Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Manifestasi Daging dan Keabadian yang Busuk
Kesadaran Bima kembali bukan sebagai ledakan cahaya, melainkan sebagai rasa sakit yang murni dan tak terduga.
Hal pertama yang ia rasakan adalah dinginnya udara yang menusuk sumsum tulang, disusul oleh sensasi basah yang lengket di bawah punggungnya.
Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang berdenyut.
Sebuah kekosongan yang berteriak.
Bima membuka matanya. Ia tidak lagi berada di gubuk, tidak pula di hamparan gigi.
Ia berada di sebuah ruang bawah tanah yang dindingnya tampak berdenyut, seolah-olah semen dan batanya terbuat dari otot manusia yang dipadatkan.
Langit-langitnya rendah, meneteskan cairan bening yang berbau seperti cairan ketuban.
Ia menunduk. Dunianya runtuh seketika.
Kedua kakinya telah hilang dari bawah lutut.
Bukan dipotong dengan rapi, melainkan seperti dikunyah secara paksa.
Dagingnya mencuat keluar seperti bunga yang layu, dan tulang keringnya yang putih terlihat menonjol, patah dan bergerigi.
Namun, anehnya, ia tidak mati kehabisan darah.
Sesuatu yang berwarna hitam, menyerupai akar pohon yang bergerak, telah menyumbat pembuluh darahnya, menjahit luka-luka itu dengan benang-benang saraf yang masih berkedut.
"Sudah bangun, Sayang?"
Suara itu berasal dari sudut ruangan yang remang-remang.
Kinasih—atau apa pun yang tersisa dari dirinya—sedang berjongkok di sana. Ia tidak lagi mengenakan baju.
Tubuhnya kini ditutupi oleh lapisan kulit tambahan yang tampaknya dijahit secara kasar ke badannya sendiri.
Kulit-kulit itu memiliki warna yang berbeda-beda; ada yang pucat, ada yang kecokelatan, dan ada yang masih segar dengan bulu-bulu halus yang belum rontok.
Dan di bawah pinggulnya, Kinasih kini memiliki sepasang kaki.
Sepasang kaki laki-laki yang kuat, berbulu tipis, dengan tato kecil di pergelangan kaki kanan berbentuk jangkar.
Itu kaki Bima.
"Bagus, kan?" Kinasih berdiri. Gerakannya kaku, seperti boneka yang talinya ditarik secara paksa.
Suara tulang yang bergesekan saat ia melangkah terdengar seperti kayu kering yang patah.
"Sekarang aku bisa berjalan. Aku bisa membawamu keluar dari sini, Bim. Kita akan pulang ke rumah baru kita."
Bima mencoba bicara, namun mulutnya terasa seperti disumpal oleh gumpalan rambut.
Ia memuntahkannya, dan yang keluar adalah segenggam rambut hitam panjang yang masih menempel pada potongan kulit kepala.
"K-Kinasih... bunuh... bunuh aku..." rintih Bima. Air matanya bercampur dengan nanah yang mulai keluar dari sudut matanya.
Kinasih mendekat. Wajahnya kini adalah kekacauan anatomi.
Salah satu matanya telah diganti dengan mata wanita cantik bergaun putih itu—mata yang tidak memiliki kelopak, terus-menerus melotot dengan pupil yang mengecil.
"Bunuh? Oh, Bim. Di sini tidak ada yang benar-benar mati," Kinasih membelai pipi Bima dengan tangan yang kini memiliki tujuh jari.
"Kematian adalah kemewahan yang tidak kita miliki lagi. Kita adalah milik tempat ini sekarang. Kita adalah bagian dari perjamuan."
Ia kemudian menarik sesuatu dari balik punggungnya.
Itu adalah kepala kambing dari sesajen di gubuk tadi.
Namun, kepala kambing itu kini memiliki wajah manusia yang sedang menangis.
Makhluk itu masih hidup, mulut kambingnya mengembik namun suaranya adalah jeritan seorang wanita.
Kinasih mulai menyuapi Bima dengan potongan lidah dari kepala kambing itu.
"Makan, Bim. Kau butuh energi untuk proses penyatuan selanjutnya."
Tiba-tiba, dinding-dinding ruangan itu mulai berkontraksi.
Suara geraman besar terdengar dari balik tembok otot tersebut.
Ruangan itu mulai menyempit, memaksa Bima yang tak berkaki untuk merangkak di atas cairan lengket.
"Lari, Bima! Lari dengan tanganmu!" Kinasih tertawa melengking, suara tawanya kini tumpang tindih dengan suara ratusan wanita lain.
Bima merangkak dengan gila-gilaan.
Setiap kali tangannya menyentuh lantai, ia merasakan ribuan mulut kecil terbuka di bawah permukaan lantai, mencoba menggigit jari-jarinya.
