NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 7

Aku berjalan gontai ke kamar mandi. Sebelumnya melihat jam yang berada di ruang tamu.

Pukul 02.25

Aku terbangun karena kebelet ingin ke kamar mandi. Setelah selesai urusanku di kamar mandi aku kembali ke kamar.

"Kakak belum pulang?" Kataku setelah melihat kamar kakakku masih tertutup rapat. Kunci yang berada di luar masih terkunci. Tidak mungkin kan jika ada orang malah dikunci dari luar.

Kamar ibu masih tertutup. Masih tidur.

Apa semarah itu kak Toni? Ia melihat ponsel kakaknya yang semalam di lempar. Bekas pecahannya sudah dibersihkan oleh ibu dan ponselnya berada di atas meja ruang tamu.

Aku mengambil ponselnya. Dari pada ponselku, ponsel kakakku masih tergolong ponsel keluaran baru ketimbang ponselku. Karena kakakku sudah ganti ponsel 2 kali sedangkan aku masih memakai ponsel pertamaku saat SMP. Iya, sampai sekarang aku masih memakainya. Masih berfungsi dengan baik. Dulu, awal dapat gaji di warung bakso memang ada sedikit pikiran ingin ganti ponsel yang terbaru. Tapi rasa inginku itu tak sebesar rasa ingin untuk sekolah kembali.

"Nanti aku tanyakan pada pak wahyu, apakah ada kerjaan untuk kakakku."

Aku kembali ke kamar. Untuk tidur lagi. Karena jam masih sangat pagi.

---

"Manda!"

Aku yang masih nyenyak tidur terlonjak kaget mendengar suara ibu.

"Manda!"

Lagi. Suara itu akhirnya membuat diriku bangun dari tempat tidur setelah memastikan bahwa itu bukan mimpi.

"Kenapa bu?" Suaraku masih serak. Kepala ku juga tiba-tiba sakit. Mungkin karena bangun tiba-tiba.

"Kakakmu ga pulang manda." Ibu terlihat panik. Aku tau dari wajahnya. "Kemana ya Toni? Coba kamu tanya sama teman-temannya."

Teman-teman kakakku? Aku tidak tau. "Temannya kak Toni siapa bu? Manda ga kenal."

"Ck.. ya cari tau Manda. Siapa kek." Ibu terlihat jengkel. Tapi aku tidak bermaksud begitu, aku benar-benar tidak tau siapa teman-teman kakakku.

"Iya bu." Aku tak mau menambah kesal ibu. Aku ke kamar, mengambil ponsel. Bingung mau mengabari siapa.

Lalu aku menekan satu nomor. Temanku, ayunda. Dulu masa sekolah aku dekat dengannya. Tapi semenjak aku putus sekolah aku jarang sekali mengabarinya. Dia pun juga jadi jarang mengechat ku.

'Halo'

Suara dari seberang telepon terdengar setelah bunyi tut..tut panjang.

"Ayunda, apakabar?"

'Aku baik. Gimana kamu?'

Ah! Mendengar suaranya kembali mengingatkanku memori waktu jaman sekolah. Kami sering mengobrol bersama karena kami satu bangku bersama.

"Baik juga... Aku mau nanya sama kamu."

Terdengar suara kekehan disana. Kupikir ayunda mungkin merasa lucu mendengar suaraku.

'Tanya aja Man.'

"Kamu punya nomor teman-temannya kakakku?" Langsung kutanya. Tak mau ambil banyak waktu. Takut dia juga sedang bersiap-siap sekolah.

'Ada. Tapi cuma satu. Kenapa?'

Aku meminta nomor itu. Kami tak berlama-lama bertelepon. Seperti yang aku duga Ayunda sedang bersiap-siap untuk sekolah.

Setelah mendapat nomornya aku kembali menekan nomor itu. Meneleponnya yang kata Ayunda namanya Fajar.

Belum tersambung. Tapi aku tetap meneleponnya kembali. Aku menatap pintu. Pintu terbuka dari tadi menampilkan raut wajah khawatir ibu.

'Halo.'

Yang mengangkat benar suara lelaki. Suaranya serak pasti baru bangun tidur.

"Halo. Apa bener ini kak Fajar? Temennya kak Toni?"

Orang yang diseberang terdiam cukup lama. Mungkin ada dua atau tiga menit lamanya.

"Halo kak?" Takut sambungan terputus aku mengecek layar ponselku. Masih tersambung.

'Iya bener ini fajar temennya Toni. Kenapa emangnya?'

