⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ready for this one?
Tring!
Notifikasi pesan masuk di ponsel Hanum. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Dia sedang merapikan kamar dan hendak pergi senam bersama Bunda sebentar lagi.
"Terimakasih sudah pernah menjadi istri saya. Semoga kamu bahagia, Hanum."
Itu pesan dari Bramasta. Ada rasa geli di dalam dirinya saat dia membaca pesan itu. Hah? Tumben dia berterimakasih seperti itu? Atas dasar apa? Cinta saja dia tidak pernah, pikir Hanum. Tapi dia tertegun melihat pesan dari Bramasta yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan suaminya. Sebab hari ini ialah hari dimana mereka akan pergi untuk persidangan cerai.
Hanum tertawa kecil, "Wah, kamu bakalan jadi janda muda," katanya berucap pada dirinya sendiri.
"Hanum! Ayo kita berangkat!" Bunda dari luar tampak bersemangat dengan baju olahraga pink nya ala emak-emak yang suka ikutan senam. Di sisi lain, Hanum cukup kaget saat melihat Devan yang memakai kaus hitam dan celana training olahraganya yang membuatnya terlihat kekar dan berotot.
"Hanum? Ayo!" Bunda menegurnya.
"Devan kamu mau pergi juga?" celetuk Bunda menatap putranya yang sedang memasang sepatu.
"Iya, Bun."
Bunda tertawa. "Astaga, langka kali lah anak bunda ini, tumben mau ikut," kata Bunda lagi.
"Ya sekali-kali lah, Bun," kata Devan berdiri menunggu Bunda dan Hanum memasang sepatu sneakers.
"Apa jangan-jangan karena ada Hanum kamu mau pergi?"
"Bun..," bisik Hanum pada wanita di sampingnya itu. Sementara Devan terdiam tanda malu.
"Aduh, bunda capek banget nih!" ucap Bunda yang kini tampak ngos-ngosan karena jogging. Hanum yang berada di sebelahnya juga ikut terengah-engah kelelahan. Tapi dia menyukainya sebab dengan jogging ini dia dapat melupakan sejenak masalahnya.
"Ini gara-gara Devan sih," mengingat ide Devan yang mengajak mereka untuk pergi jogging.
"Ah, Bunda tahu," Bunda segera berbisik pada Hanum dan tampak mereka berdua saling tertawa.
Devan yang telah berada jauh di depan mereka pun tersadar. Dia mengentikan langkahnya dan berdiri hendak menunggu mereka. Namun, sebuah angkot lewat dan tampak kedua orang yang baru saja lewat itu melambaikan tangan kepadanya.
"Dadahh!! Kami duluan yaa!" Bunda tertawa bersama Hanum dari balik jendela angkot itu.
Devan tak habis pikir melihat Bunda dan Hanum mendahului nya dengan cara naik angkot. Dia pun segera melanjutkan jogging nya sambil tersenyum. Mengingat bundanya jarang sekali tertawa lepas seperti tadi.
"Bunda mau ikut senam dulu ya sama temen Bunda. Kamu sama Devan aja dulu tungguin sekalian istirahat," suruh Bunda pada Hanum saat Devan tiba.
Hanum pun mengiyakannya.
"Van, beli minum yuk!" Ajak Hanum.
"Sekalian sarapan aja langsung," Mereka pun mampir di salah satu warung sarapan pagi dan memesan nasi goreng.
"Mau kuanterin nanti?" tanya Devan saat mereka sedang menunggu pesanan tiba.
"Apa? Oh.., gak papa aku bisa pergi sendiri kok," kata Hanum.
"Udah jangan nolak. Kali ini biar aku anterin," tegas Devan lagi.
Hanum tak bisa menolaknya lagi.
"Jadi, apa rencana kamu setelah resmi bercerai nanti?" tanya Devan lagi. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur dalam masalah Hanum tapi dia memberanikan diri untuk menanyainya sebab dia juga ingin memastikan dia baik-baik saja.
"Aku mau cari kerjaan, Van. Kamu tahu kan butik aku diambil paksa oleh Mas Bram. Setelah itu aku mau fokus untuk diri aku sendiri."
Ada rasa yang tak dapat dijelaskan oleh Devan. Seperti ketidakpuasan setelah mendengar pernyataan Hanum tadi misalnya. Tapi dia tetap menghargai keputusan perempuan itu.
