Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Prilly
Angin malam menderu di luar dinding kaca mansion Geovani, membawa butiran salju yang menghantam permukaan jendela dengan suara ketukan halus yang konsisten. Di dalam kamar yang luas dan sunyi itu, Briella duduk bersandar di kursi beludru, merapatkan gaun sutra tipisnya yang baru saja menjadi seragam wajib dalam sangkar emas ini. Ia menatap layar televisi yang tidak menyala, namun pikirannya jauh melampaui bukit terisolasi ini, meluncur turun ke Metropolis tempat Prilly mungkin sedang merancang kehancurannya.
"Kau melamun lagi," suara Geovani memecah keheningan saat pintu mekanis terbuka.
Briella tidak menoleh, ia hanya bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat dengan ritme yang tenang. "Aku hanya sedang berpikir, berapa lama waktu yang dibutuhkan kakakku untuk menemukan tempat ini."
Geovani berhenti tepat di belakang kursi Briella, tangannya yang besar hinggap di bahu gadis itu, meremasnya dengan tekanan yang memberikan rasa aman sekaligus ancaman yang nyata. "Prilly sedang mengerahkan detektif swasta terbaik di Etheria untuk mencarimu. Dia tidak terima martabatnya kau injak-injak di malam pertunangan itu."
"Dan kau membiarkannya?" Briella akhirnya menoleh, menatap mata Geovani yang tersembunyi di balik kacamata frameless miliknya.
"Biarkan dia membuang uangnya untuk mencari bayangan yang tidak akan pernah bisa dia raih. Mansion ini memiliki protokol keamanan tingkat militer. Tidak ada detektif yang bisa menembus sidik jariku," sahut Geovani datar.
Briella merasakan getaran halus di jemarinya. Bayangan Prilly yang sedang murka, dengan linggis di tangan atau senjata yang lebih mematikan, terus menghantui tidurnya. Ia tahu kakaknya tidak akan berhenti sampai noda keluarga Adijaya ini benar-benar lenyap dari muka bumi.
"Dia akan membunuhku, Geovani. Kau tidak tahu betapa gilanya dia saat merasa kehilangan miliknya," bisik Briella dengan nada yang sedikit bergetar.
Geovani menarik napas panjang, ia memutar kursi Briella hingga mereka berhadapan. Pria itu berlutut di depan Briella, posisi yang jarang ia tunjukkan, namun tangannya mencengkeram kedua lengan kursi dengan kuat, mengurung Briella dalam kuasanya.
"Dengarkan aku baik-baik. Selama kau berada di dalam koordinat rumah ini, Prilly hanya sebatas gangguan kecil yang tidak perlu kau cemaskan. Aku adalah perlindunganmu, meskipun cara itu mungkin tidak kau sukai," ujar Geovani.
"Perlindungan macam apa yang mengurung korbannya dalam sutra transparan dan memeriksanya seperti barang setiap malam?" tanya Briella menantang.
"Perlindungan yang memastikan kau tetap bernapas, Briella. Di luar sana, kau hanyalah daging buruan. Di sini, kau adalah tanggung jawabku yang paling berharga," Geovani merendahkan suaranya, memberikan penekanan pada setiap kata.
Tiba-tiba, ponsel Geovani bergetar di atas meja kerja di sudut ruangan. Geovani bangkit dan mengambil perangkat itu, matanya memicing melihat pesan yang masuk. Briella bisa melihat perubahan rahang Geovani yang mengeras sesaat, sebuah tanda bahwa ada informasi baru yang masuk dari jaringan intelijen pribadinya.
"Ada apa? Apakah detektif itu sudah dekat?" tanya Briella, kecemasan mulai menguasai suaranya.
"Salah satu detektif sewaan Prilly mencoba meretas basis data rumah sakitku pagi tadi. Mereka mencoba melacak lokasi ambulans yang membawamu malam itu," Geovani menjelaskan tanpa melepaskan pandangan dari layar ponselnya.
Briella berdiri dengan cepat, gaun sutranya berdesir lembut menyapu kakinya. "Mereka akan sampai ke sini! Prilly akan tahu bahwa kau menyembunyikanku di mansion pribadimu!"
Geovani berjalan mendekat, ia meletakkan tangannya di tengkuk Briella, memaksa gadis itu untuk menatapnya langsung. "Tenanglah. Aku sudah mengirimkan unit pembersih untuk menangani detektif itu. Mereka tidak akan pernah menemukan jalan menuju bukit ini."
"Kau mengancam mereka?" Briella bertanya dengan napas tertahan.
"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga ketenangan spesimenku. Sekarang, duduklah. Aku tidak ingin stres yang kau rasakan memengaruhi detak jantung janin itu," Geovani menekan bahu Briella agar kembali duduk.
"Bagaimana aku bisa tenang jika aku tahu ada pembunuh bayaran yang sedang mengincar kepalaku?" Briella merasakan dadanya sesak, ia mulai terengah-engah.
