SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sang Arsitek
Cahaya biru itu bukan sekadar warna; ia adalah substansi cair yang seolah memiliki massa. Saat Arga, Raka, dan Lintang melangkah masuk, dunia di belakang mereka, Sektor 5 yang mulai membusuk oleh Virus Barzakh lenyap seketika.
Tidak ada lagi suara ledakan, tidak ada lagi deru mesin, dan tidak ada lagi bau formalin yang menyesakkan. Semuanya digantikan oleh keheningan yang begitu mutlak hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di telinganya.
Arga merasa tubuhnya seperti ditarik oleh ribuan benang tak kasat mata. Sensasinya mirip dengan saat ia tenggelam, namun alih-alih sesak napas, paru-parunya justru terasa dingin dan segar.
Tato hitam di lengannya bersinar terang, bertindak sebagai jangkar agar kesadarannya tidak tercerai-berai dalam arus dimensi.
"Jangan lepaskan pegangan kalian!" suara Lintang terdengar bergema, seolah-olah ia berbicara dari dasar sumur yang sangat dalam.
Arga mencengkeram tangan Raka lebih erat. Ia bisa merasakan telapak tangan kakaknya yang kasar, sebuah pengingat nyata bahwa semua ini bukanlah mimpi.
Di tengah cahaya biru yang menyilaukan itu, Arga mulai melihat fragmen-fragmen yang melayang. Ada meja kelas yang terbelah dua, buku-buku yang halamannya terbang seperti sayap burung, dan bayangan-bayangan siswa yang tampak seperti rekaman video yang rusak.
Perlahan, cahaya biru itu memudar dan gravitasi kembali menekan kaki mereka.
Bruk.
Arga terjatuh di atas permukaan yang terasa seperti pasir kasar, namun berwarna abu-abu pucat. Ia terbatuk, menghirup udara yang terasa kering dan hambar. Saat ia mendongak, napasnya tertahan.
Mereka tidak lagi berada di dalam gedung sekolah. Mereka berdiri di sebuah hamparan padang luas yang tak berujung, di bawah langit yang tidak memiliki bintang maupun bulan.
Langit itu berwarna ungu gelap yang statis, dengan awan-awan hitam yang menggantung diam seolah membeku dalam waktu.
Dan di tengah padang abu itu, berdiri SMA Nusantara.
Namun, itu bukan gedung sekolah yang biasa Arga lihat. Gedung itu tampak seperti cermin yang pecah lalu disatukan kembali secara paksa. Sebagian bangunan melayang di udara, terhubung oleh rantai-rantai besi raksasa yang berkarat.
Menara jam yang biasanya berbunyi setiap jam kini tampak miring dan retak, memancarkan cahaya biru yang sama dengan lorong yang baru saja mereka lalui.
"Selamat datang di Sisi Lain," bisik Lintang. Ia berdiri di samping Arga, menatap gedung sekolah yang mengerikan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tempat apa ini sebenarnya, Lintang?" tanya Arga sambil membantu Raka berdiri.
"Ini adalah refleksi dari ketakutan kolektif semua orang yang pernah masuk ke SMA Nusantara," jawab Lintang pelan.
"Setiap penderitaan, setiap eksperimen gagal, dan setiap nyawa yang hilang... semuanya terakumulasi di sini. Ini adalah dimensi paralel yang diciptakan oleh Sang Arsitek untuk menyimpan 'hasil panen' Indigo-nya."
Raka gemetar hebat. Matanya menatap ke arah gerbang sekolah yang kini tampak seperti mulut raksasa yang terbuka.
"Aku ingat tempat ini... di dalam mimpi-mimpiku saat aku berada di tabung eksperimen. Mereka membawaku ke sini... mereka bilang aku akan menjadi fondasi bagi dunia yang baru."
Arga mengepalkan tinjunya. Tato di tangannya bergetar, seolah memberikan peringatan. Di padang abu sekitar mereka, mulai muncul sosok-sosok yang menyerupai manusia, namun tubuh mereka transparan dan tidak memiliki wajah.
Mereka berjalan dengan langkah gontai, tanpa tujuan, mengeluarkan suara rintihan halus yang terbawa angin dingin.
"Mereka adalah arwah para siswa yang sudah benar-benar kehilangan identitasnya," Lintang menjelaskan, suaranya mengandung rasa sedih yang mendalam.
"Jangan biarkan mereka menyentuhmu, Arga. Jika mereka menyentuhmu, mereka akan mencoba menarik memorimu untuk mengisi kekosongan di dalam diri mereka."
Tiba-tiba, suara lonceng besar berdentang dari arah menara jam gedung sekolah yang melayang.
TENG... TENG... TENG...
Suaranya jauh lebih berat dan lebih mematikan daripada lonceng di dunia nyata. Setiap dentuman mengirimkan gelombang kejut yang membuat tanah abu-abu di bawah kaki mereka bergetar.
