Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelampiasan
“Aki, ada padusan disini?” Tanya Elang Ganendra sebelum kakek pemilik penginapan beranjak pergi.
“Ada Kisanak. Di ujung sana, mari saya tunjukkan.”
“Biar saya pergi sendiri Ki, Aki turuti saja kemauan dia.” Ucap Elang Ganendra sambil melirik ke dalam kamar.
Kakek itu setuju dan menganggukkan kepala sebelum pergi.
Elang Ganendra melangkahkan kaki menuju padusan di ujung ruangan. Sebuah pancuran dari bambu dengan mata air murni dari Gunung Ciremai.
Setelah membersihkan diri, Elang Ganendra kembali ke kamarnya, mendapati Ujang yang sudah mendengkur di ranjangnya dengan empat kendi kosong disampingnya.
Elang Ganendra merebahkan tubuhnya di ranjang yang lain.
Sebuah ranjang kayu berlapiskan jerami dan beberapa kain tebal diatasnya.
Hampir mirip dengan ranjangnya di Dusun Plapah, tapi sangat berbeda dengan ranjangnya di kadipatenan yang berisikan bulu domba dan berlapiskan kain sutra.
Matanya terpejam. Bukan kantuk yang dirasa, melainkan kehadiran Dewi Astjarjana yang serasa nyata di pelupuk matanya.
Hadir pula wajah bayi putrinya, Dewi Anandhita.
Ya, yang ada di ingatannya adalah sosok bayi Anandhita dengan sayap mungilnya, karena setelah mengetahui wujud putrinya yang tidak sempurna, ia tidak pernah lagi menemuinya.
Elang Ganendra tidak tahu perkembangan Anandhita yang sekarang.
Terakhir kali ia menginjakkan kaki di kadipatenan lebih dari setahun yang lalu, sebelum ia mengajukan diri untuk menjalankan beberapa misi dari Kerajaan Djawa Dwipa.
Itupun ia datang menjelang fajar saat semua masih terlelap, dan tanpa pemberitahuan kepada penghuni kadipatenan.
Hanya penjaga pagar yang mengetahui kepulangan Adipati Elang Ganendra.
Ia melarang menceritakan soal kepulangannya kepada penghuni kadipatenan yang lain, termasuk istrinya, Dewi Astjarjana, dan kedua orang tuanya.
‘Dinda… bagaimana kabarmu?’ Batin Elang Ganendra.
Ia sangat merindukan istrinya, Dewi Astjarjana.
Rindu senyum manis bibir ranumnya, rindu semerbak harumnya, rindu hangat tubuhnya, serta rindu memadu kasih dibawah bias purnama dengannya.
Sebagai pria normal, beliau butuh pelampiasan.
Akan tetapi, bayangan wujud putrinya yang tidak sempurna kembali menghantuinya.
‘Apa yang kamu lakukan saat aku tidak di sisimu? Siapa yang menidurimu hingga melahirkan bayi siluman?’
Elang Ganendra mengepalkan kedua tangannya. Giginya bergemerutuk menahan amarah.
Elang Ganendra bangkit dari rebahannya. Ia meraih kendi arak yang sudah disediakan kakek pemilik penginapan di ajas meja di sudut ruangan.
‘Mungkin dengan ini aku bisa melupakannya.’ Diteguknya arak dari kendi langsung tanpa menggunakan cawan yang telah tersedia.
Seteguk arak berhasil melalui tenggorokannya. Elang Ganendra memercingkan mata dan mengibaskan kepalanya.
‘Hah, pahit!’ Lidahnya kembali terjulur.
Selain rasa pahit, Elang Ganendra juga merasakan lidahnya terbakar, tapi tidak separah saat pertama ia mencoba meminum arak di markas Gerombolan Bandit Tengik di Dusun Plapah.
‘Mengapa banyak orang yang suka minuman dengan rasa seperti ini?’ Batinnya penasaran.
Dicobanya menenggak sekali lagi. Masih tetap pahit dan membakar lidah. Tapi sudah tidak terlalu kuat seperti tegukan pertama.
Kali ini Elang Ganendra merasakan ada hawa hangat menjalar di sekitar dada dan perutnya.
Karena merasa badannnya bisa menerima, akhirnya Elang Ganendra menenggak arak tersebut seteguk demi seteguk.
Ia merasakan hawa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya ketagihan dan ingin terus menenggaknya.
Akan tetapi, belum juga seluruh isi kendi berhasil diminumnya, kepala Elang Ganendra terasa pusing.
Sambil terhuyung, ia melangkah ke ranjangnya dan tak sadarkan diri dengan satu kaki masih di tanah.
***
Elang Ganendra merasakan tepukan di punggungnya.
