Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas Upper-Chrome
Mansion pribadi Geovani berdiri angkuh di puncak bukit tertinggi Etheria, terbungkus kabut tipis dan salju abadi yang seolah memisahkan tempat itu dari hiruk-pikuk Metropolis di bawah sana. Dari balik jendela kaca antipeluru di kamarnya, Briella menatap hamparan lampu kota yang terlihat seperti taburan permata tak terjangkau. Ia berada di sana, di tempat yang diinginkan oleh setiap wanita di kasta Upper-Chrome, namun bagi Briella, kemewahan ini terasa lebih dingin daripada gudang bawah tanah keluarga Adijaya.
Lantai marmer yang ia injak terasa membeku di bawah telapak kakinya yang telanjang. Briella mencoba berjalan menuju pintu besar berbahan kayu jati berlapis baja yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari kamar megah ini. Ia menekan gagang pintunya, namun benda itu tetap bergeming. Di samping bingkai pintu, sebuah pemindai biometrik kecil berkedip-kedip dengan cahaya merah yang sinis.
"Jangan membuang tenagamu, Briella. Pintu itu hanya akan terbuka dengan sidik jariku," suara rendah Geovani tiba-tiba menggema melalui interkom di dinding.
Briella tersentak dan mundur beberapa langkah. Mata kamera pengawas di sudut langit-langit seolah sedang menguliti setiap gerak-geriknya. "Sampai kapan kau akan mengurungku seperti ini, Dokter? Aku bukan tawananmu!"
"Kau bukan tawanan, tapi kau adalah aset yang sangat berharga. Aku tidak bisa membiarkan noda dari masa lalumu merusak eksperimen yang sedang berjalan di dalam rahimmu itu," sahut Geovani datar.
Beberapa menit kemudian, suara desis mekanis terdengar. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Geovani yang masih mengenakan jas putih kedokterannya. Ia membawa sebuah tas medis berbahan kulit hitam yang selalu ia bawa. Aroma antiseptik yang tajam segera memenuhi ruangan, menelan wangi pengharum ruangan yang mahal. Geovani berjalan masuk dengan ketenangan yang mengintimidasi, matanya yang tajam di balik kacamata menatap Briella seolah-olah gadis itu hanyalah selembar data medis yang perlu dianalisis.
"Duduk di pinggir ranjang. Waktunya pemeriksaan malam," perintah Geovani tanpa basa-basi.
"Aku merasa baik-baik saja. Kau sudah memeriksaku pagi tadi," protes Briella, meski ia tetap melangkah mundur menuju ranjang besar yang empuk.
Geovani meletakkan tasnya dan mendekati Briella. "Kondisi janin pada trimester awal sangat fluktuatif, apalagi setelah trauma fisik yang kau alami. Aku tidak menerima alasan apa pun. Buka kancing gaunmu."
Briella menelan ludah, tangannya yang gemetar menyentuh kancing teratas gaun sutranya. Di bawah tatapan dingin Geovani, ia merasa sangat telanjang meski masih mengenakan pakaian lengkap. Setiap gerakan Geovani selalu terlihat profesional, namun ada ketegangan yang merayap di antara mereka—sebuah residu dari malam panas yang mereka habiskan di meja bedah tempo hari.
"Cepatlah, Briella. Aku tidak punya banyak waktu," desak Geovani seraya mengeluarkan stetoskop dari tasnya.
Dengan napas yang tertahan, Briella membuka beberapa kancing gaunnya hingga bahu dan bagian atas dadanya terekspos. Geovani melangkah mendekat, sangat dekat hingga Briella bisa mencium aroma maskulin bercampur tembakau tipis yang melekat pada jas pria itu. Tangan Geovani yang besar dan hangat mulai menyentuh kulit Briella, menempelkan logam dingin stetoskop pada dadanya.
"Jantungmu berdetak terlalu kencang. Kau cemas?" tanya Geovani seraya menatap langsung ke mata Briella.
"Siapa yang tidak cemas jika diperlakukan seperti tikus laboratorium setiap malam?" sahut Briella dengan nada getir.
Geovani tidak menjawab. Ia mengabaikan sindiran itu dan melanjutkan pemeriksaannya. Jemarinya yang panjang merayap turun menuju perut Briella, menekan lembut beberapa titik untuk memastikan tidak ada pendarahan internal tersembunyi. Sentuhan itu terasa sangat klinis, namun sensasi kulit yang bersentuhan membuat bulu kuduk Briella berdiri. Geovani melakukan setiap gerakan dengan sangat teliti, seolah-olah ia sedang memetakan setiap inci tubuh Briella sebagai miliknya.
"Kau terlalu tegang. Otot perutmu kaku, itu tidak baik untuk sirkulasi darah ke janin," bisik Geovani. Ia kini berlutut di depan Briella, memposisikan dirinya di antara kedua kaki gadis itu agar bisa memeriksa denyut nadi di pangkal paha.
