Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Pihak Yang Bertentangan
Ricuh melanda MIU alias Maldiv’s International University, entahlah aku tidak peduli dengan hal itu, lanhkah kakiku tetap menapak tiap inci bumi Maldiv’s ini.
“Kaisar, Kenny sedang adu tinju”. Ucap Yhovi yang tiba-tiba sudah berjalan disampingku. Sontak aku berhenti dari langkahku.
“Perihal?”. Tanyaku singkat dengan alis sebelah terangkat.
“Entahlah, dia bertengkar dengan ketua BLM”. Jawab Yhovi sembari menyalakan gulungan nikotin dimulutnya.
“Rokok”. Tawar Yhovi, aku hanya menggeleng yang dimana menandakan kalau kau tidak mau merokok.
Aku tidak terlalu menaruh perhatian dengan kejadian yang terjadi pada Kenny, karena meurutku secara naluri Kenny itu seorang bad boy kelas kakap. Namun seingatku ketua BLM atau ‘Badan Legislatif Mahasiswa’ itu seorang perempuan.
Wanita gila mana yang mau beradu tinju dengan pria sinting seperti Kenny, sudahlah membuang waktuku untuk memikirkan hal itu.
Nyatanya pemuda di generasiku masih memikirkan hal-hal semacam itu lalu bagaimana dengan tanah yang mereka pijaki penuh dengan kemunafikan, apalagi orang-orang tinggi yang kocar-kacir, seolah merekalah yang berkuasa, namun kenyataannya merekalah bidak dari penguasa sesungguhnya yang ingin segalanya lancar tanpa hambatan.
Bohong, kalau usaha itu untuk kesejahteraan bersama, itu hanyalah kedok agar penguasa lebih mudah membuka uangnya. Dan saat inilah, saat kesadaran mulai meresap pada diri mereka, apa yang terjadi?, lihatlah kekacauan terjadi di banyak tempat dan semakin diperkeruh oleh dunia maya, dan yang paling hiperbola disini adalah netizen.
‘BUGH’
Aku dan yhovi saling bertukar pandang, lorong kampus yang sunyi, seluruh mahasiswa hanya menganggap semua kejadian sebagai angin yang hanya berlalu saja, yah disinilah Fakultas Hukum.
Di MIUini, fakultas hukum menjadi fakultas paling tenang, namun tidak untuk hari ini, tampak dari kejauhan Kenny dan seorang wanita tengah beradu mulut. Tatakala aku sudah mendekat, bisa kulihat dengan jelas bahwa wanita yang bertengkar dengan Kenny adalah Neil, wanita yang kutemui di Club Billiard.
“Kenny diamlah!”. Tegurku kepada Si Ketua Umum BEM itu, aku menatap penuh tanya kepada Kenny, kemudian aku beralih menatap Neil yang sudah berhenti berbicara serta mulai menghisap rokoknya.
“Apa, kau jangan ikut campur urusanku dengan dia”. Timpal Kenny dengan nafas yang memburu.
“Hei”. Panggil Neil yang mungkin sudah muak sembari membuang putung rokoknya sembarangan.
“Kamu tidak ada hak untuk membantahku”. Neil menyugar rambut merah pendek yang menjadi khas ketomboy-annya.
“Kenapa wanita gila, tomboy, gak da aturan seprtimu bisa menjadi ketua umum BLM?”. Tanya Kenny namun itu sebuah cercaan.
“Terserah kamu mau bilang apa, intinya keputusanmu bisa saja kubantah”. Tukas Neil sebelum ia melenggang pergi meninggalkan gedung fakultas hukum ini. Yhovi hanya bisa menggelengkan kepala, disaat itulah aku merasa jika alasan Neil membantah keputusan Kenny bukanlah perkara yang biasa.
***
Di lain waktu, dua gadis tengah duduk di salah satu bar terkenal ibu kota, alunan musik pengiring gairah pemabuk serta ratusan minuman beralkohol yang menyengat di indra penciuman.
‘CRASH’
Gadis bersurai merah pendek itu membuka tutup botol minuman disana, kemudian ia menenggak minuman itu langsung di botolnya, dan ia adalah Neil.
“Neil, jangan seperti itu nanti kalau kamu mabuk siapa yang mau mengantarmu pulang”. Celoteh gadis bersurai coklat yang tak lain adalah Elisia.
“Arrrghh, dia membuatku muak”. Entahlah Neil sudah tidak mempedulikan ucapan temannya.
“Ayolah bercerita”. Bujuk Elisia.
Akhirnya Neil mau untuk menceritakan masalahnya dengan Kenny, yang pada intinya Kenny ingin mengeluarkan aspirasi BEM untuk suatu hal, namun Neil selaku ketua BLM menentang hal itu. Secara garis besar perselisihan mereka berkaitan dengan kondisi negeri saat ini.
