NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 10 — Panti Asuhan Kasih Ibu

Langit sore tampak muram ketika Dimas berhenti di depan gerbang besi panti asuhan Kasih Ibu. Bangunan tua bercat hijau muda itu tampak tak terurus: beberapa bagian cat terkelupas, ayunan di halaman berderit ditiup angin, dan bel di samping pintu tampak berkarat.

Panti itu terlihat tenang… terlalu tenang.

Dimas menelan ludah sebelum menekan bel. Suara denting kecil terdengar, lalu langkah kaki mendekat. Seorang perempuan paruh baya membuka pintu—wajahnya ramah, namun sorot matanya penuh kehati-hatian.

“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Dimas Brawijaya,” ucapnya memperkenalkan diri. “Saya ingin bertanya soal seorang anak yang pernah tinggal di sini sekitar dua puluh tahun lalu. Namanya… Aluna.”

Perempuan itu terdiam sesaat, lalu matanya melebar. “Aluna…” bisiknya lirih. “Tentu. Aku ingat betul anak itu.”

Ia mempersilakan Dimas masuk. Aroma kayu lembap bercampur bau bubur bayi menyergap begitu ia melangkah ke dalam. Anak-anak kecil berlarian, sementara beberapa lainnya duduk menggambar dengan krayon di lantai.

Namun perhatian Dimas bukan pada mereka. Ia terpaku pada tembok panjang di ujung ruangan, penuh dengan gambar anak-anak.

“Kami menyimpan sebagian besar karya anak yang pernah tinggal di sini,” jelas perempuan itu. “Termasuk… milik Aluna.”

Dimas perlahan mendekat. Deretan gambar ditempel acak: bunga, rumah, matahari, keluarga, hewan. Lalu, di bagian paling kiri atas—gambar yang tampak berbeda dari semua.

Kupu-kupu.

Seekor kupu-kupu dengan tiga sayap.

Dimas membeku. Gambar itu digoreskan dengan krayon anak-anak, garisnya tidak rapi, warnanya tidak presisi. Tapi tetap saja—jelas dan tidak bisa salah dikenali.

Tiga sayap.

Sama seperti lagu yang Aluna nyanyikan.

Ia mendekat, telapak tangannya gemetar. Dua sayap digambar dengan warna biru lembut, tapi sayap ketiga—yang di bagian kanan bawah—digambar hitam pekat. Lebih dari itu, garis sayap itu terpotong, seolah sengaja dirusak oleh tangan kecil yang ketakutan.

“Ini…” suara Dimas tercekat. “Aluna menggambar ini?”

Perempuan itu mengangguk pelan. “Dia sering menggambar kupu-kupu. Tapi cuma yang ini yang tidak pernah dia biarkan kami buang. Dia bahkan pernah menangis kalau gambar ini hilang dari tembok.”

Dimas menyentuh permukaan kertas yang mulai menguning itu, dan hatinya terasa seperti diremas.

“Ada arti di balik gambar ini?” ia bertanya.

Wanita itu menghela napas panjang. “Saya tidak pernah tahu pasti. Tapi… ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan.”

Ia memandu Dimas menuju sebuah ruangan kecil di sisi timur panti. Ruangan itu tampak seperti perpustakaan mini, dengan tumpukan mainan lama dan kotak-kotak berlabel. Ia membuka salah satu kotak dan mengangkat sebuah buku gambar kusam.

“Ini milik Aluna,” katanya seraya menyerahkannya.

Buku itu tipis, halaman depannya sedikit sobek, namun terdapat stiker kupu-kupu kecil di pojok. Dimas membuka halaman pertama.

Gambar kupu-kupu.

Halaman kedua, kupu-kupu.

Halaman ketiga, kupu-kupu lagi.

Beberapa kupu-kupu normal, tapi semakin ke belakang, kupu-kupu itu berubah. Sayapnya semakin aneh. Mirip sayap patah, koyak, atau gelap seperti terbakar. Sampai akhirnya ia tiba pada halaman terakhir—gambar yang membuat tenggorokannya menutup.

Di sana, kupu-kupu tiga sayap digambar lagi. Dan di bawahnya ada tulisan tangan kecil, goyah dan tidak rapi:

“Satu hilang.

Satu gelap.

Satu lari.”

Dimas membacanya berulang kali. Satu hilang… Satu gelap… Satu lari…

Itu bukan sekadar gambar.

Itu bukan sekadar coretan anak kecil.

Itu ingatan.

Ingatan yang ia lukiskan pada usia sepuluh tahun.

Ingatan tentang malam ketika keluarga mereka dibantai.

Wanita itu menepuk bahu Dimas dengan lembut. “Aku tidak tahu persis apa yang terjadi pada keluarga kalian. Tapi Aluna sering terbangun tengah malam, memukul pintu, memanggil dua nama… ‘Mas Dimas’ dan ‘Kak Digo.’”

Dimas menutup mata, menahan sesuatu yang panas di tenggorokan.

“Dia… memanggil kami?”

“Tiap malam. Dia selalu mengatakan… ‘kupu-kupu terbang, sayapnya tiga.’ Tapi waktu kami tanya artinya, dia selalu menangis.”

Dimas menutup buku gambar itu perlahan, lalu menatap gambar di tembok sekali lagi. Sayap hitam yang terpotong itu terasa lebih menyeramkan daripada darah atau luka apa pun.

Lalu tiba-tiba pandangan Dimas menangkap sesuatu di sudut gambar—garis tipis, hampir tak terlihat. Seperti bekas krayon warna merah. Garis itu memanjang dari sayap hitam ke bawah, seperti tetesan…

Darah.

Atau sesuatu yang ia lihat malam itu. Sesuatu yang masih terkunci dalam ingatannya.

Suaranya gemetar ketika ia bertanya, “Bu, apakah Aluna pernah mengatakan kenapa sayap ketiga digambar hitam?”

Wanita itu terlihat ragu, namun akhirnya menjawab pelan.

“Dia hanya bilang… ‘sayap gelap itu yang jahat.’”

Begitu mendengar itu, perut Dimas terasa seperti jatuh ke jurang.

Sayap gelap.

Sayap terpotong.

Sayap jahat.

Ada seseorang yang Aluna lihat malam itu.

Seseorang yang menjadi sayap gelap dalam kehidupan mereka.

Dimas menegakkan punggungnya, menggenggam buku itu seolah menggenggam sisa-sisa ingatan adiknya.

Ia tahu apa langkah selanjutnya.

Dan ia tahu, pencarian ini baru saja memasuki lorong paling gelap.

“Aku harus kembali ke rumah,” katanya pada penjaga panti itu. “Masih ada yang harus kucari.”

Wanita itu menatapnya dengan prihatin. “Hati-hati, Nak. Apa pun yang kamu cari… sepertinya bukan sesuatu yang mudah diterima.”

Dimas hanya mengangguk.

Saat ia keluar dari panti dan menutup pagar di belakangnya, langit yang muram berubah semakin kelam, seolah mengingatkan:

Kebenaran yang ia cari sudah dekat.

Dan kebenaran itu… mungkin tidak akan membiarkan siapa pun tetap utuh.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!