Meski kata orang Cemburu itu tanda Cinta ,tapi tidak untuk Nisa. Menurutnya, Cemburu adalah rantai yang mengikat tubuh dan membatasi ruang geraknya.
Nisa kembali ke kampus untuk kuliah, setelah terminal / Berhenti Studi Sementara (BSS) selama 1 tahun.
Sebenarnya bukan tidak pernah ke kampus, Selama 1 tahun ini Nisa bergabung dalam Resimen Mahasiswa sehingga tidak fokus kuliah dan lebih memilih BSS.
Hari itu dia ke kampus untuk kembali kuliah. Untuk tahun ini dan seterusnya, Nisa lebih memilih ikut kelas sore yang dimulai dari jam 13.30 hingga jam 20.30 malam sesuai SKS yang di tempuh.
Waktu masih menunjukkan pukul 12.00, Nisa sudah sampai di kampus dan memilih untuk Shalat Dhuhur terlebih dahulu di masjid kampus. Usai Shalat, Nisa duduk di teras masjid dan bergabung dengan teman - teman remaja masjid.
"Wiiiiiihhhh, kuliah lagi nih!" Rasya yang juga baru usai shalat berkata sambil tersenyum.
"Iya nih,kak!" Nisa menjawab pertanyaan Rasya yang selama 2 tahun belakangan sudah dianggap saudara lantaran tempat kos mereka yang berdekatan. Rasya juga teman satu Prodi dengan Niswah teman sekamar Nisa.
"Yang rajin kuliahnya ya, dek!" Rasya menyemangati Nisa.
"Siap, kak!" Di mulut, Nisa bilang siap. Sedangkan hatinya bingung karena harus masuk kelas baru yang tentunya dengan teman baru.
Kebingungan Nisa terbaca oleh Rasya dari raut wajah Nisa. "Oh ya, nih ada teman kamu yang baru!" Rasya menyadarkan Nisa dari lamunannya.
"Kamu juga akan kuliah di ruang enam khan?" Rasya memastikan kalimatnya pada cowok yang duduk disampingnya.
"Iya, kak. Aku di ruang enam" Jawab cowok yang menggunakan kemeja berwarna biru itu.
"Nah, Kebetulan nih!" Rasya mengacungkan telunjuknya pada Nisa dan cowok itu secara bergantian.
"Aku titip adikku yang baik hati ini ya!" Ucap Rasya sembari masuk ke ruangan yang terletak di samping masjid kampus.
"Masuk yuk!" Ajak cowok itu pada Nisa.
"Yuk!" Mereka turun dari masjid kampus dan menggunakan sepatu masing - masing.
Nisa yang sedang memegang Handphone meminta si cowok untuk bertukar nomor. Dari situlah mereka saling mengetahui nama lawan bicaranya. Ishaq nama cowok itu.
Mereka masuk kelas bersama - sama.
"Siapa dia, Ishaq?" Salah seorang teman perempuan sekelas Ishaq menanyakan tentang Nisa.
"Oh dia....." Kalimat Ishaq terputus karena Nisa.
"Perkenalkan, namaku Nisa!" Nisa memperkenalkan diri dengan senyum manisnya.
"Oh, namaku Desi" Dia juga memperkenalkan dirinya. Mereka berjabat tangan, begitu pula dengan teman - teman yang lain.
Sejak kecil, Nisa memang lebih suka bermain dengan teman laki - laki dari pada teman perempuan. Di kelas yang baru Nisa sering ngobrol bersama si kutu buku Ishaq dan Hoirul.
Mereka menjadi sahabat. Nisa, Hoirul dan Ishaq tinggal di kota yang berbeda dengan kampus sehingga mereka harus naik angkot Pulang Pergi ke kampus.
Nisa lah yang tempat tinggalnya paling jauh dari kampus sehingga ketika Nisa naik angkot, dia lebih memilih duduk di dekat jendela agar tampak oleh Hoirul dan Ishak dari pinggir jalan tempat mereka menunggu angkot. Hoirul akan naik angkot ketika dia melihat Nisa ada di dalam angkot. Begitu pula dengan Ishak. Dia akan menaiki angkot yang di dalamnya sudah ditumpangi oleh Nisa dan Hoirul.
Ketika masuk area kampus, mereka berjalan bertiga layaknya paskibraka sekolah. Satu cewek di tengah dan didampingi oleh dua cowok di sampingnya.
Terkadang Ishaq dan Hoirul berjalan membelakangi Nisa sehingga jika di lihat dari lantai atas mereka membentuk titik sudut sebuah segitiga seperti Cinta yang pada akhirnya tumbuh diantara mereka bertiga.
Nisa menyukai Hoirul dengan ketampanannya, sehingga Nisa terlihat lebih sering bercanda dengannya daripada dengan Ishaq yang bersikap dingin namun tak kalah tampan. Nisa mulai jatuh cinta pada Hoirul, namun sangatlah tidak mungkin jika seorang wanita menyatakan cintanya terlebih dahulu pada laki - laki.
Tak ada rasa cinta di hati Ishaq, mungkin bukan tidak ada melainkan belum ada.