“Itu bagus Neil, mereka mau mengeluarkan aspirasi untuk perwakilan kampus, sudahlah kamu jangan menentangnya”. jelas Elisia sembari meminum segelas alkohol.
“Tapi El, kamu...”. Belum usai perkataan keluar dari mulut Neil, Elisia sudah menyekatnya.
“Cukup niat mereka baik kok, lebih baik mengorbankan satu orang untuk banyak orang daripada menyelamatkan satu orang dengan mencelakakan banyak orang”. Tutur Elisia.
“Tidak akan”. Yah, seperti itu Neil tetap membantah.
Elisia menghembuskan nafas pasrah memiliki sahabat yang keras kepala seperti Neil.
***
Keesokan harinya Kenny mengadakan rapat BEM di ruangan exclusive BEM. Aku berangkat ke kampus bersama dengan Arianne, kami sama-sama tidak memiliki jam mata kuliah, aku dan Arianne berangkat ke kampus mengendarai mobil McLaren.
“Apa hidupmu seenak ini?”. Tanya Arianne kepadaku saat mobil buatan Britania Raya ini melaju.
“Lha, memangnya hidupmu tidak enak”. Sarkasku balik, dia hanya menunduk diiringi senyum yang entah apa itu maksudnya. Sedetik kemudian tidak ada percakapan apapun diantara kami, hanya diam tanpa saling tukar pandang, apa mungkin perasaanku saja.
Tak lama McLaren light blue ini sudah memasuki area MIU, banyak pasang mata yang menaruh perhatian pada kedatangan mobilku. Meski dasarnya Maldiv’s International University ini perkuliahan elite dengan ukt puluhan sampai ratusan juta, namun didalamnya tetap ada tingkatan kasta, yang pada dasarnya sulit untuk dihilangkan.
“Kamu famous”. Celetuk Arianne, aku hanya terkekeh mendengar ungkapannya.
Sesampainya di area parkir kampus, aku turun dari mobil McLaren saja sudah menjadi pusat perhatian, apalagi saat mengetahui Arianne juga ada disana, yang pasti dugaanku akan ada gosip berjudul ‘Putra bungsu keluarga Bumantara memiliki seorang wanita’.
“Kaisar ke ruangannya bareng”. Ucapnya sembari menyamakan langkah denganku, entah mengapa aku merasa sedikit tidak nyaman. Memang benar tak berselang lama aku bertemu dengan Elisia yang tengah membawa setumpuk buku di tangannya. Aku dan Elisia hanya saling melakukan kontak mata cukup lama sampai akhirnya Elisia yang mengakhiri hal itu, melihat itu hatiku tiba-tiba gelisah yang tak ku ketahui penyebabnya.
‘CKLEK’
Aku memasuki ruangan exclusive BEM bersama Arianne.
“Yo, apa yang kulihat ini?”. Baru saja masuk sudah mendapat kata sindiran.
“Jangan berpikir macam-macam”. Tukasku.
“Ssst, diam, ayo segera dimulai karena sebentar lagi sebagian akan ada mata kuliah”. Ujar Kenny layaknya seorang pemimpin.
“Maaf karena ini keputusan mendadak dari ketua BLM, kalau keputusan kita disetujui, mulai hari ini Kaisar, Yhovi, Vera, dan Bastian ditugaskan untuk menyusun aspirasinya, terutama Kaisar kamu harus mencari bahan paling berbobot”. Jelas Kenny tanpa ada yang berani menjeda melihat raut muka suntuknya semua pasti akan mencari aman untuk tidak bermasalah dengannya kecuali aku.
“Oh adu tinjunya menghasilkan sesuatu”. Sahutku sedikit mengandung sarkasme, hanya decak kesal yang kudapati dari Kenny.
“Sudah sahabatmu sedang mode singa masih saja diganggu”. Cibir Yhovi.
“Hidup itu harus penuh warna, makanya ada anggota BEM seperti aku”. Ucapku mengikuti kata otak. “Dasar”.
Selama rapat kulihat ponsel Kenny tergeletak disebelahku, dengan seribu satu akal jahilku lantas aku membuka aplikasi whatsapp, melihat kontak-kontaknya sampai mataku tertuju pada satu roomchat bernamakan ‘Bangsat’.
‘BANGSAT IN ROOM CHAT’
Bangsat : aku setuju keputusan BEM
Kenny : atas dasar
Bangsat : kalau bukan karena sahabatku aku tidak akan setuju
Kenny : bangsat
Kenny : tanda tangani suratnya ini sangat penting
Bangsat : tidak mau
Kenny : bagaimana bisa dikatakan setuju kalau seperti ini
Bangsat : urusanmu
Bangsat : gunanya wakil
Kenny : sialan
Yah ini salah satu contoh dua manusia keras kepala yang bertentangan pendapat, sulit untuk didamaikan. Kemudian kubalik kembali ponsel Kenny beserta aku menyimpulkan jikalau Neil setuju atas bujukan Elisia.
Dia benar-benar sesuatu.