"Berhenti melakukan ini, Dokter. Ini tidak terasa seperti pemeriksaan medis biasa," lirih Briella.
Geovani mendongak, seringai tipis yang mengerikan muncul di bibirnya. "Aku adalah dokter bedah saraf dan ahli anatomi terbaik di negeri ini. Apa yang aku lakukan adalah prosedur standar untuk memastikan spesimenku tetap dalam kondisi prima. Kecuali, jika kau mulai menikmati sentuhanku?"
"Jangan gila!" sentak Briella, mencoba menutup kembali gaunnya.
Namun, tangan Geovani lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Briella dan menekannya ke atas kasur. Tatapan profesionalnya kini berubah menjadi gelap dan penuh dominasi. "Kau berada di rumahku, Briella. Menggunakan pakaian yang aku beli, memakan makanan yang aku sediakan, dan mengandung benih yang aku tanam. Tidak ada satu sel pun di tubuhmu yang bukan milikku sekarang."
Geovani kemudian menarik alat medis lainnya dari tasnya, sebuah alat pemantau aliran darah portabel. Ia mengoleskan gel dingin ke perut bawah Briella, gerakannya sangat pelan dan penuh penekanan yang disengaja. Briella memejamkan mata, berusaha membuang bayangan intim yang mulai merasuki pikirannya. Ia membenci kenyataan bahwa tubuhnya memberikan reaksi yang tidak sinkron dengan logika kebenciannya.
"Sempurna. Perkembangannya sangat stabil," gumam Geovani setelah beberapa menit berlalu. Ia berdiri dan mengelap sisa gel di kulit Briella menggunakan kain kasa dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian.
"Apakah aku sudah boleh tidur?" tanya Briella tanpa berani menatap mata Geovani.
Geovani merapikan kembali alat-alat medisnya ke dalam tas. Ia berdiri tegak, kembali menjadi sosok dokter yang angkuh dan tak tersentuh. "Tidurlah. Besok pagi pelayan akan membawakan vitamin dan menu diet khusus. Jika aku mendengar kau melewatkan satu suap saja, aku akan memastikan kau memakannya langsung dari tanganku."
Briella hanya terdiam, memeluk lututnya saat Geovani berjalan menuju pintu. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau membela aku di depan media dan membatalkan pertunanganmu dengan Prilly? Kau kehilangan segalanya demi anak ini?"
Geovani menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memperlihatkan sorot mata yang sulit diartikan. "Aku tidak pernah kehilangan apa pun, Briella. Aku hanya sedang menukar bidak catur yang membosankan dengan ratu yang jauh lebih menantang. Prilly adalah boneka yang mudah dibaca, tapi kau... kau adalah kekacauan yang indah untuk dibedah."
"Kau benar-benar iblis," bisik Briella.
"Dan kau adalah tawanan iblis itu. Selamat malam, Little One," sahut Geovani sebelum pintu mekanis itu tertutup dan terkunci kembali dengan suara dentuman pelan.
Briella kini kembali terjebak dalam keheningan kamarnya yang megah. Ia berjalan menuju jendela, menatap refleksi dirinya sendiri pada kaca yang gelap. Ia tampak seperti seorang putri di dalam sangkar emas, terbalut sutra namun terbelenggu oleh takdir yang ia tulis sendiri malam itu di klinik. Setiap sudut mansion ini adalah pengingat bahwa ia tidak memiliki jalan pulang. Geovani telah mencabut akarnya dari dunia luar, mengisolasi dirinya di puncak bukit ini seolah-olah Briella adalah rahasia paling terlarang yang pernah ada.
Ia menyentuh perutnya yang masih terasa rata. Di sana, sebuah kehidupan sedang tumbuh—sebuah benih yang menjadi tiket keselamatannya sekaligus rantai yang mengikatnya pada Geovani. Briella tahu, mulai saat ini, setiap tarikan napasnya adalah atas izin sang dokter. Ia harus bermain dalam drama medis gila ini jika ingin melihat keluarga Adijaya hancur. Namun, di tengah ketegangan yang menyiksa itu, ada satu ketakutan yang lebih besar daripada ancaman Prilly: ketakutan bahwa ia akan mulai terbiasa dengan sangkar emas ini dan tangan dingin sang iblis yang setiap malam memeriksanya.
Malam semakin larut di puncak Etheria, salju mulai turun lebih lebat menutupi jalanan menuju mansion. Briella berbaring di ranjang luas yang terasa terlalu dingin, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan langkah balas dendam apa yang harus ia ambil selanjutnya. Namun, untuk saat ini, ia hanyalah objek penelitian dalam genggaman Geovani, tawanan tercantik di Upper-Chrome yang sedang menunggu pagi hari untuk kembali tunduk pada dominasi sang dokter.