Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Menolak makan siang
Lagi-lagi Hasan mengagumi kopi buatan Istrinya, namun tetap saja rasa cintanya pada Lusi terlalu besar, mengalahkan semuanya.
" Mas, apa mau dipijit. Ya, meskipun tidak senyaman tukang pijit beneran, tapi Umi selalu suka aku pijit. "
Sya yang sejak tadi duduk di sofa menemani Hasan bekerja, akhirnya menawarkan diri memijat suaminya yang nampak kekelahan.
Baru menyentuh pundak Hasan, Pria itu sudah merem melek. Ia segera menghentikan aktivitas Istrinya karena takut sesuatu hal terjadi.
" Cukup Sya, ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur saja duluan, nanti aku nyusul. "
Sya mengangkat kedua pundaknya menandakan kalau Ia juga setuju meninggalkan ruangan Hasan.
" Baiklah Mas, janji ya Mas akan nyusul. Ingat, sepasang Suami Istri itu tidak boleh tidur terpisah, apa Mas mau di laknat oleh Allah dan membuat semua kenyamanan yang Mas dapatkan selama ini hilang. "
Hasan bergidik ngeri mendengar ucapan Istrinya, di turunkan nya tatapan matanya yang sempat beradu.
" Iya, iya. Mas akan nyusul tiga puluh menit lagi. " Ucap Hasan sembari melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
" Jangan kelamaan Mas, kalau terlalu sering bergadang bisa cepat tua. Kalau Mas cepat terlihat tua, aku takut kalau Lusi akan menjauhimu. Dia pasti malu jalan dengan kekasihnya yang lebih tua darinya. "
Lagi-lagi ucapan Sya membuat Hasan tercengang, Pria itu menyentuh wajahnya pelan selepas kepergian Istrinya.
" Masa sih aku sudah mulai terlihat tua, ah tidak. Lusi pasti akan menerima apapun kekurangan ku, Dia kan sangat mencintai ku. " Gumam Hasan.
Karena pikirannya tidak fokus akhirnya Hasan menyudahi aktivitasnya. Ia menutup laptop dan keluar dari ruangannya.
Hasan memandang ranjang mereka berdua, Ia menghela nafas sebelum merebahkan dirinya di pinggir ranjang.
" Jangan terlalu pinggir Mas, nanti jatuh. Lagian kenapa sih tidurnya jauh banget, takut sama aku ya Mas. Kenapa, takut aku gigit. "
Sya bangkit dan memilih duduk, Hasan hanya bengong. Dia memang enggan tidur berdekatan dengan Istrinya, karena merasa bersalah pada Lusi kekasihnya.
" Mas, dengankan aku ya. Dengar- dengan kalau tidur berjauhan seperti kita ini, nah seperti ini. Ini kan kosong, Mas tau nggak. Biasanya ada dedemit yang mengisi tempat yng kosong ini, Mas mau bangun- bangun pas buka mata ada dedemit. Mending tidur dekat Istri kan, dapat pahala. Dari pada tidur sama dedemit, aku mah ogah. Tapi terserah Mas sih. "
Sya memang sejak kecil terbilang mandiri dan jangan lupakan ke usilannya juga. Ia menarik selimutnya menutupi tubuhnya dan memejamkan mata.
Satu, dua, tiga, empat, li...
Sya menghitung dalam hati apakah suaminya akan tetap mementingkan egonya di banding rasa takutnya.
Pada hitungan kelima, Sya bisa merasakan gerakan di ranjang. Benar saja ternyata Hasan mengurangi jarak di antara mereka.
" Jangan lupa Mas, lampunya di ganti dengan lampu tidur. Aku nggak terbiasa tidur dengan cahaya lampu yang terlalu terang. "
Hasan bangun dan mengganti lampu tidur dan buru- buru kembali masuk dalam selimut. Sya tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah suaminya.
Dengan gaya usilnya Sya mencolek lengan Hasan yang mencoba memejamkan mata.
" Sya, bisa diam nggak. Cepat tidur, bukannya tadi ada yang bilang tidak boleh begadang. "
Keduanya akhirnya tertidur tanpa melakukan apapun, Sya memang harus lebih bersabar untuk mendapatkan cinta dari suaminya. Ia tau tidak mudah melupakan orang yang pernah ada di hati kita, sama seperti yang Sya rasakan saat ini.
