NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan di Tikungan Fajar

Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung rendah di atas jalur tol lingkar luar Jakarta saat jam dinding menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit subuh. Aspal jalanan tampak hitam basah, memantulkan sorot lampu kuning dari iring-iringan tiga truk kontainer berlogo "Gudang Berkah Arumi" yang melaju dengan kecepatan konstan.

​Di dalam ruko kantor gudang yang masih sepi, Arumi duduk di sofa dengan segelas teh hangat yang kepulannya mulai menipis. Matanya sedikit merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Kak Nia terus-menerus memandangi layar tablet yang menampilkan piringan GPS pemantau posisi armada mereka.

​"Rum, tiga truk kita sudah masuk gerbang tol utama," ujar Kak Nia, memecah keheningan subuh dengan nada suara yang masih diselimuti kecemasan akibat trauma sabotase kemarin. "Jalur lingkar luar ini memang lebih memutar, tapi semoga saja prediksi kamu benar kalau jalur ini bersih dari hadangan oknum-oknum itu."

​Arumi mengembuskan napas perlahan, menggenggam cangkir tehnya untuk menghangatkan jemarinya yang dingin. "Ini satu-satunya jalur yang tidak terduga, Nia. Aku sudah merombak total dokumen jalan secara fisik semalam. Jika subuh ini kita masih bocor dan dicegat lagi... artinya musuh kita memang memiliki mata yang bisa menembus dinding ruko ini."

​Di halaman parkir bawah, Setya sedang berdiri memegang sapu lidi di dekat tiang lampu. Meskipun udara subuh sangat menusuk tulang, Setya tidak merasa kedinginan sama sekali. Dadanya bergemuruh oleh rasa puas yang meluap-luap. Ia baru saja melihat tiga truk Arumi melesat keluar dari gerbang. Di dalam benaknya, Setya sudah bisa membayangkan bagaimana beberapa puluh menit lagi ponsel Arumi akan kembali berdering dengan kabar kehancuran yang sama seperti kemarin.

​"Pura-puralah jadi pemenang sesukamu, Arumi," cibir Setya dalam hati, wajah kusamnya menyunggingkan senyuman sinis di balik kegelapan subuh. "Sebentar lagi, semua klien besarmu akan lari. Dan saat kamu jatuh miskin, aku akan berdiri di depanmu bersama Raya untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya berada di kasta tertinggi."

​Setya begitu larut dalam delusi kemenangannya, sampai-sampai ia tidak menyadari sebuah mobil sedan hitam dengan kaca super gelap perlahan meluncur keluar dari area gudang, melaju senyap mengikuti arah truk-truk Arumi dari jarak yang sangat aman. Di dalam mobil itu, Dhanu duduk di kursi belakang, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras dan sepasang mata yang berkilat tajam layaknya elang yang siap menerkam mangsa.

​Pukul empat lewat empat puluh lima menit, petaka yang dinantikan Setya akhirnya terjadi di kilometer 24 jalur tol lingkar luar.

​Dua mobil MPV hitam tanpa plat nomor belakang mendadak memotong jalur, memaksa truk kontainer pertama milik Arumi melakukan pengereman mendadak hingga ban besarnya mencicit keras di atas aspal basah. Enam orang pria berbadan tegap dengan seragam dinas lapangan palsu turun dari mobil, langsung menggedor kaca pintu supir truk dengan kasar sambil membawa papan dokumen tiruan.

​"Turun! Periksa dokumen! Truk ini diduga membawa muatan ilegal!" teriak salah satu orang suruhan itu dengan nada membentak, persis seperti skenario sabotase pertama yang berhasil membuat supir Arumi ketakutan.

​Namun, sebelum supir truk Arumi sempat membuka pintu, sebuah raungan mesin mobil SUV besar memecah kesunyian. Tiga mobil pengawal swasta milik perusahaan Dhanu yang sejak tadi membayangi dari belakang langsung bergerak memutar, mengepung kedua mobil MPV hitam tersebut dalam formasi barikade yang ketat.

