Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curahan hati : 07
Wajah cantik itu tertunduk, ia seperti seorang terdakwa menunggu detik-detik dijatuhi vonis hukuman. Sangat pelan menghela napas panjang, tidak berani mendongak. Kedua tangannya saling menggenggam.
Meutia mengikis jarak, memegang kedua lengannya putrinya. “Lihat mamak, Nak!” pintanya lembut dengan suara serak menahan tangis.
Intan mengangkat kepala, buliran bening langsung meluncur melihat mata ibunya berkaca-kaca. “Maaf, Mak.”
“Untuk apa maaf mu ini? Nak, tak ada yang salah dengan namanya cinta, sebab dia hadir tanpa dipinta. Akan tetapi, kepada siapa nya berlabuh, kau harus bisa mencegah agar tidak menyakiti hati wanita lain yang lebih berhak atas perasaan itu, Intan.”
Bibirnya bungkam, air mata menganak sungai, ia peluk erat wanita kesayangannya.
"Apa kau tersiksa oleh hubungan pertunanganmu dengan Kamal?"
Intan menggeleng lemah, menggigit bibirnya demi mencegah suara tangis membuat tenggorokannya sakit.
"Apa kau terpaksa menerima perjodohan dua tahun lalu, Intan?"
"Tidak, Mak. Aku juga menginginkan bertunangan dengan Kamal," suaranya parau.
Meutia juga dirundung kesedihan, berdiri diantara mereka yang saling mencinta pada satu pria bukanlah hal menyenangkan. Satu putri kandungnya, satunya lagi sang keponakan sudah dianggap anak.
“Ambil air wudhu, bergegaslah shalat agar hatimu tenang.” Ia lerai dekapan hangatnya, ia usap air mata berlinang di pipi mulus putrinya.
Intan mengangguk, melangkah gontai keluar dari area dapur, dirinya menapaki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua, setiap undakan terasa panjang disaat hatinya gundah.
***
Diatas sajadah terbentang, isak tangis terdengar lirih. Kedua tangan menengadah, air mata berderai, hati berbicara mengadu kepada sang pencipta.
Intan tergugu, merasa bersalah sekaligus malu. ‘Maafkan hamba ya Rabbi, maaf belum berhasil menghapus namanya dari relung hati ini. Maaf bila hamba masih memelihara noda pada kain berwarna sulit untuk dihilangkan.’
‘Ya Allah yang maha pengasih, hamba mohon jaga dan lindungi rumah tangga kak Siron bersama bang Danang. Jangan ada celah diantara mereka untuk dimasuki oleh orang ketiga. Dan hamba pinta ya Tuhan ku … jikalau hati ini sulit berpaling, tolong jangan pernah ada yang tahu selain mamak, ayah, dan Kamal Nugraha.’ Ia bersujud meminta pengampunan, berserah diri.
Intan telah mencintai seorang Danang semenjak umur lima belas tahun. Ia kira hanya perasaan suka yang seiring waktu berlalu akan luntur. Namun dia salah, perasaan itu mengakar kuat tanpa berbalas.
Cinta dalam diam bertahan hingga sekarang. Hatinya hancur saat pria idaman melamar kakak sepupunya sendiri. Intan tidak lantas membenci Siron maupun Danang, bukan salah mereka. Dialah yang tak bisa mengendalikan perasaannya.
Sepuluh tahun belum cukup menghapus nama pria bertahta di hatinya. Danang sosok perhatian, penyayang, bukan hanya kepada Intan, tapi juga ke semua gadis maupun pemuda keturunan keluarga Siddiq, Nugraha, Hasan, Ramadhan, dan Rasyid.
Dari rasa nyaman berlanjut kagum berakhir jatuh cinta. Ya, Intan tidak pernah menunjukkan secara terang-terangan rasa sukanya. Tingkah lakunya terjaga, dinding tembok tinggi menyembunyikan rasa itu tidak pernah runtuh. Sangat lihai dirinya mengelabui setiap pasang mata, tapi ketika bercengkrama dengan sang maha pencipta – tumpah semua keluh kesah, kesakitan, dan ketidakberdayaan.
***
“Apa tak bisa kita paksa pernikahan Intan dan Kamal, Bang?”
Pria paruh baya mendekap hangat sosok istri yang baru saja menumpahkan tangis di dadanya. Ikram Rasyid pun ikut menitikkan air mata.
“Jangan, Tia. Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir kurang menyenangkan. Terlebih ini sebuah pernikahan, ikatan sakral, ibadah terpanjang. Salah memilih pasangan berakibat fatal. Kasihan Kamal jika kita paksa menikahi wanita belum bisa menghapus rasa kepada cinta pertamanya.”
“Entahlah. Aku tak sanggup melihat putriku mencuri-curi pandang ke pria dia cinta, tak tega menatap mata kesakitan kala Danang berlaku manis ke istrinya sendiri. Kenapa harus Intan?” Meutia kembali menangis, hatinya sakit sekali bertahun-tahun menyaksikan cinta dalam diam itu.
