Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: "PULAU YANG HILANG" part 1
Sisa-sisa malam di CITRA MALL perlahan sirna dengan datangnya cahaya fajar yang menyelinap melalui celah-celah atap kaca. Musik yang selama ini bermain dengan irama menyenangkan kini perlahan meredup, digantikan oleh suara gemericik air dari taman kecil di sudut atrium yang baru saja menyala kembali setelah bertahun-tahun mati. Makhluk-makhluk gaib yang selama ini memenuhi setiap sudut zona aman mulai perlahan-lahan menghilang ke balik tirai kedalaman dimensi yang tersembunyi di balik dinding-dinding mall—beberapa dengan senyum damai, yang lain membawa barang-barang kecil yang mereka pilih sebagai kenang-kenangan dari dunia yang bisa dilihat mata telanjang.
Jay masih terpaku di kursinya, tubuhnya menyandar rileks dengan tangan yang masih memegang bungkus snack kosong. Matanya mengikuti gerakan perlahan dari makhluk terakhir yang menghilang di balik kolom besar yang bertuliskan nama mall itu dengan huruf emas yang kini tampak lebih bersinar dari biasanya. Dia tidak bergerak banyak—hanya mengangguk perlahan sebagai bentuk salam perpisahan, seperti yang sudah dia lakukan berkali-kali setiap kali sebuah zona aman berhasil dibuat dan tugasnya selesai.
“Sepertinya ini yang terakhir,” ucap suara lembut dari belakangnya. Jay tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara. Rara berdiri di sana dengan baju warna biru laut yang sedikit berkerut, rambutnya diikat rapi dengan ikal kecil yang terbuat dari anyaman daun pandan. Dia membawa sebuah tas ransel kecil yang tampak sudah diisi dengan berbagai barang.
“Zona aman stabil?” tanya Jay dengan nada yang tidak terlalu bersemangat, masih sibuk mengamati lantai yang kini kembali kosong namun terasa lebih hangat dari biasanya. Pola melingkar yang dulu menyala dengan cahaya redup kini hanya meninggalkan bekas kilatan samar yang tidak bisa dilihat oleh orang awam.
“Sudah. Semua titik energi di mall ini sudah terhubung dengan baik ke jaringan dimensi yang lebih besar,” jawab Rara sambil mendekat dan duduk di kursi sebelahnya. Dia mengambil sebotol air dari tasnya dan memberikannya kepada Jay. “Kamu sudah tiga hari tidak benar-benar istirahat, lho. Malah lebih memilih tidur di kursi taman ketimbang cari tempat yang nyaman.”
Jay menerima botolnya dengan lambat, membukanya dan meneguk beberapa tegukan sebelum menjawab, “Apa bedanya? Kursi ini cukup empuk, dan aku bisa langsung memantau kondisi mereka kalo ada yang salah. Selain itu, snack-nya juga cukup banyak disini.” Dia menunjuk ke arah kios kecil yang sudah tutup namun ternyata menyimpan stok snack yang cukup banyak di balik rak belakangnya—makhluk gaib yang bekerja sebagai penjaga kios sebelum mall sepi sudah memberikannya izin untuk mengambilnya sesuka hati.
Rara hanya menggeleng dengan senyum lembut. “Kamu selalu seperti itu, Jay—lebih peduli dengan kelancaran tugas dan kemudahan daripada kenyamanan sendiri. Tapi kali ini kita tidak bisa berlama-lama di sini.” Dia menarik sebuah peta tua dari tasnya—bukan peta biasa, melainkan peta yang dibuat dari kulit pohon dengan garis-garis yang tampak seperti menyala dengan cahaya kebiruan samar. “Kita punya tugas baru yang jauh lebih besar dari yang pernah kita hadapi sebelumnya.”
Jay akhirnya mengalihkan perhatiannya ke peta itu. Garis-garis menyala di atasnya menunjukkan lokasi-lokasi yang tidak pernah dia lihat di peta dunia nyata—beberapa dengan simbol yang dia kenal sebagai Titik Diam, yang lain dengan bentuk yang lebih kompleks yang dia tidak pahami artinya. “Apa ini?”