"Tau dimana kak Toni ga kak? Dia ga pulang semalem." Tanyaku cepat. Takut dia diam lagi.

'Ga tau sih. Dia ga kerumah.'

Aku mendesah lesu. Mau kemana lagi nyari kak Toni coba.

"Ah! Gitu ya kak. Yaudah makasih ya."

Sambungan terputus. Ibu menatapku penuh harap. Tapi aku menggeleng membuat ibu kembali menampilkan wajah murung dan khawatir.

"Kemana anak itu." Ibu menatapku. "Sudah jam segini. Kamu siap-siap saja buat kerja." Ibu meninggalkanku masuk ke dalam kamarnya. Entah bagaimana ibu akan mendapatkan solusinya.

Kejadian ini membuatku merasa bersalah. Bersalah karena aku tidak langsung bisa memberikan uang untuk membeli ponsel kakakku sendiri.

"Lebih baik aku siap-siap." Aku bergegas untuk bersiap. Takut aku telat ke warung lagi.

Setelah selesai, aku segera berangkat. Ibu masih di dalam kamarnya. Aku hanya mengetuk pintunya pelan lalu berpamitan sekedarnya.

Tanah yang pas dipinggir jalan, yang nantinya akan berdiri toko baru itu sudah ramai orang bekerja. Salah satunya pak wahyu.

Aku teringat untuk menanyakan sesuatu. Segera aku melangkah mendekati pak Wahyu.

"Pak wahyu."

Pak wahyu menengok ke arahku. "Kenapa Manda?"

Aku ragu menanyakannya. "Apa masih butuh orang buat kerja?"

Pak wahyu menatapku bingung. "Buat siapa? Kalau buat Manda belum ada. Soalnya ini masih tahap pembangunan."

"Bukan buat Manda pak. Buat kakak Manda."

"Oohh.. Buat Toni ya? Ada kalau mau panas-panasan."

"Iya pak. Nanti Manda tanya ke kak Toni ya."

Pak wahyu mengangguk. "Iya nanti datang ke bapak lagi ya kalau mau."

Akupun mengangguk. Entah nanti bagaimana jawaban kakaknya yang penting dia sudah berusaha mencarikan. Kakaknya saja belum pulang pagi ini. Semoga saja nanti hatinya luluh untuk segera pulang. Tetap saja, aku juga merasa khawatir jika begini.

Aku sampai di warung. Dan Mba Nia sedang menurunkan belanjaan. Kata Mba Nia seminggu ini penjualan meningkat. Yang tadinya sayur bisa buat dua hari, kini sehari habis bahkan Mba Nia sudah menambah porsinya.

Aku ikut senang. Yang artinya uang gajinya pun ikut naik. Walaupun tak seberapa, itu sangat lumayan untukku. Sebagian bisa ditabung untuk sekolah dan yang lain bisa ditabung untuk membelikan ponsel baru untuk kakakku.

Syukur-syukur nanti kakaknya mau ikut kerja dengan pak wahyu. Bisa lebih cepat membelinya.

Aku langsung membantu Mba Nia membereskan barang-barang. Meracik sayur dan bumbu.

Sepanjang hari pembeli silih berganti. Aku yakin omset juga naik lagi. Karena rasa-rasanya kakiku juga ikut kram karena bolak-balik. Untungnya masih ada waktu untuk istirahat dan makan.

Waktu silih berganti. Dari yang tadinya langit terang menjadi gelap. Dan semua pembeli sudah selesai dengan pesanan baksonya. Pembeli yang makan di tempat juga baru saja pergi yang artinya warung sudah tutup.

"Manda. Mba akhir-akhir ini seneng. Omset naik." Ucap mba Nia sumringah.

Aku pun ikut tersenyum mendengarnya.

"Ini gaji kamu hari ini. Istirahat yang cukup manda. Jangan sampai sakit. Nanti mba ga ada yang bantuin."

Aku terkekeh mendengarnya. "Iya mba. Makasih banyak ya."

Setelah membereskan barang-barangku, aku pamit pulang pada mba Nia.

Hari-hari ku sama seperti biasa. Yang berbeda setiap harinya hanya isi pikiranku. Pikiranku yang masih labil ini harus bertarung dengan kebutuhan orang serumah. Ingin mengeluh pun mau ke siapa? Dia sudah tak punya orang yang bisa mengerti hatinya. Yang mengerti keinginanku. Hidupku mungkin hanya untuk bekerja saja. Semoga ayahku diatas sana melihat putri kecilnya dulu sekarang sedang belajar menjadi dewasa. Tanpa belajar tanpa siapapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!