Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deterrent Effect
Mikayla baru pulang saat bulan sudah menampakkan diri di atas takhta langit malam. Kali ini Mikayla tidak mengendap-endap lagi, ia akan menyamar sebagai pelayan. Bukankah selama ini dia tak pernah melakukan hal nekat seperti ini.
Pintu utama, gerbang menuju jalan besar tentu tak disediakan untuk para pelayan dan pengawal. Mereka harus masuk melewati gerbang belakang yang lumayan jauh dari kompleks Kastil. Pintu utama tentu saja hanya diperuntukkan khusus keluarga dan tamu Duke Stanley. Kali ini Mikayla akan melewati pintu belakang.
Tujuan Mikayla kali ini hanyalah menuju kamar dan istirahat. Itu saja. Namun suasana dapur yang lumayan gaduh dikarena bisik-bisik dari pelayan lah yang menarik perhatiannya untuk masuk ke sana. Selama ini Mikayla hanya pernah sekali memasuki dapur dan itupun saat ia berusia lima tahun. Berdiri di depan pintu karena pelayan tidak mengantarkan sarapannya tepat waktu.
"Sstt, aku dengar nona pertama berubah, sejak kapan?"
Pelayan berambut merah yang sibuk menggiling tepung gandum pun menjawab, "Entahlah. Sepertinya ... sejak jamuan makan di istana? Bukannya nona pernah hilang berbulan-bulan? Rasanya aneh saat nona pertama kembali datang dengan sikap yang jauh berbeda. Apa dia orang yang berbeda?"
"Kecilkan suaramu, Zea. Kita masih di kastil!"
Wanita yang sepertinya bernama Zea itu membekap mulutnya sendiri. Dirinya bisa saja berakhir di tiang gantungan jika anggota keluarga Stanley mendengar hal yang diucapkannya. Hei, bagaimana mungkin dalam kurun waktu dua minggu Mikayla sudah menarik seluruh perhatian orang-orang seisi daratan Armovin, bahkan ketenaran Rosella pun dapat dikalahkannya dengan mudah.
"Berhenti bergosip di sana. Hei, kalian berdua cepatlah sediakan sloki untuk keluarga Duke. Sebentar lagi makan malam!" Mikayla masih dengan pakaian pelayannya. Wajah cantiknya pun sudah disamarkan dengan coretan bekas bakaran arang.
"Aku belum pernah melihatmu di sini. Apa kau pelayan baru?"
Mikayla tetap tenang. Daripada mengurusi dua pelayan yang bergosip itu lebih baik dia memasak air. Bukankah selama ini dia belum pernah mencobanya?
"Jawab kami!" sentak Zea, pelayan berambut merah. Matanya berkilat marah. "Ah, apa kau penyusup? Benar, kan. Pengawal, ada penyusup di dalam dapur!"
Dua pengawal datang dengan tombak karena mendengar keributan di arah dapur. Bukan ribut karena gosip seperti tadi, namun terdengar seperti kasak-kusuk suara wanita-wanita yang meninggi.
"Siapa kau?!"
"Kalau aku berniat untuk membunuh Nona Mikayla bagaimana?" jawab Mikayla dengan santainya. Ia hanya ingin mengetes ketanggapan para pengawal dan pelayan di kastilnya saja dan tentu ini sangat menyenangkan.
"Tangkap dia!"
Mikayla dengan santainya melakukan salto melewati para pengawal yang berdiri di depan pintu. Tak ada satupun yang dapat menangkapnya bahkan saat dirinya sudah mencapai pintu ganda menuju ruang makan. Jumlah pengawal yang mengejarnya semakin banyak, namun senyuman puas tak kunjung luntur dari bibir manisnya.
"Jaga dari pintu timur!" sentak seorang pengawal yang berdiri paling depan. "Jangan sampai dia mengacaukan ruang tengah kastil!"
Buru-buru lima pengawal menghadang jalannya. Karena gerbang yang besar, mau tak mau mengharuskan mereka untuk merentangkan kedua tangan untuk menangkap Mikayla.
Mikayla tersenyum miring saat melihat banyak celah yang bisa dilewati. Ia menjatuhkan diri dan meluncur keluar melalui celah kaki pengawal yang cengo itu dengan mudah.
"Mikayla, kenapa kau dikejar seperti itu?"
Ucapan Duke Stanley memberhentikan gerakan pengawal yang tergesa-gesa. Bak tersambar petir, mereka menatap Duke Stanley dengan tatapan tak percaya, jadi mereka sejak tadi mengejar putri Duke?
