NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sudah hampir satu jam mereka menunggu di halte bus yang sepi itu. Sampai saat sebuah bus menghampiri mereka. Tidak ada percakapan diantara mereka semua.

Hening, itu yang terjadi saat ini sepanjang perjalanan Dian menatap kearah lain menghindari tatapan Alex yang sejak tadi tertuju padanya.

Pria itu pun tidak memaksa Dian lagi saat gadis cantik itu menolak untuk duduk bersama dengan nya.

"Ya, saat ini Afandi duduk bersama Dian. Dan Dito bersama Alex yang menjadi penyebab keheningan itu terjadi.

Saat ini waktu menunjukkan pukul tiga pagi, dan gadis cantik sangat lelah jiwa raganya itu pun akhirnya terlelap dalam tidurnya setelah air matanya berhenti mengalir deras.

"Tuan sebaiknya anda pindah posisi, Dian memang akan seperti ini jika dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi percayalah dia akan kembali membaik "ucap Afandi yang tidak enak hati pada Alex.

"Terimakasih atas pengertiannya saya akan jelaskan semuanya sesampainya disana"ucap Alex yang kini membuat yang lainnya juga mengangguk setuju.

Perjalanan lima jam itu terasa satu tahun meskipun bus tersebut melaju kencang karena jalanan masih kosong.

Saat tiba di kampung halaman Afandi langsung membangunkan Dian dan yang lainnya setelah kernet bus memberitahu Afandi bahwa mereka telah sampai.

Gadis cantik itu pun terjaga dan langsung bangkit dengan membawa tas miliknya, sementara Gideon kini berjalan di belakang nya.

Dengan langkah gontai, gadis cantik itu pun langsung bergegas menuju rumah nya yang kini tampak ramai dan gadis cantik itu tidak melihat adanya bendera kuning yang berdiri tegak di tepi jalan depan halaman rumah nya.

"Ada apa ini?" tanya Dian yang kini terburu-buru masuk melewati kerumunan orang-orang.

Sesampainya di dalam rumah langkahnya terhenti saat melihat ibu sambung nya dan Nina tengah menangis histeris dengan wajah pucat nya sambil terus meraung-raung di depan jenazah yang kini tertutup kain panjang.

Seketika itu Dian langsung terduduk lemas sambil berteriak. "Ayah!!!" teriak Dian yang akhirnya kehilangan kesadaran.

Seluruh teman-teman nya yang tadi turun bersama pun berlari menghampiri Dian yang kini sudah tergeletak di bantu oleh orang-orang bersama Gideon yang kini tidak bisa bergerak karena Nina menghambur memeluk nya.

"Cepat bawa dia ke kamar nya" ujar Afandi yang kini membuat semua orang yang sedang menangisi kepergian orang yang sangat baik hati itu, semakin menangis sesenggukan dengan iringan lantunan surah Yasin.

"Mas, ayah pergi saat ingin menyelamatkan Nina yang hampir tertabrak mobil, hiks... hiks.... Ayah menyelamatkan Nina....!" ujar Nina histeris hingga akhirnya ikut tidak sadarkan diri.

Disaat seperti ini Gideon hanya bisa mematung di tempatnya. Dia sendiri begitu terpukul atas kepergian pria baik hati yang selama ini sudah seperti ayah sekaligus teman baik nya.

Gideon pun dibantu oleh warga yang kini menjauhkan Nina darinya. pria itu langsung mendekat kearah almarhum pak Hasan yang kini sudah terbujur kaku dengan wajah yang tampak tersenyum meskipun senyum itu tidak sesempurna semasa hidupnya.

Wajah nya yang pucat itu terlihat bercahaya, Gideon pun mengusap lembut wajah almarhum dengan penuh cinta kasih sambil berkata.

