NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Di rooftop sekolah pada jam istirahat, aku dan Maya kembali mengadakan pertemuan darurat setelah sebelumnya aku memaksakan diri berbicara dengan Luna, si ketua kelas. Aku akui performaku buruk, itu sebabnya pertemuan darurat ini diinisiasi oleh Maya. Pembicaraan kami sedikit bergeser dari topik awal setelah aku keceplosan memberi tahu Maya tentang hobiku yang memalukan. Dia tiba-tiba tersenyum aneh dengan rona merah di pipi. Tatapan mata itu... sangat aneh. Dia seperti menyembunyikan sesuatu, seolah-olah sudah tahu kalau aku ini penulis novel. Namun, mana mungkin, kan?

"Hei, jangan tertawa cuma karena aku punya hobi menulis," tegurku agar dia tidak mengejekku lebih jauh.

Seketika itu juga Maya menggelengkan kepala sambil menggerakkan kedua tangannya, memintaku untuk tidak tersinggung dengan sikapnya.

"Tidak, aku enggak tertawa, kok. Aku cuma berpikir, novel apa yang sudah Raka tulis di kelas satu SMA? Bahkan aku saja enggak tahu fakta ini," ucap Maya. Dia menatapku, masih dengan senyum manis dan rona merah di pipi.

"Hah? Ya, pasti kamu enggak bakal tahu, kan? Aku enggak pernah bilang ke siapa pun kalau aku menulis sebuah novel," ucapku bingung sekaligus heran. Apa dia benar-benar seorang penguntit yang selama ini mengawasiku? Sampai-sampai tahu rahasia terbesar dalam hidupku.

Apa-apaan reaksinya itu? Senyum dan rona merah di pipinya... apa yang sebenarnya ada di dalam kepalanya? Atau jangan-jangan dia sedang merencanakan pemerasan terhadapku agar aku mau tutup mulut dan tidak membocorkan rahasia memalukan ini? Aku pasti akan hancur kalau sampai satu kelas tahu aku punya hobi menulis novel. Terlebih, seorang cowok tulen sepertiku menulis cerita romantis, meskipun ada bumbu-bumbu komedinya. Tentu saja itu akan sangat memalukan, ya, kan?

"Ah, lupakan soal itu sekarang. Lalu, gimana dengan obrolannya tadi?" tanya Maya, seolah dia tersadar dari seluruh usahaku untuk mengalihkan pembicaraan. Raut wajahnya pun langsung berubah, seperti orang yang mendadak tersentak sadar dari hipnotis.

"Kamu kan bisa mengobrol normal sama aku, kenapa sama Luna enggak bisa?" tanya Maya lagi dengan heran ketika aku hanya diam menahan kesal karena dia lagi-lagi membahas sesuatu yang ingin kuhindari.

"Ya, pikir saja sendiri. Aku ini memang bisa mengobrol normal kalau punya maksud dan tujuan yang jelas. Sedangkan untuk dirimu, itu karena kita sama-sama dari masa depan yang bertemu di kehidupan kedua. Sudah kubilang, kan, kamu itu spesial bagiku. Topik pembicaraanku denganmu pasti seputar kehidupan kedua ini," jawabku tegas dengan nada kesal supaya dia paham perbedaannya. Aku jadi makin mengkhawatirkan kemampuan Maya untuk mengerti ucapan manusia.

"Haah... ya sudah, hari ini sampai di sini dulu saja," ucapnya sambil menghela napas.

Lega... akhirnya aku bisa bebas.

"Tapi aku belum menyerah, ya! Kamu juga harus tetap berjuang buat mencari teman!" ucapnya lagi penuh semangat sambil menunjukku. Sepertinya rasa legaku terlalu cepat diucapkan.

"Kenapa kamu jadi semangat begitu?! Aku sama sekali enggak mau berjuang untuk hal seperti itu!" bentakku merespons semangatnya. Namun, Maya tidak peduli. Dia melambaikan tangan sambil berjalan meninggalkan rooftop.

