Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Tujuan Berbeda.
"Sial!"
Samuel mengumpat, menghantam pintu di depannya menggunakan kepalan tangannya.
"Kemana dia sebenarnya?" Sania menimpali, menatap sekeliling rumah Lea yang masih tampak gelap meski hari sudah berganti malam.
"Sudah satu minggu lebih dia menghilang tanpa kabar. Kita juga tidak bisa menghubunginya." Samuel mengacak kasar rambutnya, memunggungi pintu, kemudian bersandar.
Samuel menyalakan rokok, menghisapnya kuat-kuat, kemudian menghembuskan asapnya. Frustasi.
"Aku membutuhkan otaknya. Rencana bisnis yang pernah dia tunjukkan padaku bisa membantuku naik jabatan, tapi sekarang dia menghilang begitu saja. Waktuku semakin tipis, dan konsep itu belum diimplementasikan sama sekali," keluh Samuel, kembali menghantamkan kepalan tangannya pada pintu yang tetap berdiri kokoh di belakangnya.
"Kamu pikir aku tidak?" Sania mendengus. Merasa kesal. "Aku juga membutuhkan otaknya untuk skripsi. Tapi mau menemuinya saja sampai kesulitan seperti ini."
"Dia berubah setelah tenggelam hari itu kan? Apakah ..." Samuel membuang putung rokonya sembarang arah, menegakkan punggung, lalu menoleh menatap pintu. "Dia tahu sesuatu?"
"Tidak mungkin," bantah Sania. "Selama ini dia sudah bergantung pada kita. Kita memberi semua yang dia butuhkan sejak kedua orang tuanya tiada."
"Tapi kita mendapatkan uang juga berasal darinya," sahut Samuel.
"Memang," Sania menjawab tak acuh. "Selalu ada harga dari semua yang dia dapat, itu normal."
"Lalu sekarang apa? Kita tidak bisa menghubungi Lea. Rumahnya juga kosong," ucap Samuel.
"Si kacamata. Terakhir kali, kamu bilang dia pergi bersama Lea naik sebuah mobil mewah bukan?" tanya Sania.
Samuel mengangguk. "Ya. Pria berbadan besar. Kurasa tingginya lebih dari dua meter, dan dia memanggil Lea dengan sebutan Nona dengan sikap hormat seolah Lea adalah majikannya."
"Kau masih mengingat wajahnya?" tanya Sania.
"Tidak terlalu, tapi aku bisa mengingatnya jika aku melihat wajahnya lagi," jawab Samuel yakin.
Sania mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita cari saja pria itu. Bukan tidak mungkin pria itu hanya orang suruhan si kacamata untuk berpura-pura. Kamu tentu tidak lupa dia mengetahui niat kita hanya untuk memanfaatkan Lea, dan dia akan berusaha untuk membuat Lea percaya padanya."
"Tentu saja aku tidak lupa. Selama ini Lea tidak pernah mendengarkan apa yang dia katakan dan hanya percaya pada apa yang kita katakan.Tapi kamu bisa lihat kan, sikap Lea sangat berubah," ucap Samuel lagi.
"Dia menyukaimu, dan semua orang di kampus tahu itu," kata Sania meredam rasa kesal di hatinya. "Dengan kamu bersikap manis padanya, mengatakan kata-kata 'sayang', dia akan luluh dan kembali seperti semula. Aku tidak mau skripsiku gagal. Aku akan bertahan berbagi sebentar dengannya."
Samuel meletakkan satu tangannya di kepala Sania, mengusap lembut. "Kamu tahu jika aku hanya mencintamu kan?"
Sania mengangguk.
"Aku juga tidak mau proyekku gagal. Kita sama-sama membutuhkan otak Lea untuk mencapai tujuan kita. Tapi sekarang, lebih baik kita pulang saja. Ini sudah malam," kata Samuel.
"Apakah ..." Sania termenung. "Ada kemungkinan Lea menginap di rumah si kacamata?"
Samuel menggeleng. "Aku sudah mengeceknya. Thalia tidak pulang selama satu minggu terakhir dengan alasan menginap di rumah teman." menurunkan tangannya.
"Kenapa sekarang mereka berdua jadi dekat sih?" gerutu Sania. "Apakah mereka pergi bersama?"
"Sudahlah ..." Samuel menggenggam erat tangan Sania. "Aku antar kamu pulang. Besok kita datang lagi jika Lea masih tidak berangkat ke kampus."