"Terimakasih orang baik, surga menanti mu... Jangan khawatir setengah ini saya yang akan menggantikan tugas bapak menjaga putri bapak dan akan saya pastikan bahwa dia akan bahagia seperti keinginan bapak selama ini... Pergilah dengan tenang semoga Allah menerima seluruh amal baik bapak dan mengampuni dosa bapak, tapi saya yakin kalaupun ada dosa, itu tidak akan sebesar kebaikan bapak selama ini. Terimakasih atas semuanya bapak selama ini telah mengajarkan banyak hal terhadap saya dengan penuh ketulusan"ucap Gideon yang kini kembali menutup kain panjang tersebut.

"Mas, maafkan aku mas, aku terlalu banyak salah padamu. Setelah ini aku janji tidak akan pernah membeda-bedakan antara Dian dengan Nina lagi.... Bangun mas bukankah mas ingin melihat anak-anak kita sukses dan menikah?Aku janji aku akan menjadi ibu yang baik untuk Dian"ucap wanita paruh baya yang kini membuat ibu-ibu lainnya saling tatap.

Sebenarnya tanpa berbicara pun, ibu-ibu tau bagaimana perlakuan wanita paruh baya itu terhadap Dian yang selama ini selalu menjadi kebanggaan mereka atas kebaikan dan keramahan gadis cantik itu.

Dian yang selama ini selalu membantu mereka baik dengan harta yang ia miliki maupun dengan tenaga. Membuat mereka menyayangi Dian meskipun Dian bukan darah daging mereka, yang jelas para tetangga dekat maupun jauh begitu mengagumi si gadis pekerja keras tersebut.

Sudah satu jam lebih Dian belum sadarkan diri juga. Sementara jenazah sudah akan dimandikan.

Pak Hasan memang tertabrak mobil, tapi tidak ada luka yang parah atau pun berdarah-darah, semuanya utuh bahkan tidak ada sedikitpun luka goresan di tubuhnya.

Dokter yang sudah memeriksa kondisi nya pun merasa heran, karena tidak ada gejala yang diakibatkan oleh kecelakaan maut, pak Hasan mengalami serangan jantung. Itulah laporan yang disimpulkan, dan membuat orang lain bertanya-tanya.

Saat datang dengan ambulan, pak Hasan tidak didampingi oleh siapapun kecuali kedua wanita yang merupakan ibu dan anak. dan kecelakaan yang mereka sebutkan pun tidak jelas.

Namun semua orang tidak ingin menduga-duga karena takut dosa, hingga akhirnya Dian sadar dan kembali menangis histeris sambil memeluk jenazah sang ayah yang berulang kali ia kecup. Mulai dari kening pipi dan tangan juga telapak kakinya dan sejenak membenamkan wajahnya di dada bidang sang ayah yang selama ini menjadi sandaran nya. Dian pun berbaring dan memeluk almarhum, dan itu membuat semua ibu semakin menangis sesenggukan.

"Sudah nak, ikhlaskan kepergian ayah mu... Dia orang baik, dia sudah pasti akan masuk surga"ucap mereka silih berganti sambil mencoba membujuk Dian agar mau melepaskan jenazah yang harus segera dimandikan tersebut.

"Tolong berikan saya waktu untuk berdua dengan ayah sebentar lagi saja. Saya mungkin tidak akan pernah bisa memeluk nya setelah ini hiks"ucap Dian yang kini hendak dibawa menjauh oleh Gideon.

"Biarkan saja dulu tuan, lagipula waktu masih pagi"ucap Dito yang kini ikut mengusap lembut bahu Dian.

"Ayah, bukankah ayah sudah berjanji tidak akan meninggalkan Diandra sendirian di dunia ini...

"Kenapa ayah pergi disaat Dian masih sangat membutuhkan ayah, kenapa ayah pergi saat Dian sedang berusaha untuk bisa membahagiakan ayah...

"Dian sudah berusaha untuk menjadi anak baik, Dian sudah berusaha untuk selalu mengalah dengan takdir hidup Dian demi kebahagiaan ayah.

