**
Luna tak pernah bahagia dalam hidupnya. Ia selalu merasa, kesialan yang menimpa keluarganya disebabkan keluarga sepupunya, Tina dan Bianca. Ia bahkan harus bekerja sebagai bawahan ayah Tina. Ketika membuat sepatu untuk pernikahan Tina, Luna tidak sengaja bertemu dengan Ariel, si playboy yang suka mempermainkan wanita. Awalnya, Luna tak mau meladeni playboy tampan itu, hingga akhirnya dia luluh pada rayuannya.
**
Ariel memutuskan untuk tidak menganggap serius cinta sejak dikhianati oleh perempuan yang pernah dicintainya. Lalu ia bertemu Ayu, wanita misterius yang membuatnya penasaran karena sepertinya gadis itu tak jatuh dalam pesona rayunya. Namun, Ayu ternyata menyimpan rahasia besar tentang hidupnya, rahasia yang membuat Ariel harus mempertanyakan kejujuran wanita itu.
Setelah kebenaran terungkap, Luna--;yang semula mengaku bernama Ayu-- dan Ariel harus mempertanyakan apakah cinta sanggup menjadikan mereka orang yang lebih baik untuk satu sama lain.
**
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Murniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
Happy Reading 😘 jangan lupa like, hadiah, dan vote nya 🤗
***
"Aku ikut denganmu. Sepertinya aku juga butuh udara segar," ucap Luna tanpa berfikir panjang. Ali yang hendak berdiri kembali menatap Luna bingung. "Terlalu banyak undangan di kapel sekecil ini. Kita saling berebut oksigen. Lihat wanita yang di sana!" kata Luna sambil menunjuk wanita muda dengan mata sembap yang duduk tidak jauh darinya. "Sebaiknya kita cepat-cepat keluar sebelum wajah kita terlihat seperti orang tercekik begitu," bisik Luna dengan nada bergurau pada Ali.
"Luna, kamu mau ke mana?" Wanita berumur kurang lebih lima puluh tahun menahan tangan Luna agar duduk kembali di kursinya.
Luna menoleh ke sebelah kanan, "Cuma keluar sebentar, Ma," bisik Luna sekenanya.
Ali tersenyum kecil sambil menunduk dan mendekat agar dapat berbicara langsung pada wanita tersebut. "Kami cari angin sebentar, Tante Lisa. Nggak lama kok."
Ali menarik tangan Luna dan melangkah keluar kapel setelah menerima anggukan setuju. "Kau tahu Luna..." ucap Ali sambil menuruni tangga. "...meski dia hanya mama tiri, kamu jangan terlalu judes padanya. Bagaimanapun juga Tante Lisa lah yang selama ini bersamamu." melihat Luna hanya mengangkat bahu, Ali mengalihkan pembicaraan. "Dan sepertinya Ariel, salah seorang pengiring Leo yang berdiri di depan sana terus memandangi mu sepanjang misa tadi. Kamu kenal dia?" Ali menoleh tanpa memperlambat langkah kaki.
Luna terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan Ali sambil mengangkat bahu dengan gaya yang meyakinkan. "Hmm... siapa ya? Aku nggak kenal tuh. Aku pikir dia memandangi kostum konyolmu ini."
"Nggak mungkin. Aku yakin ke arah mana matanya melihat. Mungkin dia tiba-tiba tertarik padamu yang menderita penyakit kulit ini dan berharap bisa membuatmu melewatkan satu malam di atas tempat tidurnya." Ali tergelak mendengar gurauannya sendiri. Lalu merendahkan tawanya saat merasakan tangan Luna menegang di dalam genggamannya. Ali mencoba meralat kesalahannya. "Sori. Aku cuma bercanda. Kalimat itu keluar begitu saja karena aku tahu seberapa kotor pikiran Ariel jika menyangkut wanita. Dan ditambah lagi hari ini sepertinya otakku nggak beres."
Luna mengeluarkan suara tawa yang aneh. "Hari ini cara kerja otakmu memang aneh, Li."
***
"Ampun... coba lihat apa yang dilakukan gerombolan wanita manja itu di sana!" gumam Luna lalu meneguk habis isi gelasnya.
Kedua sepupunya sedang berbicara serius satu sama lain lalu menghilang ke ruang tunggu wanita bersama beberapa wanita lainnya. Luna sangat yakin pembicaraan "serius" itu pasti seputar bagaimana acara ini berakhir sesuai keinginan penyihir menyebalkan bernama Tina.
"Membedaki hidung, memulas lipstik, memastikan napas mereka nggak berbau makanan, dan ... mmm... mungkin sedikit pembicaraan dari hati ke hati tentang malam pertama nanti malam."
