Anata selalu punya satu kebiasaan buruk.
Setiap kali berdiri di depan cermin, ia tidak pernah benar-benar melihat dirinya. Ia hanya melihat kekurangan.
Rambut yang menurutnya terlalu berantakan. Wajah yang terasa tidak cukup menarik. Senyum yang ia pikir aneh. Bahkan seragam sekolah yang dikenakannya pun sering membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya terlihat berbeda dari teman-temannya.
Pagi itu, Anata kembali berdiri di depan cermin.
Tangannya merapikan rambut untuk kesekian kalinya.
“Kenapa aku kelihatan begini, sih?”
Ia menghela napas.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Danu: Udah berangkat?
Anata mengetik singkat.
Anata: Belum.
Danu: Cepetan. Nanti telat.
Anata tersenyum kecil.
Danu adalah satu-satunya orang yang membuatnya merasa sedikit lebih nyaman menjadi dirinya sendiri. Mereka sudah berteman sejak lama. Danu tidak pernah memaksa Anata bercerita ketika gadis itu sedang diam.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah Anata ceritakan.
Ia sering merasa dirinya tidak cukup baik.
Tidak cukup cantik.
Tidak cukup pintar.
Tidak cukup menarik untuk disukai orang lain.
Bahkan terkadang, ia merasa keberadaannya hanya akan mengganggu.
---
Sesampainya di sekolah, Anata berjalan bersama Danu menuju kelas.
Beberapa teman mereka sedang bercanda di depan pintu.
“Eh, lihat foto kemarin!” seru salah satu dari mereka.
Sebuah ponsel berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Anata ikut melihat.
Foto itu menampilkan beberapa teman mereka yang sedang berkumpul. Anata juga ada di sana.
Namun, matanya langsung terpaku pada dirinya sendiri.
Jelek banget.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Ia memperbesar foto tersebut.
Semakin dilihat, semakin banyak kekurangan yang ia temukan.
“Nat.”
Anata tersentak.
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
Danu melirik layar ponsel di tangan Anata.
“Kamu dari tadi lihat foto itu terus.”
Anata buru-buru mematikan layar.
“Cuma lihat.”
Danu tidak bertanya lagi.
Namun, sepanjang pelajaran, Anata menjadi semakin diam.
Ia melihat teman-temannya yang terlihat percaya diri. Ada yang mudah berbicara di depan kelas, ada yang selalu mendapatkan pujian, ada pula yang tampak nyaman dengan penampilan mereka.
Anata kembali membandingkan dirinya.
Kenapa aku enggak bisa seperti mereka?
Saat guru meminta salah seorang siswa maju untuk mempresentasikan tugas, Anata menunduk.
Jantungnya berdegup lebih cepat ketika guru menyebut namanya.
“Anata, kamu maju berikutnya, ya.”
Anata mengangkat kepala.
“I-iya, Bu.”
Tangannya mulai dingin.
Ia membawa kertas tugasnya ke depan kelas.
Baru beberapa kalimat dibacakan, suaranya sudah bergetar.
Beberapa siswa memperhatikannya.
Anata semakin gugup.
Salah satu teman di belakang terkekeh kecil.
Mungkin sebenarnya bukan karena dirinya.
Namun, pikiran Anata langsung menyimpulkan hal lain.
Mereka menertawakanku.
Suara aku jelek.
Aku pasti kelihatan bodoh.
Kata-kata yang sudah ia siapkan mendadak hilang dari kepalanya.
Ia terdiam.
“Anata?” panggil guru.
Anata menunduk.
“Maaf, Bu.”
Danu yang duduk di bangkunya memperhatikan dengan cemas.
Setelah presentasi selesai, Anata langsung kembali ke tempat duduk.
Ia tidak berani menatap siapa pun.
Bel istirahat berbunyi.
Danu menghampirinya.
“Nat.”
“Jangan sekarang, Dan.”
Danu berhenti.
Anata menundukkan kepala.
“Aku malu.”
“Kenapa?”
“Aku tadi kelihatan bodoh.”
“Enggak.”
“Enggak? Kamu enggak lihat mereka?”
“Aku lihat.”
“Mereka ketawa.”
“Terus?”
Anata menatap Danu dengan mata berkaca-kaca.
“Terus aku memang memalukan.”
Danu diam sebentar.
“Nat, boleh aku ngomong jujur?”
Anata mengangguk kecil.
“Kamu terlalu sibuk mencari kesalahan di dirimu sendiri sampai lupa melihat kenyataan.”
Anata mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Ketika kamu maju tadi, aku lihat kamu berusaha. Kamu gugup, iya. Tapi kamu tetap menyelesaikan presentasimu.”
Anata tidak menjawab.
“Dan soal orang yang ketawa tadi, kamu enggak tahu mereka ketawa karena apa.”
“Tapi—”
“Enggak semua hal tentang kamu, Nat.”
Kalimat itu membuat Anata terdiam.
Danu duduk di kursi sebelahnya.
“Kadang kita terlalu lama tinggal di kepala sendiri sampai semua hal terasa seperti sedang menyerang kita.”
Anata menatap meja.
Air matanya jatuh perlahan.
“Aku capek, Dan.”
Danu menatapnya.
“Capek kenapa?”
“Capek merasa kurang.”
Anata menggenggam ujung lengan seragamnya.
“Aku selalu membandingkan diriku sama orang lain. Kalau lihat orang yang lebih cantik, aku merasa jelek. Kalau lihat orang yang lebih pintar, aku merasa bodoh. Kalau ada yang lebih disukai, aku merasa enggak pantas punya teman.”
Suaranya semakin pelan.
“Aku bahkan kadang enggak suka lihat cermin.”
Danu tidak langsung menjawab.
Ia hanya membiarkan Anata mengeluarkan semua yang selama ini disimpannya.
Setelah beberapa saat, Danu berkata,
“Kamu tahu enggak?”
“Apa?”
“Aku juga punya rasa insecure.”
Anata mengangkat wajah.
“Kamu?”
“Iya.”
“Tapi kamu kelihatan percaya diri.”
Danu tertawa kecil.
“Itu karena kamu cuma melihat bagian luar aku.”
Anata terdiam.
“Semua orang punya bagian dirinya yang mereka sembunyikan. Bedanya, ada yang tetap berjalan meskipun merasa tidak percaya diri.”
Danu kemudian menunjuk dada Anata.
“Jangan jadikan kekurangan sebagai alasan untuk membenci seluruh dirimu.”
Anata mengusap air matanya.
“Kalau aku masih insecure gimana?”
“Enggak apa-apa.”
“Enggak harus langsung hilang?”
“Enggak.”
Danu tersenyum.
“Kamu enggak harus bangun besok dan langsung mencintai dirimu sendiri. Mulai saja dari berhenti membenci dirimu.”
Anata terdiam cukup lama.
Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada nasihat mana pun yang pernah ia dengar.
---
Sore harinya, Anata kembali berdiri di depan cermin.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mencari kekurangannya.
Ia melihat matanya.
Rambutnya.
Senyumnya.
Dirinya sendiri.
Tidak tiba-tiba menjadi sempurna.
Tidak berubah menjadi orang lain.
Namun, untuk pertama kalinya, Anata mencoba berkata,
“Aku mungkin belum suka semuanya tentang diriku.”
Ia tersenyum tipis.
“Tapi aku akan belajar menerima diriku sedikit demi sedikit.”
Ponselnya kembali bergetar.
Danu: Udah sampai rumah?
Anata tersenyum.
Anata: Udah.
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
Danu: Bagus. Jangan lupa makan.
Anata terkekeh.
Kemudian ia kembali menatap cermin.
Hari itu, ia sadar bahwa insecure tidak selalu hilang hanya karena seseorang mengatakan bahwa dirinya berharga.
Kadang, prosesnya jauh lebih panjang.
Ada hari ketika ia kembali membandingkan dirinya.
Ada hari ketika ia kembali merasa tidak cukup.
Tetapi sekarang Anata tahu satu hal.
Ia tidak harus menjadi seperti orang lain untuk pantas menghargai dirinya sendiri.
Dan mungkin, menerima diri sendiri bukan tentang mengatakan bahwa semua bagian dari diri kita sempurna.
Melainkan tentang tetap memilih untuk tidak membenci diri sendiri, bahkan ketika kita sedang melihat kekurangan.
Anata mengambil sisir di meja.
Ia merapikan rambutnya.
Lalu tersenyum pada bayangannya sendiri.
Kali ini, ia tidak bertanya,
“Apa aku cukup cantik?”
Ia hanya berkata,
“Ini aku.”
Dan untuk hari itu, kalimat sederhana tersebut sudah cukup.