"Saya hanya ingin bermain, Yah!" Mikayla terkekeh geli. Ia unjuk jempol untuk semua pengawalnya. "Masih kurang. Lain kali tingkatkan kecepatan lari dan strategi. Kulihat masih banyak celah untuk mematahkan serangan kalian." Mikayla berkacak pinggang. "Tenang saja, energi kalian tak akan terbuang sia-sia. Aku akan memberikan imbalan seratus keping emas setiap orang."
Semua pengawal menunduk. "Maafkan kelancangan kami barusan dan terimakasih banyak, nona." Setelahnya Duke Stanley menyuruh mereka untuk kembali ke tempat semula. Kini tertinggal dirinya dan Mikayla sajalah di ruang baca.
"Aku tak mengerti. Apa yang merubah mu, nak?"
Mikay terdiam. Ia menyangka kalau Duke Stanley akan merasakan jiwa putrinya yang dulu. Namun salah, Duke Stanley sama saja seperti orang lain yang menganggapnya sebagai orang yang berbeda.
"Apa ayah tak merasakan apapun?" Ucapnya lirih, menatap lekat manik ayahnya yang kebingungan.
"Tentu saja ayah merasakannya. Kau berbeda dari Mikayla kami." Duke Stanley merasakan kegetiran di manik Mikayla. "Ah, lupakan saja. Cepat kembali ke kamarmu. Sebentar lagi makan malam."
Mikayla mengangguk. Ia sama sekali tak membantah untuk kali ini. Duke Stanley ... tak mengenal putrinya sendiri. Mikayla menatap langit-langit kastil. Ah, apa yang ia harapkan dari kedatangan Mikayla yang baru? Tidak ada. Tak akan ada yang berubah. Duke Stanley hanya akan menyayangi Rosella dan memang seperti itulah selamanya.
"Kau keluar rumah, malam hari?" Rosella menatapnya sinis saat mereka berpapasan di lorong kastil. Dibelakang Rosella ada dua pelayan yang siap melayaninya. "Apa yang akan orang katakan jika ada yang mengetahui hal ini?"
Mikayla menatap Rosella dengan dingin. "Terserah. Silahkan sebarkan berita buruk tentangku semaumu, dan ku pastikan besok kau akan menanggung akibatnya."
"Ah, ada satu fakta lagi yang aku ketahui tentangmu, Mikayla." Rosella menatap jijik Mikayla yang tak bersuara sama sekali atas hinaannya. "Sejak kapan kau menjadi pelacur ayah? Aku melihatmu keluar dari ruangannya tadi." Rosella tertawa anggun, ia menutup mulutnya dengan ujung kipas.
Plak.
Mikayla tak segan-segan menampar Rosella sampai gadis dihadapannya itu jatuh mengenaskan di atas lantai. Dua pelayannya segera membantu nona mereka.
"Siapa kau sampai berani menghina kakak dan ayahmu sendiri!" Mikayla marah dan aura gelap dalam dirinya terpancar kuat. Kedua pelayan Rosella bahkan gemetaran dengan peluh dingin yang mengucur deras. "Apa kau mau diusir dari kastil, Rosella?!"
Rosella menggeleng cepat. Air matanya turun dengan deras tanpa bisa ia tahan. Ia bahkan tak berani bergerak sama sekali, Rosella masih terduduk di lantai yang dingin, tak sanggup berdiri. Semua keberaniannya hilang saat Mikayla mengeluarkan taring yang selama ini tak diperlihatkannya.
"Aku membiarkanmu selama ini menghinaku semaumu. Tapi sepertinya aku salah!" Bentak Mikayla lagi. "Kau melunjak!"
"Ma-maafkan aku, Mikayla!" Tubuh Rosella bergetar. "Ak-aku janji tak akan mengganggumu lagi."
"Kakak, Rosella. Panggil aku kakak!" Mikayla masih menaikkan nada bicaranya. "Apa kata orang-orang kalau adikku yang tersayang ternyata tak menghormati orang yang lebih tua?"
"Maafkan aku, kakak!" Rosella menggigil. Ketakutannya seolah menyedot habis energi dalam tubuhnya. "Adikmu ini pantas diberi hukuman."
Mikayla tersenyum samar. "Baguslah kalau kau sadar." Mikayla berjalan menuju kamarnya. Ah, dia sangat merindukan kasur empuknya sekarang. "Aku menghukummu, Rosella Stanley. Kau harus menguasai ilmu berpedang tingkat awal. Kalau kau siap, Aku yang akan mengetesmu secara langsung."
Rosella menatap kepergian kakak pertamanya dengan bingung. Gadis itu menggerakkan giginya, bukankah ia hanyalah wanita dan bangsawan tidak melakukan hal itu. Menggunakan pedang untuk menghukumnya? Sial, Rosella benar-benar payah dalam hal ini.