​Pintu mobil pengawal terbuka. Belasan pria tegap dengan seragam pengamanan profesional dan kamera pengawas saku (body-cam) yang aktif merekam langsung melompat turun, mengunci ruang gerak para pelaku sabotase.

​"Jangan bergerak! Tetap di posisi kalian! Seluruh tindakan kalian sudah direkam sebagai bukti kejahatan sabotase bisnis dan pemalsuan wewenang!" suara tegas komandan tim pengawal Dhanu melalui pengeras suara.

​Para pria suruhan Valerie dan Raya seketika pucat pasi. Mereka tidak menyangka bahwa pengiriman yang seharusnya rahasia dan rapuh ini justru dikawal oleh pasukan profesional berkekuatan penuh. Beberapa dari mereka mencoba kabur kembali ke mobil, namun dalam hitungan detik, tubuh mereka sudah ditekan ke kap mesin dan dikunci dengan borgol besi yang dingin.

​Dhanu melangkah turun dari mobil sedannya dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan. Ia berjalan mendekati pemimpin kelompok sabotase yang kini sudah berlutut di atas aspal tol dengan tangan terikat ke belakang.

​Dhanu menjambak kerah baju pria itu sedikit, memaksanya mendongak. "Siapa yang memerintahkan kalian? Apakah wanita bernama Raya, atau langsung dari pimpinan PT Multi Rasa Nusantara?" tanya Dhanu, suaranya sangat rendah bergetar oleh ancaman yang nyata.

​Pria itu gemetar hebat, melihat emblem logo perusahaan raksasa milik Dhanu di pin kerahnya. "Ka-kami cuma menerima perintah lewat telepon dari Ibu Raya, Pak! Kami ditransfer uang tunai untuk mencegat truk ini! Tolong lepaskan kami, Pak!"

​Dhanu melepaskan cengkeramannya dengan jijik, lalu mengambil saputangan dari sakunya untuk mengelap tangannya. Ia menoleh ke arah Rian yang berdiri di sampingnya dengan komputer jinjing yang masih menyala.

​"Rian, bawa semua orang ini bersama mobil mereka langsung ke markas kepolisian daerah. Serahkan seluruh rekaman video body-cam sebagai bukti otentik yang tidak bisa diganggu gugat. Pastikan pasal yang dikenakan adalah sabotase ekonomi berencana dan penipuan berlapis. Jangan biarkan pengacara keluarga Valerie bisa menyentuh kasus ini untuk sementara waktu," perintah Dhanu tanpa kompromi.

​"Baik, Pak Dhanu. Semua bukti sudah aman dan terkunci di peladen (server) kita," jawab Rian sigap.

​Dhanu kembali masuk ke dalam mobilnya, mengambil ponselnya untuk menghubungi Arumi. Kemarahan di wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh kelembutan yang tulus saat suara Arumi terdengar di seberang sambungan telepon.

​"Halo, Dhanu? Bagaimana? Ada kabar tentang truknya?" suara Arumi terdengar sangat cemas di ruko.

​Dhanu tersenyum tipis, mencoba menenangkan wanita yang sangat ia lindungi itu. "Semua aman, Arumi. Truk-trukmu sudah lepas dari hambatan kecil di tol dan sekarang sedang melaju menuju gudang swalayan dengan aman. Tidak akan ada keterlambatan hari ini."

​Arumi di seberang sana langsung mengembuskan napas lega yang teramat sangat, terdengar suara isak kecil penuh syukur dari bibirnya. "Ya Allah, alhamdulillah... Terima kasih banyak, Dhanu. Kamu benar-benar penyelamatku. Tapi... bagaimana kamu bisa tahu mereka akan dicegat di sana?"

​Dhanu terdiam sejenak, melirik ke luar jendela mobil melihat pemandangan kota subuh. Sesuai strateginya, ia belum mau membongkar keterlibatan Setya dan Raya agar Arumi tidak terdistraksi di tengah pemulihan bisnisnya, serta agar tikus di gudang itu tetap bermain peran sampai jebakan terakhir benar-benar menutup rapat.

