NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Lonceng Ketiga Belas

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, mengecat langit di atas gedung SMA Nusantara dengan warna merah jingga yang memikat. Namun bagi Arga, pemandangan indah itu sama sekali tidak membawa kedamaian. Justru perasaan cemas yang dingin mulai merayap perlahan menyusuri tulang punggungnya. Bagi murid lain, warna-warni senja adalah tanda bahwa waktu belajar telah usai. Itu saatnya pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar bersantai menghabiskan waktu bersama teman teman. Namun bagi Arga, warna merah yang menyelimuti langit itu terlihat seperti luka terbuka yang menganga lebar. Ia tahu bahwa saat cahaya matahari hilang sepenuhnya, kegelapan yang menakutkan akan segera menelan seluruh bangunan sekolah ini.

Arga berdiri mematung di depan gerbang besar yang terbuat dari besi tempa hitam yang kokoh namun terlihat sudah tua. Angin sore berhembus pelan membawa debu jalanan, namun tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Di tangannya yang dingin dan sedikit berkeringat, ia meremas kuat selembar foto yang sudah terlihat kusam dan sedikit melengkung. Foto itu menampilkan wajah seorang remaja laki-laki yang tersenyum sangat lebar dan ceria. Latar belakangnya adalah gedung sekolah yang sama persis dengan tempat ia berdiri sekarang. Itu adalah Raka, kakak kandungnya.

Sudah tepat satu tahun berlalu sejak Raka hilang tanpa jejak. Ia menghilang di tempat ini, di dalam area sekolah ini. Tidak ada satu pun saksi mata yang melihat kejadiannya. Tidak ada mayat yang ditemukan. Tidak ada pesan perpisahan atau petunjuk apa pun. Pihak berwenang dan polisi menyimpulkan bahwa kakaknya hanya kabur dari rumah karena masalah pribadi. Namun Arga tahu bahwa cerita itu tidak benar. Ada sesuatu yang salah di sini. Arga tahu kebenarannya karena ia memiliki kemampuan khusus. Ia bisa melihat hal hal yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Ia bisa merasakan kehadiran hal hal yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

"Arga, kau masih berdiri di situ saja?"

Suara berat dan serak itu tiba tiba terdengar dan mengejutkan lamunannya. Arga segera menoleh ke samping dan melihat Pak Satpam yang sudah tidak muda lagi. Wajah lelaki itu terlihat tegas dengan kumis tebal yang melintang di atas bibir. Matanya menatap Arga dengan tatapan memperingatkan seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting.

"Sudah jam lima lebih lima belas menit, Nak," ujar Pak Satpam sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Ada peraturan baru dari kepala sekolah. Tidak ada satu pun murid yang diizinkan berada di area sekolah ini setelah jam setengah enam. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya kau segera pulang sebelum gerbang utama ditutup total."

"Iya, Pak. Saya mengerti. Saya hanya sedang menunggu jemputan saja kok," jawab Arga dengan nada yang tenang. Padahal itu semua adalah kebohongan besar. Tidak ada siapa siapa yang akan menjemputnya malam ini.

Pak Satpam hanya mendengus pendek mendengar jawaban itu. Ia lalu berjalan menuju gerbang kecil di samping pos penjagaan dan mulai mengunci gemboknya dengan bunyi yang keras. Klek. Suara itu terdengar tegas dan final.

Sebelum masuk kembali ke dalam posnya, lelaki itu berhenti sejenak dan menatap Arga sekali lagi. Wajahnya kini tampak lebih serius dan penuh misteri. "Dengar ya, jangan pernah mencoba bermain main atau berbuat ulah di sini saat malam tiba. Sekolah tua ini punya telinga dan mata di setiap sudutnya. Kau ini kan murid baru, jadi jangan mencari masalah yang tidak perlu. Mengerti?"

Arga hanya menganggukkan kepala dengan sopan. "Siap, Pak. Terima kasih peringatannya."

Pak Satpam akhirnya masuk dan menutup pintu posnya rapat rapat. Arga menunggu beberapa saat sampai ia yakin bahwa punggung lelaki itu sudah tidak terlihat lagi dari celah celah jendela. Begitu merasa aman, Arga tidak berjalan menuju halte bus atau jalan raya seperti orang orang pada umumnya. Sebaliknya, ia justru berjalan memutar menjauhi keramaian, menuju ke bagian dinding belakang sekolah yang tertutup rapat oleh tanaman liar dan rumput tinggi yang jarang sekali didatangi orang.

Di sana, tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan, ada sebuah rahasia kecil. Ada bagian pagar besi yang renggang dan sedikit longgar, cukup untuk dilewati tubuh seorang remaja. Arga sudah menemukan celah itu sejak seminggu yang lalu saat ia diam diam melakukan pengamatan.

