Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival
"Takut." Jawabnya tanpa ragu.
"Lalu?"
"Jika memang Tuhan berkehendak, pasti terjadi. Tapi jika tidak, itu tidak akan terjadi meskipun anda sudah berniat jelek."
"Kau percaya Tuhan?"
"Tentu. Apa tuan tidak percaya?"
"Aku ragu."
Hana mengangguk. Ia tidak terlalu tertarik pada hal pribadi seseorang.
"Setelah ini bersiaplah, temani aku keluar."
"Baik, saya akan membereskan ini lebih dulu."
"Tidak perlu. Aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan villa. Kau cukup memasak sisanya biar orang lain yang membereskan."
"Baik, tuan."
Nolan beranjak menuju beranda, sedangkan Hana kembali ke kamarnya untuk mengenakan jaket karena ia yakin udara malam di sini akan dingin.
Pengawal yang ia bawa akan menginap di villa yang tak jauh dari villa Nolan. Mereka saling bergantian menjaga sang majikan.
"Tuan, saya sudah siap." Nolan menoleh dan terdiam menatap penampilan Hana.
"Apanya yang siap?"
"Saya."
"Dengan penampilanmu yang seperti ini kau bilang sudah siap?" Nolan menatap heran dengan perempuan yang ia bawa kali ini. Tak ada sisi feminimnya.
"Ada yang salah, tuan?"
"Kau berpakaian seperti berandal. Apa tidak ada gaun?"
"Saya tak punya."
"Baiklah, ayo kita berangkat." Nolan mengalah, berdebat dengan Hana rasanya percuma.
"Tapi.." Nolan berhenti melangkah dan menunggu Hana.
"Apa?"
"Saya bisa membuat malu tuan." Mata coklat bening itu menatap tenang ke arah Nolan yang menjulang tinggi.
"Ck, kita belanja pakaian yang cocok untukmu."
Nolan menggenggam tangan Hana dan membawanya menuju mobil. Hana hanya diam mengikuti majikannya.
Mereka berhenti di sebuah butik, ia memilih beberapa pakaian yang cocok untuk Hana dan menyerahkan satu potong gaun kepada Hana.
"Ganti bajumu dengan ini."
Hana menelisik model gaun yang hanya bertali spagetti berwarna maroon.
"Ini terlalu terbuka, tuan."
"Cepat ambil, tanganku pegal."
Dengan ragu ia ambil pakaian tersebut.
"Baik, tuan."
Hana segera menuju ruang ganti setelah menanyakannya pada salah satu karyawan.
"Tuan, ini..?" Hana keluar menuju Nolan yang menunggu di depan bilik ganti. Jujur dirinya merasa risih dengan model gaunnya
Nolan merasa tak senang melihat bahu Hana yang terekspos.
Ia mengedarkan pandangan dan mengambil dress berlengan panjang dengan belahan di bagian paha.
"Ganti dengan ini." Hana segera masuk kembali berganti dengan gaun yang baru.
"Bagaimana dengan ini?" Tanya Hana ketika ia berhasil mengenakan dress lengan panjang berwarna biru.
"Ya, lumayan. Ayo kita pergi." Nolan beranjak menuju pintu keluar, Hana mengejar.
"Tapi ini belum dibayar, tuan."
"Biar pengawalku yang menyelesaikan." Ucap Nolan terus berjalan ke mobil tanpa menoleh. Pria itu membukakan pintu untuk Hana.
"Saya bisa membukanya sendiri, tuan."
"Kau ku bayar, terserah apa yang kulakukan."
Hana hanya diam. Ia mengenakan seatbelt dengan benar, Nolan menginjak pedal gas dan mobil pun melaju menuju area perkotaan.
"Kenapa kau diam saja?"
"Saya tidak tahu harus bicara apa."
"Apa saja, jangan diam. Kau seperti patung."
"Apa saya harus terus berbicara?"
"Ya, semua perempuan yang ku bayar selalu mengoceh hingga mereka tertidur. Tapi kenapa kau diam saja?"
"Apa tuan suka jika saya berbicara?"
Nolan mengangguk.
"Kau bisa menceritakan tentangmu."
"Tidak ada yang menarik, tuan."
"Kau bahkan belum bercerita."
"Apa tuan sebelumnya pernah kemari?"
"Ya, beberapa kali aku kemari melarikan diri."
"Melarikan diri?"
"Ya. Melarikan diri dari masalah. Ayahku selalu menuntut agar aku menikah."
"Lalu? Apa yang salah? Saya rasa anda sudah pantas untuk menikah."
Nolan tersenyum remeh.
"Menikah? Aku tak percaya wanita, Hana."
"Sepertinya Anda memiliki trauma."
"Benar."
"Dan anda kemari dengan menyewa perempuan?"
"Ya, seperti ini. Setiap kali aku berlibur aku menyewa perempuan yang berbeda."
"Kenapa?"
Nolan terkekeh pelan.
"Kau paham maksudku." Nolan mengerling ke arah Hana
"Apa tuan meniduri mereka semua?"
"Ya, seperti yang kau pikirkan, Hana."
