Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"Tetaplah di sini sampai pulih, lagi pula teman yang kamu maksud tidak ada di ruangan," celetuk Solomon dari ambang pintu.
Siapa lagi dia?
Pria bertubuh besar dengan kulit kecokelatan seperti terbakar matahari mengenakan pakaian khusus pejabat tinggi Dakrossa dan mata kanannya mengalami kebutaan, putih seutuhnya. Dia mendekat setelah menggerus sisa cerutu di bawa sepatu bot hitam mengilap yang dikenakan.
Ilyar menggeleng pelan setelah memutuskan untuk tidak terpaku dengan sosok itu setelah mengingat kembali perkataan sebelumnya. "Kalau begitu aku akan menunggu mereka kembali."
Solomon diam sejenak, berpikir untuk memulai cerita dari titik mana. Sedangkan, Ilyar bersiap meninggalkan bangsal perawatan khusus bagi tahanan yang terluka karena menjalankan tugas dari pihak penjara.
"Adrene dan Rubia." Solomon berkata sesaat Ilyar melangkah tertatih-tatih melewatinya.
Seketika Ilyar berhenti melangkah, menoleh Denga dahi mengerut bingung. "Ada apa dengan mereka?"
Solomon menahan seringai sebelum berbalik menghadap Ilyar. "Mereka berada di dalam bangsal perawatan. Kondisinya masih memprihatinkan."
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Ilyar.
Raut wajahnya berubah amat serius, ada kecemasan dan kilat kemarahan di sorot matanya.
Solomon menahan agar sudut bibirnya tidak tertarik membentuk senyum penuh kemenangan.
Dia mendekati Ilyar dan memberitahu apa yang terjadi pada Adrene serta Rubia.
Berdasarkan laporan para sipir yang berjaga di kantin, Morvak mendekati meja makan Adrene serta Rubia untuk menanyakan keberadaan Ilyar, tapi keduanya enggan menjawab sehingga Morvak yang mudah emosi langsung melakukan penyerangan.
Para sipir berusaha melerai, tapi Morvak begitu tangguh dan brutal sehingga korban bukan hanya Adrene serta Rubia, melainkan juga para petugas. Kantin menjadi sangat kacau sehingga Morvak berada di lantai tujuh untuk perenungan setelah sebelumnya menerima sanksi berupa penyiksaan.
"Efra dan Morvak, dia pasti menerima perintah dari orang yang sama dan kurasa Anda tahu siapa dalangnya. Apa saya salah?" Ilyar menelan ludah
Seiring bola bola mata bergulir ke atas, menatap Solomon yang menjulang tinggi nan besar di hadapannya.
Solomon mengukir senyum. "Benar, mereka orang sama yang menjebak dan melukai ayahmu."
Sepasang mata Ilyar terbelalak. "Anda tahu siapa mereka?! Orang yang mencelakai ayahku?!"
Ah... Ilyar langsung menurunkan keterkejutannya, berusaha mengontrol emosi sembari mundur dua langkah dari Solomon. "Tidak. Aku harus tetap tenang. Bisa saja yang berdiri di hadapanku adalah musuh. Tidak boleh mempercayai siapa pun tanpa menilainya."
"Musuhmu adalah anggota keluarga kekaisaran juga anggota keluargamu sendiri," jawab Menthia dari belakang.
Ilyar menoleh cepat ke belakang. Menthia tersenyum tipis seraya mendekat dan berdiri di sisi Solomon. "Kami adalah orang-orang yang dekat dengan ayahmu," akunya dengan lugas.
"Bagaimana aku bisa langsung mempercayai kalian?" tanya Ilyar.
"Hei, Nak." Solomon maju selangkah. Kepalanya tidak tertunduk, tapi sebelah mata yang masih berfungsi bergulir ke bawah untuk memandangi Ilyar dengan dingin.
"Kamu benar-benar menyedihkan. Bahkan di usia 18 tahun ini kamu tidak memahami betapa kacaunya permasalahan di belakang ayahmu padahal kamu adalah seseorang yang akan memegang kendali Tyraven dan sekarang kamu terkebak di sini. Lagi dan lagi kamu tidak mampu melindungi orang di sekitarmu dan terus dilindungi."
Sepasang mata Ilyar melebar. Perkataan tersebut membuat dadanya berdenyut, dia tersinggung sehingga menunjukkan kemarahan atas ketidakberdayaan atas fakta yang dilontarkan Solomon.
"Ada apa? Kamu marah karena itu
kenyataannya?" tanya Solomon.
"Mereka menyembunyikannya dan ketika masalah makin rumit aku baru mengetahuinya!"
Tsk!
Solomon berdecak sebal kemudian mengarahkan telunjuk pada Ilyar. "Itu karena kamu lemah."
"Lemah?"
