Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Perhiasan penyelamat
Hasan ngos-ngosan memasuki lift yang membawanya langsung ke ruangannya, Ia berpapasan dengan sekertarisnya ketika keluar dari lift.
" Selamat siang Pak. "
Hasan hanya melambaikan tangan tanpa menjawab apapun dan terus berlari ke ruangannya.
" Aneh, tadi pas pamit bilangnya langsung pulang kerumah, apa ada dengannya, apa ada yang ketinggalan. " Batin Leon.
Sementara Hasan langsung jongkok dan mengambil bekal yang Ia bawa tadi pagi.
" Duh, aku sudah sangat lapar. "
Dengan cepat Hasan membuka kotak bekal dan langsung menyantapnya dengan tangannya langsung tanpa menggunakan sendok, Ia memejamkan matanya ketika satu suapan berhasil masuk. Rasanya terasa pas di lidah.
" Hm rasanya enak banget. "
Tanpa terasa Ia sudah menghabiskan bekalnya bahkan tanpa tersisa sama sekali, Hasan menyenderkan tubuhnya di kursi setelah selesai makan.
Tubuhnya masih gemetaran karena tadi Ia terlambat makan, hanya demi bisa makan bekal yang di berikan Istrinya Ia bahkan rela menolak makanan restoran dengan alasan sudah kenyang.
Sore itu Hasan memenuhi janjinya pada Lusi, Ia mengajak kekasihnya itu jalan- jalan kemana Dia suka.
" Sayang, lihat ini bagus. Aku juga mau yang ini. "
Entah sudah berapa banyak barang yang Ia ambil, sampai- sampai tangan Hasan tidak muat lagi membawa barang belanjaan kekasihnya.
" Sayang, sudah yuk. Aku lelah, kita sambung lain waktu. "
Lusi merajuk, ada satu barang yang belum Ia beli.
" Sayang, satu lagi ya. Aku mau belikan satu barang buat Ibu, boleh kan. "
Hasan mengangguk karena mendengar kata Ibu, tidak apa- apalah memberikan hadiah untuk calon mertua.
Lusi ternyata membawa Hasan ke toko perhiasan, Ia melihat- lihat perhiasan apa yang Ia mau.
" Mas, aku mau yang itu boleh nggak. "
Hasan melihat barang yang di tunjuk oleh Lusi, sebuah kalung emas. Ia kemudian mengangguk, dan meminta pemilik toko untuk memberikan nya pada kekasihnya.
" Sayang, kamu bayar dulu ya. Aku tiba- tiba sakit perut. "
Hasan hanya mengangguk, sementara Lusi buru- buru pergi mencari toilet. Mungkin karena tadi dirinya makan terlalu banyak dan juga kebanyakan dari makanan itu rasanya pedas.
" Maaf Pak, yang ini jadi di bungkus nggak. "
Tanya sang pemilik toko ketika melihat Hasan tengah asyik melihat- lihat barang yang ada di dalam etalase.
Matanya tertuju pada sebuah kalung yang sangat indah, Ia menunjuk benda itu.
" Jadi Mbak, sama yang ini ya. Oh ya tolong bungkus yang ini dengan cepat. "
Pemilik toko mengangguk dan segera melakukan apa yang di minta Hasan.
" Ini Pak yang ini, tunggu yang satunya ya Pak. "
Hasan mengangguk dan mengambil kotak yang di berikan oleh sang pemilik toko. Tepat ketika kotak kedua selesai Lusi pun datang.
" Maaf sayang, telat. "
Hasan membayar perhiasan yang kedua dengan kisaran dua puluh tujuh juta rupiah.
" Makasih sayang, kamu baik deh. Aku semakin sayang padamu, Ibu pasti bahagia dapat hadiah ini. "
Meskipun dalam hati Lusi tidak puas karena harga emas yang Ia pilih hanya berharga dua puluh tujuh juta, yang berarti sekitar tiga puluh gram.
" Ah tidak apa- apa, nanti lain kali minta lagi. " Batin Lusi.
Mereka kembali ke mobil dan Hasan pun mengemudikan roda empatnya meninggalkan swalayan tersebut.
" Sayang, ini sudah sore. Aku antar pulang ya, maaf nggak bisa lama- lama, soalnya sore ini aku sudah janji ngantar Umi ketempat keluarga. "
Lusi yang sudah mendapat banyak barang pun akhirnya mengangguk, lumayan hari ini Ia sudah menghabiskan lima puluh juta dari kantong kekasihnya.
