Azalae Djadmika, gadis 22 tahun. Dia berpikir telah menikah dengan seorang pria lajang berstatus duda. Ternyata tidak. Syafira Bella, isteri Zayn Putra Maliq yang di beritakan telah meninggal Dunia satu tahun yang lalu. Tiba-tiba kembali dan mengambil semua cinta yang singgah pada Lea.
Apalagi Zayn merasakan cintanya pada Bella tidak pernah memudar seiring waktu hilangnya isterinya. Kehadiran istrinya kembali, membuat Zayn kembali seperti pria muda yang sedang kasmaran dan jatuh cinta sekali lagi pada Bella.
Oleh karena itu, sikap Zayn mulai berubah, dia mulai mengabaikan kehadiran Lea. Apalagi bisikan Bella menuntut agar Zayn segera menceraikan Lea.
***
Karya ini menggunakan nama tokoh yang di usulkan oleh teman baikku, Lele. Alur cerita dan pokok pikirannya pun di sumbangkan oleh temanku yang comel itu.
Selamat membaca 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TSO-8
Dup! Dup! Dup!
Lea meraba dadanya. Dia ingin menghentikan suara jantungnya. Suara jantung ini terlampau keras. Sangat malu di dengar Zayn.
"Kau merasa sangat gugup?" bisik Zayn selesai melepas ciuman singkatnya. Kini, kening pria itu bersandar pada kening Lea. Ujung hidung mereka saling bersentuhan.
Lea terdiam. Dia masih kaku dalam posisinya. Apalagi deru napas pria di depannya terasa nyaman masuk dalam hidungnya, sekaligus membuat hatinya bergetar.
"Apakah aku boleh mencium lagi?" ijin Zayn.
Deg! Pertanyaan itu membuat Lea panik seketika. Tanpa sadar, dia spontan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Menjadikan perisai, dia hanya takut pria ini akan sedikit nekat dengan tangan yang menerobos masuk ke dalam kaosnya.
Aku berhubungan dengan seorang pria yang sudah pernah menikah. Dia sudah melihat segala hal tentang tubuh wanita.
"Kau tidak ingin di cium?" tebak Zayn merosotkan dirinya kembali ke kursi.
Lea menundukkan pandangannya, arah matanya jatuh pada ujung-ujung jemari tangannya. Sedapat mungkin, dia menyembunyikan semburat merah muda yang menjalar dari ujung telinganya hingga ke kedua belah pipinya.
Zayn tersenyum, mengira bahwa ciuman pertama Lea. Wajah yang memerah malu itu mengingatkan kenangan lamanya. Mengingat dirinya sendiri pertama kali pernah mendapatkan ciuman pertama, Bella, istri sebelumnya. Bagai bunga yang mekar, Zayn tidak bisa berhenti tersenyum jika teringat Bella yang pernah singgah begitu lama di hatinya.
"Ehem!" dehem Lea yang segera memperbaiki posisi duduknya, menghadap lurus ke depan.
Zayn menoleh ke samping. Telapak tangannya menyentuh rambut indah Lea yang halus bagai sutera. Perlahan, dia merapikan anak-anak rambut Lea yang melewati garis telinga. Dia segera menyematkan setiap anak rambut tersebut ke belakang telinga Lea.
Deg! Jantung Lea melambat mendapatkan sentuhan pria di sampingnya. Rasa gugup menguasainya, sekaligus rasa tersipu berkecamuk dalam hatinya, ketika pria itu berbisik kembali di sisi telinganya, "Kau cantik jika mengerutkan keningmu."
Mengerutkan kening. Mengapa harus mengerutkan kening, baru terlihat cantik?
Lea larut dalam kebingungannya. Belum saja, dia akan bertanya. Dia kembali terusik dengan wajah Zayn yang terlihat tanpa jarak dengan wajahnya.
Zayn memiringkan sedikit kepalanya. Cup! Zayn mencium kembali dengan sangat ketat. Mendapatkan pagutan yang tiba-tiba menggigit bibir bawahnya, Lea membenamkan matanya segera. Sedangkan, Mata Zayn setengah terkatup, gelap, dan tidak terbaca.
Bella .... Aku merindukanmu. Sungguh merindukanmu, jerit rindu tangis Zayn yang tidak di sadari oleh Lea.
Lea hanya merasakan napas pria itu makin terdengar cepat. Sedangkan, dirinya telah kehilangan udara dalam mulutnya. Dia merasa seluruh oksigennya di rebut oleh Zayn, dan dirinya telah sedingin gunung batu es. Tidak bisa sedikitpun mengelak matahari yang datang padanya, dan meluluhkan dirinya dalam sekejap.
"Huh ... huh ...," ngos Lea di sela-sela ciuman mereka. Zayn terhenti, seakan memberi waktu agar Lea mengambil napas.
"Sudikah menikah denganku, Lea?" tanya Zayn tiba-tiba. Tangan Zayn meremas lembut tangan kecil Lea, dan mendudukkan posisi tangan mereka tepat di atas paha Lea.
Lea tertegun sesaat. Dia mendongak. Mencari dan menyelidiki keseriusan dari setiap mata yang mengintainya seperti predator, siap akan memangsa kembali.