Raut wajah Ilyar berubah dan Solomon menyadarinya, tapi perkataan menyakitkannya terus berlanjut, "Ketidakberdayaanmu membuat mereka harus melindungimu. Harusnya kamu menyadari itu karena kudengar kamu cukup peka dan genius atau mungkin kamu berusaha berpaling meski telah mengetahui atau mencurigai sesuatu?"
Sepasang mata Ilyar melebar mendengar perkataan tersebut. Berpaling katanya? Apa itu benar? Ilyar mulai mempertanyakan hal tersebut pada diri sendiri. Yah, jika diingat dengan penuh keberanian, ada saat-saat di mana dia mencurigai situasi yang tampak berbahaya di sekeliling ayahnya, tapi dia bersikap seolah semua baik-baik saja dengan berpikir hal-hal buruk yang tengah beredar di belakangnya akan selesai dan dia hanya perlu mengendalikan situasi di masa depan dengan menjadi pemimpin yang bijaksana tanpa adanya sebuah perseteruan yang memakan korban.
Khayalan yang kekanak-kanakan di tengah pergulatan panas perebutan kekuasaan.
"Apa kamu baru menyadarinya?" Solomon kembali menyentak kesadaran Ilyar, membuat gadis itu tampak frustasi setelah menyadari kenyataan pahit bahwa dia terlalu takut sehingga berpaling.
"Ayahmu belum kunjung bangun. Racun itu membuat sistem saraf pusatnya terganggu sehingga mematikan kesadarannya untuk waktu yang tidak kita ketahui," jelas Menthia seraya menarik ujung pakaian Solomon, memintanya untuk tidak lagi bicara.
"Apa tidak ada cara untuk membuatnya pulih secepatnya?" tanya Ilyar.
"Kami sedang mengusahakannya."
"Kalian sungguh teman ayah?" Ilyar berusaha memastikan lagi dan Menthia mengangguk. Sementara Solomon hanya diam.
Ilyar menunduk, meremas seragam tahanannya yang tampak lusuh. Lantas setelah mengumpulan keberanian, kepalanya terangkat untuk memandangi Solomon dengan penuh tekad dan harapan. "Saya ingin menjadi kuat. Bisakah Anda membantu saya?"
Saat itu pula Menthia menatap Solomon, sementara yang ditatap mengulas seringai. "Kamu yakin?"
Ilyar mengangguk mantap. "Ya!"
"Menjadi kuat bukan hal yang mudah. Kamu harus melewati banyak kesulitan, bahkan jika rasanya seperti mau mati, kamu harus tetap bertahan selagi masih bisa bernapas."
"Saya akan melakukan apa pun. Tolong bantu saya!"
***
Bisakah Anda menolong teman-teman saya?
Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya.
Ilyar mengusap wajah kasar mengingat permintaannya pada Menthia sebelum meninggalkan bangsal perawatan khusus. Sekarang, dia berdiri di ambang pintu di mana Adrene dan Rubia terbaring dengan tubuh dibalut perban bernoda darah kering. Para perawat sangat tak acuh dan benar-benar membiarkan dua pasien yang tampak sekarat di sana untuk memulihkan diri sendiri.
Efra dan Morvak berasal dari musuh yang sama.
Setelah berhasil membuat aayahnya nyaris mati lalu menjebloskan dirinya ke Dakrossa, sekarang mereka masih memburunya dan guru-guru yang amat ia sayangi menjadi korban berikutnya.
Dia harus lebih kuat sehingga musuh itu tidak mampu menggapai orang-orang yang ingin dia lindungi sebelum melewatinya. Maka dari itu, Ilyar bertekad untuk melakukan cara apa pun untuk menjadi yang terkuat, memanfaatkan bantuan orang-orang yang mulai dia percaya.
Kemudian esok harinya telah dimulai. Valeris mengatakan agar Ilyar tidak perlu merasa bersalah apalagi cemas berlebih karena baik Adrene maupun Rubia melakukan semua ini untuk melindungi dan berharap Ilyar tidak muram apalagi kehilangan semangat. Namun, di tengah pembicaraan mereka, empat tahanan yang melihatnya hanya bersama Valeris mulai mendekat, mengganggu mereka ketika beraktivitas di bawah teriknya sinar matahari lapangan berumput jarang. Pergerakan dari setiap langkah kaki mengaburkan kolom udara dengan debu samar.
"Kalian kekurangan dua anggota, ya?" Salah satu dari mereka bertanya dengan tampang sarkas.
Empat orang itu berasal dari satu sel jadi tampak akrab satu sama lain untuk merundungnya.
Awalnya Ilyar enggan meladeni dan meminta
Valeris untuk pindah tempat saja, tapi salah satu dari mereka tiba-tiba meremas bahu Valeris hingga rintihan lolos.
Ilyar mendelik tajam ke orang tersebut. Mereka memiliki tubuh tinggi dan besar, terdapat jejak luka lama di beberapa bagian tubuh.