Suatu ketika, Nisa hanya berangkat ke kampus bersama Hoirul karena mereka tidak menemukan Ishaq di tempat biasa ia menunggu angkot.
Sesampainya di depan ruang enam, barulah mereka bertemu dengan Ishaq yang sedang duduk sendiri di sebuah bangku di depan ruangan.
"Kamu kenapa tidak menunggu kami?" Serempak mereka bertanya pada Ishaq.
"Tidak apa - apa, aku pikir kalian sudah lebih dulu berangkat ke kampus!" Ishaq menjawab tanpa menoleh ke arah mereka. Sikap Ishaq membuat Nisa dan Hoirul saling berpandangan tanda tak mengerti maksud dari sikap Ishaq.
"Hoirul, ini gimana sih? Aku bingung nih!" Tiba - tiba Desi datang menghampiri Hoirul dan menarik lengan baju Hoirul agar masuk ke ruangan.
Setelah Hoirul masuk bersama Desi, Nisa melangkah menghampiri Ishaq yang tetap duduk di tempatnya dengan tangan yang memegang dadanya.
"Kamu kenapa?"
"Apa kamu sakit?" Nisa terlihat khawatir dengan keadaan Ishaq.
"Aku tidak apa - apa!" Ishaq menyembunyikan rasa sakit yang dialaminya.
"Hey, Aku ini sahabatmu. Jadi, jangan pernah kau bohongi aku!" Nisa marah karena kebohongan sahabatnya.
"Tapi aku tidak apa - apa, Nisa!" Ishaq tetap dengan pandangan kosongnya tanpa menoleh sedikitpun pada Nisa.
"Okelah kalau begitu, jangan pernah berharap aku akan menjadi sahabatmu lagi!"
Nisa mulai mengeraskan suaranya sambil beranjak dari tempat duduk. Langkahnya terhenti karena Ishak memegang tangan Nisa. " Aku mencintaimu!"
Nisa berbalik kearah Ishaq dan duduk kembali di sampingnya.
"Apa maksud kamu?" Nisa menanyakan maksud pernyataan Ishaq padanya. Sementara itu tanpa sepengetahuan mereka berdua, Hoirul mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu.
"Iya, aku mencintaimu sejak kita bertemu, namun aku tidak berani mengatakannya padamu hingga akhirnya kamu pun dekat dengan sahabatku Hoirul!" Ishaq mengungkapkan isi hatinya.
Ishaq jatuh cinta pada Nisa saat pertama kali mereka bertemu, namun Ishaq tidak mengatakan pada Nisa karena khawatir Nisa menolaknya. Hingga Nisa pun mengenal Hoirul dan mereka bertiga menjadi sahabat. Ishaq menahan rasa cintanya pada Nisa karena ia tau bahwa Hoirul pun mencintai Nisa.
Dua - duanya tidak pernah ingin menyakiti sahabatnya. Hoirul tidak ingin menyakiti Ishaq saat ia menyatakan cinta pada Nisa karena walau bagaimanapun, Ishaq lah yang lebih dulu mengenal Nisa. begitu pula sebaliknya. Ishaq tidak ingin menyakiti hati Hoirul yang juga mencintai Nisa.
Ishaq tak mampu menahan rasa cintanya sehingga ia terkena serangan jantung. Ia sering memegang dadanya karena terasa perih dan jantungnya berdetak sangat kencang saat melihat Nisa berjalan atau bercanda bersama Hoirul.
Nisa memutuskan untuk membalas cinta Ishaq dengan sebuah syarat yaitu Nisa melarang Ishaq cemburu di saat dirinya berdiskusi ataupun bercanda dengan Hoirul karena Nisa tidak ingin merusak persahabatan gara - gara cinta. Ishaq setuju dengan persyaratan yang diajukan Nisa.
Namun rasa cemburu tak bisa dihilangkan dari hati Ishaq tiap kali melihat Nisa bercanda dengan Hoirul sehingga penyakitnya kambuh dan ia tidak datang ke kampus.
"Nisa, aku mencintaimu!" Tiba - tiba Hoirul mengungkapkan perasaannya saat mereka sedang menunggu dosen pengajar datang.
"Aku tau itu, dan aku juga mencintaimu!" Nisa berkata tanpa melihat kearah Hoirul yang berada disampingnya. Air matanya menetes.
Melihat hal itu, Hoirul langsung berdiri di hadapan Nisa dan menghapus air mata Nisa mengusapkan sapu tangan miliknya ke pipi Nisa yang basah oleh air mata. "Kenapa kamu nangis?" tanya Hoirul.
"Karena baru sekarang kamu menyatakan cinta padaku padahal sudah lama aku menunggumu menyatakan cinta sebelum Ishaq menyatakannya padaku!" Air mata Nisa terus berhamburan keluar.
Hoirul menjelaskan alasannya tidak menyatakan cinta pada Nisa. Nisapun memahami hal itu.
Nisa meraih sapu tangan milik Hoirul dan mengusap air matanya sendiri. Kemudian memasukkan ke dalam tas miliknya.
