NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.

Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.

Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.

Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.

Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Jawaban di Tengah Hutan

Suara ayam berkokok keras tepat di telinga Endric. Ia refleks bangun dan menepuk-nepuk udara di sampingnya.

Tidak ada ayam. Tidak ada siapa pun. Hanya kasur tipis dan cahaya pagi yang masuk dari jendela.

Endric terdiam beberapa detik. Ia menatap sekeliling ruangan yang tampak tenang.

“Gue... masih hidup?”

Dinding tampak utuh. Lantai diam. Tidak ada retakan atau mata yang mengintai. Semuanya normal, justru terlalu normal hingga terasa mencurigakan.

“Ini yang bahaya,” katanya pelan.

“Setuju.”

Suara Gandhul muncul dari sudut ruangan. Ia bersandar santai di dinding seperti biasa.

“Lo dari tadi di situ?” tanya Endric.

“Iya.”

“Ngapain?”

“Nunggu lo bangun. Mau lihat reaksi lo kalau masih hidup.”

Endric mendecak.

“Gue berharap lo lebih suportif.”

“Gue support dengan kehadiran.”

“Semalam itu nyata, kan?”

“Sayangnya iya.”

Endric menghela napas panjang lalu berjalan ke jendela. Ia membukanya sedikit.

Cahaya matahari masuk dengan hangat. Di luar, beberapa warga terlihat menyapu halaman, mengobrol, dan menjemur pakaian. Suasana sangat biasa.

“Ini kok beda banget...” gumamnya.

“Siang sama malam beda dunia,” jawab Gandhul.

Endric membuka jendela lebih lebar. Suara tawa dan obrolan masuk memenuhi ruangan.

“Kalau gini, gue bisa lupa semuanya.”

“Makanya banyak yang kejebak.”

“Maksud lo?”

“Siang itu buat nenangin. Biar lo mikir semua normal.”

Seorang bapak lewat dan melambaikan tangan.

“Pagi, Mas!”

“Pagi, Pak!” balas Endric.

Setelah bapak itu pergi, Endric berbisik.

“Kalau mereka kayak gini, gue jadi bingung siapa yang bahaya.”

“Semua berpotensi,” jawab Gandhul santai.

Endric menutup jendela lagi.

“Oke. Fokus. Malam ini gue harus datang.”

“Iya.”

“Berarti siang ini gue cari info.”

“Dari siapa?”

“Dari warga.”

Gandhul langsung tertawa.

“Wah, nekat. Gue suka.”

“Kalau diam saja, gue mati. Jadi mending cari tahu.”

“Ya sudah. Gue ikut.”

“Jangan tiba-tiba muncul di depan mereka, ya.”

“Gue tahu diri, cok.”

Endric keluar rumah. Udara pagi terasa ringan, namun ia tahu itu hanya permukaan.

Ia berjalan menyusuri jalan. Beberapa warga menyapa dengan ramah. Senyum mereka terlihat tulus, namun terasa terlalu sempurna.

“Mas Endric, sudah sarapan?” tanya seorang ibu.

“Belum, Bu.”

“Ke rumah saya saja.”

Endric hampir menjawab iya, tapi ia ingat aturan. Ia tersenyum tipis dan menolak halus.

“Terima kasih, Bu. Nanti saja.”

Ibu itu mengangguk, tapi senyumnya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

“Gue hampir kejebak,” bisik Endric.

“Bagus. Lo mulai belajar.”

Mereka sampai di warung kecil. Endric masuk dan melihat beberapa orang duduk minum kopi.

Saat ia masuk, semua mata tertuju padanya. Namun mereka tersenyum ramah.

“Mas baru, ya?”

“Iya.”

“Duduk. Ngopi dulu.”

Endric ragu sejenak lalu duduk.

“Gue pantau dari belakang,” bisik Gandhul.

Seorang ibu datang membawa secangkir kopi panas.

“Ini, Mas.”

“Terima kasih.”

“Minum saja. Siang aman,” kata Gandhul.

Endric menyeruput kopi itu. Rasanya hangat dan normal. Ia sedikit rileks.

“Mas kerja apa?”

“Lagi cari kerja.”

“Wah, cocok di sini.”

“Cocok gimana, Pak?”

“Tenang. Gak ribet. Hidup sederhana.”

Endric mengangguk pelan.

“Di sini sering ada pendatang, ya?”

Pria itu diam sebentar.

“Kadang.”

“Terus mereka tinggal lama?”

“Macam-macam.”

“Maksudnya?”

Pria itu menatapnya dalam.

“Ada yang betah.”

Endric menelan ludah.

“Yang gak betah?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menyeruput kopinya. Percakapan terhenti begitu saja.

“Informasi nol,” gumam Endric kesal.

“Ya gak bakal dikasih terang-terangan.”

Endric bangkit.

“Terima kasih, Pak.”

“Hati-hati, Mas.”

Endric keluar warung dengan langkah cepat.

“Gue butuh sumber lain.”

“Selain manusia?” tanya Gandhul.

“Hantu?”

Gandhul tersenyum lebar.

“Baru cocok.”

“Oke. Kenalin gue ke yang lain.”

“Siang gini susah.”

“Kenapa?”

“Mereka malas muncul.”

Endric menatapnya tak percaya.

“Hantu bisa malas?”

“Ya bisa. Lo kira mereka robot?”

“Gue serius, cok.”

“Gue juga serius.”

“Terus kapan?”

Gandhul menoleh ke arah hutan.

“Kalau lo berani, kita ke sana.”

Endric melihat pepohonan lebat yang tampak gelap meski siang hari.

“Itu arah mana?”

“Pinggir Alas Purwo.”

Endric langsung diam.

“Gue baru sehari di sini.”

“Ya sekalian eksplor.”

“Kalau gue mati di sana?”

“Setidaknya gak mati di rumah.”

“Logika lo aneh.”

“Tapi valid.”

Endric menarik napas panjang.

“Oke. Kita ke sana.”

“Gas.”

Mereka berjalan menuju hutan. Suasana berubah drastis. Udara lebih dingin dan suara desa perlahan hilang.

“Gue gak suka ini,” katanya.

“Semua hal penting memang gak nyaman.”

Mereka sampai di batas hutan. Gelap dan pekat.

“Ndhul...”

“Hm?”

“Lo yakin ini ide bagus?”

“Gak.”

“Terus kenapa kita ke sini?”

“Karena jawabannya ada di dalam.”

Endric mengangguk mantap lalu melangkah masuk.

Satu langkah. Dua langkah.

Suara dunia luar lenyap total. Sunyi pekat menyelimuti mereka.

“Ini beda,” bisiknya.

“Ya. Ini bukan desa lagi.”

Tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis pelan.

“Lo dengar?”

“Dengar.”

Tangisan itu semakin jelas, berasal dari balik pohon besar.

“Gue lihat.”

Endric mendekat pelan dan menyibak ranting.

Di sana, seorang wanita duduk membelakangi mereka. Rambutnya panjang menutupi wajah, bahunya bergetar.

“Permisi...” katanya hati-hati.

Wanita itu berhenti menangis. Ia diam beberapa detik.

Perlahan, kepalanya berputar. Hampir seratus delapan puluh derajat. Gerakan itu tidak wajar sama sekali.

Tatapannya langsung mengunci Endric. Ia tersenyum lebar.

“Kamu juga dipanggil, ya?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!