Dengan gerakan yang cepat dan tangkas, Arga memanjat dinding beton yang cukup tinggi. Ia melompat ke dalam area sekolah yang sudah mulai sepi itu. Sepatu kanvasnya mendarat di atas tumpukan daun daun kering dengan suara yang cukup pelan.

Dugh.

Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, perubahan aneh langsung terasa. Suhu udara di sekitarnya seketika turun drastis menjadi sangat dingin. Bulu kuduk di sekujur tubuh Arga langsung berdiri tegak. Keheningan yang menyelimuti sekolah ini terasa sangat tidak wajar dan mencekam. Biasanya meski sudah sore, masih terdengar suara kendaraan dari jalan raya atau kicauan burung. Namun malam ini, semuanya hilang. Tidak ada suara apa pun selain suara napasnya sendiri yang terdengar berat dan cepat.

Arga mulai melangkah perlahan menyusuri koridor kelas X. Dinding dinding beton yang tinggi dan kokoh itu seolah olah mulai menyempit dan menghimpitnya dari segala arah. Cahaya yang masuk hanya berasal dari sisa sisa cahaya senja yang mulai memudar, membuat bayangan benda benda di sekitarnya terlihat memanjang dan berubah bentuk menjadi sosok sosok yang menyeramkan.

Di tengah kegelapan yang mulai merajalela itu, Arga merasakan sensasi familiar yang mulai muncul di matanya. Ada rasa panas yang menjalar perlahan mulai dari pangkal hidung lalu naik hingga ke kelopak mata. Itu adalah tanda bahwa kemampuan indigonya mulai bereaksi terhadap energi negatif yang ada di sekitarnya.

"Raka... Kakak ada di mana?" bisik Arga lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian malam.

Tiba tiba, dari arah menara jam tua yang berdiri kokoh tepat di tengah lapangan sekolah, sebuah suara bergema keras memecah keheningan.

TENG...

Suara dentuman lonceng itu terdengar sangat jelas dan berat. Arga tersentak kaget dan langsung menengadah ke atas. Ia tahu betul bahwa lonceng di menara itu adalah jenis manual yang harus ditarik menggunakan tali agar bisa berbunyi. Saat ini tidak ada seorang pun di sana, apalagi di jam jam seperti ini.

TENG... TENG... TENG...

Dentuman itu terus berlanjut tanpa henti. Arga mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga, empat... Suaranya semakin lama semakin nyaring hingga terasa memekakkan telinga. Getarannya pun aneh, bukan hanya terdengar oleh telinga tapi juga terasa bergetar hingga ke dalam tulang rusuknya. Lima, enam, tujuh, delapan... Sembilan, sepuluh...

Setiap kali lonceng itu berbunyi, suasana di sekitarnya terasa semakin berat dan gelap. Arga mulai melihat bayangan bayangan hitam tipis yang sepertinya merayap keluar dari celah celah ubin lantai dan dinding. Sebelas... dua belas...

Setelah bunyi ke dua belas selesai, ada jeda keheningan yang sangat singkat. Arga mengira itu sudah berakhir. Ia mencoba menarik napas lega, namun baru saja udara masuk ke paru parunya, sebuah dentuman terdengar lagi. Namun kali ini suaranya berbeda. Bunyinya jauh lebih keras, jauh lebih dalam, dan terdengar sangat berat. Anehnya, dentuman terakhir itu terdengar seperti campuran suara teriakan manusia yang ditahan dan diredam.

TENG!

Ketigabelas.

Seketika itu juga, dunia di depan mata Arga seolah retak dan hancur. Cat putih yang menempel di dinding dinding koridor tiba tiba melepuh seperti kulit yang terbakar panas. Cat itu lalu mengelupas satu per satu, dan apa yang terlihat di baliknya bukanlah bata atau beton, melainkan permukaan merah muda yang basah dan berdenyut layaknya daging manusia hidup.

Dari langit langit plafon, cairan hitam pekat dan kental mulai menetes perlahan. Pluk... pluk... pluk... Cairan itu jatuh ke lantai dengan bau yang sangat menyengat dan menjijikkan. Lampu lampu neon yang tadinya mati mendadak menyala sendiri, namun cahaya yang keluar bukanlah cahaya putih terang seperti biasanya. Yang muncul adalah cahaya merah darah yang redup, suram, dan berkedip kedip tidak beraturan, membuat suasana menjadi semakin menyeramkan.

"Selamat datang..."

Sebuah suara halus namun dingin berbisik tepat di sebelah telinga Arga. Jantung pemuda itu seakan berhenti berdetak sesaat. Ia melompat mundur dengan kaget, jantungnya berpacu secepat kilat seolah ingin keluar dari rongga dada.

Di hadapannya, tepat di tengah koridor yang kini telah berubah menjadi tempat yang mengerikan seperti lorong neraka, berdiri seorang sosok gadis. Gadis itu mengenakan seragam sekolah yang sama dengan milik Arga, namun modelnya terlihat sangat kuno dan jadul. Mungkin itu adalah seragam dari tahun tahun delapan puluhan. Rambutnya hitam dan sangat panjang hingga menutupi seluruh wajahnya. Rambut itu tampak basah kuyup dan kotor oleh cairan hitam yang sama dengan yang menetes dari langit langit.