"Hei, kalian masih sangat muda. Di hari bebas ini kita bisa melakukannya tanpa diketahui para sipir," katanya dengan senyum culas dan penuh nafsu.
Kebanyakan tahanan Dakrossa adalah pria, sehingga perundungan serta pelecehan sering kali terjadi di kalangan mereka. Terkadang, para petugas melakukan hal sama dan menutupi perbuatan busuk itu satu sama lain.
Ilyar melotot kemudian menyingkirkan tangan besar itu dari bahu Valeris. Perasaannya tak pernah membaik setelah melihat kondisi Adrene dan Rubia lalu sekarang sejumlah orang baru mau muncul dengan niat paling menjijikkan?
"Ilyar," kata Valeris pelan sembari mencekal pergelangan tangan Ilyar yang gemetar menahan emosi.
Gadis itu berdiri di hadapan tahanan yang baru saja mencengkeram bahu Valeris. Kepala Ilyar terangkat seiring sorot mata dipenuh kemarahan dan itu menjadi pemandangan yang lucu bagi tahanan-tahanan tersebut.
Seorang gadis bertubuh ramping yang tampak lemah baru saja melakukan perlawanan. Tahanan itu langsung menggerakkan tangan untuk memukul kepala Ilyar, hanya satu bogeman, maka leher gadis itu akan patah. Namun Ilyar merunduk kemudian memeluk si pelaku, memberi dorongan kuat hingga jatuh terlentang di tanah. Pergerakan mendadak itu sungguh membuatnya terkejut hingga telat bereaksi. Alhasil, Ilyar sudah duduk di atas perutnya, melayangkan tinju tidak seberapa di wajahnya, meski begitu pukulan dari kepalan tangan yang tidak sempurna itu memberi sedikit rasa tusukan kecil.
"Dasar bocah, Sialan!" raungnya lalu menyingkirkan Ilyar dari atas tubuhnya.
Ilyar tersungkur, mencium permukaan tanah sambil merintih sementara si tahanan berdiri sambil merenggangkan otot, bersiap memberi pukulan balasan. Rantai-rantai yang menjerat mereka mengeluarkan suara bising dan para sipir segera mendekat, berusaha menghentikan perkelahian, tapi beberapa tahanan memblokir area sehingga petugas kesulitan mendekat dan di tengah-tengah itulah Ilyar dihajar habis-habisan.
Valeris berteriak, tidak bisa mencegah perkelahian karena rekan si tahanan mengunci pergerakannya, sementara Ilyar sudah tergeletak tidak berdaya dengan rambut dan wajah lengket oleh darah dan debu.
"Padahal tinggal menurut saja, Dasar Jalang kecil," ucap si tahanan sembari berbalik hendak meninggalkan lingkar kecil yang terbentuk dari para tahanan yang mengerubung untuk menyaksikan pertarungan.
"Aku tidak akan diam saja mulai sekarang!"
Si Tahanan melotot dan menoleh cepat tatkala seruan di belakangnya bergaung. Ilyar bangkit berdiri lalu melompat ke atas punggungnya.
"Argh! Dasar gadis gila!" si Tahanan meraung sambil menyentuh leher yang menyemburkan darah setelah digigit sampai terkelupas daging dan kulitnya oleh Ilyar.
Valeris dan semua orang tercenung, tidak ada kasak-kusuk, benar-benar hening ketika Ilyar yang tampak sekarat tengkurap di tanah tiba-tiba berlari, melompat ke atas punggung lawan lalu menggigit lehernya seperti hewan buas.
"Menyingkir dari tubuhku!" raung si tahanan sembari menyingkirkan Ilyar dari atas tubuh.
Ilyar terjatuh kemudian bangkit berdiri dengan tubuh terhuyung-huyung. Tidak peduli darah yang meleleh dari luka di pelipis mengalir hingga ujung dagu. Dadanya naik turun karena napas memburu, masih ada keinginan untuk memberi serang balasan meski kesadarannya kian menipis.
Cuih!
Darah dan sedikit daging yang dirampas dari lawannya diludahkan Ilyar ke tanah, dia menyeka sudut mulut sambil menatap si Tahanan yang terus menekan leher agar darah tidak keluar lebih banyak.
"Aku tidak akan menuruti keinginan kalian! Aku akan hidup lebih keras dan menyingkirkan orang-orang seperti kalian!" Ilyar meraung sampai urat lehernya tampak jelas. Tangannya terkepal dan sorot matanya berkilat penuh kemarahan.
Semua tahanan bergidik ngeri, termasuk Efra dan Valeris yang menyaksikan di sela-sela kerumunan yang semakin sempit. Gila... siapa pun akan menjadi lebih gila jika sudah berada di Dakrossa dan Ilyar mulai memasuki fase itu.