Ia masuk ke sebuah lorong panjang yang dindingnya dilapisi oleh usus-usus manusia yang masih bergerak, memompa cairan empedu hijau yang menyengat.
Di sepanjang lorong, ia melihat pemandangan yang lebih mengerikan dari neraka mana pun.
Di dalam dinding usus itu, orang-orang terperangkap.
Mereka masih hidup, namun tubuh mereka telah menyatu dengan dinding.
Ada seorang pria yang wajahnya menjadi bagian dari langit-langit, matanya terus-menerus meneteskan asam yang membakar kulit Bima saat ia lewat di bawahnya.
"Tolong... aku..." bisik pria di dinding itu.
Suaranya keluar dari lubang yang terbuka di dadanya.
Bima terus merangkak hingga telapak tangannya terkelupas, menampakkan daging merah yang mentah.
Di ujung lorong, ia melihat cahaya.
Namun itu bukan cahaya matahari.
Itu adalah cahaya dari ribuan lilin yang terbuat dari lemak manusia, disusun membentuk lingkaran di sebuah aula besar.
Di tengah lingkaran lilin itu, berdirilah wanita bergaun putih itu. Namun kini ia tidak lagi cantik.
Tubuhnya setinggi tiga meter, kurus kering hingga tulang rusuknya menonjol tajam seperti pisau.
Gaun putihnya ternyata bukan kain, melainkan lapisan kulit ari yang mengelupas dari ribuan korban sebelumnya.
Ia memegang sebuah cermin besar yang terbuat dari kepingan-kepingan koin kuno yang disatukan.
"Lihat dirimu, Bima," suara sang Inang menggetarkan seluruh aula.
Bima terpaksa menatap cermin itu. Di dalam pantulan, ia tidak melihat dirinya.
Ia melihat sesosok makhluk tanpa kulit, dengan organ dalam yang terekspos, dan di tempat jantungnya berada, koin hitam itu tertanam dan berdetak dengan kencang.
"Kau adalah benihnya," kata sang Inang. "Kinasih adalah rahimnya.
Dan malam ini, kalian akan melahirkan sesuatu yang akan mengakhiri dunia yang normal."
Kinasih berjalan ke tengah lingkaran, kakinya yang "baru" meninggalkan jejak darah hitam.
Ia berlutut di depan sang Inang.
Perut Kinasih tiba-tiba membuncit secara tidak wajar, membesar dengan kecepatan yang mengerikan hingga kulit perutnya transparan.
Di dalam perut Kinasih, Bima bisa melihat sesuatu yang bergerak.
Sesuatu dengan banyak tangan dan tanpa kepala.
"Bim... tolong..." Kinasih merintih, namun tangannya justru mencengkeram perutnya sendiri dengan kuku-kuku yang memanjang, seolah ingin merobeknya dari dalam.
Suara robekan kain yang basah memenuhi aula. Tapi itu bukan kain.
Itu adalah perut Kinasih yang pecah.
Namun tidak ada darah yang keluar, melainkan ribuan kecoak hitam yang membawa serpihan-serpihan daging.
Dari lubang di perut Kinasih, muncul sebuah tangan yang sangat besar, diikuti oleh tangan lainnya.
Makhluk itu keluar, perlahan-lahan merangkak dari rahim Kinasih yang hancur.
Kinasih tidak mati; ia tetap terjaga, matanya melotot menyaksikan makhluk itu lahir dari tubuhnya sendiri, sementara organ dalamnya berhamburan ke lantai seperti tumpukan sampah.
Makhluk yang lahir itu tidak memiliki wajah, hanya sebuah lubang besar di tengah dadanya yang dipenuhi oleh gigi-gigi taring yang berputar seperti mesin penggiling.
"Sempurna," bisik sang Inang.
Ia kemudian menoleh ke arah Bima yang masih merangkak di lantai.
"Sekarang, Bima. Berikan sisa tubuhmu. Jadilah makanan pertama bagi anakmu sendiri."
Makhluk tanpa wajah itu berbalik ke arah Bima.
Suara putaran gigi di dadanya semakin kencang, menciptakan angin puyuh berbau busuk yang menarik tubuh Bima mendekat.
Bima berteriak, namun suaranya hilang saat makhluk itu mencengkeram kepalanya.
Hal terakhir yang Bima lihat sebelum semuanya menjadi hitam adalah Kinasih yang tersenyum lebar, meski rahang bawahnya sudah terlepas dan menggantung di lehernya.
Di luar hutan bambu, matahari mulai terbit.
Namun sinarnya tidak mampu menembus kabut hitam yang kini menyelimuti desa itu.
"Hidup baru" mereka telah benar-benar dimulai, dan dunia luar tidak akan pernah siap untuk apa yang akan keluar dari sana.