Hoirul merasa lega karena telah mengungkapkan rasa cintanya pada Nisa walaupun cintanya tak mungkin berbalas karena ada Ishaq yang telah mengisi hati Nisa.
Nisa menerima cinta Ishaq bukan karena cinta melainkan karena rasa kasihan.
~~~
Pulang kuliah, Hoirul mengajak Nisa menjenguk Ishaq. Sebelum pergi ke rumah Ishaq, Hoirul mampir ke kios buah. Dia membeli beberapa jenis buah dan memberikannya pada Nisa. Hoirul meminta Nisa agar tidak memberitahu Ishaq jika sebenarnya buah itu dibeli dengan uang Hoirul. Mereka pergi menggunakan motor milik Hoirul.
Sejak Nisa dan Ishaq jadian, mereka bertiga tak lagi naik angkot. Nisa selalu diantar jemput oleh Ishaq, sedangkan Hoirul memilih membawa motor sendiri ke kampus. Jika Ishaq tidak bisa hadir ke kampus, maka Hoirul lah yang mengantar Nisa pulang ke rumah.
Ishaq terkejut saat melihat Nisa datang bersama Hoirul. Mereka berdua menghibur Ishaq. Sedikit senyum tersungging di bibir Ishaq karena terhibur oleh tawa Nisa.
Karena rasa cemburunya pada Hoirul, Ishaq meminta Hoirul untuk meninggalkan Nisa bersamanya.
Serempak Nisa dan Hoirul menolak permintaan Ishaq karena tidak mungkin Ishaq mengantar Nisa pulang dalam keadaan sakit.
Ishaq tetap memaksakan keinginannya karena cemburu. Akhirnya Nisa dan Hoirul pun mengalah.
Hoirul pamit pulang, sementara Nisa tetap berada di rumah Ishaq.
"Aku sayang sama kamu, dan aku akan selalu setia pada orang yang aku sayang!" Nisa mulai bicara serius.
"Apa maksud kamu, sayang?" Ishaq bertanya sambil memegang dadanya yang sakit.
"Kamu sakit kan?" Bukan pertanyaan melainkan sindiran yang dikatakan Nisa.
"Kamu sakit bukan karena penyakitmu yang kambuh, melainkan karena rasa cemburumu yang terlalu berlebihan!" Indah melanjutkan kalimatnya. Sedangkan Ishaq hanya tertunduk tak bersuara karena apa yang dikatakan Nisa adalah benar adanya.
"Kamu akan sembuh jika tidak pernah ada rasa cemburu di hatimu!" Nisa menatap tajam ke arah Ishaq.
Ishaq mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap sayu mata Nisa dan berkata "Aku sayang padamu, dan aku tidak ingin kehilanganmu!"
"Tapi tidak seperti ini caranya!" Nisa membuang muka dan mengalihkan pandangannya ke lantai.
"Buanglah cemburu pada tempatnya!" Suara Nisa semakin tegas membuat Ishaq terkejut.
"Bukan pada sahabat yang telah mengorbankan rasa cintanya untukmu!" Suara Nisa mulai serak karena sedih.
Saat Ishaq masih tertunduk, Nisa langsung pamit pulang dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Ishaq.
Ishaq langsung berdiri dan menghidupkan motornya untuk mengejar Nisa, namun terlambat karena Nisa sudah lebih dulu naik angkot. Ishaq kembali ke rumah. Mengambil ponselnya dan menghubungi Nisa. Beberapa kali panggilan dilakukan olehnya, Namun tidak ada jawaban dari Nisa.
Nisa tidak langsung pulang ke rumah melainkan mampir ke rumah Hoirul. Melihat Nisa datang, Hoirul langsung menyambut dan mengajaknya duduk di warung Degan milik kakaknya.
Nisa menceritakan semuanya pada Hoirul. Nisa merasa tersiksa dengan kecemburuan atas dirinya dan Hoirul. Nisa bersikeras untuk mengakhiri hubungannya dengan Ishaq. Namun Hoirul melarangnya.
Nisa tetap pada pendiriannya. Satu mata kuliah usai jam 15.00. Kuliah berikutnya pukul 15.30. Masih ada waktu 30 menit untuk Ishaq bisa menyelesaikan masalah dengan kekasihnya. Nisa memutuskan hubungannya dengan Ishaq.
Hoirul yang sedari tadi pura - pura sibuk dengan tugas kuliah memang sengaja tidak mendekati dua sahabatnya yang adu mulut tentang hubungan mereka. Tiba - tiba Nisa menarik tangan Hoirul dan menggandengnya berjalan kearah Ishaq yang tertunduk gusar.
"Mulai hari ini, menit ini, dan detik ini, tidak ada cinta diantara kita!" Nisa berkata dengan tegas. Nisa pergi ke arah kantin kampus untuk menenangkan pikiran ditemani secangkir cappucino hangat.
Hoirul berlari menyusul Nisa dan diikuti Ishaq di belakangnya. Mereka duduk di samping kiri dan kanan Nisa. Keputusan Nisa tidak berubah dan tetap menjadikan mereka sahabat hingga mereka lulus dengan hasil terbaik.
~~~SELESAI~~~