Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 apartement dan kisah kelam ali
Setelah selesai makan, Ali dan Alana memasuki lobi Samara Suites, apartemen mewah yang terletak di kawasan strategis Jakarta. Mata Alana berbinar saat melihat interiornya yang elegan, sementara Ali tetap tenang seperti biasa.
Mereka menuju meja resepsionis untuk memilih unit yang sesuai. Setelah melihat beberapa opsi, akhirnya Ali memutuskan untuk membeli sebuah apartemen senilai Rp 2 miliar.
Namun, hal yang benar-benar mengejutkan Alana adalah cara Ali melakukan pembayaran.
Ali dengan santai membuka tas ranselnya dan mengeluarkan uang tunai dalam jumlah besar.
Alana melongo. Mata wanita resepsionis juga membesar, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"K-Kak? Kamu langsung bayar cash? Ini apartemen mahal, loh! Kenapa nggak dicicil aja?" suara Alana terdengar sedikit gemetar.
Ali menutup kembali ranselnya dengan wajah datar. "Nggak masalah. Saya ada uangnya."
Dengan tenang, ia menyodorkan segepok uang kepada resepsionis. Wanita itu tampak ragu sebelum akhirnya mulai menghitung.
Alana masih belum bisa menutup mulutnya. Ia menatap Ali dengan curiga. "Kak, kenapa kamu bawa uang sebanyak ini di dalam tas?!"
Ali menoleh padanya, ekspresinya tetap tenang. "Mau gimana lagi? Saya nggak punya tempat lain buat nyimpannya."
Alana benar-benar kehabisan kata-kata.
Sementara itu, wanita resepsionis yang masih dalam keadaan shock, akhirnya selesai menghitung uang tersebut. Ia menelan ludah sebelum berbicara.
"Pak, ini ada kelebihan satu miliar rupiah."
Ali menatapnya sekilas, lalu mengangguk santai. "Oh, kelebihan ya? Yaudah, saya masukin lagi ke tas."
Dengan gerakan santai, Ali mulai memasukkan ikatan-ikatan uang itu kembali ke dalam tasnya. Alana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Wanita resepsionis buru-buru mengambil dokumen pembelian apartemen dan menyerahkannya pada Ali.
"Silakan tanda tangan di sini, Pak," katanya sambil menunjuk bagian bawah dokumen.
Ali mengambil pulpen dan menandatangani tanpa ragu.
"Sudah," katanya setelah selesai.
Resepsionis itu memberikan kunci apartemen kepada Ali. "Ini kuncinya, Pak. Apartemen Anda ada di nomor 130, lantai 15. Mohon disimpan baik-baik."
Ali mengangguk. "Terima kasih, Mbak."
Tanpa basa-basi lagi, ia meraih tasnya dan berjalan menuju lift bersama Alana.
Saat mereka berdua sudah masuk ke dalam lift, Alana masih belum bisa menahan rasa penasarannya.
"Kak, kamu nggak takut apa kalau ada yang mencuri tas kamu?" tanyanya, masih tidak percaya dengan cara Ali membawa uangnya.
Ali hanya tersenyum tipis. "Ngapain takut? Saya sudah sampai di apartemen saya sendiri. Sekarang nggak perlu khawatir lagi."
Alana menghela napas panjang. "Iya juga sih... Tapi tetap aja, aneh banget sih, Kak."
Ali hanya terkekeh tanpa menjawab.
Begitu pintu apartemen terbuka, Ali langsung terdiam sejenak, mengamati ruangan mewah di depannya. Interior modern dengan pencahayaan hangat menyambut mereka. Ruang tamu luas dengan sofa kulit berkelas, dapur elegan dengan meja marmer, dan pemandangan kota Jakarta dari balkon yang begitu menakjubkan.
Mata Ali berbinar-binar.
"Wow… apartemen ini luar biasa," katanya takjub.
Alana mendengus dalam hati. "Ya iyalah! Apartemen seharga dua miliar, masa biasa-biasa aja?"
Ali mulai berjalan keliling apartemennya, mengecek setiap sudut. Setelah puas, ia kembali ke ruang tamu dan menaruh tasnya di atas meja.
"Alana, kita keluar yuk," ajaknya tiba-tiba.
Alana yang sedang melihat-lihat apartemen itu menoleh. "Mau ke mana?"
Ali tersenyum kecil. "Jalan-jalan. Aku pengen lihat tempat-tempat bagus di Jakarta sebelum fokus ke bisnis."
Alana mengangkat alisnya. "Oh? Kakak mau mulai bisnis?"
Ali mengangguk sambil membuka tasnya. Ia mengambil sebagian uang dari dalam tas itu, lalu menyimpannya di dalam lemari.
"Aku cuma bawa ini buat jalan-jalan," katanya sambil memasukkan seikat uang Rp 100 juta ke dalam sakunya.
Alana menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
"Kak, orang normal tuh bawa uang di dompet, bukan langsung segepok kayak gitu!" protesnya.
Ali hanya terkekeh. "Yaudah, ayo kita pergi."
Alana menggelengkan kepala, tetapi akhirnya ikut keluar bersamanya.
Masa Lalu yang Pahit, Masa Depan yang Baru
Saat berjalan keluar dari apartemen, Ali tampak berbeda. Wajahnya lebih cerah, ada kilau kebahagiaan di matanya.
Alana memperhatikannya dengan sedikit heran. "Kak, kamu kelihatan senang banget, ya?"
Ali terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Ini pertama kalinya aku merasa bebas," katanya lirih.
Alana menatapnya penasaran. "Maksudnya?"
Ali menarik napas panjang. Ia teringat masa lalunya di kampung halaman—di Makassar.
Dulu, ia hanya seorang kasir minimarket. Gajinya kecil, tapi cukup untuk bertahan hidup. Namun, segalanya berubah ketika ia dituduh mencuri Rp 10 juta oleh pemilik minimarket.
Padahal, uang itu bukan ia yang ambil. Yang mencurinya adalah anak pemilik minimarket sendiri, yang kecanduan judi online. Tapi Ali tidak bisa membela diri. Ia dipecat tanpa ampun.
Lebih parahnya lagi, orang tua Ali harus menggadaikan tanah keluarga untuk mengganti uang yang sebenarnya tidak ia curi.
Sejak saat itu, Ali bersumpah dalam hati.
"Aku nggak mau lagi jadi bawahan."
Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Ia ingin menjadi bos, bukan orang yang diperintah.
Alana menatap Ali dengan penuh pemahaman. "Jadi… itu alasan Kakak ingin mulai bisnis sendiri?"
Ali mengangguk.
"Aku pernah dengar pepatah," katanya dengan suara tenang. "Walaupun kamu perampok, asalkan kamu bosnya, kamu tetap yang berkuasa."
Alana menatapnya dengan ekspresi rumit.
"Jadi… Kakak nggak mau kerja sama orang lagi?"
Ali menggeleng. "Nggak. Aku ingin bangun sesuatu sendiri. Dan kali ini, nggak ada yang bisa nginjak aku lagi."
Alana terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Kalau gitu, aku bakal dukung Kakak."
Ali menoleh padanya dan tersenyum. "Terima kasih, Alana."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ali merasa ada seseorang yang benar-benar mendukungnya.
Dan hari itu, di bawah langit Jakarta yang cerah, ia tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang besar.
terimakasih kalau sudah di baca jangan lupa tinggalkan like,komen dan belikan dukungan nya
BELEUNG BELENG....