Apa jadinya jika saat acara reuni SMA engkau berjumpa kembali dengan seseorang yang dulu pernah engkau sukai? Akankah mengungkit dan mengungkap kembali segala rasa dan kenangan yang perbah ada?
Mas Han, lelaki sholeh dan baik hati begitu mencintai istrinya, Mawar. Hidup berbahagia dalam biduk rumahtangga, meski belum dianugerahi seorang anak. Namun sayang, kebahagiaan itu harus berakhir, ketika diketahui bahwa dia mengidap tumor otak. Dari hasil scaning baru disadari bahwa tumor yang bersarang di kepalanya itu juga menyerang hormon kedlsuburannya. Sehingga menyebabkan Mas Han selamanya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.
Johan, seorang lekai tampan yang memiliki wajah mirip bintang film Bollywood Amir Khan. Pengusaha sukses memiliki tiga orang istri. Meski telah menikah ketampanannya tetap memikat hati kaum hawa. Sehingga tak heran dia selalu dipuja dan digilai banyak perempuan.
Siapa sangka dalam acara reuni SMA, Johan dan Mawar kembali dipertemukan. Ternyata sedari dulu, Johan sudah menyimpan rasa cinta kepada teman sekelasnya, Mawar. Tak ingin kecolongan kali kedua, Johan kembali menyatakan cinta dan berniat menikahi Mawar. Akan kah Mawar menerima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafri Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Janjiku
"Gimana acara reuni tadi, Dek?" tanya Mas Han lalu merebahkan tubuhnya di sampingku.Tangan kokohnya membelai rambutku.
"Lumayanlah, Mas. Asyik juga bisa ngumpul lagi dengan teman-teman lama, ada aja cerita baru yang bikin seru," jawabku sambil menatap langit-langit kamar.
"Tadi waktu aku datang, kamu dan Johan sedang bicara apa?" Mas Han memiringkan tubuhnya menghadapku. Kami baru saja akan berangkat tidur. Tetapi seperti biasa, aku dan Mas Han selalu bercakap-cakap ringan sebelum benar-benar terlelap.
Aku terdiam. Bimbang. Apakah harus berkata yang sebenarnya atau tidak. Namun aku sudah bertekad akan menutup semua cerita tentang Johan Lagi pula aku tak ingin merusak persaudaraaan Mas Han dan Johan dengan cerita konyol tadi. Bisa buruk akibatnya. Makanya aku pun memilih diam, tak ingin mengungkit masalah itu lagi.
"Sebenarnya Johan lelaki yang baik. Sepanjang pengetahuanku di kampus dulu, dia tidak pernah terlibat pergaulan bebas, narkoba atau alkohol. Itulah mengapa aku menaruh perhatian khusus terhadap Jo, dibanding binaanku yang lainnya. Cuma satu kekurangannya, dia belum bisa merubah adab dan pergaulan dengan para wanita. Selalu gonta-ganti cewek. Entah kalo sekarang ini, apakah dia sudah berubah atau belum."
Pandangan Mas Han menerawang. Sementara aku masih diam, tak berselera untuk menanggapi. Tiba-tiba ponsel Mas Han berdering.
"Ya ... wa'alaikum salam ... alhamdulillah baik... reuni? ... kapan? ... dimana? ... afwan, ane nggak bisa bisa hadir, banyak kerjaan dalam minggu ini ... iya ... salam sama ikhwah lainnya, ya ... wa'alaikum salam." Mas Han meletakkan kembali ponselnya di atas meja rias.
"Telpon dari siapa, Mas?"
"Dari Iqbal, sesama mantan pengurus Rohis kampus. Dia bagian Kaderisasi, waktu aku menjabat Ketua Rohis dulu. Katanya, mau mengadakan reuni khusus aktifis Rohis."
"Kenapa nggak ikut, Mas?"
"Jauh, Dek. Ke Surabaya sana."
"Aku bersedia menemani Mas ke sana. Sekalian jalan-jalan," rayuku manja, lalu memeluknya.
"Hmm ... modus." Mas Han mencubit pipiku, gemas.
"Sebenarnya bukan itu masalahnya ...." Mas Han terdiam sejenak.
"Terus?" Aku mendesak penasaran. Menatapnya dalam-dalam.
"Dulu aku sempat menjalani proses ta'aruf dengan Ketua Keputrian, Ayra namanya. Tapi ketika aku mau datang untuk mengkitbahnya, ternyata tanpa sepengetahuannya. Orangtua Ayra sudah lebih dulu menjodohkannya dengan pemuda di kampungnya."
"Trus nggak jadi kitbah dong, ya. Kasihan, deh. Pasti waktu itu, Mas Han patah hati 'kan?" ledekku. Terbersit sedikit rasa cemburu.
"Hahaha ... sayangnya enggak, tuh. Aku mau mengkitbahnya dulu, bukan Karena ada 'rasa' kepadanya. Niatku mau menikah dini waktu itu, ingin menggenapkan separuh agamaku, dan menjaga hasratku terhadap lawan jenis. Itu saja. Jadi meski gagal, aku tak terlalu merasa kecewa. Bagiku soal cinta, bisa datang belakangan. Sama seperti proses kita dulu. Bukankah waktu mau menikah dulu, kita tidak saling mengenal, hanya jumpa tiga kali ketika ta'aruf, langsung menikah, ya kan?" Mas Han mengecup keningku, ada binar-binar cinta bertaburan di bola matanya. Aku mengangguk membenarkan. Kami saling mencintai setelah menikah. Karena sebelumnya kami tak saling mengenal, dan menikah pun berkat dijodohkan oleh Murobbiku dan Murobbi Mas Han, yang kebetulan suami istri.
"Jadi, aku menolak ikut reuni itu, hanya untuk menjaga perasaan masing-masing saja. Lagi pula memang aku sedang banyak pekerjaan minggu ini," tandas Mas Han, membuat hatiku lega. Dalam hati aku bersyukur memiliki suami seperti Mas Han. Yang selalu bersikap bijak dan berhati-hati. Tidak seperti diriku yang sedikit ceroboh dalam menata hati. Membiarkan Johan menyampaikan perasaan yang tidak sepantasnya kepadaku. Ya, Allah, ampuni aku. Aku berjanji tidak akan melakukan kebodohan yang sama lagi.