Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 3 -PAHLAWAN (1)
Di dalam laboratoriumnya, Arta memaksakan diri bekerja selama berhari-hari tanpa jeda. Ia hanya mencari satu jawaban di antara ribuan variabel: bagaimana cara memenangkan masalah yang mustahil ini?
Selain menyusun formula sihir, ia terus memutar rekaman dokumentasi perang milik Nebula. Rekaman itu adalah mimpi buruk. Kota-kota dilenyapkan hanya dalam satu kedipan mata. Musuh dapat melakukan perjalanan antar bintang dengan membengkokkan ruang agar memiliki kecepatan mendekati cahaya.
Beberapa peradaban yang hancur itu sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa. Ada yang mampu menciptakan portal teleportasi instan yang kemudian diadopsi oleh musuh untuk mempersingkat perjalanan mereka, ada pula peradaban yang mampu menguasai sistem bintang untuk menjadi sumber energi yang lebih efisien. Tetapi mereka tetap kalah.
Apa yang sebenarnya membuat mereka hancur? tanya Arta dalam benaknya, matanya yang lelah terus menatap proyeksi data.
Ia telah mengelompokkan berbagai jenis sihir dan menyusunnya ke dalam daftar strategi. Namun semuanya masih sebatas teori.
Mereka belum melakukan kontak langsung dengan lawan. Pikirannya kemudian melayang kembali pada pertemuan khusus di markas militer kemarin.
...
Di ruang rapat utama militer, Nebula berdiri di tengah kepungan para jenderal. Suasana di sana begitu kaku.
"Seperti yang kalian lihat, mereka bukanlah makhluk organik. Keberadaan mereka bahkan dipertanyakan—apakah mereka layak disebut makhluk hidup, atau hanya bongkahan besi semata," ucap Nebula sambil memunculkan hologram di tengah ruangan.
"Kami menyebut mereka 'AI', singkatan dari Artificial Intelligence. Mereka mampu mempelajari hal-hal yang biasanya memakan waktu ratusan tahun hanya dalam hitungan hari. Mereka belajar dari setiap kekalahan, lalu memperbaiki diri saat itu juga."
Nebula berhenti sejenak, membiarkan para jenderal mencerna kengerian itu.
"Mereka adalah kecerdasan yang sangat efisien. Alih-alih mengirim seribu pasukan di awal peperangan, mereka hanya akan mengirim beberapa unit pesawat untuk menjatuhkan bom dan meratakan sebuah kota, sebelum ribuan pasukan kecil lainnya membersihkan semua nya. Efektif. Cepat. Dan mematikan."
Saat itu semua orang terdiam. Hingga Nebula melanjutkan pernyataan nya; "Tetapi untunglah mereka saat ini sedang menghemat sumber tenaga akibat perjalanan antar bintang yang sangat jauh, memberi kita waktu yang cukup lama untuk berpikir."
...
Bagaimana kami bisa menang melawan sesuatu yang terus beradaptasi setiap detiknya? Arta membatin pahit.
Sebelum ia tenggelam lebih dalam dalam keputusasaan, ketukan keras di pintu laboratorium membuyarkan lamunannya.
Tok. Tok. Tok.
"Permisi." Sebuah suara asing terdengar. Arta membuka pintu dan mendapati seorang pria berpakaian Herald—pembawa pesan resmi Kekaisaran.
"Maaf telah mengganggu waktunya. Saya datang membawa undangan dari Yang Mulia Kaisar untuk Anda."
"Baik, terima kasih sudah mengantarkannya," jawab Arta sambil menerima surat bermaterai emas tersebut. Pria itu menunduk hormat lalu pergi.
Arta kembali ke meja kerjanya dan membuka surat itu. Isinya singkat namun mutlak: panggilan resmi dari Kaisar Lysander Thalassia. Arta diminta menghadiri pertemuan ekspedisi di ruang takhta besok pagi.
Pertemuan di ruang takhta untuk menentukan kandidat tim ekspedisi? pikirnya. Arta tahu posisinya sebagai salah satu penyihir terbaik membuatnya tidak bisa menghindar. Namun satu pertanyaan mengusik benaknya: Kenapa aku harus ikut ekspedisi?
Keesokan harinya.
Ruang takhta dipenuhi oleh kerumunan orang. Sebagian besar adalah anak-anak bangsawan dari berbagai latar belakang; ada yang dikenal karena prestasi, ada pula yang hanya membawa nama besar keluarga mereka. Di belakang mereka, puluhan pasukan berdiri tegak mengenakan lambang dari masing-masing keluarga.
Tatapan Arta mendadak terkunci pada satu sosok. pundak pria yang sangat ia kenal, dan gaya rambut yang selalu ia sukai.
-Elian Solarith
Elian... dia ada di sini? Jantung Arta berdegup kencang. Rasa rindu menyeruak, namun juga rasa bingung. Perjalanan dari wilayah Elian seharusnya memakan waktu tiga hari.
Berarti keputusan ini diambil lebih awal, dan surat yang kuterima kemarin hanyalah pemberitahuan yang terlambat karena kehendak seseorang ya, pikir Arta sambil mengerutkan dahi, menyadari adanya permainan politik di balik situasi ini.
Tak lama kemudian, Kaisar Lysander Thalassia memasuki ruangan. Kursi di sebelahnya kosong—sang ratu berhalangan hadir karena kondisi fisiknya yang lemah.
"Terima kasih kepada kalian yang telah memenuhi panggilan ini," ucap Kaisar dengan suara tenang namun menggetarkan ruangan.
"Dan terima kasih kepada para sukarelawan yang datang dari berbagai wilayah untuk membantu Aurellian." Ruangan menjadi sunyi senyap.
"Kalian tentu sudah mengetahui tujuannya. Sebuah unit khusus akan dibentuk untuk mempelajari dan mengalahkan musuh yang kini mengancam kita."
Kaisar melanjutkan pidatonya yang panjang dan penuh semangat. Bagi Arta, kata-kata itu terasa membosankan, namun ia tetap berdiri tegak menjaga profesionalismenya. Tidak lama setelah itu, Kaisar berdiri dari singgasananya.
"Lebih dari seribu lima ratus tahun yang lalu, bangsa kita berhasil mengalahkan Raja Iblis. Maka sekarang, saatnya kita menunjukkan tekad dan pengorbanan yang sama!"
Tatapan Kaisar tertuju pada Elian, seperti sebuah kode yang telah direnakan. Dengan langkah mantap, Elian maju ke depan dan berlutut. Kaisar menarik pedangnya, lalu menyentuhkan ujung bilahnya ke kedua pundak Elian—ritual suci pengangkatan pahlawan.
"Dengan ini, Elian Solarith ditetapkan sebagai pedang utama Kekaisaran Aurellian—pahlawan yang akan kembali dibangkitkan!"
"Yang Mulia, hamba dan darah keturunan Solarith menerima kehormatan ini. Kami akan menaklukkan musuh Kekaisaran," ucap Elian dengan penuh kebanggaan yang meluap.
Sorakan dan tepuk tangan membahana, namun Arta hanya terdiam. Ia menatap Elian dari kejauhan. Untuk pertama kalinya sejak krisis ini dimulai, ia tidak hanya merasakan ketakutan Akan perang, tetapi juga rasa khawatir yang mendalam terhadap kekasihnya sendiri.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat