Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstrakulikuler.
Keesokan paginya suasana kelas terasa lebih riuh dari biasanya. Beberapa siswa sudah duduk di tempat masing-masing, tetapi suara obrolan masih bersahutan dari berbagai sudut.
Ada yang membahas tugas hari ini, ada yang saling bertukar cerita tentang ekskul yang ingin mereka pilih, dan ada pula yang sekadar bercanda tanpa arah.
Hana duduk di bangkunya sambil membuka buku, meskipun ia belum benar-benar membaca apa pun. Nisa di sampingnya masih sibuk bercerita tentang sesuatu yang dilihatnya di media sosial semalam.
“Katanya ekskul di sini banyak banget,” ujar Nisa sambil menyandarkan dagu di tangan. “Aku dengar kelas memasaknya terkenal seru.”
“Memasak di sekolah?” Hana mengangkat alis sedikit.
“Iya. Ada dapurnya juga, katanya." Ucap Nisa dengan mata yang berbinar-binar
Hana hanya mengangguk pelan. Ia belum benar-benar memikirkan apa yang ingin diikutinya. Pelajaran baru berjalan beberapa menit ketika pintu kelas diketuk.
Guru mereka menoleh, lalu mengangguk. Pintu terbuka, dan beberapa anggota OSIS masuk membawa map dan beberapa lembar kertas.
“Perhatian semuanya, mohon maaf mengganggu waktu kalian sebentar.”
Suara itu langsung membuat kelas sedikit lebih tenang. Di barisan paling depan berdiri seorang kakak kelas dengan postur tinggi dan sikap yang terlihat sangat percaya diri.
Rambutnya pirang terang—warna yang cukup mencolok dibandingkan murid lain—dan ia berdiri dengan santai seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Beberapa murid perempuan langsung bereaksi.
“Eh itu dia—”
“Serius dia datang ke kelas kita?”
“Aduh…”
Bisik-bisik kecil terdengar di berbagai arah. Ada yang tertawa tertahan, ada yang langsung merapikan rambutnya tanpa sadar.
Ia tampak tidak terganggu sama sekali oleh reaksi itu.
“Saya Kenzo,” katanya sambil tersenyum ringan. “Ketua OSIS tahun ini.”
Ia menunjuk beberapa kakak kelas di belakangnya. “Di sebelah saya ada tim dari divisi minat dan bakat. Kami datang buat sosialisasi kegiatan ekstrakurikuler.”
Beberapa anggota OSIS lain memperkenalkan diri secara singkat, tetapi perhatian kelas tetap kembali kepada Kenzo.
“Kalian sudah masuk SMK sekarang,” lanjutnya. “Sekolah bukan cuma soal nilai atau pelajaran di kelas. Banyak hal lain yang bisa kalian kembangkan di sini, salah satunya lewat ekskul.”
Ia mengambil spidol dari meja guru lalu menuliskan beberapa daftar di papan tulis.
Basket.
Menulis.
Kelas memasak.
Paduan suara.
Teater.
Desain grafis.
Kelas gambar.
Fotografi.
Tulisan itu memenuhi hampir setengah papan.
“Kalian bebas memilih sesuai minat. Minimal satu,” katanya sambil menutup spidol. “Tapi jangan cuma ikut-ikutan teman.”
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan senyum tipis yang membuat beberapa siswa tertawa kecil.
“Kalau cuma ikut teman, biasanya yang bertahan cuma dua minggu,” tambahnya santai.
Beberapa murid langsung saling menoleh sambil tertawa.
“Ada yang mau ditanyakan?”
Belum sempat beberapa detik berlalu, seorang siswi di baris belakang sudah mengangkat tangan dengan cepat.
“Kak Kenzo punya pacar nggak?”
Kelas langsung meledak oleh tawa. Beberapa siswa bersiul, sementara yang lain menepuk meja sambil tertawa.
Kenzo mengangkat alis sedikit, seolah tidak terlalu terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tersenyum santai. “Belum.”
Sorakan langsung terdengar lebih keras. Beberapa siswi pura-pura merapikan rambut, ada yang saling menyikut temannya, bahkan ada yang setengah berdiri sambil melambai seolah baru saja memenangkan sesuatu.
Guru di depan kelas hanya menggeleng pelan, tetapi tidak benar-benar menghentikan keributan itu. Hana hanya melihat sekilas, lalu kembali memperhatikan papan tulis. Ia tidak terlalu tertarik pada keributan seperti itu.
Namun, suasana berubah ketika Kenzo turun dari depan kelas dan mulai berjalan pelan menyusuri barisan meja.
Langkahnya santai, tetapi tatapannya menyapu satu per satu wajah murid di kelas. Seolah sedang mengamati.
Beberapa siswa langsung duduk lebih tegak. Ada yang tertawa gugup. Ada juga yang pura-pura sibuk membuka buku. Kenzo terus berjalan sampai akhirnya berhenti di sisi bangku Hana dan Nisa.
