Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Panggung Penghinaan
Malam itu, rumah utama keluarga Wijaya dipenuhi cahaya yang hampir menyilaukan mata. Lampu gantung kristal yang tergantung di langit-langit aula memantulkan kilauan lembut ke seluruh sudut ruangan, menciptakan suasana mewah yang sulit diabaikan oleh siapa pun yang hadir. Musik klasik mengalun pelan, berpadu dengan suara percakapan para tamu yang datang silih berganti, sementara gelas-gelas kristal beradu ringan di tangan mereka yang sedang berbincang santai.
Gaun-gaun elegan dan jas mahal memenuhi aula besar itu, membentuk pemandangan yang rapi dan penuh gengsi. Setiap orang tampak berusaha menunjukkan sisi terbaik mereka, baik dari penampilan maupun cara berbicara, seolah malam ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga ajang untuk memperlihatkan posisi dan pengaruh masing-masing. Senyum yang terlihat hangat di wajah mereka sering kali terasa lebih seperti topeng daripada ekspresi tulus.
Acara itu bukan sekadar pesta biasa, dan semua orang yang hadir memahami hal tersebut tanpa perlu dijelaskan. Ini adalah perayaan ulang tahun perusahaan keluarga Wijaya, sebuah nama besar yang memiliki pengaruh luas di dunia bisnis. Di balik dekorasi mewah dan hidangan berkelas, terdapat kepentingan yang saling bertemu, relasi yang diperkuat, serta kesepakatan yang mungkin sedang dibangun secara diam-diam.
Alyssa berdiri di depan cermin di kamarnya, menatap bayangannya sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang jatuh dengan rapi di tubuhnya, tidak mencolok namun cukup pantas untuk menghadiri acara formal seperti ini. Rambutnya ditata seadanya oleh salah satu pelayan, tanpa sentuhan istimewa yang biasanya diberikan kepada tamu penting atau anggota keluarga inti.
Ia tampak layak untuk berada di sana, tetapi jelas tidak dirancang untuk menarik perhatian. Perbedaan itu terasa halus, namun cukup nyata untuk disadari oleh siapa pun yang terbiasa berada di lingkungan seperti ini. Alyssa mengamati dirinya beberapa detik lebih lama, seolah mencoba memastikan bahwa tidak ada yang terlihat salah, meski di dalam hatinya ada keraguan yang tidak bisa sepenuhnya ia abaikan.
Pintu kamar diketuk pelan, suara itu terdengar hati-hati seolah tidak ingin mengganggu terlalu banyak.
“Nona, acara sudah dimulai,” kata seorang pelayan dari luar dengan nada sopan.
Alyssa mengangguk pelan, meski tidak ada yang bisa melihat reaksinya dari luar pintu. “Iya, aku segera turun,” jawabnya, berusaha terdengar tenang meski perasaannya tidak sepenuhnya demikian.
Ia menatap bayangannya sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. Tidak ada perubahan berarti dalam penampilannya, tetapi ada sesuatu di matanya yang tampak lebih tertutup, seolah ia sudah bersiap menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia prediksi sepenuhnya.
Begitu sampai di aula utama, suasana langsung terasa berbeda dibandingkan dengan kamar yang ia tinggalkan. Cahaya yang lebih terang, suara yang lebih ramai, dan tatapan yang datang dari berbagai arah membuat langkahnya sedikit melambat meski ia berusaha menjaga sikapnya tetap wajar.
Beberapa tamu melirik ke arahnya saat ia masuk, sebagian hanya sekilas sebelum kembali pada percakapan mereka. Namun ada juga yang memperhatikan lebih lama, seolah mencoba menilai siapa dirinya dan mengapa ia berada di tempat itu. Alyssa menahan napas pelan, berusaha tidak terpengaruh oleh perhatian yang tidak diinginkan tersebut.
Ia melangkah masuk lebih jauh dengan gerakan yang terukur, menjaga agar tidak terlihat canggung meski perasaannya mulai tidak nyaman. Matanya menyapu ruangan, mencari satu sosok yang menjadi tujuan utamanya sejak awal ia turun ke aula.
Daren.
Ia menemukannya tidak jauh dari tengah kerumunan, berdiri bersama beberapa tamu penting yang tampak serius dalam percakapan mereka. Penampilannya sempurna seperti biasa, dengan sikap tenang dan percaya diri yang seolah sudah menjadi bagian dari dirinya. Dari kejauhan saja, jelas terlihat bahwa ia berada di tempat yang seharusnya.
Alyssa berjalan mendekat, berusaha tidak terlalu mencolok di antara tamu-tamu lain. Namun sebelum ia sempat mencapai jarak yang cukup dekat, seseorang lebih dulu menghampiri Daren dengan langkah yang penuh keyakinan.