Di tangannya yang pucat pasi dan dingin, gadis itu memegang sebuah buku besar tebal yang terlihat seperti buku absen sekolah. Yang paling mengerikan adalah sampul buku itu. Teksturnya terlihat kasar dan berurat, persis seperti kulit manusia asli.

Yang membuat Arga merinding bukan hanya penampilannya. Gadis itu tidak berdiri di atas lantai. Kakinya tidak terlihat, seolah tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah yang kini tertutup kabut tipis yang dingin.

"Arga..." panggil gadis itu dengan suara yang datar dan tanpa emosi. "Murid baru... kelas X-C..." Ia bisa menyebutkan identitas Arga dengan tepat tanpa perlu melihat wajahnya atau membuka buku yang dipegangnya. "Kau terlambat datang. Kelas malam sudah hampir dimulai."

"Siapa kau?!" bentak Arga mencoba menutupi rasa takutnya. Ia mengepalkan tangannya kuat kuat mencari sisa keberanian. "Jawab aku! Di mana kakakku Raka?!"

Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya. Dengan gerakan lambat, rambut panjang yang menutupi wajahnya tersibak ke samping. Arga menahan napasnya dan merasa mual melihat apa yang ada di sana. Gadis itu tidak memiliki bola mata. Di tempat seharusnya mata berada, hanya ada lubang lubang hitam pekat yang kosong dan mengerikan.

"Raka..." gadis itu mengucapkan nama itu seolah sedang mengingat ingat sesuatu. "Ah... dia murid yang sangat rajin dan pintar. Dia sudah menjadi bagian dari kita sekarang. Dia sudah menjadi fondasi yang sangat kuat dan kokoh bagi sekolah ini."

Darah di tubuh Arga seolah mendidih mendengar jawaban itu. "Apa maksudmu dengan fondasi?! Apa yang kalian lakukan pada kakakku?!" teriaknya semakin keras.

"Kau akan segera mengetahuinya sendiri," jawab gadis itu. Tiba tiba ia tertawa. Suara tawanya tidak terdengar lucu sama sekali. Suara itu terdengar seperti gesekan keras antara dua bilah besi atau pisau yang saling bergesekan, membuat telinga perih dan bulu kuduk merinding. "Tapi sebelum masuk kelas, kau harus melewati masa orientasi dulu dong. Coba lihat ke belakangmu, Arga. Para senior sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan murid baru."

Dengan tangan gemetar, Arga perlahan menoleh ke belakang. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di ujung koridor. Puluhan sosok bayangan dengan bentuk tubuh yang tidak wajar mulai keluar satu per satu dari dalam ruang kelas. Ada yang berjalan menggunakan tangan karena kakinya tidak ada. Ada yang kepalanya terbalik menghadap ke belakang. Ada yang tubuhnya terkulai lemas seperti boneka kain. Semua sosok mengerikan itu bergerak menuju ke arah Arga dengan kecepatan yang sangat luar biasa cepat.

Naluri bertahan hidupnya mengambil alih. Arga tidak punya waktu untuk berpikir lagi. Ia berbalik badan dan mulai berlari sekencang mungkin menuju tangga utama. Di kepalanya, suara lonceng ketigabelas seolah terus berputar dan bergema tanpa henti. Ia sadar sepenuhnya bahwa mulai detik ini, ia bukan lagi seorang siswa. Ia hanyalah mangsa yang terperangkap di dalam sekolah hantu ini.

Arga terus berlari menaiki tangga hingga sampai ke lantai dua. Kakinya terasa lemas dan napasnya memburu. Ia mencoba melihat ke luar jendela besar di ujung lorong berharap bisa melihat jalan keluar atau dunia luar. Namun apa yang dilihatnya membuat harapannya hancur total. Lapangan sekolah yang tadinya luas dan terbuka kini telah berubah menjadi lautan kabut hitam pekat yang tak berujung dan tak berbatasan. Tidak ada jalan untuk bisa keluar dari sini. SMA Nusantara telah sepenuhnya berpindah ke dimensi lain, ke dunia yang bukan milik manusia.

"Permainan baru saja dimulai, Arga..." bisik suara angin yang berhembus melewati telinganya.

Arga menyandarkan punggungnya ke salah satu pintu kelas yang terkunci rapat. Ia menurunkan tubuhnya hingga duduk di lantai yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Ia menatap kegelapan di depannya dengan mata yang berapi api. Ia tahu bahwa pencariannya untuk menemukan Raka baru saja dimulai. Perjalanan ini akan sangat panjang dan berbahaya. Tujuh puluh sembilan bab lagi menanti di depannya, dan ia harus mampu melewati semua neraka itu jika ia ingin tetap hidup dan keluar dari sini.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!