Ikram memejamkan mata, sungguh mereka tidak berdaya. Perasaan Intan jelas tak berbalas, memaksa sang putri melupakan cinta pertamanya pun bukan hal mudah.
Intan Rasyid pernah konseling perihal perasaannya kepada sang ayah yang seorang psikiater. Gadis itu berhasil mencabik-cabik hati Ikram Rasyid.
Putrinya sudah sangat berusaha, bahkan sampai pergi merantau dari kampung halaman demi menjaga kenyamanan, perasaan semua insan.
Namun, Intan tipe setia, sekali menaruh hati pada seseorang, sulit mengambilnya lagi.
Yang bisa dilakukan oleh pasangan paruh baya orang tuanya Intan Rasyid hanya menemani proses putri mereka, menjadi penengah bukan hakim menjatuhkan vonis. Menjaga si wanita tetap tahu diri, tak lelah mengingatkan jangan sampai melewati batasan.
***
Ting.
Ting.
Ting.
Tiga notifikasi pesan berturut-turut masuk ke ponsel gadis yang berbaring di atas ranjang masih mengenakan mukena.
Intan meraih handphone di atas kasur tak jauh dari posisi tidurnya. Sebelum membaca terlebih dahulu menghela napas dan beristighfar.
Kurang W; Nama ibuku Selina – panggilannya bunda. Ayahku Kafka, dipanggil papa.
Kurang W; Diingat ya, biar nanti saat pertemuan keluarga kau tak gugup, dan sudah merasa akrab.
Kurang W; Intan Rasyid, itu binti ayah kan? Mau aku hafal biar bisa satu tarikan napas sewaktu berjabat tangan dengan pak penghulu.
‘Astaghfirullah,’ hatinya beristighfar, mulut komat-kamit, mata menatap kesal barisan huruf bertambah panjang.
Entah apa sebabnya, atau sedang dalam suasana hati kacau, untuk pertama kalinya Intan membalas pesan dari pria paling menyebalkan, menurutnya.
Calon istriku; Kenapa tak kau sebutkan semua daftar nama anggota keluargamu, siapa tahu aku berganti profesi jadi tukang sensus penduduk.
Anggara Pangestu menggigit jari jempol kaki sambil membaca pesan dari wanita dia beri nama calon istriku.
“Tak sia-sia aku merapalkan mantra memanggil nama Intan Rasyid di kamar mandi tadi, ternyata ada manfaatnya,” monolognya ambigu, lalu membalas cepat.
Kurang W; Aku punya kakak kembar, namanya Adisty Pangestu. Dia seorang desainer terkenal. Ku panggil Ular piton.
Kurang W; Sepupu semata wayangku bernama Sahira Maheswari Pangestu – pemilik restoran Nusantara. Kapan-kapan ku ajak kau ke sana, cita rasa makanannya tiada tandingannya.
Kurang W; Sepupu ipar, suaminya si Rubah Sahira bernama – Thor monitor Thariq Alamsyah, bisnisnya dimana-mana. Pemilik hotel bintang lima di kota Medan dan tersebar di beberapa kota besar negeri ini.
“Sudah gila memang dia.” Intan membaca teliti setiap kata pesan berantai dari Anggara.
Kurang W; Nanti kalau kita menikah, tak perlu susah-susah cari dana buat pesta mewah. Ada sepupuku yang menyediakan konsumsi lezat. Terus kita palak si Ular piton jahitkan gaun pengantin. Terakhir si ipar, gedung hotel paling mewahnya harus direlakan jadi tempat resepsi megah."
Kurang W; Eh, aku belum sebut satu lagi … orang tuaku yang nanti juga jadi orang tuamu, kita pinta hadiah honeymoon keliling Eropa. Setuju tak, Intanku …?
Entah apa yang merasuki Intan, dia menekan layar hijau. Dering pertama belum putus sudah diangkat, langsung saja dirinya semprot si biang rusuh.
“Kau mau ngajak anak orang nikah, atau meminta sumbangan, hah?!”
.
.
Bersambung.
siap2 tu di marah ayah tua
Ayah tua...,, hajar saja dulu si Nuha noga2 itu,, babak belur dulu baru minta penjelasan 🤭
semoga retensi Kaka d bab 40, 80, 120 terbaik semuanya .. Aamiin.
Hanya orang yang mqkn otaknya jauh lebih parah dari anggora kewarasannya kalo baca ceritamu harus lompat2 bab. Lha wong setiap bab mu d tunggu kayak lagi nunggu cuan dari paksu😅,, sangat begitu d nantikan🤣.
Deg deg AQ nunggu sidang ini,, semuanya akan terkuak dengan begitu jelas dan gamblang....,, akan banyak hati yang sedih,, kecewa...,, tapi ini yang terbaik...