Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Tunggu! Jangan pergi!" Rania memanggil lirih, tubuhnya yang semakin lemah membuat langkahnya semakin berat, tapi ia tidak menyerah.
Si Nelayan yang sudah bersiap untuk berlayar menatap Rania dengan mata menyipit. Memastikan siapa yang datang mendekat dengan tertatih. Ia melebarkan mata ketika pandangannya menangkap sekelompok orang yang mengejar di belakang.
"Itu keluarga Panta. Dia pasti akan menyiksa Rania lagi. Kasihan gadis itu dari kecil selalu disiksa dan dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Kali ini dia pasti ingin melarikan diri. Aku harus membantunya," gumam nelayan tersebut seraya turun dari perahu dan memapah Rania dengan cepat.
"Hey, Kari! Tahan dia untukku! Dia melarikan diri dari pernikahan!" teriak Panta saat melihat Kari turun dan membantu Rania untuk naik ke perahu.
Ia tersenyum, tapi detik berikutnya kembali emosi ketika melihat Kari justru menjalankan perahu setelah menaikkan Rania. Mereka berjalan cepat tak ingin terlambat, tapi perahu itu telah melesat ke tengah lautan. Deburan ombak seolah-olah membantunya pergi, menghalau langkah Panta dan yang lainnya.
"Sial!" Panta memukul udara meluapkan kekesalannya.
Di belakang mereka, bos Kamsah dan rombongannya tiba. Menatap Rania yang sudah berada di tengah lautan. Pergi meninggalkan kampung pesisir itu.
"Aku tidak mau tahu. Kalian jemput dia atau kembalikan uangnya. Jika tidak, maka kalian harus menanggung konsekuensi dari menipuku," ancam bos Kamsah seraya membuang puntung rokok di tangan ke atas pasir dan menginjaknya.
Dia tidak mau tahu, yang penting baginya jangan sampai rugi. Ia mendengus kesal berbalik cepat membawa serta amarah. Gadis itu sudah menjadi incarannya, tapi sulit didapatkan.
"Apa yang harus kita lakukan? Uangnya dibawa Rania. Aku tidak ingin menjadi bulan-bulanan bos Kamsah," bisik istrinya Panta dengan cemas.
Panta sendiri bingung harus melakukan apa. Dia menatap anak sulungnya yang tak berkompromi soal menjual Rania. Berjalan mendekat dan tanpa terduga memukulnya cukup keras.
Plak!
"Semua ini salahmu. Kenapa kau tidak berbicara dulu kepada kami? Kau anggap kami ini apa? Patung batu?" bentaknya dengan mata merah yang melotot penuh amarah.
"Sekarang kau harus mencari cara bagaimana Rania dan uangnya kembali!" lanjutnya lagi berapi-api.
Pemuda itu memegangi pipinya yang terasa kebas, menatap sang ayah dengan bingung.
"Ayah, kenapa memukul Kakak? Apa yang Kakak lakukan itu demi kebaikan kita semua. Hanya saja tidak menyangka, kak Rania telah berubah. Apakah selama ini dia hanya berpura-pura saja di depan kita? Pura-pura lemah sambil menunggu waktu untuk bisa melarikan diri," cetus Laura, adik perempuan Sania sembari menatap jauh ke laut.
Perahu yang membawa Rania sudah tidak terlihat lagi. Secepat itu mereka pergi.
"Itu benar, Ayah. Dia berubah. Setelah pingsan itu dia seolah-olah menjadi orang yang berbeda. Selama ini dia tidak pernah berani membantah kita, bukan?" timpal pemuda itu tak ingin disalahkan.
Panta dan istrinya saling menatap, kemudian menganggukkan kepala. Ia menepuk bahu putranya penuh penyesalan.
"Maafkan Ayah karena gegabah tadi. Ayah tidak dapat menahan emosi dengan apa yang terjadi. Benar-benar tidak menyangka Rania akan melarikan diri. Kita yang lengah karena selama hanya tahu Rania yang penurut," katanya diakhiri helaan napas yang berat.
"Kita pulang dulu saja. Ayah akan ke rumah Kari untuk menanyakan keberadaan Rania," ucapnya lagi seraya membawa mereka semua pulang.
Laura masih di sana, menatap lautan luas dengan kedua tangan terlipat di perut.
Setelah aku pergi dari kampung ini, aku akan menemukan pria kaya dan menikah dengannya. Aku tidak ingin terjebak di sini selamanya. Rania sudah pergi, sudah tidak ada lagi yang bisa diandalkan.
Laura bergumam di dalam hati, kilatan matanya penuh tekad. Tekad untuk pergi dari kampung pesisir itu dan menemukan kehidupannya yang baru. Kota Anggrek, adalah tujuan Laura untuk pergi. Kota yang menjadi pusat perkumpulan para pebisnis top di seluruh penjuru dunia.
Aku harus segera pergi.
"Laura, cepatlah!" Panggilan sang ibu menariknya dari alam bawah sadar.
"Iya." Dia berteriak seraya berlari kecil menghampiri keluarganya.
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