobil sport BMW berwarna silver berhenti tepat di depan kami.
Seorang pria berpakaian kemeja berwarna navi berlengan panjang turun dari mobil.
Ani semakin tak percaya dan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Kalian mau kemana?" Tanya pria itu.
"Kami mau pulang. Dan masih nunggu taksi lewat." Jawabku, karena Ani masih bengong melihat idolanya.
"Mau aku antar." Tawarnya sambil tersenyum, matanya begitu tajam sperti mata elang dan memang senyumnya sangat manis yang membuat siapapun meleleh saat melihatnya. Tubuhnya yang tinggi dan atletis membuat siapapun berdebar ingin memeluknya. Dia sangat manis dan tampan saat terlihat dari dekat. Rambutnya tertata begitu rapi. Tidak memperlihatkan bahwa dia adalah seorang aktor.
"Tidak ! terimakasih. Kami bisa menunggu..."
Belum selesai bicara klakson mobil terdengar dan mobil itu mulai mendekat.
"Nin, aku duluan ya. Udah di jemput nih." Ani memelukku dan mencium pipi ku.
"Kak, duluan ya.“ pamit Ani kepada pria itu. Pria itu melambaikan tanganya dan tersenyum manis.
"Gimana, jadi ikut?"
Karena menunggu taksi yang tidak kunjung datang, akhirnya aku mau ikut denganya.
"Mau di antar kemana.?" Katanya sambil menutup pintu mobilnya.
"Ke apartemen tulip."
Pria itu tiba-tiba datang mendekat padaku, semakin mendekat mebuat senam jantungku. Mukanya semakin ia dekatkan dengan diriku tentu saja aku semakin kaku dan membayangkan hal yang tidak tidak.
"Kamu mau ngapain." Tanyaku kaku.
"Mau pasang sabuk pengaman." Katanya datar dan memasangkan sabuk pengaman.
Mobil berjalan menuju apartemen. Aku masih terdiam karena malu atas apa yang sudah aku pikirkan.
Mobil berhenti di parkiran area apartemen, pria itu membukakan pintu untukku.
"Terimakasih."
"Sama sama."
Aku berbalik dan masuk kedalam apartemen.
"Tunggu...! " Teriak pria itu.
Aku menoleh ke arahnya.
"Kita belum kenalan." Kata pria itu berjalan mendekat.
Aku tersenyum. "Nindi" Kataku menyambut uluran tanganya.
"Arya." Aku langsung masuk ke dalam meninggalkan dia sendirian.
Aku berjalan dengan hati yang di penuhi bunga bermekaran, tidak kusadari sebuah senyuman terpancar dari bibirku.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku melihat ibuku sudah ada di ruang tamu. Aku memeluknya dengan penuh bahagia.
***
Keesokan hari Aku melihat Arya keluar dari ruangan Direktur dan berbicara dengan direktur rumah sakit tempatku bekerja. Setelah mereka berpisah, Arya menghampiriku. Kami ngobrol sesaat karena ini masih jam kerja, kami tukaran nomor telfon sebelum Arya pergi.
Semakin hari hubunganku dengan Arya semakin dekat. Aku mulai menyukainya. Aku di buat nyaman ketika di sampingnya. Kami sering jalan berdua. Ketika aku membutuhkan, Arya selalu ada.
Hingga suatu hari Arya harus shooting sinetron di bandung. Itu membuat kami jarang bertemu dan berkomunikasi. Aku sangat merindukannya, aku tidak berani menghubunginya karena takut mengganggu pekerjaanya.
Akupun juga sibuk bergelut dengan pekerjaanku. Jika kalian bertanya apakah aku pacaran dengan dia? Jawabanya tidak. Kami hanya mengutarakan sama sama suka.
