Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permulaan
****
Seperti biasa setelah semua makanan tertata dengan rapi, barulah Sindi, Dinda, Farah serta Davin akan keluar.
Sedangkan Raka sama Tania mereka sudah duluan berada dimeja makan.
"Bella, kamu mau kemana? Sini, sarapan dulu." Ajak Dinda,
Wanita itu terlihat begitu cantik dengan balutan baju tanpa lengan berwarna pink soft.
Davin menatap Bella tanpa berkedip, lelaki itu benar-benar terpukau dengan kecantikan wanita itu.
"Gil4, cantik benar, mana seks1 lagi." Batin Davin menatap Bella dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Apa? Liatin apa hah...?" Farah mencubit paha suaminya dengan keras.
"Ah, sakit sayang," Keluh Davin, wajah Farah benar-benar sudah memerah sedari tadi, dia benar-benar tidak suka melihat Bella yang jauh lebih cantik dari dia.
Tania tertegun melihat Bella yang terlihat cantik dan anggun, kulit putih bersih tanpa cela, seketika dirinya merasa minder.
Tania menelisik pakaian nya sendiri yang Hanya memakai daster rumahan yang warna nya juga sudah agak memudar.
"Tante, Bella pulang aja ya." Ucap Bella dengan wajah sendu, mata nya terus menatap Raka yang sibuk menyuap makanan kedalam mulut nya tanpa mempedulikan kedatangan nya.
"Loh, kenapa Nak?
"Iya Mbak, kok mau pulang, kan kita udah janji hari ini mau jalan-jalan bareng." Sindi ikut menimpali, mereka heran melihat sikap Bella yang tiba-tiba saja berubah seperti tidak bersemangat, beda sekali saat baru sampe tadi malam.
Bella sesekali melirik kearah Raka, berharap lelaki itu sekali saja mau menoleh menatap dirinya, dan berharap akan mencegah dirinya pergi.
Bella teringat akan ucapan Raka tadi pagi.
( "Aku sudah punya istri Bella, aku harap kamu segera pergi dari sini. Aku nggak mau nanti istri aku salah faham sama aku, karena hubungan kita sudah selesai saat kamu memilih pergi waktu itu. Semua sudah terlambat, aku sudah jadi milik orang lain." Ucap Raka tadi pagi mengusir halus dirinya.)
Bella melirik Tania," Apa Lebih nya wanita itu Mas, sehingga kamu begitu cepat melupakan aku, melupakan kenangan tentang kita." Batin Bella sedih.
"Untuk apa aku disini Tante, orang yang aku harapkan sama sekali tidak mengharapkan kehadiran aku Tante." Ucap Bella menyindir, namun Raka sama sekali tidak terpengaruh.
Seketika Dinda mulai mengerti arah pembicaraan Bella. Dia melirik kearah putra nya yang terlihat tenang duduk di meja makan tanpa menoleh sedikit pun pada Bella.
"Bella, kamu duduk dulu." Dinda mengusap bahu Bella lembut.
"Kamu makan aja dulu, setelah ini baru deh kamu boleh pulang. Nanti biar Raka yang anterin kamu pulang." Mata Bella seketika berbinar senang mendengar ucapan Dinda.
Deg
Berbeda dengan Tania, dia sedikit tersentak mendengar ucapan mertuanya.
"Maaf Bu, Raka tidak bisa, Raka harus berangkat kerja." Lelaki itu lekas berdiri dan menatap istri nya yang terlihat mulai kurang nyaman.
"Kenapa nggak bisa? Kan jalan ke pabrik searah sama tempat tinggal Bella? Udah, anterin aja, kasihan Bella." Ucap Dinda sedikit memaksa, membuat Raka berdecak kesal.
"Bu, aku buru-buru, jangan paksa aku? Lagian, aku nggak akan pernah mau nganterin Bella, karena aku sudah punya istri. Mana pantas lelaki yang sudah beristri berduaan didalam mobil sama seorang wanita, aku juga harus menjaga perasaan istri aku Bu." Ucap Raka dengan tegas menolak.
Tania menggenggam erat tangan suaminya, hatinya seketika menghangat mendengar ucapan suaminya yang masih mau memikirkan perasaan nya.
