Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kok Bapak bisa tau?
Alya mengusap perlahan gaun yang kini tergantung di dalam lemari pakaiannya. Sebuah gaun berwarna abu-abu muda, dengan bagian bahu yang sedikit terbuka.
Berbahan satin dengan brokat di bagian atas hingga pada bagian lengannya, terlihat sangat menawan, pemberian Daffa untuknya.
Dengan hati-hati sekali, diangkatnya gaun itu, melepasnya dari hanger yang menyangganya. Setelah itu Alya mencoba untuk memakainya.
Mulutnya berdecak kagum, matanya membulat sempurna. Gaun itu terasa lembut menyentuh kulit tubuhnya, begitu nyaman saat mengenakannya. Dan Alya benar-benar menyukainya.
Ada pita kecil yang mengikat di bagian pinggangnya, yang akan membuat lekuk tubuh si pemakai terlihat indah, dengan rok panjang berlipit yang dibalut pula dengan brokat yang melebar hingga ke bagian bawah lutut.
"Hem, baiklah. Sepertinya gaun ini memang dirancang khusus buat Aku," Alya tersenyum lebar, tapi sedetik kemudian dia teringat pada pria yang sudah memberinya gaun itu.
Senyumnya pun mulai meredup lagi, mengingat sikap yang sudah ditunjukkan Daffa padanya selama ini. Apa ini juga salah satu bentuk perhatian Daffa padanya?
Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau Alya sedang memerlukan sebuah gaun untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya itu, satu pertanyaan yang kini mengganggunya.
Alya mengerdikkan bahunya, mencoba menyingkirkan pertanyaan yang mengganggunya. Ya sudah lah, paling tidak sekarang ia tidak perlu pusing memikirkan gaun apa yang akan ia pakai nanti.
Bagaimana pun juga, Daffa sudah sangat membantu dirinya. Terpikir olehnya untuk berterima kasih nanti pada Daffa.
Alya pun mulai berdandan, menggunakan rias wajah lebih banyak daripada biasanya. Menonjolkan bulu matanya yang panjang dan lebat tanpa harus memakai bulu mata palsu.
Bibirnya yang penuh dan sudah merah alami dipoles dengan pemerah bibir yang berwarna lebih terang. Tulang pipinya yang tinggi, diberi perona wajah yang senada dengan warna bibirnya walau sedikit samar. Rambutnya dibiarkan tergerai menyentuh bahunya.
"Wow!"
Alya memandang tampilan dirinya di depan cermin, tersenyum puas. Selama ini ia selalu menyembunyikan penampilan fisiknya dari teman-temannya di kantor bahkan dari Daffa sekalipun.
Karena bagi Alya, penampilan luar bisa diperbaiki, ia lebih peduli kalau cara kerjanya yang diakui dan bukan karena penampilan fisiknya.
Tepat pukul 11.00 WIB, Alya bersiap untuk segera berangkat ke tempat acara. Akhir-akhir ini cuaca sedang tidak bersahabat, hujan sering turun tiba-tiba.
Alya lalu mengunci pintu rumahnya, kemudian memasukkan kunci pintu ke dalam tas mungil bertali panjang yang dipakainya. Alya sengaja memilih waktu yang bertepatan dengan jam makan siang. Sambil membetulkan letak gaunnya, dipakainya sepatu yang serasi dengan gaun yang dikenakannya.
Tiinn Tiinn Tiinn
Suara klakson mobil terdengar nyaring, Alya mengalihkan pandangannya ke arah suara yang didengarnya.
Matanya yang tajam menyipit, Alya memandang ke arah mobil hitam yang terparkir persis di depan pintu pagar rumahnya. Sepertinya sudah sejak tadi pagi mobil itu berada disana, dan Alya merasa seperti mengenal pemilik mobil itu.
Dan benar saja dugaan Alya, tidak berapa lama kemudian Daffa keluar dari dalam mobil sambil tersenyum lebar ke arahnya, memperlihatkan giginya yang putih dan tertata rapi.
"Boleh Aku masuk?" katanya kemudian.
Tanpa menunggu jawaban dari si pemilik rumah, Daffa langsung membuka pintu pagar rumah dan berjalan menghampiri Alya.
"Astaga, dia lagi! Apa sih maunya ini orang! Nggak jelas banget, ngapain coba pakai nanya segala, kalau akhirnya nyelonong masuk juga."