Sania menghembuskan napas panjang. "Baiklah."
Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Sedikitpun tidak menyadari jika di balik pintu, Thalia dan Lea mendengar setiap kata yang yang mereka lontarkan.
"Sudah kubilang kan? Mereka itu sakit," Thalia mendesis marah, merendahkan intonasi suaranya.
"Aku juga sudah katakan, aku tidak lagi peduli pada mereka." sahut Lea membalikkan badan, menjauh dari pintu.
Thalia mengikuti. Kembali ke ruang rahasia dengan memanfaatkan cahaya redup yang Lea gunakan sebagai penerang jalan.
"Kenapa tidak dinyalakan saja lampunya?" tanya Thalia.
"Aku sedang ingin fokus dengan apa yang sedang kita buat. Jadi, tidak perlu membuang waktu untuk meladeni mereka. Setidaknya sampai acara lelang nanti," jawab Lea tanpa menoleh.
"Lelang?" dahi Thalia berkerut.
"Ya, aku ingin hadir. Tapi ..." Lea membalikan badan, menatap sahabatnya. "Aku membutuhkan seseorang yang bisa menawar harga barang yang aku incar."
"Pamanmu saja," saran Thalia.
Lea menggeleng. "Aku sudah terlalu banyak meminta dan belum memberi apapun sebagai balasan."
"Dia kan pamanmu," sambut Thalia sedikit bingung mendengar jawaban sahabatnya.
"Hidup selalu tentang timbal balik, Lia. Semakin banyak aku meminta, semakin besar harga yang harus aku bayar. Itu juga berlaku dalam ikatan saudara. Untuk saat ini, aku membutuhkan Paman untuk mendapatkan informasi yang aku inginkan dan juga untuk melatih kita beladiri," jawab Lea.
Thalia terdiam. Matanya menatap lekat manik sahabatnya. Rasa penasaran bercampur takut tiba-tiba merambat. Ia merasa, Lea yang berdiri di depannya saat ini adalah orang yang berbeda. Lebih berbahaya dan sulit ditebak.
"Apa tujuanmu sebenarnya, Lea?" tanya Thalia lirih. "Kamu menjauh dari Samuel dan Sania, tidakkah itu cukup?"
"Hanya ingin membuat si brengsek itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sudah memanfaatkanku cukup lama hingga dia diterima di Kalva Company."
"Dan aku tidak ingin dia menempati posisi lebih tinggi. Meski alur cerita ini sudah berubah, ada kemungkinan dia datang ke acara lelang nanti dan mengincar batu itu," lanjut Lea dalam hati.
Thalia menghela napas panjang. "Sebenarnya aku tidak mengerti, tapi aku percaya padamu."
Lea tersenyum. Pikirannya terus bekerja extra.
Di kehidupan sebelumnya, proyek yang Samuel sebutkan beberapa saat lalu adalah hasil kerja kerasnya. Dan dari hal itu Samuel bisa naik jabatan. Dalam waktu yang nyaris bersamaan, ia juga membuat skripsi untuk Sania.
Satu keuntungan yang Lea miliki saat ini adalah: Samuel belum mengetahui jika dirinya bisa membuat racun. Hal itu terbuka sebelum acara pelelangan. Dan saat acara kelulusan beberapa minggu setelahnya, Samuel menyatakan perasaan yang segera ia terima dengan syarat ia tinggal di rumah Samuel. Mulai hari itulah dirinya terpenjara -penjara yang tidak ia sadari-.
"Markus sudah datang. Kamu bisa pulang malam ini, Lia," ucap Lea sesaat setelah memeriksa ponsel.
"Baiklah."
"Besok pagi dia akan menjemputmu untuk-..."
"Latihan. Ya aku tahu," potong Thalia cepat. "Kalau begitu, sampai bertemu besok pagi."
Lea mengangguk, membiarkan sahabatnya pergi sementara dirinya melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Awalnya hal itu berjalan lancar. Namun, saat malam semakin merangkak naik, pekerjaannya dihentikan oleh suara ketukan pintu.
Asing.
Lea keluar dari ruang rahasia, mendekat ke arah pintu tanpa menyalakan lampu, lalu mengintip melalui lubang pintu.
Seseorang berpakaian hitam, bertopi dan bermasker berdiri di depan pintu.
. . . .
. . . .
To be continued...
smangaat