"Itu adalah tanda bahwa Sang Arsitek tahu kita sudah ada di sini. Virus Barzakh yang kau lepaskan tadi adalah sebuah pernyataan perang. Dia tidak akan membiarkan kita berkeliaran di dimensinya," ujar Lintang.
Dari gerbang sekolah yang hancur, muncul sekelompok sosok yang mengenakan seragam Osis Malam, namun mereka tidak lagi terlihat seperti manusia.
Tubuh mereka tinggi besar, dengan kulit yang menyerupai logam hitam dan mata yang memancarkan api biru. Mereka memegang tombak-tombak panjang yang dialiri listrik statis.
"Penjaga Gerbang," desis Arga. Ia menghunus harmonika peraknya, namun kali ini ia tidak hanya memegangnya.
Ia menyalurkan energi Barzakh dari tatonya ke dalam instrumen tersebut. Harmonika itu mulai berubah warna, dari perak menjadi hitam metalik yang memancarkan aura kegelapan.
"Lintang, bawa Raka ke balik reruntuhan pilar di sana," perintah Arga. Suaranya kini terdengar lebih berwibawa, penuh dengan kekuatan yang ia dapatkan dari pusat saraf digital tadi.
"Arga, kau tidak bisa melawan mereka sendirian! Di dimensi ini, kekuatan mereka sepuluh kali lipat lebih kuat!" teriak Lintang.
"Aku juga bukan lagi Arga yang lemah, Lintang," jawab Arga tanpa menoleh.
Saat para Penjaga Gerbang itu melesat maju dengan kecepatan yang mustahil, Arga mulai memainkan harmonikanya.
Kali ini, lagu yang keluar bukan lagi melodi sedih atau semangat, melainkan sebuah simfoni penghancur. Setiap nada yang ditiup Arga menciptakan gelombang suara berwarna biru-hitam yang mampu mencabik-cabik udara.
BOOM!
Satu penjaga terpental saat gelombang suara Arga menghantam perisai logamnya. Arga melompat, sayap perak-hitam yang sebelumnya hanya muncul sesaat kini keluar sepenuhnya dari punggungnya, mengepak dengan kuat dan menerbangkan abu di sekelilingnya.
Arga bertarung seperti iblis di tengah padang abu. Ia menggunakan kecepatan dimensinya untuk muncul di belakang musuh, memberikan hantaman energi Indigo yang murni.
Namun, ia menyadari bahwa di Sisi Lain, luka-luka yang ia terima tidak berdarah merah, melainkan mengeluarkan cahaya biru.
"Arga, lihat ke atas!" teriak Raka.
Di puncak gedung sekolah yang melayang, sebuah sosok besar berjubah hitam sedang berdiri memperhatikan mereka. Sosok itu memegang sebuah tongkat konduktor raksasa.
Dengan satu gerakan tangan dari sosok itu, langit yang tadinya ungu statis mulai berputar, menciptakan pusaran angin hitam yang sangat besar.
"Itu dia... Sang Arsitek," bisik Arga.
Pusaran angin itu menghisap para Penjaga Gerbang yang tersisa, namun bukannya menghancurkan mereka, angin itu justru menyatukan mereka menjadi satu entitas monster raksasa yang menakutkan. Monster itu mendarat di depan Arga, getarannya membuat Arga nyaris terjatuh.
"Kau pikir kau sudah menang karena berhasil menghancurkan komputerku, Subjek 02?" Suara Sang Arsitek bergema dari segala arah, dingin dan menusuk.
"Di sini, aku adalah Tuhan. Aku adalah hukum. Dan kau... kau hanyalah debu yang akan aku kembalikan ke tanah."
Arga berdiri di depan monster raksasa itu, sosoknya tampak sangat kecil dibandingkan dengan kengerian di depannya. Namun, ia tidak gentar. Ia menoleh ke arah Raka dan Lintang yang menatapnya dengan penuh harap.
"Mungkin di sini kau adalah tuhan," Arga berkata sambil mengarahkan harmonikanya ke arah Sang Arsitek.
"Tapi tuhan yang membangun dunianya di atas penderitaan orang lain tidak layak untuk disembah. Aku akan meruntuhkan sekolah ini, baik di dunia nyata maupun di sini!"
Arga mengumpulkan seluruh sisa energi Barzakh dan Indigo-nya ke dalam satu tarikan napas terakhir untuk bab ini. Ia akan meledakkan frekuensi yang belum pernah didengar oleh siapa pun di dimensi ini.
Cahaya biru di ujung lorong telah membawanya ke titik paling berbahaya dalam hidupnya. Namun, di tengah kegelapan dunia tanpa matahari ini, Arga baru saja menyadari bahwa cahaya yang paling terang bukanlah cahaya biru itu, melainkan api kemarahan dan kasih sayang yang membara di dalam jiwanya.