Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Dendam dan Darah
Suara rentetan tembakan di lantai atas terdengar seperti guntur yang merobek langit-langit beton. Liana bersandar pada rak arsip, napasnya tersengal. Di tangannya, ia masih memegang daftar nama korban yang selama ini disantuni Arkan secara diam-diam.
Dunia Liana baru saja runtuh untuk kedua kalinya. Selama sepuluh tahun, ia memupuk kebencian sebagai bahan bakar hidupnya. Namun, melihat Arkan—sang monster yang ia kutuk—justru berdiri di depannya dengan tatapan memohon maut, membuat tangan Liana lemas.
"Sialan kau, Arkan!" teriak Liana pada keheningan ruangan itu.
"Kau tidak boleh mati semudah itu sebelum aku benar-benar membalasmu!"
Liana teringat kata-kata Arkan: Rak nomor 12. Ia berlari ke sana, menggeser beberapa tumpukan dokumen berat, dan menemukan sebuah tas taktis hitam. Di dalamnya ada paspor dengan identitas barunya, tumpukan uang tunai, dan sebuah pistol Glock-17 dengan dua magazin penuh.
Liana menatap pistol itu. Ia bukan gadis lemah. Pak Hendra telah melatihnya menembak di gudang tua selama berbulan-bulan. Ia memiliki pilihan: lari melalui saluran pembuangan yang sudah disiapkan Arkan, atau naik ke atas dan menghadapi neraka itu.
DOR! DOR!
Suara ledakan granat di lantai atas mengguncang seluruh mansion. Debu berjatuhan dari langit-langit. Liana tahu, Arkan mungkin tangguh, tapi ia tidak akan bisa menang melawan tentara bayaran ayahnya sendirian jika ia juga harus melindungi "kelemahannya"—yaitu Liana.
Liana mengokang pistolnya. Bunyi klik logam yang dingin memberikan kekuatan baru. "Aku tidak akan membiarkan orang tua itu menang," desisnya.
Liana merangkak keluar melalui jalur binatu dan muncul di koridor lantai dua yang sudah dipenuhi asap. Lantai marmer yang tadinya mengkilap kini tertutup selongsong peluru dan noda darah. Ia melihat dua pria berseragam taktis hitam sedang bergerak menuju kamar utama Arkan.
Tanpa ragu, Liana membidik.
DOR! DOR!
Dua tembakan tepat sasaran. Kedua pria itu tumbang sebelum sempat menoleh. Tangan Liana gemetar, tapi ia terus melangkah. Ia mengikuti suara baku tembak yang paling riuh, yang berasal dari balkon belakang.
Di sana, Arkan terjepit di balik pilar besar. Bahu kirinya bersimbah darah, dan pelurunya tampak mulai habis. Baron tergeletak tak jauh darinya, pingsan dengan luka di kepala. Di seberang taman, Baskoro duduk di kursi rodanya di dalam mobil antipeluru, menyaksikan semuanya dengan senyum dingin seolah sedang menonton pertunjukan teater.
"Menyerahlah, Arkan!" teriak salah satu tentara bayaran.
"Ayahmu hanya ingin kepalamu!"
Arkan mencoba membidik, tapi lukanya membuatnya tidak stabil. Tepat saat seorang penembak jitu dari arah atap membidik kepala Arkan, Liana melepaskan tembakan dari jendela lantai dua.
DOR!
Penembak jitu jatuh tersungkur dari atap. Arkan tersentak, menoleh ke atas dan matanya membelalak melihat Liana berdiri di sana dengan senjata di tangan.
"Liana! Pergi dari sini!" teriak Arkan parau.
"Diam dan tundukkan kepalamu, Bodoh!" balas Liana. Ia melempar satu magazin cadangan yang ia ambil dari tas ke arah Arkan.
Arkan menangkapnya dengan tangkas, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang anehnya terlihat lega meski di tengah maut. Mereka mulai bekerja sama. Liana memberikan perlindungan dari posisi tinggi, sementara Arkan bergerak maju menyapu sisa-sisa tentara bayaran di taman.
Gerakan mereka sinkron, seolah-olah mereka telah berlatih bersama bertahun-tahun. Dendam yang membara kini berubah menjadi adrenalin yang mematikan.
Setelah lima menit baku tembak yang intens, suasana menjadi sunyi. Hanya suara sirine polisi di kejauhan yang mulai terdengar. Pasukan Baskoro yang tersisa melarikan diri, menyadari bahwa bala bantuan polisi (yang diam-diam dipanggil Arkan sebelumnya) hampir sampai.
Mobil Baskoro melesat pergi, meninggalkan kepulan asap.
Arkan terduduk lemas di rumput taman yang kini hancur. Liana turun dan berlari menghampirinya. Ia menodongkan pistolnya tepat ke dahi Arkan yang penuh peluh.
"Kenapa kau tidak lari?" tanya Arkan dengan suara lemah. Ia menatap ujung laras pistol Liana tanpa rasa takut.
"Karena kalau kau mati sekarang, siapa yang akan menjelaskan padaku kenapa orang tuamu masih hidup sementara keluargaku jadi abu?" suara Liana bergetar. "Aku menyelamatkanmu hanya agar aku bisa menyiksamu dengan kenyataan, Arkan."
Arkan memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh. "Lakukanlah. Aku milikmu, Liana. Selamanya."
Liana menurunkan senjatanya perlahan. Ia berlutut di depan Arkan, merobek bagian bawah gaun pelayannya untuk membebat luka di bahu pria itu.
"Kita belum selesai," bisik Liana tajam.
"Setelah kita menghancurkan ayahmu, baru aku akan memutuskan apakah kau pantas hidup atau mati di tanganku."