Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Janji dan Peluit di Balik Hujan
Langit Aethelgard sore itu tampak kelabu, seolah-olah awan ikut merasakan beratnya hati Princess Aurelia. Kabar itu datang secara tiba-tiba: ayah Lucas baru saja mendapatkan kontrak besar untuk mengelola jalur logistik di wilayah pesisir yang jauh selama beberapa tahun.
Artinya, hari ini adalah pengiriman terakhir mereka ke istana sebelum keberangkatan panjang itu.
Aurelia tidak peduli dengan petir yang mulai menyambar di kejauhan. Begitu mendengar suara peluit kayu berbunyi tiga kali dari arah belakang taman, ia langsung berlari. Ia tidak peduli jika Elara mencarinya atau dayang-dayang akan panik melihat kursinya kosong.
Di bawah pohon apel yang dulu pernah mereka panjat, Lucas sudah menunggu. Ia tidak membawa layang-layang atau bola bekel hari ini. Di tangannya hanya ada sebuah kotak kayu kecil yang dikunci rapat.
"Kamu benar-benar akan pergi?" tanya Aurelia dengan suara gemetar. Air mata sudah menggantung di kelopak matanya.
Lucas mengangguk pelan. Wajah bocah dua belas tahun itu berusaha tampak kuat, meski matanya sendiri terlihat merah. "Ayah bilang ini kesempatan besar. Kami harus pergi besok pagi-pagi sekali. Aku tidak tahu kapan bisa kembali ke sini, Aurelia."
"Lalu aku bagaimana?" isak Aurelia. "Siapa yang akan mengajakku melihat pasar? Siapa yang akan mendengarkan ceritaku saat Ayah membentakku?"
Lucas mendekat dan menyerahkan kotak kayu itu kepada Aurelia. "Makanya aku menyiapkan ini. Ini harta karun kita. Isinya semua hal yang pernah kita temukan: kelereng mata kucing dari gudang senjata, jaring ikan kita yang sobek, dan peluit kayu itu. Aku mau kita menguburnya di sini, di bawah akar pohon apel ini."
Aurelia menerima kotak itu dengan tangan gemetar. "Kenapa harus dikubur?"
"Supaya harta kita aman. Dan supaya ada alasan buat kita untuk bertemu lagi nanti," jawab Lucas dengan polos namun mantap. "Janji padaku, Aurelia. Jangan pernah buka kotak ini sendirian. Kita hanya boleh membukanya bersama-sama saat kita sudah besar nanti. Siapa pun yang pertama kali melihat kotak ini di masa depan, dia harus menunggu yang lain di bawah pohon ini."
Dengan bantuan sekop kecil milik tukang kebun yang dipinjam Lucas, mereka menggali lubang di sela-sela akar pohon apel yang kuat. Hujan mulai turun membasahi bumi, mencampur tanah dengan air mata Aurelia. Setelah kotak itu tertimbun rapat, Lucas mengulurkan tangannya yang kotor karena tanah.
"Jangan menangis terus. Kamu itu Putri, ingat?" ucap Lucas sambil mengusap pipi Aurelia dengan sapu tangan linennya yang kasar. "Dengar, biarpun aku jauh, setiap kali kamu melihat bintang di arah laut, ingatlah kalau aku sedang bekerja keras supaya bisa jadi orang hebat dan kembali ke sini untukmu."
Aurelia memegang tangan Lucas erat-erat. "Kamu harus kembali, Lucas. Kalau kamu tidak kembali, aku akan menyuruh prajurit mencarimu ke seluruh penjuru dunia!"
Lucas tertawa kecil, tawa bocah yang akan selalu dirindukan Aurelia. "Iya, janji. Aku akan kembali."
Mereka berdiri di bawah guyuran hujan selama beberapa saat, saling menatap seolah ingin merekam wajah satu sama lain di dalam ingatan sebelum waktu menghapusnya. Suara terompet istana memanggil Aurelia untuk kembali masuk, memaksa perpisahan itu menjadi nyata.
"Pergilah, Aurelia. Sebelum kamu sakit," bisik Lucas.
Aurelia berbalik, berlari menuju istana yang megah namun terasa semakin sunyi. Ia tidak menoleh lagi karena takut keberaniannya akan hilang. Di belakangnya, Lucas tetap berdiri di bawah hujan, menatap punggung sang putri sampai menghilang di balik pintu besar.
Malam itu, kereta logistik keluarga Lucas meninggalkan gerbang Aethelgard tanpa suara. Aurelia hanya bisa melihat lampu obor kereta itu menjauh dari jendela menaranya, menggenggam sapu tangan kotor pemberian Lucas seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
---