NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yg Enggan Terbuka

Sudah dua minggu Arumi tinggal di rumah orang tuanya. Kamar masa kecilnya terasa lebih hangat, meskipun pagar tinggi di depan rumah masih tetap sama. Setidaknya di sini, ada aroma masakan Ibu dan lampu yang selalu menyala di malam hari. Perutnya mulai sedikit menonjol, dan untuk pertama kalinya, Arumi merasa bayinya bisa bernapas.

Sore itu, suara motor tua yang batuk-batuk berhenti di depan pagar. Baskara datang. Ia mengenakan jaket yang sama, dengan wajah yang sama datarnya.

"Mau apa kamu ke sini, Baskara?" tanya Ibu Arumi tanpa basa-basi.

Baskara turun dari motornya, memegang helm dengan canggung. "Mau menjemput Arumi, Bu. Sudah dua minggu. Masak istri tinggal di rumah orang tua terus."

"Istri?" Ibu Arumi tertawa sinis. "Kamu ingat punya istri saat perutnya sudah lapar atau saat rumahmu terasa terlalu sepi karena tidak ada yang bisa kamu abaikan?"

"Saya sudah bawa uang," gumam Baskara. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan beberapa lembar uang puluh ribuan yang lecek. "Ini untuk bayar kontrakan yang kemarin tunggak. Saya sudah usahakan."

Arumi keluar dari balik punggung Ibunya. Ia menatap uang di tangan Baskara—uang yang jumlahnya bahkan tidak cukup untuk biaya periksa kandungan bulan depan. Ia menatap wajah suaminya yang berusia tiga puluh sembilan tahun itu, mencari setitik api atau gairah untuk berubah. Namun, yang ia temukan tetaplah abu yang dingin.

"Mas... Mas mau aku pulang?" tanya Arumi lirih.

Baskara mengangguk pelan. "Ayo pulang. Rumah berantakan tidak ada yang urus."

Hati Arumi mencelos. Bukan "Aku rindu kamu," bukan "Aku akan berubah," melainkan "Rumah berantakan." Bagi Baskara, Arumi hanyalah bagian dari fungsi rumah, bukan manusia yang butuh dicintai.

"Mas sudah dapat pekerjaan tetap? Mas sudah bicara dengan pemilik kontrakan soal listrik?" Arumi mengejar dengan pertanyaan yang selama ini menghimpitnya.

Baskara terdiam sejenak, lalu membuang muka. "Nanti kita bicarakan di rumah. Yang penting kamu pulang dulu. Malu dilihat tetangga kalau kamu lama-lama di sini."

"Malu?" Arumi melangkah maju, keluar dari teras. "Mas malu karena aku pergi, tapi Mas tidak malu melihat aku mencuci piring di warung orang dalam keadaan hamil? Mas tidak malu melihat aku menangis tiap malam karena takut kita diusir?"

"Arumi, jangan mulai lagi..." keluh Baskara, suaranya terdengar sangat lelah, seolah-olah menghadapi perasaan istrinya adalah beban yang sangat berat. "Aku sudah jemput. Aku sudah bawa uang. Kurang apa lagi?"

"Kurang usaha, Mas! Kurang nyawa!" Arumi berteriak, air matanya jatuh namun suaranya tidak pecah. "Uang ini... uang ini cuma penambal lubang yang sudah terlanjur jebol. Mas jemput aku karena Mas butuh pelayan, bukan karena Mas butuh aku dan anak ini!"

"Kalau kamu tidak mau pulang sekarang, ya sudah," kata Baskara tiba-tiba. Ia memasang helmnya kembali. Sikapnya kembali ke setelan awal: tidak mau usaha apa-apa. Jika Arumi menolak sekali, ia tidak akan membujuk dua kali. "Aku tidak bisa memaksa. Aku pulang saja."

Arumi terpaku. Pria itu benar-benar akan pergi begitu saja? Tanpa permintaan maaf? Tanpa janji untuk masa depan anak mereka?

"Mas!" panggil Arumi saat Baskara mulai menyalakan mesin motornya. "Kalau Mas pergi sekarang tanpa memberikan kepastian soal hidup kita... jangan pernah jemput aku lagi."

Baskara hanya menoleh sekilas dari balik kaca helmnya yang kusam. Ia tidak menjawab. Ia hanya menarik gas motornya dan berlalu pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang lebih menyakitkan daripada sebelumnya.

Ibu Arumi merangkul bahu anaknya yang gemetar. "Lihat, Arumi? Pria itu tidak sedang menjemputmu. Dia hanya sedang memastikan apakah kamu masih bisa ia kuasai atau tidak."

Arumi mengusap air matanya dengan kasar. Ia menatap jalanan kosong di depan rumahnya. Hari itu, ia menyadari bahwa bunga yang layu tidak akan pernah mekar jika terus disiram dengan air mata. Ia harus memotong batangnya sendiri agar tunas baru di perutnya bisa punya kesempatan untuk hidup.

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!