Cassandra.
Malam itu, wanita itu tampak jauh lebih memukau dibanding sebelumnya, seolah seluruh perhatian memang diarahkan padanya. Gaun merah marunnya membungkus tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan perhiasan yang berkilau di bawah cahaya lampu, menciptakan kesan elegan yang sulit disaingi. Senyumnya tampak percaya diri, seolah ia benar-benar berada di pusat dari segala yang terjadi di ruangan itu.
Ia berdiri di samping Daren dengan begitu alami, seakan posisi itu memang sudah lama menjadi miliknya. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, tidak ada jarak dalam sikapnya, seolah kehadirannya di sisi pria itu adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipertanyakan.
Alyssa berhenti beberapa langkah dari mereka, tidak langsung mendekat seperti yang ia rencanakan sebelumnya. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan, membiarkan pandangannya menangkap interaksi kecil yang terjadi di antara keduanya.
Cassandra tertawa pelan atas sesuatu yang dikatakan Daren, dan pria itu membalas dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Interaksi sederhana itu mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain, tetapi bagi Alyssa, hal tersebut cukup untuk menciptakan jarak yang terasa semakin lebar.
“Alyssa.”
Suara ibu Daren terdengar dari belakang, memotong fokusnya seketika.
Alyssa menoleh, menemukan wanita itu berdiri dengan sikap yang tetap elegan seperti biasa. Tatapannya turun dari ujung kepala hingga kaki Alyssa, seolah menilai tanpa perlu mengucapkan banyak kata.
“Kamu datang juga,” katanya dengan nada yang terdengar tenang.
“Iya, Bu,” jawab Alyssa pelan, menjaga sikapnya tetap sopan.
“Bagus,” lanjutnya tanpa senyum. “Jangan mempermalukan keluarga.”
Kalimat itu diucapkan dengan begitu ringan, namun maknanya terasa jelas dan berat. Alyssa mengangguk kecil tanpa menambahkan apa pun, memahami bahwa tidak ada ruang untuk membalas selain menerima.
Beberapa saat kemudian, acara mulai memasuki bagian utama, dan perhatian para tamu beralih ke panggung yang berada di depan aula. Seorang pembawa acara naik dan mulai menyampaikan sambutan dengan suara yang terlatih, memperkenalkan keluarga Wijaya dengan cara yang terdengar mengesankan.
Nama Daren disebut, disambut oleh tepuk tangan yang cukup meriah dari para tamu. Ia naik ke panggung dengan langkah mantap, menyampaikan beberapa kata dengan singkat namun penuh percaya diri, seolah ia memang terbiasa berada di posisi tersebut.
Alyssa berdiri di bawah panggung, memperhatikan tanpa banyak ekspresi. Ia tidak dipanggil, tidak juga diperkenalkan, seolah keberadaannya memang tidak termasuk dalam bagian yang perlu ditampilkan di hadapan publik.
Namun saat Daren turun, pembawa acara kembali berbicara dengan nada yang sedikit berbeda, seolah akan memperkenalkan sesuatu yang menarik perhatian.
“Malam ini, kita juga kedatangan seseorang yang sangat spesial bagi keluarga Wijaya,” katanya.
Bisikan mulai terdengar di antara para tamu, rasa penasaran perlahan muncul di wajah mereka.
“Silakan, Nona Cassandra.”
Cassandra melangkah ke atas panggung dengan percaya diri, senyumnya cerah dan langkahnya mantap. Ia menerima mikrofon dengan gerakan yang tenang, seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian di hadapan banyak orang.
“Malam ini terasa sangat berarti,” katanya, suaranya lembut namun jelas terdengar ke seluruh ruangan. “Karena akhirnya aku bisa kembali ke tempat yang dulu hampir menjadi rumahku.”
Beberapa tamu tertawa kecil, menciptakan suasana yang terlihat ringan di permukaan. Namun bagi Alyssa, kalimat itu sudah cukup untuk menimbulkan perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
“Sebagian dari kalian mungkin sudah tahu,” lanjut Cassandra, “aku dan Daren pernah memiliki rencana besar.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara sebelum melanjutkan. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada satu titik yang tidak bisa disalahartikan.
Alyssa.
“Tapi hidup memang penuh kejutan,” katanya pelan.
Suasana perlahan berubah, dari yang awalnya santai menjadi lebih penuh perhatian. Alyssa berdiri kaku, merasakan jantungnya mulai berdetak lebih cepat tanpa alasan yang bisa ia redam.
“Ada seseorang yang mengubah semua rencana itu,” lanjut Cassandra, nada suaranya tetap tenang.
