Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
...Tidak semua rasa harus diperjuangkan.....
...Tidak semua pula harus dihentikan.....
...Pada akhirnya, manusia diuji bukan oleh hadirnya rasa.....
...Melainkan oleh batas yang melanda jiwa.....
...Saat rasa itu tumbuh ditempat yang tak terduga......
...Yang bahaya itu bukanlah cinta yang dirasa.....
...Melainkan pembenaran yang lahir darinya.....
...Yang perlahan mengaburkan kedua netra.....
...Mana yang seharusnya dijaga,.....
...Dan mana yang seharusnya ditinggalkan.....
......{GuZee}......
Kampus
Suara langkah kaki masih saling bersahutan beradu dengan gesekan aspal dari kejauhan yang tidak terlalu terdengar.
Syahira masih berdiri ditempatnya, punggungnya yang menempel pada dinding yang dingin, dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.
Tangannya masih memegang ujung tasnya erat. Seolah itu bisa menahannya dari suatu hal yang ia rasakan saat ini.
Kaizan Altaz masih disana, tidak bergerak sedikit pun, hanya berdiri santai tapi matanya..tidak.
"Yaudah kalo enggak ngerasa, biasa aja dong nona, enggak usah kaku gitu,..woles woles santai" ia menoleh sekilas, menatap kasian dengan sorot yang tidak suka diusik.
"Lo tuh ya,..kenapa sih selalu aja muncul tiap gue lagi.."
"Nah loh,..bener kan gue bilang tadi"
"O,..ow kamu ketahuan, mikirin apa" celetuknya malah menyanyikan lagu sambil ngeloyor pergi begitu saja, membuat Syahira semakin kesal dibuatnya.
Hampir saja ia keceplosan,..tak lama kaizan menoleh lagi,.."Ganggu,..hmm keliatan banget kayak nutupin sesuatu soalnya"
Deg. Syahira mengepalkan tangannya, emosinya berusaha ia tahan, sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya lagi dengan pura pura tidak peduli. "Sok.tau banget sih"
Syahira terdiam. Tatapannya berubah sepersekian detik, sebelum akhirnya ia memalingkan wajah lagi, pura-pura tidak peduli. “Sok tau banget.”
Syahira akhirnya mendorong tubuhnya menjauh dari dinding, "udah ah gue capek ladenin elo,..bye!" ucapnya cepat, seperti ingin mengakhiri semuanya sebelum semakin aneh lagi kelakuan pria yang tidak terlalu ia kenal itu.
Baru saja beberapa langkah, eh ia harus hentikan lagi langkahnya itu, suara terdengar dari belakang tubuhnya yang menyapanya.
"Ra" panggilnya. Tapi bukan orang aneh itu yang manggil. Suara itu begitu familiar di indra pendengarannya, ia langsunh membeku dengan debaran jantung yang tak menentu, ingin rasanya menghilang saat itu tapi dirinya bukanlah hantu..
Deg.
Ia langsung memejamkan matanya sejenak, bahunya menegang, sebelum akhirnya perlahan berbalik.
Bilal berdiri tidak jauh dari sana, meskipun jaraknya tidak terlalu dekat tapi efeknya masih bisa membuat orang lain salah faham saat melihat adegan tersebut.
Kedua matanya bertemu, "Kitab kamu ketinggalan" ucap Bilal. Suaranya tenang seperti biasa. Namun jantung keduanya yang tak biasa.
Syahira menatap kitab yang ada ditangannya, ragu untuk mendekat ataupun diam ditempat. Jarak keduanya benar benar sengaja mereka jaga, Syahira diam sejenak sampai akhirnya ia melangkah maju kearah Bilal, mengambil kitab itu dari tangannya tanpa tersentuh sedikit pun pada kulit tangan Bilal.
"Iya,..Syukron pak" dan tak ada perbincangan lagi diantara mereka, Bilal hanya mengangguk kecil dan setelahnya ia berbalik kembali ke arah motornya yang ada diparkiran.
Syahira berbalik lagi dengan cepat, sebelum dirinya terlalu lama berada disitu, ia tidak ingin ketebak lagi ekspresinya lebih jauh. ia berusaha mengontrol dirinya agar rasa itu tidak ada dan tidak mau memberi ruang dan memang seharusnya tidak tumbuh walau itu tidak sengaja datang tak terduga.