"api kenapa ayah pergi tinggalkan Dian sendirian...? setelah ini siapa yang akan menyambut kepulangan Diandra ayah....

...******...

Setelah hampir satu jam lamanya dia berbicara pada sosok cinta pertamanya itu, dengan kata-kata yang sungguh menyayat hati dan tidak ada satupun yang melewatkan tangis mereka semua.

Dian pun melepaskan pelukannya dan berusaha bangkit dan duduk bersimpuh di samping sang ayah, sambil berkata untuk yang terakhir kalinya.

"Baiklah ayah, Dian akan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian ayah jika saat ini ayah sudah bahagia. Dian akan melanjutkan hidup seperti yang ayah inginkan meskipun mungkin kebahagiaan Dian sudah tidak bisa sesempurna saat ayah masih ada di disamping Dian"ucap gadis cantik yang kini mengecup punggung tangan sang ayah untuk terakhir kalinya.

Dian pun langsung bergegas pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu diikuti oleh dua orang ibu-ibu yang tidak lain adalah ibu Afandi dan ibu Ando, teman sekolahnya dulu.

Mereka mendampingi Dian sambil terus menguatkan gadis cantik yang kini sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Dian berwudhu lalu mengganti pakaian nya dengan gamis berwarna putih milik sang ibu yang selama ini selalu tersimpan di antara tumpukan pakaian nya.

Dengan pasmina berwarna senada dengan gamis tersebut, Dian meraih Al-Qur'an yang merupakan hadiah ulang tahun nya dulu saat ibunya masih ada, dan Al-Qur'an itulah yang selama ini selalu menjadi obat rindu pada ibu kandung nya yang telah memberikan hadiah terbaik nya itu.

Dian duduk di depan almarhum yang sebentar lagi akan dimandikan, dia pun membacakan surah Yasin dengan suara merdu nya yang selama ini jarang didengar oleh orang lain kecuali kelima sahabat nya itu.

Gideon yang melihat dan mendengar itu kini mematung di tempatnya sambil menatap lekat gadis cantik itu dari arah samping.

Bacaan ayat suci yang begitu fasih semakin membuat Gideon kagum terhadap gadis cantik itu, hingga lupa bahwa dia sudah tidak lagi sendirian saat ini meskipun pernikahan itu tidak berlandaskan cinta.

Sampai saat Dian selesai mengaji, para bapak-bapak didampingi lima ustadz sekaligus kini bersiap untuk memandikan jenazah.

Sementara Dian kini bangkit dan menyambut para pelayat didampingi temannya, karena yang datang tidak hanya dari warga sekitar kampung tepat tinggal dian, tapi dari beberapa desa yang sudah mengenal pak Hasan dengan segala kebaikan nya, bahkan semua orang yang pernah ia tolong kini hadir di rumah dan halaman yang penuh hingga ke jalan raya dan rumah warga lainnya.

Seakan membuktikan bahwa amal baik pak Hasan semasa hidupnya benar-benar nyata adanya mengiringi langkahnya hingga ke peristirahatan terakhirnya dan di akhirat nanti.

Dian semakin bangga terhadap sang ayah saat ini, dia juga mendapatkan kekuatan untuk tetap tegar saat ini meskipun rasa sakit atas kehilangan itu masih sangat terasa.

"Diandra, ucap seseorang yang sudah sejak lama tidak pernah ia lihat lagi. Seseorang yang dulu mengisi hati Diandra hingga akhirnya perpisahan yang sangat menyakitkan itu tiba.

Ya, dia adalah laki-laki yang telah membuat Dian menutup pintu hati hingga saat ini.

Adalah Dion Wiyoko, putra dari orang terpandang di kampung halaman Dian.

Dion yang juga begitu mencintai Diandra gadis cantik yang merupakan adik tingkat nya itu pun harus mengalah dan merelakan cintanya kandas demi perjodohan nya dengan wanita yang tak lain adalah teman baik Dian semasa sekolah dulu.