Beberapa orang mulai saling berpandangan, seolah mencoba menebak arah pembicaraan tersebut. Alyssa merasa kakinya semakin berat, tetapi ia tidak bisa memaksa dirinya untuk pergi dari tempat itu.
“Aku sempat kecewa,” kata Cassandra lagi. “Tapi sekarang aku bisa melihat semuanya dengan lebih jelas.”
Ia tersenyum tipis, ekspresinya terlihat halus namun menyimpan sesuatu yang tidak sederhana.
“Karena ternyata, tidak semua orang yang berdiri di posisi tertentu benar-benar pantas berada di sana.”
Bisikan mulai terdengar lebih jelas, tidak lagi ditahan seperti sebelumnya. Alyssa merasakan dadanya semakin sesak, seolah udara di sekitarnya menjadi lebih berat untuk dihirup.
“Seperti istri Daren saat ini,” lanjut Cassandra akhirnya.
Ruangan mendadak sunyi, perhatian semua orang langsung tertuju pada satu arah tanpa perlu ditunjukkan.
Alyssa.
Ia berdiri di sana, merasa seolah seluruh cahaya di ruangan itu kini hanya menyorot dirinya. Setiap tatapan terasa tajam, setiap bisikan terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
“Banyak yang tidak tahu,” kata Cassandra, “bahwa pernikahan itu terjadi secara mendadak.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi rasa penasaran yang mulai tumbuh di antara para tamu.
“Alyssa hanyalah pengganti.”
Kata itu terdengar jelas, tajam, dan menggema di seluruh ruangan tanpa bisa dihindari. Beberapa tamu langsung berbisik, sebagian bahkan tidak berusaha menyembunyikan ekspresi mereka yang berubah.
“Kakaknya yang seharusnya menikah kabur di hari pernikahan,” lanjutnya.
Tawa kecil mulai terdengar di beberapa sudut, tidak keras namun cukup untuk menyayat.
“Dan untuk menyelamatkan nama keluarga, dia dipaksa menggantikan posisi itu.”
Suasana menjadi aneh, campuran antara rasa ingin tahu dan hiburan yang tidak pantas. Alyssa berdiri diam, tangannya terasa dingin sementara napasnya mulai tidak teratur.
Ia menatap ke arah Daren, berharap ada reaksi, sekecil apa pun. Namun pria itu tetap diam di tempatnya, tidak bergerak, tidak juga mencoba menghentikan situasi yang semakin jauh dari batas.
“Aku tidak menyalahkannya,” lanjut Cassandra. “Setiap orang pasti akan mengambil kesempatan jika diberi.”
Beberapa orang tertawa lebih jelas kali ini, membuat suasana semakin terasa menekan.
“Tapi tetap saja, ada perbedaan antara seseorang yang memang pantas dan seseorang yang hanya kebetulan berada di tempat itu.”
Alyssa merasakan matanya mulai panas, namun ia menahannya dengan keras. Ia tidak ingin memberikan apa yang mereka inginkan, tidak ingin terlihat lemah di hadapan semua orang yang sedang menilainya.
Cassandra menurunkan mikrofon dengan perlahan, senyumnya tetap terjaga seolah tidak ada yang salah dengan apa yang baru saja ia katakan. Tepuk tangan terdengar, tidak terlalu meriah tetapi cukup untuk menutup momen tersebut.
Alyssa tetap berdiri di tempatnya, merasakan semua tatapan yang masih tertuju padanya. Ada yang memandang dengan rasa kasihan, ada yang dengan ejekan yang tidak disembunyikan, dan ada pula yang hanya penasaran tanpa benar-benar peduli.
Ia kembali menoleh ke arah Daren, berharap untuk terakhir kalinya.
Namun pria itu tetap diam.
Tatapannya tidak berubah.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada apa pun yang bisa ia pegang.
Dan di saat itu, sesuatu di dalam diri Alyssa benar-benar runtuh, bukan hanya kepercayaan tetapi juga harapan yang selama ini ia pertahankan.
Ia menarik napas perlahan, menegakkan tubuhnya meski hatinya terasa hancur dan berat. Seluruh ruangan seolah menertawakannya tanpa suara, menciptakan tekanan yang tidak terlihat tetapi sangat nyata.
Namun ia tidak bergerak, tidak berusaha lari dari situasi tersebut, dan tidak pula menundukkan kepalanya seperti yang mungkin diharapkan orang lain.
Ia tetap berdiri.
Menahan semua yang berusaha keluar dari matanya.
Sendirian di tengah keramaian.
Dengan satu kesadaran yang kini tidak bisa lagi ia abaikan, bahwa di tempat ini tidak ada satu pun yang akan berdiri di sisinya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