***
Sya melayani semua kebutuhan suaminya seperti biasa, dari bangun tidur hingga sarapan.
" Mas, ini aku buatkan bekal makan siang untuk mu. Lumayan pas jam makan siang, Mas tidak harus kemana-mana. Lagi pula masakan yang dimasak sendiri itu lebih terjamin kebersihannya. "
Hasan menolak karena Dia sudah berjanji pada Lusi akan menemani kekasihnya hari ini.
" Nggak perlu Sya, aku hari ini ada janji makan siang bersama klien. Sayangkan masakannya nggak ada yang makan. " Tolak Hasan.
Sya tidak mau menerima penolakan, misinya saat ini adalah membuat Suaminya terbiasa dengan kehadirannya. Terbiasa dengan semua yang Ia buat, baik itu hal- hal kecil maupun yang besar.
" Bawa saja Mas, kalau Mas tidak mau makan nanti Mas bisa berikan sama sekertaris Mas. Dia pasti senang dengan masakan Sya, sudah enak gratis lagi, iyakan Mas. "
Hasan akhirnya mengalah, Ia membawa serta bekal makan siangnya. Setiba di kantor, Hasan menatap bekal makan siangnya yang di berikan Istrinya untuknya.
Meskipun awalnya ragu namun akhirnya Dia bawa juga, beberapa pasang mata melihatnya membawa tempat makan siang, namun Hasan mencoba cuek.
Tiba di ruangannya Ia segera memanggil sekertarisnya guna menanyakan agendanya hari ini.
" Pagi Pak. " Leon mengetuk pintu pelan.
" Pagi juga. " Jawab Hasan tanpa menoleh sama sekali.
" Leon, hari ini ada jadwal apa saja. "
Leon membuka nota kecilnya dan mulai membacakannya.
" Hari ini ada pertemuan dengan Pak Ruslan, pemilik Jasa Marja compeni di jam sepuluh. Hanya itu saja Pak, untuk sore hari free Pak. "
Hasan tersenyum senang, akhirnya ada waktu untuknya sore ini, Ia akan gunakan untuk memenuhi janjinya pada sangat kekasih.
" Baiklah, terima kasih. Kamu boleh pergi. "
Leon mengangguk dan berpamitan kembali keruangannya.
" Leon. " Panggil Hasan lagi.
Leon menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Iya Pak, apa Bapak butuh sesuatu. " Tanya Leon.
Entah apa yang di pikirkan oleh Hasan, Ia akhirnya meminta Leon untuk keluar.
" Ah tidak jadi, kamu keluarlah. Lanjutkan kembali tugasmu. "
Leon mengerutkan keningnya namun tetap keluar tanpa bertanya lagi.
" Bos ada- ada saja, semakin hari semakin aneh. " Gumam Leon sembari menggeleng pelan.
***
Di sebuah restoran
Hasan melangkah dengan gagahnya memasuki sebuah restoran ternama di kota. Ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
" Sayang.... ! "
Lusi melambaikan tangannya melihat kedatangan Hasan, dengan wajah sumringah Ia menyambut kekasihnya itu.
Cup !
Kecupan bertubi-tubi Ia daratkan ke wajah Hasan tanpa rasa malu, Hasan menatap beberapa pengunjung restoran yang melihat keintiman mereka.
" Sayang, ayo duduk. "
Lusi mengangguk, Ia juga menarik kursi untuk Hasan.
" Sayang, yuk pesan dong. Aku sudah sangat lapar. "
Hasan mengangguk dan memanggil pelayan.
" Pilihlah kamu mau makan apa. "
Lusi menyebutkan beberapa menu makanan yang ingin Ia makan siang ini dan memberikannya pada Hasan.
" Nih sayang, kamu mau makan apa. "
Hasan menatap daftar makanan yang ada di tangannya, Ia kemudian menutupnya kembali.
" Bawakan apa yang dia mau saja Mbak. "
" Sayang, kami tidak pesan, apa kamu tidak makan. " Tanya Lusi.
Hasan menggeleng, Ia baru teringat sesuatu yang sempat Ia lupakan tadi.
" Tidak sayang, kamu saja yang makan. Aku masih kenyang, tadi sebelum kemari Leon sudah membawakan makan siang. "
Hasan akhirnya mengatakan itu sebagai alasan, agar kekasihnya tidak bertanya lagi.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan