NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|34|Perasaan Yang Terlambat

Aruna belum gerak dari tempatnya. Punggungnya masih nempel ke dinding. HP di tangan udah mati layarnya.

Bayu berdiri di sebelahnya, diam. Ia tahu Aruna lagi perang sama dirinya sendiri.

Dari dalam ICU, suster keluar. “Bu Aruna, Pak Wijaya nanya Ibu.”

Aruna kedip. “Iya, Sus. Sebentar.”

Tapi kakinya nggak gerak.

HP-nya bergetar lagi. Kali ini pesan. Dari nomor Andre:

“Bu, demam Pak Devara naik lagi. 40.2. Dokter bilang kalau malam ini nggak turun, bisa kena kejang.”

Tangan Aruna gemetar.

Ia tutup mata. Tarik napas. Lalu buka.

“Bayu,” katanya pelan. “Jagain Papa, ya. Kalau Papa nanya aku, bilang aku ke toilet.”

Bayu menatapnya lama. “Run…”

“Jagain Papa,” ulang Aruna. Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia balik badan, jalan cepat ke lift. Tekan tombol turun.

Jam 7.30 pagi. Mahesa Hospital.

Ruang VIP lantai 12 sepi. Bau alkohol dan obat. Andre berdiri di luar pintu, wajahnya capek.

Begitu lift terbuka, ia langsung menoleh.

Aruna muncul. Wajahnya pucat. Tanpa makeup. Rambut diikat asal.

Andre terdiam. “Bu Aruna…”

Aruna nggak jawab. Ia masuk.

Devara terbaring di ranjang. Selang infus di tangan. Keringat membasahi dahinya. Bibirnya kering, pecah-pecah.

“Aruna…” gumamnya, meski matanya masih terpejam. “Run… jangan pergi…”

Aruna berhenti di pinggir ranjang.

Dadanya sakit. Sakit banget. Karena pria ini pernah bikin dia nangis setiap malam. Pria ini pernah bikin dia ngerasa seperti barang tak berguna.

Tapi sekarang pria ini terbaring lemah, manggil namanya seperti doa terakhir.

Aruna ulurkan tangan. Tanpa sadar, ia hapus keringat di dahi Devara pakai punggung tangannya.

Gerakan itu kecil. Tapi cukup buat Devara membuka mata.

Butuh beberapa detik buat fokus. Begitu ngeliat Aruna, bibirnya bergerak.

“kamu… datang.”

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Aruna tidak menjawab. Ia tarik kursi, duduk.

“aku bukan datang buat kamu,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “aku datang karena Andre maksa.”

Devara ketawa kecil. Suara itu parau. “Bohong.”

Aruna menatapnya tajam. “kamu tahu apa, Dev?”

“aku tahu,” bisik Devara. “kamu masih peduli.”

Aruna mau ngebantah. Tapi nggak ada kata yang keluar.

Karena matanya udah keburu melihat tangan Devara yang kurus, uratnya keliatan. Karena telinganya udah keburu denger dia manggil nama Aruna dalam tidur.

“Jangan m*ti,” kata Aruna pelan. Hampir kayak bisikan. “Jangan m*ti sebelum Papa sembuh total"

Devara menatapnya lama. Lalu ia tutup mata lagi.

“aku nggak akan m*ti,” katanya. “Belum.”

Aruna berdiri. “Bagus.”

Ia jalan ke pintu.

“Run,” panggil Devara lagi.

Aruna berhenti. Nggak nengok.

“Terima kasih.”

Aruna tidak menjawab. Ia keluar, menutup pintu pelan.

Andre masih berdiri di luar. “Bu…”

“Jagain dia,” potong Aruna. “Kalau dia bangun, kasih dia makan. Kasih dia obat. Jangan biarin dia nolak lagi.”

Ia jalan ke lift tanpa menunggu jawaban.

Di belakangnya, demam Devara pelan-pelan mulai turun.

Di Skyline Hospital, Wijaya masih nunggu Aruna balik.

Dan Aruna ada di tengah-tengah, membawa keputusan yang tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah.

Keputusan buat tidak meninggalkan siapa pun. Setidaknya… belum.

Jam 8 pagi. Lift Mahesa Hospital.

Aruna tekan tombol turun. Tangannya masih dingin. Di kepalanya masih keinget wajah Devara waktu buka mata lemah, tapi masih ada nyala keras kepala yang sama.

Pintu lift kebuka di lobi. Ia jalan cepat keluar, tidak menengok ke kanan kiri.

Taksi udah menunggu di depan. Ia masuk.

“Ke Skyline Hospital, Pak.”

Sepanjang jalan, HP-nya mati. Ia tidak sanggup melihat kalau Andre kirim kabar lagi. tidak sanggup juga kalau Bayu menanyakan dia ada di mana.

.........

Jam 8.20 pagi. ICU Skyline Hospital.

Bayu berdiri saat Aruna masuk. Wajahnya tegang.

“Papa nanya kamu tiga kali,” bisik Bayu. “aku bilang kamu ke toilet. Run, dia curiga.”

Aruna ngangguk. Ia masuk ke ruang ICU.

Wijaya udah setengah duduk, dibantu bantal. Selang oksigen masih di hidung, tapi matanya jernih. Begitu melihat Aruna, ia senyum tipis.