“Peta jaringan multi-dimensi yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang sudah terhubung dengan energi dari lebih dari seratus zona aman,” jelas Rara sambil menggesek jari telunjuknya di atas salah satu titik yang terletak di tengah lautan luas. “Setelah kita berhasil menstabilkan CITRA MALL, energi yang dihasilkan cukup kuat untuk membuka akses ke peta ini. Dan ternyata, semua zona aman yang kita buat sejauh ini hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar—suatu jaringan yang menghubungkan ribuan dimensi di seluruh alam semesta yang saling bersinggungan.”
Jay mengerutkan kening. “Multi-universal? Aku kira kita cuma menangani masalah di dimensi sekitar kita aja.”
“Kita dulu memang begitu,” ucap Rara dengan nada yang menjadi lebih serius. “Tapi Pak Guru bilang, krisis yang sedang terjadi tidak hanya menyerang satu atau dua dimensi—melainkan seluruh jaringan yang menghubungkannya. Titik-titik Diam yang kita datangi sejauh ini adalah kunci kecil untuk membuka jalur ke tempat-tempat yang bisa membantu kita mengatasi masalah itu. Dan yang terpenting, kita perlu mencari Titik Diam yang bisa bertindak sebagai pusat kontrol untuk seluruh jaringan itu.”
Dia menunjuk tepat pada titik yang dia sentuh tadi. “Di sinilah kita harus pergi selanjutnya—Pulau Kelapa yang tidak ada di peta mana pun. Pulau ini hanya muncul setiap 7 hari sekali, tepat pada saat matahari berada di tengah langit dan pasang surut mencapai titik nol. Titik Diam di sana bernama Pak Narto—seorang nelayan yang sudah tinggal di pulau itu selama puluhan tahun.”
Jay terdiam sejenak, mata masih menatap peta itu sebelum akhirnya dia menghela nafas panjang. “Pulau ya? Jaraknya jauh bukan?”
“lumayan jauh,” jawab Rara sambil menyimpan peta kembali ke tasnya. “Kita harus berangkat sekarang kalau mau sampai tepat waktu. Sudah ada perahu kecil yang siap mengantar kita dari dermaga tersembunyi di tepi pantai utara kota ini. Sudah aku pesenin agar ada persediaan makanan dan minuman yang cukup selama perjalanan.”
Jay hanya mengangguk perlahan sebelum akhirnya beranjak dari kursinya dengan gerakan yang lambat—tubuhnya memang terasa sedikit pegal karena terlalu lama duduk di satu tempat. Dia mengambil tas kecilnya yang sudah dia isi dengan beberapa bungkus snack yang tersisa dari kios mall itu. “Semoga ada kelapa muda dan snack yang bisa dibawa pulang ya,” gumamnya sambil menoleh untuk melihat CITRA MALL yang kini sudah kembali terlihat seperti mall biasa—hanya saja ada aura hangat yang menyelimuti tempat itu yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain.
Rara tersenyum. “Semoga saja. Sekarang ayo kita berangkat sebelum terlambat. Perjalanan akan memakan waktu sekitar tiga hari tiga malam jika cuaca mendukung.”
Beberapa jam kemudian, matahari sudah mulai bergeser ke arah barat ketika mereka tiba di dermaga tersembunyi yang terletak di balik semak-semak lebat di tepi pantai. Sebuah perahu kecil kayu dengan layar berwarna putih bersih sudah siap di sana, diayunkan lembut oleh ombak kecil yang menghantam dermaga. Sang nelayan yang mengendarainya hanya mengangguk kepada mereka sebelum membantu membawa barang-barang ke dalam perahu.
Perjalanan malam pertama berlangsung dengan tenang—langit yang penuh bintang menjadi satu-satunya sumber cahaya selain lampu kecil yang terpasang di bagian depan perahu. Jay cepat merasa lelah dan memutuskan untuk membuat tikar dari beberapa kain yang ada di dalam perahu, kemudian berbaring di atasnya dengan kepalanya bertumpu pada tasnya. Rara tetap berjaga sambil mengamati arah perjalanan dan mengamati langit yang tampak berbeda dari biasanya—bintang-bintangnya terlihat lebih banyak dan ada beberapa yang tampak seperti memiliki warna yang tidak biasa.