Dari awal sampai akhir, Kaizan menyaksikan semuanya, matanya tidak lagi sekedar penasaran. Kali ini ia benar benar menyusun teka teki itu sampai
terkumpul semua menjadi satu.
Kaizan menghembuskan napasnya pelan, seolah hal yang ia lihat bukan sebuah hal yang harus ia abaikan begitu saja. Rahangnya mengeras namun sorot matanya justru seperti seseorang yang baru saja menemukan jawaban dari rasa penasarannya.
Awalnya hanya menerka nerka tapi ternyata instingnya malah semakin kuat, saat melihat dan sering mengamatinya sendiri.
"Jadi,..sejauh ini ternyata.,." gumamnya lirih. Langkah Syahira semakin cepat meninggalkan area itu. Tanpa menoleh lagi, ia tidak ingin memastikan apakah ada yang memperhatikannya lagi atau tidak.
Yang ia tahu, dadanya terasa penuh. Bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang pastinya akan lebih rumit dari itu.
Ia mengatur napasnya, mencoba menenangkan dirinya, meskipun pikirannya tidak tenang, semua karena suatu rasa yang harusnya tidak ada dan tidak boleh ia rasakan.
"Kenapa sih.." lirihnya pelan. Ia terus berjalan menyusuri koridor kampus yang mulai sepi, beberapa mahasiswa sudah masuk ke kelasnya masing masing, menyisakan langkah kaki yang sesekali terdengar menggema.
Sampai akhirnya "Syah!" langkahnya terhenti lagi.
"Lo tuh dari mana aja sih gue cariin dari tadi!" ucap Calysta sambil terengah-engah, karena mengejar Syahira dengan wajahnya yang sedikit panik.
"Enggak kemana mana,"jawab Syahira singkat.
Calysta menyipitkan matanya, "bohong banget sih elo mah"
"Serius"
"Terus kenapa.muka Lo kayak abis liat hantu tau nggak?"
"Lebay Lo" Syahira mendengus pelan, mencoba mengalihkan. temannya tidak langsung percaya, tapi tidak banyak melanjutkan hanya helaan nafas yang terdengar, lalu merangkul Syahira pelan.
"Yaudah ntar aja ceritanya, sekarang balik yuk, ntar keburu hujan lagi." Syahira mengangguk. Dan keduanya melangkah keluar area kampus sambil berbincang random.
"Besok kelasnya dia lagi ya?"
"Siapa?"
"Ya siapa lagi Sya,..dosen killer kesayangan kita." seketika Syahira membeku.
"Oh,.." jawab syahira singkat. Mereka pun berpisah diarea halte karena arah mereka berbeda.
Esoknya,..seolah waktu berputar begitu cepatnya, baru juga kemarin pulang, eh sekarang sudah masuk lagi. Hafalan lagi..
"Bilal sudah ada dikelas.saja pagi pagi,..dengan kitab yang selalu ia bawa di hadapannya.
"Untuk penilaian selanjutnya saya ingin kalian melakukan sambung ayat dengan teman kalian, nanti surahnya saya yang tentukan,..kalian faham"
"Faham Tadz"
"Baik lanjutkan hafalan yang kemarin." titahnya.
Suasana kelas begitu tegang dan hening, hanya suara seperti bisik bisik orang orang komat kamit fokus dalam menghafal apa yang ditugaskan oleh dosennya itu.
Sementara saat lagi lagi Syahira yang dipanggil untuk maju kedepan,.tidak ada sedikit celah yang Kaizan Altaz lewatkan.
Melihat gelagat keduanya yang semakin terlihat oleh kedua netra Kaizan saat itu. "Enggak bisa dibiarin,..udah gue ingetin masih belom nyadar juga tuh orang,..bibit bibit pelakor emang keliatan" ucapnya dalam hatinya, dengan rahang yang mengeras dan tangannya yang mengepal.
Kedua netranya semakin tajam menatap keduanya dari kejauhan, Bilal yang duduk didepan saja bahkan tidak memperhatikan dan tidak menyadarinya.
Semakin hari, Kaizan malah semakin sering terlintas satu nama, yaitu Feryal yang selalu ada diingatannya, bahkan ia malah semakin peduli tanpa ingin merusak ataupun mengganggu kehidupan rumah tangganya, tapi barusan apa yang ia lihat sungguh membuat aura kemarahannya semakin memuncak namun ia berusaha untuk menahannya.