“Asep, bangunlah. Sudah siang, Perjalanan masih panjang”
Entah sudah berapa kali Ujang berusaha membangunkannya.
Dengan susah payah Elang Ganendra berusaha membuka mata.
Baru disadarinya bahawa ranjangnya penuh dengan muntahan.
Bau tidak sedap pun memenuhi ruangan. Walaupun Ujang sudah membuka pintu kamar mereka, bau tak sedap dari muntahannya itu tidak sedikitpun berkurang.
Elang Ganendra segera bangkit menuju padusan. Kepalanya masih terasa berat.
Saat kembali ke dalam kamar, Ujang sudah tidak berada di sana. Begitu juga barang bawaannya.
Elang Ganendra segera mengemas barangnya.
Tak lupa ia meninggalkan satu keping koin emas di atas meja sebelum beranjak keluar dan menutup pintu, sebagai permintaan maaf karena tanpa sadar telah muntah diatas ranjangnya.
Ternyata Ujang sudah menunggu di ruang tamu menghadap makanan yang sudah disediakan kakek pemilik penginapan.
“Duduklah. Ayo sarapan.” Sambut Ujang sambil berusaha melepaskan paha ayam dari badannya.
Elang Ganendra duduk di hadapan Ujang.
Masing-masing mendapat menu satu ayam bakar utuh. Ada lalapan kacang panjang, daun kemangi, nangka muda dan sambal terasi sebagai pelengkap.
Kakek pemilik penginapan sudah tidak tampak lagi, berganti dengan seorang pemuda yang sangat mirip dengannya. Kemungkinan pemuda itu adalah anak atau cucu dari kakek tersebut.
Pemuda itu menyodorkan bekal makan siang dan kendi arak Ujang yang sudah penuh kembali sebelum Elang Ganendra dan Ujang pergi.
Dia juga mengucapkan terima kasih karena tlah sudi menginap di tempatnya serta memberi bayaran lebih seperti cerita ayahnya.
(Padahal dia belum menemukan koin emas yang sengaja ditinggalkan Elang Ganendra di kamarnya)
Elang Ganendra dan Ujang mengganggukkan kepala sambil tersenyum.
Mereka melangkah menuju kudanya. Nampak sisa rumput segar dan air bersih dalam kayu yang berlobang di tengahnya.
Ternyata pemuda itu juga tidak lupa memberi makan dan minum kuda mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan. Siang dan malam mereka memacu kuda tanpa mengenal lelah.
Saat malam tiba, kebetulan mereka sedang melintasi Desa Pakembangan, sehingga mereka masih bisa mendapat cahaya dan tetap melanjutkan perjalanan dengan mengurangi kecepatan karena tidak mau mengganggu warga desa yang sedang beristirahat.
Hanya ketika bertemu sungai atau mata air mereka berhenti sejenak untuk memberi makan dan minum kuda-kudanya sambil mengisi ulang kendi air minum Elang Ganendra.
Sedangkan Ujang hanya membasuh wajahnya, tidak membutuhkan air minum sama sekali, karena kendi arak yang dibawanya masih cukup memenuhi kebutuhan minumnya sampai beberapa hari kedepan.
Bila bertemu desa di siang hari, mereka membeli bekal dan memakannya dari atas kuda sambil melanjutkan perjalanan.
Sudah berganti empat kali matahari terbit mereka terus memacu kudanya melewati desa maupun hutan belantara.
Kali ini mereka melintasi Desa Patalagan dan berniat bermalam di pinggir desa agar esok hari tidak nampak lelah ketika berjumpa dengan Kepala Desa Beber. Karena setelah melewati Hutan Halimpu, mereka akan tiba di Desa Beber.
Mereka bermalam di penginapan yang sedikit lebih bagus daripada penginapan tempat mereka bermalam kemarin. Tentu saja harga penginapan juga lebih tinggi.
Ujang harus mengeluarkan empat keping koin emas untuk mendapat fasilitas yang sama dengan yang ia dapatkan dari penginapan di kaki Gunung Ciremai ditambah dengan delapan kendi araknya yang sudah kosong.
Sebelum tidur, Ujang mengajak Elang Ganendra menikmati arak yang sudah diantar pelayan penginapan ke kamarnya.
Tentu saja Elang Ganendra tidak menolak kali ini, karena beliau sudah bisa merasakan kenikmatan menenggak arak.
Malam ini Ujang membatasi diri. Dia hanya menenggak dua kendi arak.
Ujang tidak mau terlihat mabok besok saat bertemu dengan Kepala Desa Beber.
Di saat yang sama, Elang Ganendra berhasil menghabiskan satu kendi penuh tanpa sakit kepala dan muntah.
Haha, salam dari Clarissa ❣️