"Apa tuan akan melakukan hal yang sama padaku?"
"Tidak, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan melanggar janji."
Hana diam seperti berpikir. Nolan merasa aneh
"Aku menepati janji, tenang saja."
"Jadi, mereka bersedia? Demi uang?"
"Demi uang dan kesenangan." Nolan mengangkat bahu acuh.
"Apa tidak takut terkena penyakit?"
Nolan tersenyum mendengar pertanyaan Hana.
"Aku rutin cek kesehatan. Semua baik-baik saja, aku bermain aman." Nolan mengerling ke arah Hana.
Perempuan itu hanya menatap datar.
"Kau punya kekasih?" Nolan melirik gadis di sampingnya yang tak memakai riasan namun terlihat cantik.
"Tidak, tuan."
"Kau belum pernah berpacaran?" Nolan menaikkan sebelah alisnya. Tangannya sibuk memegang kemudi, pria itu membawa Hana berkeliling kota.
"Belum."
"Wow. Kau virgin?"
"Itu tidak sopan, tuan."
"Ups, sorry. Aku hanya antusias mendengar pengalamanmu."
"Kita ke mana?" Hana mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah, aku masih memikirkan tempat yang nyaman untuk kita bersantai."
Hana memandang Nolan yang terlihat menawan dengan wajah yang terpahat sempurna.
Sangat disayangkan, pria yang bersamanya ini seorang pemburu wanita.
"Apa aku begitu tampan?"
Hana mengangguk.
"Ya, sangat tampan." Nolan diam-diam bersemu merah mendengar kejujuran Hana yang spontan.
"Apa kau menyukaiku?" Nolan menoleh ke arah Hana yang hanya memandang lurus ke depan.
"Siapa yang tak suka pria yang kaya dan tampan?"
Sontak Nolan tertawa mendengar ucapan Hana.
"Hana, aku menyukai sifat polosmu."
"Tuan, jangan lupa memotong gaji saya karena baju ini."
Nolan mengamati penampilan Hana. Lalu menggeleng pelan.
"Tidak, anggap saja itu bonus. Gajimu tak terpotong apapun."
"Terima kasih, tuan."
"Kau bisa memanggilku Nolan."
"Berapa umur anda?"
"Aku tak suka menyebut umurku."
"Anda lebih tua dari saya, itu tak sopan hanya memanggil dengan nama."
"Oh, ayolah, Hana. Jangan terlalu kaku." Nolan tertawa kecil, pria ini sangat hangat menurut Hana, tidak heran jika banyak perempuan yang menyukai orang ini.
"Dan jangan bicara formal, anggap aku temanmu."
Hana mengalah.
"Baik, Nolan."
Pria bermanik hijau tersebut melebarkan senyumnya.
"Kau cantik Hana."
"Terima kasih, tampan."
Nolan tersenyum geli mendengar respon perempuan kurus di sisinya.
"Kita akan di sini."
Suasana pinggir kota yang cukup ramai, seperti ada festival yang sedang berlangsung.
Nolan menggenggam tangan Hana agar tak terpisah mengingat mereka berada di lautan manusia.
Di sana terlihat warga asli dan juga para turis memenuhi area festival. Hana takjub melihat dekorasi-dekorasi yang unik dan cantik. Juga ada letupan kembang api yang cantik di langit malam.
"Kau ingin makan itu?" Nolan menunjuk jajanan yang ramai dikunjungi orang.
"Tidak, terlalu banyak orang."
"Kau ingin makan apa?"
"Aku bahkan belum tahu makanan apa yang ada di sini."
"Kita cari ke sana." Nolan tak melepas genggaman tangan mungil dibalik tangan besarnya, mereka menembus para pengunjung dengan susah payah.
Kini di tangan mereka memegang beberapa jajanan yang unik.
Dengan sedikit menepi di suatu tempat yang cukup jarang dari pengunjung, Nolan bisa bernapas lega.
"Festival apa ini?"
"Aku tak tahu." Nolan mengedikkan bahu asal.
"Apa sebelumnya kau tak kemari?" Hana mulai memakan jajanan yang ada di tangannya.
"Kota ini yang terjauh ku kunjungi." Perempuan itu hanya mengangguk.
"Apa itu enak?" Nolan menatap Hana yang lahap memakan jajanan yang mereka beli.
"Ya, ini enak meskipun sedikit manis."
"Suapi aku." Hana menatap Nolan ragu.
"Kenapa?" Nolan mengernyit menatap ekspresi wajah Hana.
"Tapi ini bekas mulutku."
"Kau mengidap penyakit menular?" Nolan mengernyitkan kedua alisnya.
"Tidak."
"Ya sudah, apa masalahnya? Cepatlah."
Hana segera menyuapi Nolan makanan yang tersisa.
"Benar, ini terlalu manis." Nolan menjilat ujung jempol usai mengelap saus yang mengenai sudut bibirnya.
"Kau ingin ini?"
"Tidak."
"Cobalah." Nolan sedikit memaksa menyuapkan ke pada Hana, mau tidak mau ia membuka mulut.
"Enak?"
Hana mengangguk pelan.
"Ya, lumayan."