Setelah beberapa saat berlalu, giliranku yang beranjak meninggalkan rooftop sekolah. Semua ini kulakukan agar tidak ada teman sekelas yang melihat aku dan Maya saling bertemu di tempat sepi seperti rooftop. Aku akan makin kerepotan menghadapi kehidupan sekolah di kehidupan kedua ini kalau sampai ada yang melihat kami. Aku rasa aku bisa makin tertekan karenanya.

Dua minggu telah berlalu sejak aku dan Maya terakhir kali bertemu di rooftop sekolah... dan juga setelah kegagalan besarku untuk berteman dengan Luna...

Aku melewati masa sekolah dengan baik, tenang, dan sesuai dengan apa yang kuinginkan. Tidak ada drama, ketegangan, atau hal lain yang akan membuat kehidupan sekolahku menjadi merepotkan. Paling yang membuat repot hanya PR, ulangan pra-semester, dan tugas-tugas dari guru yang terasa begitu menumpuk. Namun, semua itu bisa kuselesaikan dengan baik. Nilaiku juga menjadi yang tertinggi di kelas.

Sisanya, hari-hariku dihabiskan untuk bermalas-malasan di rumah bersama Vanya. Menonton TV seharian bersamanya ternyata tidak terlalu buruk, dan ini menjadi kali pertama aku melakukannya di dua kehidupanku. Kami berdua juga sering diejek Ayah dan Ibu sebagai dua paus yang terdampar di pantai. Namun, ini menyenangkan. Aku bisa berkumpul lagi bersama Vanya, di mana pada kehidupan pertamaku dulu aku tidak terlalu akrab dengannya.

Di hari Senin.... Pagi itu aku berangkat sekolah dengan perasaan yang baik-baik saja. Setelah dua minggu penuh Maya tidak menggangguku—selain pertemuan hari Senin sepulang sekolah di kafe yang ditunjuk Maya—aku mengikuti pelajaran dengan baik sampai bel istirahat berdering. Seperti biasa, aku menghabiskan jam istirahatku dengan membaca manga sambil ditemani roti isi dan jus kalengan. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama ketika...

"Raka, sibuk enggak?"

Terdengar suara seorang gadis yang berdiri di depan mejaku. Aku mendongak menatapnya dan cukup terkejut melihat siapa pemilik suara itu.

Sosok siswi paling menonjol di kelas tiba-tiba mendatangiku dan mengajakku berbicara. Ya, dia adalah Luna, si ketua kelas. Dia menatapku dengan tatapan mata yang sedikit keheranan. Entah kenapa dia menatapku seperti itu. Apa mungkin dia akan mengadiliku karena dua minggu lalu aku berani mengajaknya bicara? Atau dia akan meminta pertanggungjawaban atas tindakanku waktu itu? Ini cukup menegangkan bagiku karena aku tidak tahu motif Luna mendatangi mejaku secara tiba-tiba seperti ini.

"Oh, hei, iya. Ada apa, ya?" tanyaku sedikit terbata. Aku menutup manga-ku lalu meletakkannya di atas meja. Aku mencoba untuk bersikap lebih ramah padanya, siapa tahu Luna akan menunjukkan belas kasih kalau dia benar-benar ingin menuntutku.

"Kamu belum mengumpulkan PR bahasa Inggris," jawabnya datar.

"Oh, iya, ya! Ada PR membuat cerita pakai bahasa Inggris," timpalku sedikit bergumam. Aku baru ingat kalau ada PR bahasa Inggris karena minggu kemarin aku bermalas-malasan dengan Vanya seharian penuh.

"Aku enggak mau mengumpulkannya ke guru kalau ada anak yang belum mengerjakan," ucap Luna. Yah, seperti yang dikatakan Maya, Luna memang anak yang baik.

"Begitu ya... Jadi ketua kelas memang sulit, ya. Tapi, terima kasih. Bisa tunggu sebentar?" pintaku. Luna pun hanya mengangguk sambil tersenyum.

Aku mengeluarkan buku tulisku lalu mulai menulis apa yang kulakukan selama liburan sekolah menggunakan bahasa Inggris. Ini sangat mudah bagiku karena aku masih ingat apa yang pernah kutulis di kehidupan pertamaku. Hanya butuh beberapa penyesuaian kata karena tingkat kemampuan bahasa Inggrisku sebenarnya sudah di tahap siswa kelas tiga SMA. Ini rasanya seperti memakai kode curang dalam sebuah gim.

Aku menulis semuanya dengan cepat agar Luna tidak menunggu terlalu lama. Kasihan dia harus berdiri di depan mejaku sambil bengong begitu di jam istirahat. Namun, ketika aku lagi asyik menulis, tiba-tiba Luna bersuara.

"Hei, kamu pintar pakai bahasa Inggris, ya? Cepat banget," tanya Luna, terdengar kagum padaku. Dia sampai memajukan badannya, menjadikan kedua tangan sebagai sandaran yang diletakkan di atas mejaku, dan sepertinya posisinya makin dekat dengan tempat dudukku.

"Ya... biasa saja..." jawabku merendah sambil terus menulis.

"Nilai ulangan bahasa Inggris kemarin dapat berapa?" tanya Luna, dan saat itu aku sedikit terkejut.

Dalam hati aku berkata, 'Orang asing ini benar-benar ahli dalam membuka obrolan.'Yah, sesuai yang diharapkan dari seorang ekstrover. Menurutku ini langkah bagus yang mungkin bisa kulaporkan ke Maya nanti sore ketika kami bertemu di kafe keluarga. Setidaknya aku punya bahan obrolan setelah dua minggu aku bertemu dengannya tanpa ada bahan pembicaraan penting satu pun. Aku pun mendongak sedikit, namun yang kulihat ketika itu adalah pemandangan yang luar biasa...

Luna berdiri terlalu dekat dengan posisi dudukku. Jadi, ketika aku mendongak, yang tepat berada di depan mataku malah dadanya. Dalam hati aku langsung berteriak, 'Gede banget!!! Kita masih kelas satu SMA, kan?! Apa dia sudah memiliki ukuran sebesar ini saat kelas tiga?! Itu pasti ukuran 34D!!' Aku sedikit berkeringat dingin. Agar tidak dianggap mesum, aku langsung mengalihkan tatapan ke wajahnya meskipun membuatku jadi bersandar pada kursi.

"Oh, apa pertanyaanku aneh?! Aku cuma penasaran saja, maaf, ya~" ucap Luna terdengar panik sambil melambaikan kedua tangannya ke arahku. Apa aku tadi menatapnya dengan raut wajah aneh sampai dia merasa begitu? Namun, beruntung dia tidak sadar apa yang kupikirkan tadi... Haah...

Aku tidak langsung menjawabnya dan lebih memilih untuk menetralkan ekspresi wajah mesumku agar tidak memberikan kesan buruk. Aku tidak bisa berbohong, tadi itu adalah pemandangan yang bagus. Tapi aku juga tidak bisa setega itu pada Luna karena dia gadis yang sangat baik. Jangan salahkan aku, karena biar begini pun aku sebenarnya remaja yang cukup matang. Hal-hal seperti itu selalu membuatku terlalu bersemangat dan kadang menjadi berlebihan, kan?

Tapi kembali ke topik pembicaraan dengan Luna, dalam hati aku pun bertanya-tanya, 'Kenapa dia bertanya tentang nilai bahasa Inggrisku?' Tapi setelah aku pikir-pikir... rasanya aku tahu alasan di balik pertanyaan itu...

"Luna, kamu dapat nilai rata-rata tertinggi kedua di kelas, ya?" tanyaku mengacu pada pengumuman kelas yang selalu memberikan peringkat setiap sebulan sekali setelah ulangan tengah semester. Luna pun terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku, terlihat dari raut wajahnya.

