LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Duel Digital Dan Pintu Yang Terbuka
Hujan di kawasan industri Cikarang turun semakin deras, seolah langit ingin memadamkan api dendam yang membakar hati Rio Pratama. Mobil hitam milik keluarga Sky berhenti di kejauhan, sekitar dua ratus meter dari Gudang Sektor 4 yang terlihat angker dan berkarat.
"Matikan mesin," bisik Aldo tegas. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah Malia yang pucat pasi dan Rania yang menggenggam tangan sahabatnya erat-erat. "Kita jalan kaki dari sini. Jangan nyalakan senter. Biarkan tim keamanan yang menyisir perimeter. Kita masuk sesuai permintaan Rio, tapi kita punya mata di langit."
"Mata di langit?" tanya Malia bingung, air matanya masih bercampur air hujan.
Aldo menepuk saku jasnya, di mana ponselnya bergetar pelan. "Sabiru. Anak itu sedang menjadi mata kita dari kampus."
Di perpustakaan kampus yang sepi, Sabiru Naverlla Azzura tidak lagi gemetar. Matanya terpaku pada tiga layar monitor yang kini terbuka di laptopnya. Berkat koneksi remote yang stabil, ia telah berhasil membobol akses kamera CCTV eksternal di sekitar gudang tua itu—kamera milik perusahaan logistik tetangga yang kebetulan satu jaringan dengan sistem keamanan lama buatan Arisendra.
"Aku melihat kalian, Yah," bisik Sabiru, jarinya mengetik cepat untuk memperjelas gambar buram akibat hujan. "Ada empat penjaga di atap. Dua di pintu depan. Dan Rio... dia ada di dalam, dekat tiang utama."
Di layar tengah, Sabiru melihat sosok Allbiru yang terikat pada kursi besi. Wajah kakaknya penuh luka lecet, tapi matanya masih menyala marah. Di sampingnya, Rio mondar-mandir sambil memegang pistol, tampak gelisah memeriksa tablet miliknya.
"Mereka belum masuk," lapor Sabiru melalui pesan teks terenkripsi ke grup keluarga. "Tunggu aba-abaku. Aku akan coba lumpuhkan sistem lampu gudang supaya kalian bisa menyusup lewat pintu belakang saat gelap."
Balasan dari Aldo datang cepat: "Siap. Hati-hati, Sabi. Rio mungkin punya sistem pertahanan siber juga. Jangan sampai terlacak."
Sabiru tersenyum tipis. "Rio memang pencipta sistem ini, Yah. Tapi aku darah dagingnya. Aku tahu 'pintu belakang' yang bahkan Rio lupa tutup."
Jari-jari Sabiru menari liar. Ia memasukkan kode legacy lagi, kali ini untuk memanipulasi panel listrik gudang.
override --target: PowerGrid_Sector4 --command: FLICKER
Di dalam gudang, tiba-tiba lampu sorot besar di langit-langit berkedip-kedip aneh, lalu mati total selama lima detik sebelum menyala redup.
"Ada apa ini?!" bentak Rio, menoleh tajam ke arah panel kontrol. "Siapa yang main-main dengan listrik? Cek sistemnya!"
Salah satu anak buah Rio bergegas ke komputer tua di sudut ruangan. "Mas Rio, ada serangan dari luar! Seseorang mencoba mengakses server lokal!"
Wajah Rio berubah ganas. "Lacak IP-nya! Cepat! Siapa pun dia, aku akan habisi!"
Di kampus, Sabiru merasakan tekanan berat di dadanya. Layarnya muncul peringatan merah: TRACE DETECTED. COUNTER-ATTACK IN PROGRESS.
"Mereka mencoba melacak balik," gumam Sabiru, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Oke, Rio. Kau mau bermain kucing-kucingan? Ayo kita lihat siapa yang lebih paham sistem ciptaan Ayah kita."
Sabiru tidak menutup aksesnya. Sebaliknya, ia membuat ratusan jalur palsu (dummy routes), mengirimkan sinyal palsu ke berbagai negara seolah-olah serangannya berasal dari Rusia, Brasil, dan Jepang sekaligus. Ini teknik yang baru ia baca di buku kuliah minggu lalu, tapi instingnya membuatnya melakukan dengan kecepatan yang menakjubkan.
Di gudang, Rio membanting meja. "Sialan! Dia terlalu cepat! Dia menyembunyikan lokasinya di balik firewall ganda. Ini... ini gaya coding Arisendra! Tidak mungkin!" Rio terkesiap, matanya membelalak ngeri. "Jangan-jangan..."
Sementara itu, di luar gudang, Aldo melihat lampu berkedip. "Itu tanda Sabiru! Sekarang!"
Aldo, Rania, dan Malia berlari kecil menuju pintu belakang yang terkunci. Tapi sebelum mereka sempat mendobraknya, terdengar suara klik mekanis yang nyaring. Pintu besi berat itu terbuka sendiri perlahan.
"Sabiru..." desis Rania haru. "Dia membukakan pintunya."
Malia tidak membuang waktu. Ia menerobos masuk, matanya langsung mencari sosok Allbiru. "Allbiru!" pekiknya tertahan.