Jawaban santai yang langsung memotong bayangan tentang apa yang dilakukan sepupunya itu membuat Luna berkacak pinggang dan melirik laki-laki yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya. Laki-laki itu masih memakai jas yang sama, menampilkan senyum yang sama, bahkan menguarkan aroma parfum yang sama seperti pagi tadi saat ia meninggalkan kamar lelaki itu.
"Sepertinya kamu tahu banyak rahasia kecil di balik ruangan khusus wanita, ya?" Luna memalingkan wajah tak peduli. Menatap para undangan yang memenuhi lantai dansa.
"Yang pasti, nggak sebanyak yang kamu tahu." Ariel semakin mencondongkan tubuh hingga bagi Luna hampir menyentuh lengan atas Ariel. Luna tetap berpura-pura tidak peduli dan berusaha keras agar tidak terlihat salah tingkah. "Jadi, Tina adalah klienmu yang jahat itu? Si penyihir sialan? Sebegitu bencinya kamu padanya? Pada gerombolan wanita di sana?"
Mulut Luna terbuka siap meralat perkataan Ariel, klien menjadi sepupu tapi batal karena Ariel merampas gelas di tangannya dan meletakkannya di meja di dekat mereka.
"Kita nggak bisa dansa kalau kamu masih memegang gelas," ucap Ariel yang langsung menarik tangan Luna setengah menyeretnya ke kerumunan orang yang mengikuti irama lagu dari live band.
Luna membiarkan dirinya di tarik-tarik hingga akhirnya ia mencengkram erat bahu Ariel dan pria itu memeluk pinggangnya.
"Fiuh! Sampai di mana kita tadi?" Luna sedikit terengah dan mencoba berpikir normal. Suara tawa Ariel yang keras membuat Luna spontan ikut tersenyum lebar.
"Sepertinya aku sudah tertarik pada wanita yang membenci hampir seluruh anggota keluargaku," ucap Ariel sambil membawa Luna mengelilingi lantai dansa.
"Bianca akan segera menjadi kakak iparku. Tina sudah resmi menikah dengan Leo yang sudah ku anggap kakakku. Lalu, ada Joya yang sudah empat tahun menikah dengan kakak tertuaku, Angga. Dan ada Sinta yang menikah dengan sepupuku. Gerombolan yang menurutmu mengesalkan tadi adalah keluargaku. Dan kamu membenci mereka semua..." Ariel menjelaskan panjang lebar dan penuh semangat tanpa menyadari jika Luna sudah mengenal mereka semua.
"Hmm... Sekeluarga penuh orang menyebalkan. Nggak bosan? Oh... sepertinya kamu juga sama menyebalkannya dengan mereka sampai-sampai nggak tahu kalau aku nggak Ingin ketemu denganmu lagi." Luna sengaja tersenyum sinis dan membiarkan Ariel menggiringnya, memutarnya, dan mendorongnya ke segala arah dengan begitu lembut seakan dia seringan bulu. "Jangan-jangan... aku memang alergi pada semua anggota keluargamu. Makanya kulitku nyaris melepuh sejak kemarin malam bersamamu."
"Seingat ku, kemarin malam kamu menolak turun dari punggungku. Punggungku masih sakit lho karena harus menggendongmu dari taman ke kamar. Dan aku belum mendengar ucapan terimakasih untuk itu. Kamu benar-benar orang yang cuek ya?"
Luna menyipitkan matanya kesal sementara Ariel sangat senang memperhatikan perubahan raut wajah wanita di depannya itu. "Jangan langsung sinis gitu dong!" bujuk Ariel dengan ekspresi wajah yang membuat Luna merinding.
"Kan sudah kubilang, sebaiknya kita lupakan apa yang terjadi kemarin malam, mmm... maksudku, kamu lupakan kejadian semalam karena sampai sekarang aku masih belum ingat apa saja yang terjadi di kamarmu," desis Luna. "Dan kuingatkan lagi, sebaiknya tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi semalam."
"Kamu belum mengingatnya?" Ariel menaikkan alisnya. Luna curiga ada sesuatu di balik mata jail yang langsung berubah menjadi seringai berbahaya bagi Luna.
"Hanya sampai bagian aku menemukan sepatu Tina, lalu setelah itu nggak ingat apa-apa," jawab Luna was-was.
"Benar-benar nggak ingat sama sekali?"
Luna mengerjapkan matanya, bingung. Ariel menatapnya serius tapi binar matanya sangat jahil. Luna tidak bisa menentukan apakah Ariel sedang menggodanya atau memang ada sesuatu yang serius.
"A-apa?" Luna menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering menunggu jawaban Ariel.
Setelah menghela napas panjang, Ariel menundukkan wajahnya semakin dalam dan semakin serius menatap Luna. "Jadi kamu nggak ingat waktu kita..."
"Waktu kita apa?" Luna seketika membeku. Napasnya tersekat dan wajahnya memucat ketika pikiran-pikiran buruk memenuhi kepalanya. "Kita berbuat apa semalam?"
***