"Mobil untuk besok dan 1 bulan ini sudah aku kirimkan ke rumah mu."
"Ok." Jujur saja Yura tidak tertarik membicarakan hal lain kepada pria sombong itu.
"Maksud Abang akan menjadikan Yura sebagai supir?" Gerald menatap tak percaya kepada sang Abang.
"Bukan hanya menjadi supir tetapi juga menjadi Sekretaris dan juga asisten pribadi tuan Gheo Cristiano, hebat kan aku?" Yura berkata sinis dengan nada menyindir.
"Wah..wah... Abang keterlaluan, pantes tadi Doni Papa suruh terbang ke Jogja buat menangani perusahaan di sana."
"Itu pantas dia dapatkan karena sudah membuat hidung ku hampir patah." Gheo tidak sadar jika dirinya baru saja keceplosan. Yang menyebabkan Gerald menganga karena masih belum paham seperti apa ceritanya.
"Itu juga pantas didapatkan oleh orang yang merendahkan harga diri saya!" Yura berkata tanpa menoleh ke arah kedua kakak beradik itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clareisya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pukul 19.00 Yura telah selesai bersiap untuk pergi ke rumah Pak Satria, Ia segera mencari ibunya untuk pamit. Tadi sore Yura sudah memberitahukan kepada ibunya kalau ia akan ke rumah Pak Satria malam ini.
"Bu...!" Yura berteriak ke arah kamar ibunya.
"Kamu sudah siap toh? Waaah anak ibu cantik banget." Ibu Ira muncul dari dalam kamarnya.
"Ya iya dong, Yura gitu Lo. Bu aku pamit ya! Tuh Elsa sudah di depan. Bilang sama kak Hans nanti aku telpon dia buat jemput." Yura mencium punggung tangan ibunya.
"Iya, tadi kakak kamu sudah bilang kok sama Ibu dia yang nantinya jemput kamu."
"Ya udah Bu, Aku pergi dulu." Yura melangkah pergi ke arah pintu.
"Hati-hati, jangan pulang terlalu malam!" Ibu Ira setengah berteriak karena Yura sudah sampai di ambang pintu.
"Siaap Bu!"
Elsa sengaja tidak mampir karena takut mereka akan terlambat.
Saat ini mereka sudah meninggalkan area halaman rumah Yura yang dipenuhi berbagai macam jenis bunga.
Yura mengenakan gaun panjang berwarna tosca model Sabrina, Dia sengaja mengikat rambutnya model ekor kuda sehingga leher jenjangnya yang putih mulus terekspos dengan jelas.
Sedangkan Elsa mengenakan gaun diatas lutut berwarna merah maroon dia sengaja mengurai rambut bergelombangnya malam ini. Penampilan mereka benar-benar sempurna, walaupun gaun yang mereka kenakan gaun sederhana tapi terlihat mewah dan elegan.
Yura memakai make-up tipis tapi nyaman, karena dia risih dengan make-up yang tebal.
Sedangkan Elsa mendempul wajahnya habis-habisan walaupun sebenarnya wajahnya cantik tetap saja dia tidak PD kalau tidak full makeup.
"Elsa Lo kok diem aja sih!" Yura melirik Elsa yang sedang fokus menyetir.
"Tumben Lo manggil nama gue dengan normal, Gue gugup nih soalnya ini pertama kalinya gue ketemu sama keluarganya pak Satria. Di kantor aja gue gugup kalau ketemu beliau." Tanpa mengalihkan perhatiannya elsa tetap fokus melihat ke arah jalanan.
"Santai aja, Lagian mereka ramah kok. kecuali tuh bos sombong, Beberapa kali ketemu sama keluarga mereka tak pernah sekalipun dia menyapa gue. Sok ganteng banget tau gak sih!"
"Lah emang dia ganteng! Lo aja yang buta."
Yura mendengus kesal "Lebih ganteng calon suami gue, Oppa Yoongi tiada duanya." Yura senyum-senyum menatap wallpaper handphonenya yang menampilkan foto seorang idol Korea.
"Elo bener tapi saingan Lo ada di seluruh dunia."
"Gue gak peduli ! kalo memang dia jodoh gue mau sebanyak apapun saingan gue, tetap gue yang bakalan jadi istrinya."
"Dasar Queen Halu!"
Tak terasa Yura dan Elsa telah sampai di rumah pak Satria yang super mewah dan besar.
"Wahh gila rumahnya gede banget." Elsa berdecak kagum melihat kemegahan rumah yang didominasi warna putih itu sambil keluar dari mobil.