"Terlalu buru-buru. Aku masih muda. Usiaku 22 tahun."
"Kau sudah cukup umur untuk menikah, Lea."
"Tetapi, kita baru saling mengenal," kilah Lea menolak secara halus.
Zayn tersenyum, "Apakah kau masih ragu dengan hatiku? Bagaimana caranya aku membuktikannya padamu?"
Lea tampak berkosentrasi dengan keningnya berkerut dalam, menyelidiki pria di depannya.
Apakah kamu serius melamarku? Atau hanya ingin mencari teman tidur?
"Kau cantik sekali."
Lea menyipitkan matanya. Meratakan keningnya, menghilangkan kerutannya, dan dia tidak tahan untuk bertanya, "Mengapa kau selalu memujiku, ketika aku mengerutkan kening? Apakah aku terlihat mirip seseorang?"
Zayn melongos. Awalnya tidak ingin menanggapi. Karena tidak mungkin, dia berkata jika Lea memiliki kemiripan dengan Bella. Dia bahkan mengingininya Lea, karena teringat akan Bella, yang sangat mudah mengerutkan keningnya. Namun, akhirnya dia berkilah, "Lea yah Lea. Hanya ada satu Lea. Kau memang terlihat lucu dengan kening berkerut seperti itu."
"Sungguh? Aku bukan pengganti?" tebak Lea terasa gugup menembak pria itu.
Zayn menoleh ke Lea, dan menganggukan kepalanya, "Kau bukan pengganti. Aku mencintaimu sebagai Lea. Bukan siapapun. Aku mencintaimu sebagai Lea. Bukan siapapun. Apakah kau percaya?"
Lea tersipu. Tidak berani menjawab. Dia berharap wajahnya tidak menunjukkan perasaannya saat ini.
Jangan memerah. Jangan memerah, mohon Lea dalam hati.
"Apa kau perlu bukti lain?"
Bibir Lea terkatup. Memikirkan bukti apa yang harus di berikan pria ini? Tanpa bukti pun, Lea sudah menaruh kepercayaan yang sangat dalam pada pria ini. Hati kecilnya, mengatakan jika diapun terllau jatuh ke jurang perasaan. Cinta yang tak bisa tertolong. Dia bahkan tidak memandang pria ini, berstatus telah menikah dan memiliki dua anak. Dia hanya merasa nyaman bersamanya.
"Setelah menikah. Aku bisa membelikan rumah untuk ibumu. Mobil beserta supirnya akan aku berikan. Kau dan ibumu, tidak perlh bekerja lagi. Kau hanya perlu meminta uang denganku. Apa kau setuju?"
Lea tak bergeming. Walau, hatinya telah terpikat pada pria ini. Namun, rasa janggal dan khawatir tetap menyelimutinya.
Bagaimana dengan isterinya? Aku belum mengetahui apapun dengan istrinya?
Lea mengelap bibirnya sesaat. Lalu bibir merah mudanya bergerak terbuka untuk bertanya, "Apakah aku boleh tahu tentang keberadaan isterimu?"
Deg! Giliran jantung Zayn yang bertempo lambat. Dia memejamkan matanya sesaat, seakan luka lama itu masih tertoreh, membekas dengan dalam, dan tidak pernah sembuh.
"Nama istriku Syafira Bella, dia telah tiada, Lea. Dia telah meninggal karena kecelakaan mobil setahun yang lalu."
Suasana mobil menjadi sunyi. Lea mendapatkan kesedihan dari sepasang retina yang terlihat tajam tersebut. Namun, hati Lea bersyukur dalam diam. Setidaknya pria yang melamarnya, seorang duda dengan istri yang telah tiada.
"Maafkan aku yang bertanya."
Zayn tersenyum tipis, seakan mengubur kembali deritanya kala menatap wajah Lea. Lea bagaikan wujud Bella.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan kembali?"
"Tidak." Lea menghindar tatapan Zayn.
Zayn menarik napasnya lagi. Dengan hati-hati dia menyelidiki raut wajah Lea. Setelah, raut wajah gadis itu terlihat tenang tanpa pikiran yang berkecamuk. Zayn bertanya mengulang lamaranya, "Apakah kau menerima lamaranku?"
Lea menoleh. Terlihat ragu akan memberikan jawaban. Namun, menit selanjutnya dia menggelengkan kepalanya.
"Aku belum ingin menikah, Zayn. Berikan kita waktu lima atau enam tahun lagi, untuk menjadi suami istri."
Terdengar Zayn menghela napas. Dia tidak pernah menyangka jika Lea akan menolaknya secara terbuka dan cepat seperti ini.
"Menunggu lima tahun lagi. Usiaku sudah empat puluh tahun, Lea," keluh Zayn dengan suara beratnya.
"Bersabarlah menunggu."
Zayn diam. Menyembunyikan pandangan mata gelapnya, menyembunyikan obsesinya.
Aku akan membuat dirimu, menikah denganku hanya dalam hitungan hari. Sebentar lagi, nama belakangku akan mengikutimu.
................
Bersambung....