Bagaimana jika jiwamu bertukar dengan orang yang sangat kamu benci, pria yang selalu mengolok-olok mu karena penampilanmu yang culun?!
Denada seorang siswi berkacamata tebal dengan kawat gigi dan buku ditangannya, Si Empat Mata adalah julukan yang sudah melekat dengannya. Habis habisan merasakan Bullying di Sekolah baik dari teman wanita ataupun pria. Seorang pria yang sangat ia benci bernama Rendra juga sering ikut mengerjainya.
Tiba-tiba mendapatkan accident dan bertukar jiwa dengan Rendra, semua kehidupan menjadi berputar sekarang?!
Bagaimana Denada menjalani kehidupan barunya dengan memakai tubuh pria, dan Rendra yang harus merasakan menstruasi untuk pertama kalinya?!
Read More...
Si Empat Mata Reborn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 | My Period.
Kelanjutan cerita kemarin...
Bhaaaakkk...
"Auuuuu... "
Bola Basket yang dioper rekan setimnya mendarat di wajah Denada, seketika Ia terjatuh di sana dan tentunya merasa kesakitan walaupun ini badan Rendra.
Rekan-rekan lain langsung mendekat dan melihat hidung Rendra yang sedang bermain dengan mereka mengeluarkan darah segar karena hantaman bola itu.
"Woy, berdarah hidung lo, ah bukannya ditangkap malah bengong sih!" cecar teman setimnya.
"Alamaaakk... " (〇ₒ〇;)
Rendra yang asli menyaksikan moment itu dari kejauhan, Ia ternganga dan seketika memegangi kepala. Tentu saja Rendra merasa kesal karena sejatinya yang dihantam bola adalah badannya.
"Rendra kamu gak papa?! Aduh sorry Bapak lupa kamu habis kecelakaan kemarin, yasudah sparing kita cancel dulu hari ini!" ucap Guru Pelatih yang ikut berlari mendekati kerumunan.
Tak lama Rendra yang sedari tadi berada ditepi Lapangan berlari mendekat ke kerumunan temannya.
"Wey, lo gak papa?!"
Rendra yang panik melihat hidung aslinya berdarah karena kecerobohan Denada tentu saja langsung bertanya, dan disisi lain para pria yang berkerumun di sana tentu terheran-heran melihat ada wanita yang tiba-tiba masuk ke Lapangan Basket.
"Nada kamu ngapain di sini, kok gak pulang, ini kan lagi sparing?!" ucap Tyo di sana kepada Rendra yang dikiranya Denada.
[Weeh, mampus jawab apa gue nih]
"Oh... Iya Tyo tadi gue gak sengaja lewat terus lihat Rendra kena bola, kebetulan hari ini jadwal gue jaga UKS, kuncinya masih sama gue, ngeliat ini sekalian aja gue bawa ke UKS gimana?!"
Untung saja otaknya cepat berfikir setelah bergumam tadi, Rendra dengan cepat berakting sebagai Denada si cupu di sana, Ia berbicara kepada rekan yang lain agar bisa segera membawa Denada ke UKS, sejatinya membawa badannya sendiri.
"Oh yaudah mending langsung ke UKS aja!" saut Tyo.
"Bisa jalan gak lo bro? Mau dibantuin gak?!' lanjut rekan tim yang lain.
"Gak usah gue bisa kok!"
Denada yang asli kemudian berdiri setelah menjawab pertanyaan temannya, Ia langsung melanjutkan langkah mengikuti Rendra menuju ruang UKS Sekolah.
"Si Cupu memang baik ya, padahal si Rendra dulu sering ngerjain dia, masih mau dia nolongin, keren!"
Beberapa rekan team Basket yang lain langsung bergosip sambil melihat Denada dan Rendra yang telah melangkah jauh dari sana, tentu saja karena mereka tak tau yang sebenarnya terjadi kepada kedua orang itu.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Saat ini di UKS.
"Astaga Nadaa... "
Rendra yang telah sampai di UKS langsung berteriak, saat ini mereka hanya berdua di sana karena penjaga UKS sudah pulang. Terlihat jelas kerutan dahinya dengan kacamata yang sudah berembun karena sudah geram melihat si cupu yang tak becus menjaga badannya.
"Iyaa... Iyaa Ndra maaf... "
Denada tentu merasa bersalah karena membuat hidungnya berdarah. Tak makan waktu untuk berdebat Rendra langsung mengambil kotak P3K dan langsung mengobati Denada, eh bukan mengobati hidungnya sendiri.
"Astaga, wajah gue yang tampan bisa hancur sama lo kalo kayak gini ceritanya, yaah peot dah hidung gua!"