Sebelum turun Lusi menghadiahi Hasan dengan ciuman, ketika akan mencium bibir lagi- lagi gagal karena ponsel Hasan tiba- tiba berdering.
" Maaf sayang, ini Umi. "
Mendengar Hasan menyebut Umi, Lusi buru-buru turun, Ia tidak ingin mendengar ceramah dari wanita itu. Apalagi sampai wanita itu tau kalau Ia sudah menghabiskan puluhan juta uang Putranya, bisa- bisa Ia di ceramahi seharian semalaman.
" Aku masuk dulu sayang, makasih buat semuanya ya. Ingat tadi janjinya, kapan- kapan kita jalan lagi ya. "
Hasan mengangguk, Ia kembali mengemudikan mobilnya dengan terburu-buru.
" Duh kok Umi bisa ada di rumah. " Batin Hasan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Hasan segera berlari kecil masuk. Ia mengucap salam dan di jawab oleh Umi dan juga Istrinya.
Sya langsung mencium punggung dan juga telapak tangan suaminya, begitu juga dengan Hasan, Ia langsung mencium punggung tangan Uminya.
" Kamu dari mana saja Hasan, kok jam segini baru pulang. " Tanya Umi
Hasan tersenyum, Ia menjawab dengan santai.
" Hasan di kantor Umi, tadi banyak kerjaan. "
Umi menatap Hasan dengan tatapan tidak biasa, sedangkan Sya nampak gelisah.
" Kamu sudah pandai berbohong pada Umi Nak, tadi Umi sudah menghubungi sekretaris mu dan dia bilang kalau kamu hanya ada di kator pagi tadi, sebelum siang kamu sudah ijin pulang. Lalu dari siang sampai sore begini kamu kemana saja. "
Hasan terkejut, Ia jadi gugup dan bingung harus bagaimana menjelaskan pada Umi nya. Bohong salah, jujur pun akan semakin salah.
Sya memandang suaminya yang nampak kebingungan, hatinya sedikit kecewa namun berusaha Ia tepis. Ia sudah bisa menduga kemana suaminya itu pergi.
" Ah iya Umi, Sya lupa. Malam tadi Mas Hasan sudah ijin sama Sya katanya sore ini Ia ingin pergi ke suatu tempat tapi Sya nggak tau itu tempat apa, soalnya kata Mas Hasan itu rahasia. Mas, Mas pasti hari ini kesana kan, Sya mau tau dong rahasianya apa. Umi juga pasti ingin tau, iyakan Umi. "
Sya berharap ini bisa membantu suaminya, berharap juga suaminya membawa sesuatu dari sana.
" Ah iya Umi, sebenarnya Hasan mau kasih kejutan buat Istri tercinta Hasan, tapi Umi sudah gagalin semuanya. Ini buatmu sayang. "
Hasan mengeluarkan kotak merah dari dalam kantong jasnya dan memberikan nya pada Sya. Sya menerimanya dengan penuh drama.
" Wah Umi, coba lihat ini. Ini indah sekali. "
Umi mengambil kotak merah dari tangan Sya, bibir wanita itu menyunggingkan senyum. Hatinya bahagia namun juga menyesal karena telah menggagalkan rencana romantis Putranya.
" Iya sayang, ini bagus banget Nak. Hasan, tunggu apalagi, cepat pakaikan di leher Istrimu. " Pinta Umi.
Sya yang mendengar itu pun terkejut, Ia menatap wajah suaminya.
" Umi, pakainya nanti saja. Biar Mas Hasan pakaikan di kamar. "
Sya menunduk seolah menahan malu, Umi yang melihat itu ikut tersenyum.
" Ya sudah, maaf kalau Umi sudah ganggu momen kalian. Nak, Umi pamit dulu ya, kalian berdua yang akur disini ya. Umi ingin mendengar kabar baik secepatnya. "
Akhirnya Umi pamit, Sya ingin mengantarkan Uminya kedepan namun Umi menolak. Akhirnya Sya memilih naik ke kamar, Ia meletakkan kembali perhiasan dari suaminya di atas meja. Sya tau kalau perhiasan itu bukan miliknya, meskipun begitu Ia merasa bersyukur karena perhiasan itu menyelamatkan mereka dari kecurigaan Umi Hasan.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan