NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kaki Di Pasir Emas

Langkah kaki mereka bergema lembut di atas lantai marmer Villa Maritima yang dingin, namun suasana di dalam ruangan itu terasa begitu panas oleh gelora asmara yang dibawa oleh Isaac. Sejak mereka melintasi ambang pintu masuk, Isaac seolah tidak bisa menjauhkan dirinya dari Luna. Ia seakan bertransformasi menjadi pria yang berbeda; bukan lagi arsitek kaku yang penuh perhitungan, melainkan seorang suami yang sedang dimabuk cinta sedalam samudera yang terhampar di depan mata mereka.

Sepanjang koridor menuju kamar utama, tangan Isaac tidak pernah sekalipun meninggalkan pinggang ramping Luna. Ia merengkuh istrinya begitu protektif, seolah takut jika ia melepaskan genggamannya sedetik saja, pemandangan indah di hadapannya ini akan menghilang. Isaac terus menghujani pelipis dan pipi Luna dengan ciuman-ciuman kecil yang mesra, membuat Luna berkali-kali tersipu malu dan terkekeh pelan.

"Mas, berhentilah. Kita harus merapikan barang-barang dulu," ujar Luna sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan Isaac saat mereka tiba di dalam kamar. Kamar itu sangat luas, dengan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pantai, memberikan ilusi seolah ranjang mereka berada tepat di atas permukaan air.

Isaac justru semakin mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di leher Luna yang harum. "Barang-barang itu tidak akan lari ke mana-mana, Sayang. Biarkan saja di sana. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar di sini, bersamaku."

Luna merasakan ketulusan yang luar biasa dalam suara Isaac. Ia tahu, setelah badai pekerjaan yang hampir merenggut kesehatan suaminya di kota kemarin, Isaac merasa sangat emosional bisa berada di tempat ini bersamanya. Luna memutar tubuhnya, menangkup wajah Isaac dengan kedua tangannya, lalu mencium bibir suaminya dengan lembut sebagai balasan atas kasih sayang yang meluap-luap itu.

"Aku di sini, Mas. Aku tidak akan ke mana-mana," bisik Luna menenangkan.

Setelah perdebatan kecil yang manis, mereka akhirnya memutuskan untuk menunda urusan merapikan koper. Isaac menarik tangan Luna, mengajaknya keluar menuju hamparan pasir putih yang hanya berjarak beberapa langkah dari teras villa. Mereka masih mengenakan pakaian yang mereka pakai saat perjalanan—Luna dengan terusan kain katun yang ringan dan Isaac dengan kemeja linen yang lengannya digulung hingga siku.

Begitu kaki telanjang mereka menyentuh pasir yang hangat, Luna langsung berlari kecil menuju bibir pantai. Suara deburan ombak yang jernih seolah memanggil jiwanya yang selama ini terkurung di dinginnya pegunungan. Isaac menyusul dari belakang, tertawa melihat keceriaan istrinya yang tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat laut.

"Mas, lihat! Airnya sangat jernih!" seru Luna sembari membiarkan buih ombak menyapu pergelangan kakinya.

Isaac mendekat, lalu dengan jahil ia mencipratkan air ke arah Luna. Luna membalasnya dengan tawa nyaring, dan dimulailah aksi kejar-kejaran di sepanjang garis pantai. Mereka berlarian di atas pasir, meninggalkan jejak-jejak kaki yang kemudian disapu hilang oleh ombak, melambangkan beban masa lalu mereka yang kini ikut larut terbawa arus.

Setelah puas bermain air, mereka duduk bersimpuh di atas pasir. Isaac mulai menggali pasir dengan tangannya, mencampurnya dengan sedikit air laut untuk menciptakan tekstur yang padat.

"Apa yang kau lakukan, Mas?" tanya Luna penasaran.

"Membangun sebuah istana," jawab Isaac dengan serius, menggunakan keahliannya sebagai arsitek bahkan untuk urusan pasir pantai. "Istana ini untukmu, Ratu di perbukitanku."

Luna ikut bergabung. Mereka bersama-sama membangun sebuah struktur sederhana namun artistik dari pasir. Tangan mereka seringkali bersentuhan di dalam gundukan pasir yang basah, menciptakan percikan listrik emosional yang membuat mereka saling bertatapan dan tersenyum. Bagi Isaac, membangun istana pasir bersama Luna jauh lebih membahagiakan daripada merancang gedung pencakar langit mana pun di dunia ini.

Tak lupa, mereka mengabadikan momen-momen berharga itu. Isaac mengeluarkan ponselnya, mengambil banyak sekali foto bersama. Mulai dari foto Luna yang sedang tertawa lebar dengan rambut yang berantakan tertiup angin, foto tangan mereka yang saling bertautan di atas pasir, hingga foto selfie di mana Isaac mencium pipi Luna dengan latar belakang ombak yang pecah.

Waktu seolah melambat saat matahari mulai turun menuju garis cakrawala. Warna langit berubah secara dramatis, dari biru cerah menjadi gradasi jingga, ungu, dan merah muda yang memukau. Isaac mengajak Luna untuk duduk bersandar pada sebuah batang pohon tumbang yang sudah kering di tepi pantai.

Isaac merangkul bahu Luna, membiarkan kepala istrinya bersandar dengan nyaman di dadanya. Mereka terdiam, hanya ditemani suara alam dan napas satu sama lain yang teratur. Keindahan matahari terbenam itu seolah menjadi penutup yang sempurna bagi hari pertama liburan mereka.

"Mas..." panggil Luna pelan, matanya tetap menatap matahari yang perlahan menghilang.

"Ya, Sayang?"

"Terima kasih sudah membawaku ke sini. Aku merasa... seolah semua kelelahan dan ketakutanku selama ini menguap begitu saja."

Isaac mengecup puncak kepala Luna. "Ini barulah permulaan, Luna. Aku ingin memberikanmu lebih banyak lagi kebahagiaan. Aku ingin menebus setiap air mata yang kau jatuhkan karena kesibukanku."

Isaac menatap profil samping wajah Luna yang tersiram cahaya senja. Di bawah sinar keemasan itu, Luna tampak berkali-kali lipat lebih cantik di mata Isaac. Ia kembali teringat akan niatnya untuk memberikan Luna seorang anak, sebuah komitmen yang akan mengikat mereka lebih kuat lagi. Ia tidak sabar menunggu malam tiba, di mana ia bisa mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada wanita yang telah menjadi pusat semestanya ini.

Saat matahari benar-benar tenggelam dan menyisakan rona merah di langit malam, Isaac berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Luna. "Ayo kembali ke villa. Udara mulai dingin, dan aku tidak ingin kau jatuh sakit."

Luna menyambut uluran tangan itu. Mereka berjalan kembali menuju villa dengan langkah perlahan, masih dengan jemari yang saling bertautan erat. Di dalam hati masing-masing, mereka tahu bahwa liburan ini bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk memperdalam ikatan suci yang telah mereka bangun.

Malam itu, di bawah lindungan Villa Maritima yang mewah, Isaac berjanji dalam hati bahwa ia akan selalu menjaga senyum Luna agar tetap cerah seperti matahari pagi, dan sehangat senja yang baru saja mereka lalui bersama. Segala badai di kota telah berlalu, dan kini yang ada hanyalah kedamaian yang dibungkus oleh deru ombak dan cinta yang tak terbatas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!