NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 10

Gibran bangun dari tidurnya dan melihat Kenan tidak ada di sampingnya. Seketika rasa kantuknya hilang. Gibran langsung bangun dan lari keluar dari kamar untuk mencari Kenan, sampai dia menendang pintu kamar.

“Anjing, sakit banget,” umpat Gibran sambil meringis, tapi dia tidak peduli.

Gibran semakin khawatir karena Kenan tidak ada di dalam rumah. Anak umur 1 tahun lebih itu ke mana.

Dadanya mulai berdebar tidak tenang.

Degg.

Dia melihat Kenan lagi bermain di halaman rumah seorang diri… dan ada zombie juga di sekitaran sana. Jarak mereka tidak terlalu jauh.

Gibran langsung berlari keluar untuk mengambil Kenan, panik mulai menguasainya.

Kenan tertawa riang melihat para zombie yang menghampirinya, tanpa tahu bahaya yang semakin dekat.

“Shila, cepat bangun, bantu gue nyelamatin Kenan!” teriak Gibran, suaranya penuh panik.

Mendengar teriakan Gibran, Shila langsung bangun dan berlari ke bawah sambil membawa senjata.

“Kenapa lo berteriak sih pagi-pagi,” marah Shila, masih setengah sadar.

“Tau tuh, ganggu tidur orang aja,” ketus Aira.

“Kalian coba lihat arah luar sekarang juga!” suruh Gibran dengan nada mendesak.

Begitu mereka melihat keluar.

“Astaghfirullah, adik gue ada di luar! Kenapa Kenan bisa di sana, Gibran?”

“Gue juga gak tahu, bangun-bangun Kenan sudah tidak ada di samping gue, Shila,” ujar Gibran, napasnya mulai tidak beraturan.

Zombie-zombie itu… semakin mendekat.

“Ayok kita ambil Kenan sebelum para zombie itu mendekatinya.”

“Biar gue yang keluar, lo alihkan perhatian para zombie jelek itu,” Gibran keluar dari rumah tanpa pikir panjang.

“Hati-hati, Gibran,” ucap Aira dengan suara cemas.

Para zombie itu sudah semakin mendekat saja pada Kenan. Jaraknya tinggal beberapa langkah lagi.

Gibran langsung berlari sangat kencang sekali, hampir seperti tidak mempedulikan nyawanya sendiri.

Sedangkan Shila menembak zombie yang mendekati adiknya satu per satu, suara tembakan memecah suasana mencekam.

“Kenan, ayok kita masuk!” Gibran menggendong Kenan dan berlari kembali ke dalam rumah.

Namun

Para zombie semakin agresif melihat kehadiran Gibran dan langsung mengejar Gibran yang berlari. Suara geraman mereka terdengar jelas, semakin dekat… semakin menyeramkan.

Aira yang melihat Gibran dikejar para zombie pun ketakutan, dia takut mereka berdua ketangkep dan digigit.

“Cepet! Cepet!” teriak Aira panik.

Shila langsung membuka pintu rumah, Gibran langsung masuk dengan selamat, nyaris saja.

Aira membantu Shila menutup pintu dan

menguncinya dengan cepat.

BRAK! BRAK! BRAK!

Para zombie itu terus memukul pintu rumah Aira dengan brutal.

Mereka bertiga terdiam beberapa detik, napas masih terengah-engah.

Mereka lega setelah Gibran sampai di dalam. Para zombie itu terus memukul pintu rumah Aira. Untung pintu itu terbuat dari besi, jadi tidak akan bisa rusak meskipun dipukul-pukul oleh para zombie.

Namun suara pukulan itu…Masih terus terdengar.

Seakan tidak akan berhenti

Masih terus terdengar.

Seakan tidak akan berhenti.

Shila mengambil adiknya dalam gendongan Gibran dan memeluknya erat. Tangannya bergetar, seolah takut kehilangan lagi. Shila tidak mau kehilangan adiknya.

 Cukup orang tuanya yang meninggalkan mereka untuk selamanya.

“Adek tidak boleh keluar lagi diam-diam, di luar sangat berbahaya,” ucap Shila pada adiknya itu dengan suara yang masih gemetar.

“Janji, Kakak,” jawab Kenan dengan suara cadelnya, polos tanpa tahu seberapa besar bahaya di luar sana.

“Kakak gak mau kehilangan adek, jadi cukup hari ini adek keluar rumah diam-diam dan tidak lagi, okee.”

Kenan mengangguk. Dia menghapus air mata kakaknya dengan tangan kecilnya dan mencium pipi Shila dengan penuh kasih sayang, membuat Shila kembali menahan tangisnya.

“Kenan sayang Kakak.”

“Kakak juga sayang Kenan.”