Hana tidak langsung menyadarinya sampai Nisa menyikut lengannya pelan.
“Hei...” bisik Nisa dengan nada panik bercampur senang.
Hana mengangkat kepala.
Kenzo sudah berdiri tepat di samping meja mereka. Ia sedikit menunduk agar sejajar dengan posisi duduk Hana.
“Kalau yang di sini,” katanya ringan sambil menunjuk papan tulis dengan ujung pulpen, “gadis cantik ini mau ikut ekskul apa?”
Beberapa murid langsung berbisik.
“Dia ngomong ke siapa?”
“Kayaknya ke Hana.”
“Serius?”
Hana membeku beberapa detik. Ia tidak yakin harus menoleh atau pura-pura tidak mendengar.
“E-eh?” suaranya keluar pelan.
Di sampingnya, Nisa sudah menahan napas seperti sedang menyaksikan sesuatu yang dramatis.
“Ya ampun…” bisiknya hampir tidak terdengar.
Kenzo tetap menunggu dengan ekspresi santai. Bukan mengejek, lebih seperti ingin melihat reaksi.
“Hobi kamu apa?” tanyanya.
Jantung Hana berdetak tidak teratur. Ia merasa beberapa pasang mata mulai mengarah ke meja mereka.
“Me-menggambar,” jawabnya akhirnya dengan suara pelan, sedikit gugup.
“Kelas gambar?” Kenzo mengangguk. “Pilihan yang bagus.”
Ia bersandar sedikit ke meja kosong di sebelah mereka.
“Biasanya yang pilih itu orangnya detail. Sabar juga.”
Bisik-bisik di belakang mereka semakin jelas terdengar.
“Detail apaan sih…”
“Beruntung banget…”
Hana merasakan tatapan dari beberapa arah. Ia tidak tahu harus merasa tersanjung atau justru tidak nyaman.
Kenzo akhirnya berdiri tegak lagi.
“Semoga betah ya,” katanya ringan sebelum melangkah pergi dan kembali melanjutkan penjelasan kepada siswa lain.
Begitu ia menjauh beberapa langkah, Nisa langsung memegang lengan Hana.
“Gila,” bisiknya cepat. “Dia manggil kamu cantik.”
“Itu cuma basa-basi,” jawab Hana cepat.
“Tetap aja!”
Beberapa siswi di baris belakang masih berbisik pelan. Nada mereka sulit ditebak—antara iri, penasaran, atau tidak percaya.
Hana menunduk dan membuka bukunya, pura-pura membaca. Perasaannya campur aduk. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Apalagi dengan cara seperti itu. Setelah sesi tanya jawab selesai, anggota OSIS mulai membagikan lembar pendaftaran ekskul. Kertas itu sampai di meja mereka beberapa menit kemudian.
Gio langsung menulis sesuatu tanpa berpikir lama.
“Gue basket,” katanya santai.
“Udah ketebak,” komentar Nisa sambil tertawa kecil.
Eliza menatap daftar itu sebentar sebelum berkata, “Aku kelas memasak.”
“Kamu bisa masak?” tanya Nisa sambil melirik.
Eliza tersenyum kecil. “Lumayan.”
Arga yang duduk tidak jauh dari mereka menulis sesuatu di kertasnya dengan tenang.
“Aku menulis,” katanya singkat ketika Gio melirik ke arah kertasnya.
Tidak ada nada ragu dalam suaranya. Hana kembali melihat papan tulis. Menggambar.
Pilihan itu sebenarnya sudah ada di kepalanya sejak tadi. Ia menuliskan namanya perlahan di kolom pendaftaran.
Tinta hitam itu terlihat sederhana di atas kertas. Namun, bagi Hana, keputusan kecil itu terasa lebih berarti dari yang ia kira.
Saat anggota OSIS mulai bersiap keluar, Kenzo sempat berhenti di depan kelas.
“Pilih kegiatan yang bikin kalian berkembang,” katanya sambil menatap seluruh ruangan, “bukan yang cuma bikin kalian terlihat keren.”
Tatapannya menyapu barisan meja. Hana tidak yakin, tetapi sesaat ia merasa tatapan itu kembali berhenti padanya.
Ia langsung menunduk. Nisa menyenggolnya lagi.
“Kamu yakin nggak kenal dia sebelumnya?”
“Enggak.”
“Kenapa kayaknya dia notice kamu banget?”
Hana tidak menjawab. Di sudut ruangan, Arga menutup bukunya perlahan. Tatapannya sempat beralih pada Hana, lalu pada pintu yang baru saja dilewati Kenzo.
Ekspresinya tetap datar. Sulit ditebak.
Sementara itu, Hana hanya tahu satu hal. Ia tidak suka menjadi bahan bisik-bisik. Tetapi untuk pertama kalinya, ia juga tidak merasa sepenuhnya tak terlihat, dan perasaan itu membuatnya sedikit bingung.