"Eh, buat Bunda udah dipesan belum?"
"Sudah, aman kok."
"Oh ya, nanti kalo ada apa-apa kamu bilang ke aku aja ya," Devan melanjutkan. Sampai akhirnya pesanan mereka pun tiba.
Hanum mengangguk. Setelah mereka selesai, Hanum memutuskan untuk berjalan santai mengelilingi lapangan yang kian ramai dikunjungi oleh masyarakat.
"Hari ini cerah banget ya," Hanum menatap langit pagi yang cerah dan biru. Dia tampak bersemangat sekali.
Devan tersenyum melihatnya, syukurlah perempuan di sebelahnya ini terlihat baik-baik saja.
"Ya," jawab Devan.
"Kamu gak ada rencana mau nikah, Van?" Ucapan Hanum membuat Devan tersentak.
"Ada kok. Tapi ya.., tunggu waktu nya tiba," kata Devan.
"Wah, semoga cepet ketemu deh kalo gitu. Inget umur loh ya, kita itu udah dua puluh tujuh tahun," kata Hanum. "Jangan sampai kamu jadi bujang tua, nanti gak ada yang mau sama kamu loh," Hanum menakut-nakuti nya.
Devan tersenyum tipis. "Masak? Aku kan tipikal orang good looking," ucapnya dengan penuh percaya diri.
Hanum tanpa sadar dia menatap penuh pada Devan. Hingga mereka berdua saling menatap satu sama lain. Wajahnya yang terlihat tegas, rambut yang dibiarkan berantakan karena habis olahraga, matanya yang cokelat gelap dengan alisnya yang tajam, that's so perfect. Ditambah dengan tubuhnya yang six pack dan bidang seakan-akan siap untuk mendekap erat siapa pun yang menjadi pasangannya.
Wajahnya tiba-tiba memerah. Buru-buru Hanum menoleh ke arah yang lain.
"Ada-ada aja kamu, Van."
Devan tertawa kecil. "Memang kok."
Pukul setengah sembilan mereka kembali ke rumah. Devan mengantar Hanum sebelum dia pergi ke kantornya. Sementara Bunda sedang berbicara dengan Hanum di ruang tengah.
"Apa pun itu yang terjadi, kamu harus kuat ya Nak. Bunda tahu kamu perempuan yang hebat." Tampak wanita itu memeluk Hanum sambil mengelus kepalanya. Hanum terdiam menerima nasihat dari Bunda.
"Terimakasih ya, Bun. Insyaallah Hanum kuat Bun." Hanum tersenyum dan mencium tangan Bunda.
"Makasih ya udah anterin aku, hati-hati di jalan," kata Hanum saat dia turun dari mobil pria itu.
"Jangan lupa kalau sudah selesai kabarin aku," ucap Devan.
Hanum tersenyum dan mengangguk. Dia segera pergi memasuki ruangan persidangan. Hingga akhirnya dia berhadapan dengan Bramasta, yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan suaminya.
"Hai, Mas. Tumben kamu datang cepat," ucap Hanum basa-basi.
Bramasta menatap Hanum sekilas. Wanita itu memang tampak ayu sekalipun memakai gamis dan hijab biru muda yang berbeda jauh dengan Vanya, selingkuhannya yang suka berpenampilan seksi dan menebar pesona di depannya.
"Hanum, semoga kamu tenang setelah ini. Saya tahu kamu puas kan?" Bramasta menatap Hanum dengan datar. Dia tahu kalau selama ini dia memang tak ada rasa sedikitpun pada perempuan itu. Walaupun begitu dia tahu kalau Hanum adalah perempuan yang lembut dan gampangan untuk dikelabui.
Namun, kenyataannya salah.
"Puas banget dong, Mas! Aku sampai tertawa waktu dapetin pemberitahuan sidang kemaren. Thanks ya Mas, udah jadi suami yang "BAIK" selama kita menikah." Hanum mengambil sapu tangan dari tasnya dan mengelap dahinya dengan gaya elegan.
"Selamat berpisah, Tuan Bramasta Dirgantara Pratama," bisik Hanum pada pria itu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruangan. Meninggalkan Bramasta yang masih mematung di tempatnya.