Ia terus mencecar Denada sembari merawat hidungnya sendiri di sana. Tak dapat berkutik lagi Denada hanya bisa diam walau sebenarnya Ia juga mengumpat dalam hati mendengar narsisnya Rendra.
Beberapa saat setelah selesai mengobati hidung yang berdarah itu Rendra langsung membuka tasnya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari sana dan memberikannya kepada Denada.
"Apaan nih?!"
"Surat perjanjian Operasi, lo baca baik-baik terus lo tanda tangan di sini!"
Denada tentu terheran, Ia membaca dengan seksama isi surat itu, di sana tertulis perjanjian Operasi pemindahan Otak yang sudah dibuat oleh Rendra sebelumnya. Rendra bermaksud untuk menukar otaknya dengan Denada di ruang Operasi agar diri mereka bertukar kembali.
"HAH?! GILA UDAH LO?!"
Otomatis mulut Denada terbuka lebar, ada-ada saja ide gila si Rendra ini pikirnya.
"Iya, tenang uang Bokap gue banyak, gak usah pusing biaya, gue yang bayar!" lanjut Rendra serius.
"Woy, bukan masalah uangnya Ndra, Otak ini mau lo tuker, wah gila bener udah lo!"
Denada tanpa berpikir ulang langsung merobek kertas itu, bagaimana tidak membayangkan masuk rumah sakit saja Ia sudah ketakutan apalagi masuk ruang Operasi untuk menukar isi Otak, iya kalau berhasil kalau tidak.
"Hisss... Ya gimana lagi lah, capek gue baru sehari jadi lo masalah udah bertubi-tubi apalah dosa gue Tuhan?!"
Rendra langsung bersujud dilantai saking frustasinya.
[Dosa lo banyak Rendra, apalagi sama gue, mamam tuh]
Denada hanya bergumam tak bergeming lagi. Sejenak mereka tak mengeluarkan suara sama sekali, hanya berusaha menenangkan diri masing-masing.
"Yaudah kita pulang dulu lah, besok kita pikirin lagi caranya!" ucap Denada.
"Yaudah sini nomor HP lo, besok bawain beberapa barang gue di kamar, nanti gue text!"
Mereka akhirnya bertukar nomor HP sebelum pulang.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Saat ini di Rumah Denada.
Rendra telah masuk ke kamar Denada kini, mau tak mau Ia masih harus menjalani hari ini dengan identitas Denada, tidur di kamar kecil Denada, memakai kawat gigi dan kacamata Denada, terlebih memakai baju Denada.
Saat ini Ia hanya bisa menghela nafas panjang dan merebahkan badan ke ranjang kecil itu, Rendra berguling-guling di sana sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
Tak lama Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Denada.
📳📳📳
[Woy cupu, besok bawain ATM gue di laci meja, sekalian bawain headphones gue!]
Isi text yang dikirimnya dengan jelas, lama menunggu balasan namun ponselnya masih belum berbunyi juga. Tak lama Rendra merasakan sakit disekitar perutnya, Ia merasa tidak ingin buang air besar namun kenapa sakitnya agak lain terasa kali ini.
"Aduuuhh... "
Rendra terus memegangi perutnya, kini Ia sampai berguling-guling di kasur Denada sambil menahan sakit perutnya, rasa sakit yang benar-benar belum pernah Ia rasakan sebelumnya.
Tanpa sadar air mata juga ikut menetes, Rendra mendekap wajahnya ke bantal agar Ia tak berteriak karena sakit ini.
Selang beberapa waktu ponselnya berbunyi,
📳📳📳
"Hallo?!"
Rendra yang masih menahan sakit perutnya berusaha meraih ponsel itu. Nampak terlihat itu panggilan dari Denada dan Rendra langsung menjawabnya.
"Aahh... "
"Ndra lo kenapa?"
"Perut gue ss-sakit... "
Denada sejenak berfikir setelah mendengar rintihan Rendra, Ia segera berlari melihat kalender dan seketika mulutnya ternganga.
"Ndra kk-kayaknya ini My Period deh!" ucap Denada terbata-bata.
"Period, Period apa?!" sentak Rendra seketika.
"Menstruasi Ndra... "
Di saat yang bersamaan masih dalam panggilannya Rendra tiba-tiba merasakan sesuatu keluar dari bawah sana, itu terasa hangat. Sontak tangannya meraba karena rasa yang tak nyaman dirasanya.
Rendra sangat panik kini setelah melihat ada darah yang melekat di telapak tangannya, seketika juga tangan itu bergetar begitu juga bibir Rendra.
"Mm-Menstruasi... "
"TIIDAAAAAAKKKKKK... "
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Lanjut di Next Bab...
siapa yg datang...nada kah..??
author memang suka bikin penasaran
trus ciuman lagi tukar lagi
ternyata masih dipertimbangkan ya🤭🤭