“Run…” suaranya serak.

Aruna langsung pegang tangan Wijaya. “Papa bangun.”

Wijaya mengusap punggung tangan Aruna. “kamu dari mana? Kok lama?”

“Ke… ke toilet, Pa. Antri.” Bohong. Suaranya pecah di akhir kalimat.

Wijaya menatapnya lama. Terlalu lama buat orang yang baru sadar dari ICU. “kamu nangis?”

“Enggak,” Aruna geleng cepat. Ia hapus sudut matanya yang basah. “Cuma lega Papa bangun.”

Wijaya tidak bertanya lagi. Tapi Aruna tahu. Papa tahu dia bohong.

Sedangkan ditempat lain, Mahesa Hospital, Ruang VIP. Jam 11 pagi. Devara udah bangun. Demamnya turun ke 38.1. Ia duduk bersandar di ranjang, infus masih terpasang.

Andre masuk membawa bubur. “Pak, makan dikit.”

Devara tidak jawab. Matanya lurus ke pintu.

“Dia udah pergi?” tanyanya akhirnya.

Andre mengangguk. “Iya, Pak. Tadi jam 8 lewat.”

Devara diem. Lama. Lalu ia ambil sendok, makan satu suap. Bubur dingin, tapi ia telan juga.

“Bagus,” gumamnya. “Berarti dia milih jaga Pak Wijaya.”

Andre nggak jawab.

Devara lanjut makan. Pelan. Patuh. seperti anak kecil yang baru dikasih perintah.

Karena satu-satunya perintah terakhir yang dia denger dari Aruna adalah “Jangan mati sebelum Papa sembuh total.”

Jam 4 sore. Mahesa Hospital, Ruang VIP.

Pintu dibuka tanpa ketukan.

Alana masuk. Gaun putihnya udah ganti jadi dress hitam. Matanya merah, tapi bukan karena nangis, karena marah.

Devara duduk di ranjang. Infus sudah dilepas. Wajahnya masih pucat, tapi sadar penuh.

Andre langsung minggir, menutup pintu dari luar.

Keheningan.

“Gila,” kata Alana akhirnya. Suaranya rendah, bergetar. “Gila banget, kamu Dev...”

Devara tidak jawab.

“Acara kita berantakan,” lanjut Alana. Ia jalan ke pinggir ranjang. “Tamu kecewa. Video Pak Wijaya drop udah nyebar di mana-mana. Nama keluarga Mahesa jadi bahan gosip. Dan kamu? kamu malah terbaring di sini gara-gara perempuan lain.”

Setiap kata seperti tamparan.

Devara masih diam. Matanya lurus ke jendela.

Alana mendekat. “aku udah tahan, Devara. aku udah tutup mata waktu kamu menikah kontrak sama dia. Aku udah pura-pura nggak tau waktu kamu ngurung dia dulu. Tapi ini udah keterlaluan.”

Ia berhenti tepat di depan Devara. “Ini peringatan terakhir aku. Kalau kamu masih mikirin dia, udahin. Sekarang.”

"Aku bakal nyuruh papa buat batalin keberangkatan kapal selanjutnya dan batalin kerja sama kalian juga.." Ancam Alana.

Devara akhirnya menoleh.

Ia menatap Alana lama. Perempuan yang sama sekali tidak Ia cintai dan berhubungan dengannya hanya untuk bisnis, kini Ia sadar cinta lebih penting dari pada bisnis ilegalnya, dari pada nyawa tak bersalah yang sudah habis ditangannya. Kini semua penyesalan menjadi satu, berebut untuk segera di tuntaskan.

“Alana,” katanya pelan.

“Apa?”

“aku minta maaf.”

Alana mendelik. “Maaf buat apa? Maaf karena kamu maluin aku di depan semua orang? Maaf karena kamu ninggalin aku di altar? Atau maaf karena kamu nggak pernah cinta sama aku?”

Devara menghela napas. Berat.

“Yang terakhir.”

Dunia Alana berhenti.

Devara menunduk. “aku udah bohong terlalu lama. Ke kamu. Ke diri aku sendiri. aku pikir kalau aku nikahin kamu, aku bisa lupain Aruna. aku pikir kalau aku punya kamu, bisnisku bakalan lancar"

Ia mendongak. Matanya jernih. Tidak ada lagi topeng dingin.

“Aku lelah, aku ingin sendirian sekarang.”

Air mata Alana jatuh. Bukan karena sedih. Karena kecewa yang udah ketahan terlalu lama.

“Jadi selama ini aku cuma pengganti?” bisiknya.

Devara nggak jawab. Karena jawaban itu udah jelas.

Alana mundur selangkah. Lalu satu langkah lagi. “Oke. Oke, Devara.”

Ia hapus air matanya pakai punggung tangan. “Nikah kita batal. Mulai hari ini, aku bukan tunangan kamu lagi. Dan kalau kamu m*ti di ranjang itu, aku nggak akan datang ke pemakaman kamu.”

Ia balik badan, jalan ke pintu.

Pintu ketutup.

Tinggal Devara sendirian.

Ia sandar ke bantal. Tutup mata. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak bohong lagi.

Ia sadar punya perasaan kepada Aruna. Bodoh, salah, menyiksa, tapi nyata.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!