​"Aku cuma menyuruh tim logistikku memetakan potensi titik rawan, Rum. Kebetulan timku sigap di lapangan," bohong Dhanu dengan halus. "Sekarang kamu bisa istirahat, Arumi. Biarkan Nia yang mengurus sisa administrasinya. Masalah kompetitor itu... percayalah padaku, mereka tidak akan bisa menyentuh bisnismu lagi setelah hari ini."

​Pukul tujuh pagi, matahari sudah bersinar terang di halaman Gudang Berkah Arumi. Setya berdiri di dekat ruko dengan wajah yang mulai diliputi kebingungan yang teramat sangat. Ia sejak tadi memandangi Arumi dan Kak Nia yang keluar dari kantor dengan wajah yang cerah, tertawa lega sambil menyapa para pekerja yang baru datang. Tidak ada kepanikan, tidak ada telepon makian dari klien, dan tidak ada air mata kemalangan.

​Setya buru-buru berlari ke belakang toilet, mengeluarkan ponsel jadulnya dengan tangan bergetar, lalu menekan nomor Raya.

​"Halo, Raya! Bagaimana ini?! Kenapa gudang Arumi lancar-lancar saja pagi ini? Truknya tidak ada yang tertahan!" bisik Setya dengan suara panik yang tertahan.

​Di seberang telepon, di dalam kamar apartemen mewahnya, Raya sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah yang sangat pucat dan rambut yang acak-acakan. "Aku juga tidak tahu, Mas! Orang-orang kita di lapangan tiba-tiba hilang kontak sejak jam lima subuh tadi! Ponsel mereka semua mati! Nona Valerie baru saja meneleponku dan memaki-makiku habis-habisan karena rencana kita gagal total pagi ini!"

​Setya seketika lemas, punggungnya menempel pada dinding tembok toilet yang dingin. "G-gagal? Bagaimana bisa gagal, Raya? Padahal foto yang kukasih semalam itu sangat akurat!"

​"Pasti ada yang tidak beres, Mas! Kamu harus lebih hati-hati di dalam sana! Pura-puralah tetap jadi tukang sapu yang bodoh dan jangan tunjukkan wajah mencurigakan sedikit pun! Nona Valerie bilang dia akan mencari cara lain yang lebih nekat untuk langsung melabrak Arumi jika jalur bisnis ini buntu!" bentak Raya dengan suara frustrasi sebelum mematikan telepon dengan kasar.

​Setya perlahan menurunkan ponselnya, menatap lantai dengan pandangan kosong. Rasa ngeri yang teramat sangat tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Setya merasa seolah-olah ada mata raksasa yang tak terlihat yang sedang mengawasi setiap jengkal langkah kakinya dari kegelapan, bersiap untuk meremukkan topeng kepatuhannya kapan saja.

​Permainan catur ini telah berbalik arah, dan Setya, bersama dua wanita terhormat yang mendanainya, kini mulai melangkah mundur dengan mental yang perlahan-lahan mulai digerogoti oleh ketakutan yang nyata.

1
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
kalian jadi biang masalah😭
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
setya kamu tuh bikin masalah ajaa iya🤣
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
raya mulai pengaruhi setya
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
raya kamu kasian sekali dimanfaatkan sama valerie🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
valerie bodoh, itu kan kesalahan setya sndri dikerjaan makana dipecat
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
bos pelabuhan kalau dia kerja bner pst ga akan dipecat, knp harus nyalain arumi🤭🤭 kan slaah dia sndri, dasar betina
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
makanya jangan macem" dan bikin ulah biar ga dikeluarin
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
iya itu lah hubungan bos dan karyawan kan bukan merendahkan🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
setya demi raya bikin ibumu masuk rumah sakit😭😭😭
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
setya ga ada harga diri sma sekali
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
salah kamu sndri iya buang keluarga
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
kalau kata aku biarin ajaa raya disiksa🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
yang bikin onar itu musuh bebuyutan kamu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
setya pengkhianat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kanapa harus bebas sih
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
orang " jahat silahkan senang" dulu tunggu pembalasan
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
Setya kamu nekat iya
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
Valeri bodoh
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
janga senang dulu kalian iya
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
Setya kamu bikin masalah baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!