Alya mengesah pelan, melihat sosok lelaki yang kini tengah berdiri di depannya itu, memakai kacamata hitam yang terlihat pas bertengger manis di hidung mancungnya.
Jas berwarna abu-abu dan dasi warna senada dengan motif garis-garis yang dikenakan Daffa, semakin membuatnya terlihat menarik.
"Astaga!"
Alya menyadari sesuatu hal yang terlihat janggal di depan matanya itu, kembali matanya menatap tajam tampilan Daffa. Memandangnya dengan lebih teliti. Huh, mereka berdua terlihat seperti pasangan kondangan yang sebenarnya dengan warna pakaian yang sama.
Alya menghela napas dengan berat, memandang sebal pada lelaki di hadapannya itu. Pasti dia sengaja melakukan ini semua, membuat mereka berdua terlihat seolah-olah seperti pasangan.
"Sudah siap," suara itu menyadarkan Alya.
"Siap apa?" sahut Alya pura-pura tak mengerti pertanyaan Daffa.
"Sudah lewat jam sebelas siang, apa tidak sebaiknya kita segera berangkat kesana," Daffa melihat jam di tangannya, tak menghiraukan pertanyaan Alya padanya.
"Siapa yang Bapak maksud dengan kita? Siapa juga yang mau berangkat bareng kesana? Kesana mana?" Alya mengulang pertanyaannya.
"Hmm ..."
Alya masih diam di tempatnya berdiri saat ini, menunggu jawaban. Heran, bukankah seharusnya lelaki itu sekarang sedang bekerja dan berada di kantornya. Bukannya malah berada disini menemui Alya dan mengajaknya berangkat bareng. Apa yang sedang direncanakannya saat ini.
"Ayo lah Al, Kamu nggak lihat apa kalau langit mendung. Bisa jadi sebentar lagi turun hujan, apa Kamu mau datang terlambat ke pesta pernikahan sahabat Kamu?"
"Bagaimana Bapak bisa tahu kalau Saya mau datang ke acara pernikahan sahabat Saya? Bagaimana Bapak ..."
BLEDARRR!!
"Astagfirullah!"
Suara petir tiba-tiba terdengar, memutus pertanyaan yang Alya ajukan pada Daffa. Ia terlonjak kaget dan sontak menutup kedua telinganya, dan tanpa menunggu jawaban Daffa lagi Alya berlari kecil menuju mobil dan langsung masuk ke dalamnya.
"Ayo Pak, cepetan masuk. Keburu hujan deras nih!" Alya setengah berteriak memanggil Daffa.
Daffa memandang ke atas langit tersenyum lebar seolah mengucap kata terima kasih, kemudian berjalan menyusul Alya yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Apa yang Bapak pandangi!" Alya membuang pandangannya keluar jendela mobil, merasa risih melihat Daffa yang sedari tadi tak lepas memandangnya sejak dirinya masuk ke dalam mobil.
"Kamu," jawab Daffa sambil menahan senyum.
"Jangan seperti itu," sahut Alya merasa tak nyaman.
"Kenapa? Apa itu membuat Kamu gugup, apa berada di dekat Saya membuat Kamu jadi tidak nyaman?"
"Ya! Karena Saya nggak suka Bapak pandangi seperti itu. Lihat saja yang lain, kenapa harus Saya? Di luar sana banyak pemandangan yang jauh lebih menarik dari pada Saya," sahut Alya tak suka.
Daffa tertawa mendengar ucapan Alya, diliriknya perempuan yang sedang duduk di sampingnya itu yang berbicara dengan bibir yang mengerucut sebal.
"Jangan ketawa, nggak ada yang lucu!" Alya melirik wajah di sampingnya.
"Ya karena Saya suka sama Kamu Alya. Kamu cantik, gaun yang Kamu pakai saat ini sangat pantas berada di badan Kamu. Terima kasih ya, Kamu sudah mau memakai gaun pemberian dari Saya."
Blushh
Alya memalingkan wajahnya kembali ke arah luar jendela mobil, pipinya merona merah mendengar pujian Daffa padanya.
"Saya yang seharusnya bilang terima kasih sama Bapak. Tapi maaf sebelumnya, Bapak jawab dulu pertanyaan Saya, bagaimana Bapak bisa tahu kalau Saya ..."
"Ssstttt, Kita berangkat ya," Daffa memotong ucapan Alya tanpa menoleh padanya, dan mulai menjalankan mobilnya.
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