"Namanya juga horang kaya, menurut gue pak Satria lebih sultan daripada artis sok sultan di Indonesia." Yura berjalan ke arah pintu utama dan melihat ada beberapa pria berbaju serba hitam. Beberapa diantaranya Yura kenal karena mereka pengawal pribadi pak Satria.
Di gerbang utama juga dijaga oleh beberapa satpam dan juga bodyguard.
"Nona Yura silahkan masuk, Tuan besar dan yang lainnya sudah menunggu di ruang makan!" Ucap salah satu pengawal pribadi Pak Satria.
"Baik pak terimakasih, kalau begitu kami masuk dulu."
"Silahkan nona."
Di meja makan sudah terhidang makanan dengan banyak macam, Sedangkan anggota keluarga Cristiano sudah duduk di bangkunya masing-masing.
Tak lupa juga Mika bersama kekasihnya turut hadir malam ini. Sedangkan Gerald hanya sendirian begitu pun Gheo pastinya.
"Kemarilah kalian berdua kita makan terlebih dahulu, setelah itu kita akan berkumpul di taman belakang." Pak Satria menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
"Oh iya siapa gadis manis ini." Ny.Satria menghampiri Elsa dan Yura.
"Perkenalkan nyonya nama saya Elsa saya bekerja di bagian keuangan." Elsa menjabat tangan Ny.satria walaupun dia sangat grogi, Yura juga tak ketinggalan menjabat tangan Ny.Satria
"Selamat malam tante, Semakin hari kok Tante makin glowing aja nih." Yura tersenyum manis.
"Ah kamu bisa saja Yura! Emangnya keliatan banget ya Tante baru perawatan semalam." Ny.satria cekikikan dengan menutup mulutnya sebelah tangan.
Dan interaksi itu tak lepas dari pandangan Gheo.
"Mari, Mari silahkan duduk kalian pasti sudah lapar."
Satria dan juga istrinya duduk di kedua ujung meja, sedangkan Gheo, Gerald,dan kekasihnya mika duduk di sebelah kanan. Yura,elsa,mika duduk di sebelah kiri.
Mika Saling berhadapan dengan kekasihnya, dengan langkah cepat Yura memilih duduk di hadapan Gerald baginya itu jauh lebih baik.
Sedangkan Elsa dengan gugup setengah mati karena Gheo menatapnya dengan tatapan mematikan. Dia hanya bisa tersenyum kikuk menyapa CEO dingin itu.
"Hai kak Gerald!" Yura tersenyum manis menyapa Gerald.
"Silahkan duduk Yura dan jangan sungkan ayo silahkan dimakan. Dan untuk Elsa jangan canggung anggap rumah sendiri." Gerald mulai menambahkan makanan ke dalam piringnya.
"Cih! Apa katanya? Kak? Lebay." Gheo mengumpat dalam hati memperhatikan interaksi antara Yura dan Gerald.
"Terimakasih Kak Gerald." Elsa hanya mengikuti panggilan yang disampaikan Yura kepada pria tampan dan hangat itu.
Saat acara makan malam berlangsung di selingi dengan obrolan ringan. Hanya Gheo yang tak bersuara sama sekali.
"Jadi kalian ini bersahabat?" Kali ini Mika yang bertanya dan Melihat Elsa dan Yura bergantian.
"Iya dan kami juga melamar pekerjaan secara bersamaan di perusahaan Cristiano Group. Dan kebetulan kami juga diterima walaupun di bagian berbeda." Elsa sudah merasa tak secanggung seperti pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu.
"Wahh itu keren banget kalian gak buru-buru pulang kan? Nanti kita mau acara barbeque di taman belakang." Mika tau sejak kedatangan mereka kakak sulungnya tak melepaskan pandangannya dari Yura. Semua orang juga sadar akan hal itu tapi mereka bersikap seolah tidak peduli.
"Waktu ku hanya sampai jam 22.00." Yura hanya ingin mereka tau jika dirinya tidak bisa pulang terlalu larut.
"Wah, ini saja sudah hampir jam 9, Apa kamu tidak bisa menghubungi orang tua mu? Supaya dia tidak khawatir kalau pulang agak terlambat." Kali ini Gerald yang menjawab Yura.
Gheo memperhatikan Yura dengan seksama sebenarnya dia juga penasaran dengan jawaban Sekretarisnya itu.
"Sudah, kalian tenang saja, aku yang akan menghubungi Bu Ira. Aku akan meminta ijin padannya." Ucap Pak Satria sambil mengakhiri makan malam nya "Lalu bagaimana dengan Elsa? Apa perlu juga aku menghubungi keluarga mu!"
"Ah tidak usah pak saya tinggal di apartemen!" Elsa meneguk minuman segar yang tersaji diatas meja.
Bersambung 💞 💞 💞💞💞