Hampir satu tahun aku putus kontak denganya. Aku mulai dekat dengan mas Rizky, dia kakak kelasku sewaktu SMP dia juga cinta pertamaku. Dulu aku sangat mencintai dia begitupun dia juga mencintaiku. Dia juga sama pindah kuliah di bogor dan meninggalkanku. ketika aku dekat denganya aku mulai CLBK lagi. Hubungan kami semakin dekat hingga kami mulai bertunangan. Dan bulan depan rencananya kami akan menikah.
Mungkin kalian pikir hubunganku akan berakhir bahagia dengan mas Rizky. Kenyataanya tidak!.
Sehari sebelum hari H pernikahan kami. Aku mengetahui rahasia besar mas Rizky, ternyata dia sudah menikah dan dia akan menjadikanku istri keduanya.
Hatiku hancur! Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu di pangkuan ibuku.
"Aku hanya mencintai kamu Nindi, aku terpaksa menikah dengan Salsa karena saat itu ibunya sedang kritis dan ibunya ingin melihat kami menikah."
Saat mendengar penjelasannya aku hanya bisa menangis tidak berdaya, Salsa pun Mengakuinya, bahwa selama ini Rizky tidak mencintainya bahkan Rizky masih sering mengingat tentangku hingga kami bisa bertemu kembali dan menikah.
"Jika kamu mencintai Rizky, kamu lanjutkan pernikahan ini, jika tidak kamu boleh berhenti." Kata ibuku. Semakin kesini aku sadar aku tidak mencintai Rizky, aku masih menunggu Arya, aku baru adar meskipun bersama Rizky aku tidak merasakan bahagia seperti saat bersama Arya.
"Siapa pria yang dulu sering antar kamu pulang."
"Arya."
"Pria itu baik dan juga tampan. Kemana dia sekarang? Ibu juga suka sama dia,sepertinya dia laki-laki yang bertanggung jawab." Aku hanya diam tidak menjawab.
Saat itu aku memilih melanjutkan pernikahan, meskipun dengan berat hati. Aku tidak ingin membuat keluargaku malu aku memilih menjaga rahasia ini.
****
Tamu undangan sudah berkumpul.
Mas Rizky memulai ijab kabulnya.
"Saya Terima nikahnya Anindya.... "
"Tunggu !!!" Teriak seorang menghentikan ucapan mas Rizky. Semua tamu undangan menatap ke arah pria itu. pria itu berjalan mendekat kearah kami. Aku menoleh kearahnya, tak terasa air mata mulai Membanjiri pipiku "Arya" Kataku lirih.. Dia datang menemuiku.
"Nindi, aku mencintaimu. Aku gak bisa melihat kamu bersama pria lain." Aku semakin terisak. Dan aku baru menyadari bahwa aku mencintai Arya. Perasaanku dengan mas Rizky hanya perasaan cinta di masa lalu.
Aku berdiri dan berjalan mendekat kearah Arya. Dia langsung memelukku dan menangis di pelukanku. Aku merasa senang saat itu aku bahagia. Cintaku kembali.
"Nin, ayo kita lanjutkan pernikahan kita."
"Maaf mas, perasaanku ke kamu selama ini bukan cinta. Aku pernah mencintai kamu mas.tapi itu dulu! sebelum kamu ninggalin aku. Sekarang aku sadar. aku hanya mencintai Arya. Bukan kamu mas."
Aku pergi meninggalkan gedung bersama Arya, tanpa menunggu waktu lama, keesokan harinya aku menikah dengan Arya bukan menjadi istri kedua tapi istri satu satunya. Arya sangat mencintaiku dan selalu mengistimewakan aku. Arya menghentikan dunia selebritas nya dan melanjutkan menjadi seorang pengusaha dan aku tetap menjadi seorang dokter spesialis kandungan.
Sebelum saatnya fajar mulai tiba, dan aku mulai terbangun dari tidurku dan ternyata semua itu hanya mimpi indahku, aku melihat jam dinding sudah menunjukkan jam sembilan pagi. Sudah siang! Aku langsung bergegas mandi dan berangkat kuliah.
**TAMAT**