Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Pertama
"Kamu masih marah? Maafin aku, Sayang, aku janji nggak akan nginkarin janji kita lagi, kamu kan tahu Mama aku kayak gimana, beberapa hari ini Mama selalu ke rumah dan menyuruhku tetap menemani Nesa," kata Devan, menggenggam lengan Lestari.
Lestari menarik tangannya, dan berkata, "Udah berapa kali kamu meminta maaf? Aku tahu mama kamu seperti apa, tapi kamu kan kerja, kamu juga bisa mencuri waktu menemuiku, atau mungkin mengirimkan pesan," kata Lestari, membuat Devan menganggukkan kepala.
"Aku memang salah. Aku bingung kenapa aku harus menuruti Mama meski aku nggak suka."
"Aku tuh udah bilang ke kamu, kalau hubungan kita harus baik-baik saja, meski kamu sudah menikah, namun bukan berarti hubungan kita seperti ini, renggang dan jarang berkomunikasi."
Devan menundukkan kepala.
"Udah berapa kali kamu berjanji akan menjemputku namun nyatanya kamu nggak menjemputku, aku menyesali itu."
Devan menghela napas panjang, dan berkata, "Sayang, aku nggak tahu jelasin semua ini seperti apa, namun aku benar-benar nggak berniat mengingkari janji."
"Kamu yang nikah, namun aku yang merana."
"Aku juga merana, Sayang, andai saja kamu yang ada di rumah, aku pasti akan sangat bahagia," kata Devan menggenggam tangan Lestari.
"Lalu kamu nggak sekamar dengan gadis itu, 'kan?"
"Nggak lah, Sayang, gadis itu tidur di lantai bawah dan aku di lantai atas, kami seperti orang asing meski kami satu rumah. Dia hanya hamil anakku," jawab Devan menjelaskan, membuat Lestari menghela napas panjang.
Lestari menganggukkan kepala dan menyerendengkan kepalanya di bahu lebar Devan.
"Apa yang terjadi pada kita, semuanya salahku, andaikan aku nggak menolak lamaranmu, kita pasti sudah bahagia," lirih Lestari.
"Sayang, bukan salahmu, tapi salahku, andai saja aku tidak ke hotel waktu itu, aku tidak akan pernah menikah dengan gadis itu," sambung Devan.
"Ingat janjimu, setelah gadis itu melahirkan, kamu harus menceraikannya dan menikah denganku. Aku bisa kok merawat anakmu," ujar Lestari membuat Devan mengangguk dengan semangat.
"Hem aku janji," jawab Devan.
"Aku merindukanmu," lirih Lestari, dan kembali berkata, "Malam ini kamu mau ke kost?"
"Aku akan lihat nanti," jawab Devan.
"Kamu nggak mau?"
"Bukan nggak mau, Sayang, tapi aku ada pertemuan dengan klien sore ini," jawab Devan, membuat Lestari menganggukkan kepala.
"Baiklah. Setelah dari bertemu klien, temani aku di kost," kata Lestari.
***
Setelah pertemuan dengan klien, Devan memilih langsung pulang ke rumah, karena sejak tadi Ningrum sudah menghubunginya agar cepat pulang.
Ningrum memang tidak satu rumah dengan anak juga menantunya, namun Ningrum selalu over protektif pada putranya, hanya dengan alasan demi cucunya yang sedang dikandung Nesa.
Devan melihat sekeliling, namun rumah terlihat sepi, entah rasa penasaran atau memang khawatir, Devan menghampiri kamar Nesa, dan mengetuknya perlahan, namun tetap tak ada jawaban.
Devan membuka kamar Nesa, dan melihat kamar itu kosong, hanya ada sajadah dan mukena di atas nakas.
Devan merogoh kantung celananya dan mengambil ponselnya, ketika hendak mendial nomor ponsel istrinya, Devan menggelengkan kepala karena tak menyangka apa yang ia pikirkan, itu akan terdengar berlebihan jika dia menelpon Nesa.
"Ah terserah," kata Devan, lalu menaiki tangga.
Ia memasuki kamarnya dan langsung masuk ke kamar mandi, ia melihat handuk bersih sudah digantung, semua itu Nesa yang kerjakan, meski Devan sering mengatakan untuk tidak melakukan apa pun apalagi bersikap seperti seorang suami.