"Mas Dion,"ucap nya lirih sambil mencoba untuk tersenyum dan menyambut nya seperti ia menyambut para pelayat lainnya.

Dion pun mendekat lalu memeluk Dian dengan sangat erat sambil berkata."Maafkan aku"ucap nya yang kini menitikkan air mata.

Sebagian besar orang yang ada di sana pun menganggap itu adalah hal yang wajar, mengingat mereka begitu dekat dulu dan merupakan teman sekolah meskipun dua tingkat diatas Dian.

"Mas jangan seperti ini, aku tidak ingin semua orang salah faham."ucap Dian yang kini melepaskan pelukan Dion.

"Saya rindu kamu Dian, saya langsung kesini saat melihat postingan Nina tentang ayah yang mengalami kecelakaan"ucap Dion tanpa ragu.

"Terimakasih atas kepedulian nya mas, silahkan duduk, maaf Dian tinggal masuk karena harus menyiapkan semuanya"ucap Dian sambil menundukkan wajahnya.

"Kamu yang tegar ya sayang, aku tau ini sulit tapi yakinlah ayah orang yang sangat baik"ucap pria tampan yang kini melirik kearah seseorang yang menghampiri Dian sambil membisikkan sesuatu.

Tidak lama tatapan Dion bertemu dengan tatapan mata datar dari pria yang mungkin jauh lebih sempurna darinya yang kini membuat hatinya bergemuruh terbakar api cemburu.

"Tuan, istirahat lah, saya sudah bersihkan kamar anda sebelum kita pergi kemarin. Itupun jika anda sudi. Sebentar lagi saya harus mengantar ayah"ucap Dian yang kini merasa tidak enak hati pada pria yang sibuk mengurus semuanya.

"Kamu pikir saya bisa istirahat disaat seperti ini Diandra, apalagi ditambah dengan kehadirannya"ucap Alex yang kini membuat Diandra menatap lekat mata Alex yang juga tengah menatap kearahnya.

"Mas ayah dimana?"ujar Nina yang kini terlihat sudah cetar membahana dengan make-up tebal dan gamis berwarna hitam, pasmina dan kacamata berwarna hitam khas orang berduka.

Tapi riasan wajah itu tidak menandakan bahwa ia sedang berduka, melainkan sedang tebar pesona.

Ibu-ibu pun seketika berbisik-bisik membicarakan tingkah laku Nina saat ini. Sementara Dian meninggalkan mereka dan berjalan menuju kamar nya.

Saat ini Dian meraih mukena karena sebentar lagi jenazah akan disolatkan. Gadis cantik itu pun kembali berwudhu dan mengenakan mukena lalu berjalan keluar rumah bersama para tetangga dan pelayat lainnya beriringan dengan jenazah yang kini di bawah ke mesjid besar yang ada di sana untuk disolatkan.

Gideon yang berbeda keyakinan pun hanya bisa menunggu dan mendapatkan dari rumah dengan kepercayaan yang dianut oleh nya.

Semua orang tidak tahu akan hal itu kecuali pak Hasan yang selama ini selalu dekat dengan pria tampan itu.

Pemakaman pun telah usai. saat akan bangkit dari jongkok nya, Dian langsung terjatuh ke tanah. Namun Afandi langsung sigap menggendong Dian menuju mobil salah satu warga yang juga mengiringi jenazah.

Sampai saat Diandra dibawa pulang oleh kelima teman nya tanpa peduli pada Alex yang sedari tadi digelayuti oleh Nina di lengan kirinya.

Sementara wanita paruh baya itu terlihat masih sangat menyesal, dia tidak langsung pulang setelah orang-orang bubar dari pemakaman.

Wanita itu masih menangis sesenggukan meskipun air matanya sudah tidak lagi menetes, penyesalan tinggal penyesalan, kini orang baik yang telah menolong dirinya dan putrinya hingga dia kehilangan istri tercintanya itu pun terus membuat wanita itu menangis pilu.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!