"Eh, i... iya, kok kamu tahu?" tanyanya penasaran. Aku menghela napas, namun masih memberikan tatapan datar agar tidak terkesan menyombongkan diri.

"Cuma menebak saja. Soalnya cuma itu alasan yang kupikirkan saat kamu tanya nilai bahasa Inggrisku, orang yang enggak kamu kenal dengan baik. Jadi, kamu sedang mencari peringkat satu di kelas saat ini, kan? Itu aku orangnya," jawabku datar mencoba untuk tetap rendah hati, sambil menunjukkan lembaran yang berisi nilai-nilai ujian tengah semesterku kepadanya. Luna menerima lembaran kertas itu dengan mata berbinar dan ekspresi wajah tidak percaya.

"Gak aku sangka, kamu orangnya! Raka, kamu ternyata cukup pintar, ya! Agak mengejutkan!" Luna mengucapkannya dengan antusias sambil menatap lembaran kertas nilai-nilai ulanganku yang memang didominasi angka sembilan.

"Cuma kebetulan saja, soalnya cakupan materi di awal semester ini kan masih sedikit," timpalku masih dengan nada datar supaya kesannya aku adalah orang yang sangat rendah hati.

Sedikit rahasia, sebenarnya bukan aku yang pintar, tapi semua ini karena aku adalah orang yang kembali ke masa lalu. Isi kepalaku setingkat anak SMA kelas tiga yang telah lulus sekolah dan sekarang diberi pelajaran anak kelas satu SMA, bukankah itu memang sudah seharusnya menjadi mudah? Tapi aku cukup terkejut karena secara peringkat paralel, aku hanya menduduki peringkat empat. Sepertinya pepatah 'di atas langit masih ada langit' itu benar-benar nyata. Tapi aku tahu siapa peringkat pertama di peringkat paralel sekolah ini... pasti Maya, ya, kan?

Setelah obrolan singkat itu, aku kembali fokus untuk menyelesaikan PR yang belum selesai. Tidak butuh waktu lama, kok. Aku juga tahu diri untuk tidak terlalu merepotkan Luna yang sudah mau menungguku menyelesaikan PR. Aku pun menyerahkan bukuku ke Luna. Dia menerimanya tanpa melihat isinya sambil mengembalikan lembar nilai tengah semesterku.

"Oke, aku kumpulkan, ya... Dan, terima kasih sudah mau memperlihatkan lembar nilai tengah semestermu. Ini tantangan yang bagus buatku, bye~" celetuknya setelah menerima bukuku. Namun, aku heran kenapa juga dia sampai mengucapkan terima kasih untuk hal seperti itu.

"Oh, ah, ya... Senang bisa membantu, kurasa..." timpalku.

Dia pun melambaikan tangan sambil berjalan meninggalkan kelas untuk mengumpulkan semua buku PR ke ruang guru. Aku membalas lambaiannya beberapa kali, lalu kembali membaca manga di atas meja.

Sambil membaca, aku mencoba memahami apa yang membuat Luna mengucapkan kata 'terima kasih' padaku. Meski tampangnya kalem, ternyata jiwa kompetitif Luna itu tinggi juga. Kalau diingat-ingat, memang aku tidak pernah mengobrol dengan Luna sebanyak dan selama ini di kehidupan sebelumnya. Hal itu membuatku menarik kesimpulan kalau koneksi di antara orang-orang memang kadang bisa terhubung melalui obrolan sederhana seperti bertukar nilai. Meskipun kamu sendiri tidak ingin berhubungan dengan orang itu, kadang hal tersebut terjadi secara natural.

Ngomong-ngomong, waktu itu aku merasa kaku saat mencoba mengajak Luna mengobrol karena paksaan dari Maya, tapi kali ini obrolan kami bisa terbilang sukses dan lancar. Aku jadi memahami sesuatu, yaitu berbicara pada orang lain hanya untuk sekadar mengenal mereka adalah sebuah ketidaksesuaian yang fatal. Aku harus berbicara dengan seseorang karena aku memang ingin, bukan karena alasan lain.

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!