Rio yang sedang sibuk melawan serangan siber menoleh kaget melihat pintu terbuka. "Bagaimana bisa?! Pintu itu dikunci secara elektronik dari dalam!" Ia menodongkan pistol ke arah trio yang baru masuk. "Siapa yang membukanya? Ada orang dalam?!"
"Tidak ada orang dalam, Rio," suara Aldo menggema dingin di ruang gudang yang lembap. "Hanya keadilan yang datang menjemputmu. Dan teknologi yang kau khianati kini berbalik melawanmu."
Rio tertawa sinis, tapi matanya panik kembali menatap tabletnya. "Kau pikir bisa menang? Sistem ini milikku! Aku akan meledakkan servernya, dan seluruh data bukti korupsi yang kau cari akan hancur! Termasuk nyawa anakmu!"
Rio menekan tombol merah di tabletnya. SELF-DESTRUCT SEQUENCE INITIATED.
Di kampus, Sabiru melihat peringatan itu muncul di layar. WARNING: EXPLOSIVE CHARGE ARMED. DETONATION IN 60 SECONDS.
"Tidak!" teriak Sabiru hingga beberapa mahasiswa di perpus menoleh kaget. "Aku tidak akan biarkan Kak Allbiru mati!"
Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia harus menonaktifkan detonator secara digital sebelum waktunya habis. Tapi Rio juga sedang berusaha menguncinya. Ini adalah duel maut. Satu salah ketik, Allbiru bisa tewas.
disable --target: Detonator_Protocol --auth: ARIS_ENDRALegacy
Sabiru mengetik nama ayahnya sebagai kata sandi terakhir. Sebuah keyakinan kuat mengalir di dadanya. Ayah, pinjamkan aku kekuatanmu sekali lagi.
Di layar, progress bar berjalan lambat.
Bypassing... 40%... 60%...
Rio di gudang tersenyum licik. "Terlambat, Nak. Siapapun kau di balik layar itu. Lima detik lagi semuanya berakhir."
80%... 90%...
Malia melihat bom kecil yang terpasang di kaki kursi Allbiru berkedip makin cepat. Ia nekat menerjang Rio, memeluk kaki pria itu. "Rio, hentikan! Demi Arisendra! Demi tanah rambutan kita dulu! Hentikan!"
Rio menendang Malia hingga terjatuh. "Namamu jangan sebut nama dia! Dia penghianat!"
98%... 99%...
"SEKARANG!" teriak Sabiru di kampus, menekan tombol Enter dengan sisa tenaga.
ACCESS GRANTED. DETONATOR DEACTIVATED.
Lampu indikator di bom kecil itu berubah dari merah menjadi hijau, lalu mati total. Hitungan mundur berhenti di angka 00:03.
Rio ternganga. Tabletnya menampilkan pesan error besar: SYSTEM OVERRIDE BY USER: SABIRU_NAVERLLA.
"Sabiru..." bisik Rio, wajahnya pucat pasi. "Jadi... gadis itu... anak Arisendra?"
Aldo tidak menyia-nyiakan momen kebingungan Rio. Ia menerjang, melumpuhkan Rio dengan satu gerakan judo yang sempurna. Tim keamanan yang sedari tadi menunggu di luar segera menyerbu masuk, mengamankan anak buah Rio satu per satu.
"Allbiru!" Rania dan Malia bersamaan memeluk tubuh lemah itu, melepaskan ikatannya. Allbiru lemas, tapi senyum tipis terukir di bibirnya. "Sabiru..." bisiknya lirih. "Kakak tahu kamu melakukannya."
Di kampus, Sabiru merosot lemas di kursinya. Napasnya tersengal-sengal, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Laptopnya masih menampilkan layar hijau: MISSION SUCCESS.
Air matanya tumpah lagi, tapi kali ini air mata lega. "Selamat, Kak..."
Tiba-tiba, layar laptopnya berkedip. Sebuah jendela chat pribadi muncul, dikirim dari akun yang baru saja dinonaktifkan milik Rio. Hanya ada satu kalimat:
"Kau punya bakat hebat, Nak. Sayang sekali kau berada di pihak yang salah. Permainan baru saja dimulai. Rio akan keluar dari penjara, dan saat itu... aku akan datang menjemput warisan sejatiku: Kamu."
Sabiru membeku. Jantungnya berdegup kencang lagi. Rio mungkin tertangkap, tapi ancaman itu terasa sangat nyata. Dan yang lebih menakutkan, Rio tahu namanya.
Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar mendekat. Badai pertama telah usai, tapi awan gelap yang lebih besar sedang berkumpul di cakrawala. Sabiru menutup laptopnya erat-erat, memeluknya seperti pelindung.
"Aku tidak akan lari," bisik Sabiru pada dirinya sendiri, matanya menatap nanar ke arah hujan. "Siapa pun aku, dan apa pun rahasiaku, aku akan menghadapinya. Demi Kak Allbiru. Demi Ibu... maksudku, Bibi Malia. Dan demi Ayah."
Malam itu, Sabiru Naverlla Azzura resmi bukan lagi gadis biasa. Dia adalah target. Dan dia adalah pewaris sah dari perang teknologi yang belum usai.