“Kak Shila aja disayang, Kak Gibran tidak ya,” Gibran pura-pura sedih, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.

Kenan turun dari gendongan sang kakak, kemudian kembali menghampiri Gibran dengan langkah kecilnya.

“Kenan juga sayang banget sama Kak Gibran,” Kenan memeluk Gibran dengan tulus. Pelukan kecil itu terasa hangat di tengah keadaan yang mencekam.

Gibran tersenyum tipis, lalu membalas pelukan itu. Gibran juga begitu menyayangi Kenan dan sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.

Untuk sesaat…Mereka lupa dengan dunia luar yang penuh bahaya.

*********

Dewi diam-diam pergi dari rumah. Dia mau bertemu dengan Aira, dia yakin Aira pasti tahu di mana keberadaan Shila dan adiknya.

“Mumpung Papa dan Mama tidak ada di rumah, gue harus cepat-cepat pergi menemui Aira,” oceh Dewi sambil mengambil kunci mobil dengan tergesa.

Gadis itu langsung tancap gas keluar dari kompleks rumah. Nafasnya masih tidak beraturan.

Betapa terkejutnya, kota itu sudah dipenuhi zombie.

Di jalan raya banyak mobil yang terparkir dan saling tabrak, beberapa bahkan sudah rusak parah.

Dewi tidak percaya kota kelahirannya sudah jadi kota zombie.

“Ya Tuhan… ngeri banget… apa masih ada warga yang selamat… mochi itu benar-benar bikin manusia jadi zombie…”

Tangannya mulai gemetar saat memegang setir.

Selama perjalanan, jantung Dewi hampir copot karena tiba-tiba ada zombie yang menghadang mobilnya.

Beberapa dari mereka bahkan memukul-mukul kaca mobil dengan brutal.

“Ini mah gue cari mati… tapi gue tidak boleh menyerah… gue harus ke rumah Aira!” ucap Dewi dengan panik.

Tanpa pikir panjang, Dewi membawa mobilnya dengan ngebut dan menabrak para zombie yang menghadang.

Suara benturan terdengar keras, membuatnya semakin takut, tapi dia tidak berhenti.

Yang ada di pikirannya sekarang cuma satu dia harus sampai ke rumah Aira..

Dewi sampai rumah Aira, dia tidak kalah terkejutnya melihat banyak sekali zombie di depan rumah Aira, bahkan masuk ke pekarangan rumah Aira juga.

Jantungnya langsung berdegup kencang melihat pemandangan itu.

Dewi tidak perduli dengan para zombie itu, dia langsung menerobos masuk aja.

Dia pun keluar dari mobilnya yang terparkir pas di pintu rumah Aira.

Langkahnya terburu-buru, napasnya tidak

beraturan.

Tok tok.

“Aira, ini gue Dewi! Buka pintunya!” teriak Dewi sambil menggedor pintu dengan panik.

Aira yang tidak asing dengan suara itu langsung menuju depan dan mengintip dari jendela.

Dia terkejut melihat Dewi di depan rumahnya.

“Aira kok lo bengong, siapa yang ketuk pintu??” ternyata Shila mengikuti Aira. Mereka

ada di dapur, baru selesai masak.

“Itu Dewi, Shila.”

“Plis, Aira, lo jangan buka pintu, takutnya Om Hendro yang menyuruh dia ke sini untuk cari tahu keberadaan gue dan Gibran,” Shila jadi khawatir.

“Ya, Shila… gue juga trauma… siapa tahu mereka datang ke sini untuk maksa gue makan mochi supaya gue berubah jadi zombie,” Aira langsung berpikir yang tidak-tidak.

Kedua gadis itu tidak membukakan Dewi pintu. Mereka harus waspada karena Om Hendro orang yang licik. Mereka mengabaikan panggilan dari Dewi, meskipun hati mereka tidak tega.

Karena teriakan Dewi, mengundang perhatian para zombie. Mereka mencari asal suara itu… satu per satu mulai mendekat.

“Ai, buka pintunya… gua takut… para zombie itu sudah menyadari kehadiran gue,” Dewi mulai ketakutan.

Suaranya semakin panik, tangannya terus mengetuk pintu tanpa henti.

Ingin sekali Aira membuka pintu untuk Dewi, tapi melihat para zombie itu menuju Dewi, baik Aira dan Shila tidak jadi membuka pintu tersebut.

Mereka hanya bisa diam…Menahan rasa takut…

Dan rasa bersalah yang perlahan muncul.

karena aira tidak kunjung buka pintu rumah nya, dewi kembali masuk mobilnya untuk cari aman supaya tidak di gigit para zombie. dewi langsung mengunci pintu mobil nya dan bersembunyi. para zombie itu juga tidak bisa melihat dirinya dari luar.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!