Setelah beberapa menit, dan selesai mandi, Devan keluar dari kamar dan melihat jam yang ada di atas nakas, malam menunjukkan pukul 9, namun Nesa pergi entah kemana, Devan berharap istrinya itu kembali ke Banjarmasin, dan meninggalkannya sendirian di sini.
Devan melihat ke luar dan keheranan ketika melihat Nesa di antarkan oleh seseorang yang tak asing, Devan menghela napas panjang ketika istrinya itu sudah kembali, ia tak perduli dengan siapa ia pulang atau dengan siapa ia pergi.
Devan bergegas keluar dari kamar dan hendak menuruni tangga, metika ia tersadar seketika, Devan menggelengkan kepala.
"Apa sih yang ku lakukan?" gumam Devan, hendak berbalik kembali ke kamarnya.
"Kak Devan?" tanya Nesa ketika melihat suaminya berbalik.
Devan menghela napas panjang ketika ia kedapatan.
"Ha? Ada apa?" tanya Devan, berbalik menatap istrinya dibawah sana.
"Kak Dev udah lama pulang?" tanya Nesa.
"Baru saja," jawab Devan.
"Mau aku siapkan makan malam, Kak?"
"Nggak usah, Mbok Nab pasti sudah membuat makan malam," jawab Devan, membuat Nesa mengangguk dengan kecewa.
"Kak Dev mengatakan agar aku nggak nyiapin makanan, namun aku pengen banget masakin Kak Dev, bukan sebagai istri kok, tapi sebagai teman," kata Nesa membuat Devan tak tega mendengarnya.
"Baiklah. Siapin aku makanan," kata Devan terpaksa.
Nesa tersenyum, senyumnya cantik menghiasi wajahnya, gadis yang sebentar lagi berusia 20 tahun itu, menjadi istrinya dan hal itu membuat Devan merasa bahwa takdir Allah memang tak ada yang tahu.
Devan menuruni tangga dan duduk di meja dapur, memperhatikan Nesa yang kini mengenakan celemek.
"Kamu pintar masak?" tanya Devan.
"Tentu saja, Kak. Aku loh yang suka masak di rumahku dulu," jawab Nesa.
"Wah. Perlu aku cobain kalau gitu," seru Devan, membuat Nesa tersenyum mendengarkan. "Tapi kamu darimana?"
"Hem?"
"Darimana? Aku pulang tumben nggak ada kamu di rumah," tanya Devan, membuat Nesa bersorak gembira di hatinya, karena suaminya itu penasaran olehnya.
Hal yang Nesa inginkan sejak dulu.
"Aku tadi jalan-jalan di sekitaran toko milik ibuku, dan berencana mau memulai usaha," jawab Nesa.
"Ibumu?"
"Iya. Ibu kandungku, Ibu yang bersama ayahku, adala ibu tiriku." Nesa tersenyum dan mulai menyalakan kompor.
"Oh begitu?"
"Iya. Nah pas aku lagi jalan-jalan aku ketemu orang yang sangat tahu tentang bisnis, jadi aku minta tolong padanya untuk membantuku menyiapkan usaha yang akan aku kerjakan."
"Sudah memutuskan usaha apa?" tanya Devan, membuat Nesa menòleh dan menganggukkan kepala. Baru kali ini suaminya itu banyak bicara, hampir sebulan di rumah ini, mereka tidak pernah bertegur sapa apalagi mengobrol seperti ini.
"Iya, Kak. Aku memutuskan untuk membuka usaha cafe," jawab Nesa. "Ini saran temanku juga."
Devan menganggukkan kepala.
"Ini aku buatkan soto betawi ya, Mas, meski aku orang Banjarmasin, tapi aku banyak tabu tentang masakan betawi," seru Nesa menyiapkan mangkuk untuk menaruh soto betawi.
"Nggak apa-apa itu saja sudah cukup, kan udah ada makanan yang di masak Mbok Nab," kata Devan membuat Nesa menganggukkan kepala.
"Kata Mama, kamu suka soto betawi, jadi aku memilih masakin soto betawi, Kak," seru Nesa membuat Devan menganggukkan kepala.
.
.
Bersambung.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