Geovani duduk di pinggir tempat tidur, tepat di samping kursi Briella. Ia menarik kepala Briella agar bersandar di bahunya yang keras. Briella sempat ingin memberontak, namun aroma antiseptik bercampur parfum maskulin yang tajam seolah-olah membius saraf-sarafnya. Ia merasakan tangan dingin Geovani mengusap rambutnya dengan gerakan yang agak kasar, namun anehnya memberikan sensasi perlindungan yang ia butuhkan.
"Kau terlalu banyak berpikir. Prilly adalah urusanku. Fokusmu hanyalah makan, tidur, dan mematuhi semua protokol medisku," ucap Geovani.
"Kau memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa," gumam Briella di dada Geovani.
"Aku memperlakukanmu sebagaimana mestinya seseorang yang sedang membawa nyawa di dalam tubuhnya. Jika kau terus seperti ini, aku akan terpaksa memberimu obat penenang dosis tinggi, dan aku yakin kau tidak akan suka merasa lemas sepanjang hari," ancam Geovani dengan suara baritonnya yang tenang.
Briella terdiam, ia bisa merasakan detak jantung Geovani yang konstan di balik kemeja hitamnya. Pria ini adalah seorang iblis, ia tahu itu. Namun, di tengah dunia yang ingin melenyapkannya, sang iblislah yang saat ini berdiri di depannya sebagai benteng terakhir.
"Apakah kau benar-benar akan melindungiku jika Prilly datang dengan membawa pasukan Ayah?" tanya Briella dengan suara kecil.
Geovani melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Briella dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap bibir Briella yang sedikit pucat. "Mansion ini adalah wilayah kedaulatanku. Jika keluarga Adijaya berani menginjakkan kaki di tanah ini tanpa izin, aku tidak akan ragu untuk mengubah taman depanku menjadi kuburan massal bagi mereka."
"Kau sungguh mengerikan," bisIk Briella.
"Dunia kasta atas tidak mengenal belas kasihan, Briella. Kau harus belajar itu. Sekarang, ganti gaunmu dengan yang lebih hangat, aku akan memanggil pelayan untuk membawakan teh herbal," Geovani bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian.
Ia mengambil sebuah jubah tebal berbahan beludru dan melemparkannya ke arah Briella. Briella menangkap jubah itu, ia melihat Geovani yang kembali ke meja kerjanya untuk menangani urusan keamanan yang terus masuk. Meskipun Geovani bersikap kasar dan mendominasi, Briella tidak bisa memungkiri bahwa ada sedikit rasa aman yang mulai tumbuh di balik ketakutannya.
"Geovani," panggil Briella pelan.
"Apa lagi?" Geovani menjawab tanpa menoleh dari layar monitornya.
"Terima kasih ... meskipun aku tetap membencimu karena mengurungku di sini," ucap Briella.
Geovani hanya mendengus pelan, sebuah reaksi yang hampir menyerupai tawa singkat yang dingin. "Simpan terima kasihmu untuk hari di mana kau berhasil melahirkan dengan selamat. Sekarang, minum tehmu dan jangan biarkan aku melihatmu gemetar lagi karena bayang-bayang Prilly."
Briella merapatkan jubahnya, ia berjalan menuju jendela kaca besar. Di kejauhan, ia melihat sorot lampu mobil yang bergerak jauh di bawah bukit, mungkin itu adalah detektif yang dibicarakan Geovani, atau mungkin hanya orang asing yang melintas. Namun, malam ini, di dalam sangkar emas yang dingin ini, Briella tahu bahwa ia tetap hidup karena kehendak sang dokter berdarah dingin. Ia menatap pantulan dirinya di kaca, menyadari bahwa hidupnya kini telah terikat secara permanen pada predator yang sedang bekerja di belakangnya itu.
Keheningan kembali menyelimuti kamar tersebut, hanya diselingi oleh suara ketikan jemari Geovani di atas papan tik. Briella memejamkan mata, mencoba mengusir wajah Prilly dari pikirannya dan menggantinya dengan rencana yang lebih dingin untuk masa depannya. Jika ia harus menjadi tawanan, maka ia akan menjadi tawanan yang paling berbahaya bagi siapa pun yang mencoba menyentuhnya.
"Tidur, Briella. Itu adalah perintah," suara Geovani terdengar lagi, lebih tegas dari sebelumnya.
Briella tidak membantah. Ia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, menarik selimut hingga ke dagu. Di bawah pengawasan kamera dan kehadiran sang dokter, ia akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan, menunggu hari esok di mana permainan kekuasaan ini akan berlanjut ke tahap yang lebih mematikan. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia tahu bahwa perlindungan Geovani adalah harga yang harus ia bayar dengan kebebasannya, sebuah kesepakatan hitam yang kini telah ia tanda tangani dengan darah dan janin di dalam rahimnya.