"Ya ampun Raka, kamu itu berlebihan sekali, Ibu cuma minta kamu nganterin Bella doang, bukan nya nyuruh pacaran. Lagian, Tania kan nggak harus cemburu juga sama Bella. Kamu itu jauh lebih mengenal Bella duluan dari pada mengenal dia. Tania pasti akan mengerti"
"Bu, aku nggak mau berdebat, aku mau berangkat kerja. Dek, Mas berangkat dulu ya." Tania mengangguk kecil lalu menyalami tangan suaminya.
"Hati-hati Mas." Ucapnya
Hati Bella seketika panas melihat Raka begitu lembut terhadap Tania, kalau dengan dia bahkan menatap saja Raka nggak mau.
Tania yang dia kira hanya pembantu di rumah itu ternyata adalah saingan yang harus ia singkirkan.
"Sial4n...." Batin Bella menggenggam tangan nya dengan kesal.
Tania mengantar Raka sampai kedepan pintu, setelah mobil Raka tidak terlihat lagi barulah Tania masuk.
"Tante, serius istri nya Mas Raka kayak gitu penampilan nya? Malahan tadinya Bella pikir dia pembantu di rumah ini." Ucap Bella saat melihat Tania sudah kembali masuk, ia memang sengaja agar Tania mendengar ucapan nya.
"Ya, mau gimana lagi Bell, sebenar nya Tante tidak menganggap nya menantu sama sekali, tante berharap nya kamu yang jadi menantu Tante suatu saat nanti. Cuma kamu yang pantas buat Raka."
Tania bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka, karena memang suara mereka sengaja di keraskan, mungkin agar Tania bisa mendengar.
"Tapi nggak papa juga kan Bu, hitung-hitung kita bisa punya pembantu gratis di rumah ini. Sindi yakin, mungkin suatu saat nanti Mas Raka Bakal ninggalin Mbak Tania, liat aja penampilan nya, nggak ada menarik-menarik nya sama sekali. Lama-lama Mas Raka bakal ilfil sih, apalagi kalau sering liat Mbak Bella nantinya. Sangat berbeda jauh lah sama si Mbak Tania itu." Sambung Sindi ikut menimpali.
"Makanya Bella, kamu harus bisa mengambil hati Raka lagi, siapa tau lama-lama Raka luluh lagi, masak gitu aja kamu sudah mau menyerah. Apalagi modelan istri nya kayak begitu."
Bella tersenyum senang, ternyata semua keluarga Raka mendukung dirinya, Ia yang tadi nya ingin menyerah seketika merubah niatnya. Semangat Bella semakin berkobar, dia berjanji akan berjuang untuk mendapatkan Raka lagi.
Baginya sangat mudah menyingkirkan Tania yang hanya wanita kampung yang Misk1n.
"Tapi Bu, aku rasa ibu sudah sangat berlebihan deh. Masak ibu mau membuat rumah tangga Mas Raka sama Mbak Tania hancur?" Sela Farah, membuat semua mata menoleh kearah dirinya, sedangkan Davin sudah sedari tadi pergi ke kamar nya.
"Kok Mbak Farah sekarang malah belain wanita kampung itu sih?" Sindi melebarkan matanya menatap Farah yang tiba-tiba berubah haluan.
"Bukan belain Mbak Tania, tapi, aku cuma kasihan aja sih." Elak nya, sebenarnya Farah tidak terlalu suka sama Bella, dia tidak rela kalau Bella masuk ke keluarga suaminya.
Tania tersenyum getir mendengar keluarga suaminya rela mempertaruhkan rumah tangga mereka demi keinginan mereka tercapai.
Ia menghapus air matanya perlahan, Tania bertekad ingin berubah. Semua pengorbanan dirinya ternyata tidak pernah sedikitpun mereka lihat.
Apa guna nya ia pertaruhan semua untuk keluarga yang sama sekali tidak menganggap nya ada.
"Mas, aku akan terus berjuang demi mempertahankan rumah tangga kita. Tidak akan ku biarkan siapapun mengusik ketenangan kita, meskipun itu keluarga kamu sendiri." Gumam nya pelan dengan mata memerah, bukan karena amarah. Tapi, tekad yang membara demi masa depan yang harus ia perjuangkan.
"Kalian yang memulai duluan, jangan salah kan aku, akan ku perlihatkan siapa aku sebenarnya."
..........